KARPER SEBAGAI PENGENDALI GULMA AIR

Gulma air yang paling ganas adalah eceng (enceng) gondok (Eichornia crassipes). Tumbuhan pengganggu ini berasal dari Afrika tropis. Didatangkan oleh Bangsa Belanda ke kepulauan Nusantara sebagai tanaman hias. Bunga eceng gondok yang mengumpul di ujung tangkai, berwarna ungu dan sangat menarik. Tanaman hias eksotis ini kemudian lepas ke parairan umum. Dalam waktu relatif singkat eceng gondok telah ada di mana-mana. Penyebaran eceng gondok tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di semua negara di kawasan tropis.

Enceng gondok tumbuh mengapung di permukaan air tawar yang tenang. Misalnya waduk, rawa, danau dan setu. Perairan yang sering terganggu oleh keberadan enceng gondok antara lain Rawa Pening di Jawa Tengah dan Danau Kerinci di Jambi. Seluruh permukaan rawa dan danau, bisa tertutup rapat oleh gulma ini. Akibatnya kehidupan di bawahnya akan mati, karena tidak memperoleh sinar matahari. Sekarang, tangkai eceng gondok memang telah dimanfaatkan untuk bahan berbagai kerajinan. Mulai dari tas, keranjang. sampai meubel.

Setelah dipanen tangkainya secara rutin pun, gangguan yang ditimbulkan oleh gulma ini tetap berat. Sebab pertumbuhan eceng gondok super pesat. Dengan hanya beberapa serpih sisa tanaman, eceng gondok mampu kembali menutup permukaan air, hanya dalam beberapa bulan. Hingga pemanenan tangkai dan pengangkatan, tetap tidak mampu memecahkan permasalahan. Pertengahan tahun 1990an, Dinas Perikanan Provinsi Jambi mencoba ikan karper untuk mengatasi eceng gondok  di Danau Kerinci. Hasilnya, gulma bisa terkendalikan dan masyarakat bisa panen ikan.

Karper (Grass Carp, White Amur, Ctenopharyngodon idella), adalah ikan herbivora (pemakan tumbuhan) air tawar. Ikan ini berasal dari China Utara dan Siberia (Rusia). Nama Grass Carp diberikan, karena karper adalah pemakan rumput. Sedangkan sebutan White Amur menunjukkan bahwa ikan ini berasal dari Sungai Amur, yang merupakan batas antara RRC dengan Rusia, dan bermuara di Selat Jepang. Meskipun sebenarnya, habitat asli karper tersebar mulai dari sungai Amur, Sungari, Ussuri, Danau Khanka, dan juga sungai-sungai di RRC di provinsi Guangzhou dan Kwangtung.

# # #

Pertamakali karper diidetifikasi sebagai spesies ikan baru, oleh Valenciennes pada tahun 1844. Di China, karper sudah lama dibudidayakan sebagai ikan konumsi. Meskipun sama-sama disebut karper (carp), grass carp berbeda genus dengan karper hitam (black carp, Mylopharyngodon piceus); serta karper putih (silver carp, Hypopthalmichthys molitrix). Karper berbentuk mirip ikan mas, hanya warna sisiknya hijau gelap, cokelat kekuningan dan putih pada bagian perutnya. Tahun 1963, karper diintroduksi ke Amerika Serikat, untuk mengendalikan gulma di perairan air tawar.

Hasil percobaan karper sebagai pengendali gulma di AS ini, ternyata sangat positif. Sebab karper mampu secara efektif menahan pertumbuhan gulma yang paling pesat sekalipun, termasuk eceng gondok. Kemampuan karper dalam mengendalikan eceng gondok, bisa dimaklumi, karena pertumbuhan ikan ini juga sangat pesat. Pesatnya pertumbuhan karper, sekaligus juga menjadikannya potensial sebagai ikan hama. Di kawasan beriklim empat musim pun, pertumbuhan karper juga sangat cepat, terutama pada musim panas.

Pada musim semi, ukuran karper muda sekitar 20 cm, akan tumbuh menjadi 45 cm, pada musim gugur. Pada musim panas berikutnya, karper sudah menjadi ikan dewasa sepanjang 1,2 m. dengan bobot mencapai 18 kg. Dalam kondisi optimal, karper akan tumbuh sampai sepanjang 1,25 m. Pesatnya pertumbuhan karper, terutama juga disebabkan oleh volume gulma air yang tersedia. Semakin subur dan melimpah volume gulma, maka semakin pesat pula pertumbuhan karper. Kalau volume gulma air menyusut, maka pertumbuhan karper juga akan terhambat.

Di Indonesia yang merupakan penghasil beras dari padi sawah, karper potensial menjadi ikan hama. Tanaman padi sawah akan bisa dibabat oleh ikan karper. Sama halnya ketika sekarang hkeong emas menjadi hama padi. Padahal, tahun 1980an, keong emas didatangkan ke Indonesia sebagai satwa hias. Sama dengan eceng gondok yang didatangkan Belanda sebagai tanaman hias. Kekhawatiran karper lepas di perairan umum dan menjadi hama, juga disadari oleh banyak negara termasuk Amerika Serikat. Hingga karper yang dilepas ke perairan umum, terlebih dahulu dimandulkan.

# # #

Cara memandulkan karper, adalah dengan mebuat ikan jantan maupun ikan betina menjadi triploid (berkromosom 33 = 3N). Ikan biasa adalah diploid (berkromosom 22 = 2 N). Cara membuat karper menjadi triploid adalah melalui pemberian kejutan pada telur ikan, dengan menggunakan panas atau aliran listrik. Sebelum dipasarkan, anak ikan terlebih dahulu dites, apakah sudah menjadi triploid atau masih diploid. Selain dengan menjadikannya ikan diploid, untuk mengamankan agar karper tidak menjadi hama, dilakukan dengan membuatnya menjadi ikan jantan semua.

Metoda membuat benih ikan menjadi berkelamin jantan semua, sering diterapkan oleh para peternak ikan mas dan nila, agar hasil panen lebih tinggi. Caranya, ketika burayak (anak ikan) sedang dalam tahap pertumbuhan mata, air akuarium atau bak, diberi hormon Methyl Testosterone. Bisa pula induk betina yang siap berpijah, ditarun dalam bak atau akuarium, dengan air yang sudah diberi hormon Methyl Testosterone. Akibat pengaruh hormon Methyl Testosterone, telur yang menetas akan menjadi ikan jantan semua. Karper yang dilepas ke perairan terbuka sebagai pengendali hama, akan tetap aman kalau berjenis kelamin jantan semua, atau berupa ikan jantan dan betina, namun semuanya merupakan ikan triploid.

Di alam aslinya, karper hanya mau berpijah di sungai dengan aliran air yang sangat deras. Di Sungai Amur, induk betina karper 60 – 90 cm. bobot antara 5 – 16 kg, dengan umur sekitar 7 – 15 tahun, akan menghasilkan telur antara 200 – 1.600.000 butir. Di kawasan tropis seperti Indonesia, tiap kg. bobot induk betina, akan menghasilkan telur antara 2.000 – 37.000 butir. Hingga semakin besar bobot ikan, akan semakin tinggi pula jumlah telur yang dihasilkan. Dengan diketemukannya teknologi pemijahan buatan menggunakan hormon dari kelenjar hipofisa ikan donor, serta hormon HCG (Human Chorionic Gonadotropin).

Pemijahan buatan, sudah sejak tahun 1970an digunakan dalam budidaya ikan mas (Carrassius auratus), lele (Clarias batracus) dan ikan-ikan lain termasuk karper, yang tidak merawat burayaknya di dalam mulut. Ikan mujair (Tilapia musambica) dan nila (Tilapia nilotica), tidak memerlukan pemijahan buatan, sebab mereka menetaskan telur, serta mengasuh burayak mereka sampa kuat di dalam mulut. Pemijahan buatan dilakukan dengan menyuntik induk betina dengan telur yang sudah matang, menggunakan larutan kelenjar hipofisa dan HCG, agar telur siap untuk diurut (dikeluarkan).

# # #

Hipofisa adalah kelenjar yang ada di antara dua belahan otak, ukurannya sebesar butiran beras. Untuk satu induk betina ukuran 4 kg. diperlukan ikan donor dengan bobot duakali lipatnya. Bobot minimal ikan donor @ 0,5 kg. Hingga untuk induk betina 4 kg. diperlukan 16 ikan donor @ 0,5 kg. Biasanya, sebagai donor hipofisa digunakan ikan mas. Kalau siang hari induk betina disuntik, maka sorenya telur sudah bisa diurut keluar. Kemudian telur ditaruh dalam piring, diberi sedikit aquadest dan dicampur dengan sperma induk jantan. Untuk diambil spermanya, induk jantan harus dipotong.

Pengadukan telur dengan sperma, dilakukan dengan bulu yang sudah dibersihkan. Telur yang sudah terbuahi, selanjutnya dimasukkan ke dalam akuarium yang dilengkapi dengan aerator, heater serta termostat, agar suhu air stabil. Malamnya, telur sudah akan menetas dan dilakukan penyiponan cangkang. Sejak itu burayak sudah harus diberi pakan kuning telur, artemia, baru kemudian pakan dengan butiran yang lebih besar. Setelah mencamai ukuran 0,5 cm.burayak dipindahkan ke dalam bak, atau akuarium yang lebih besar. Untuk menghasilkan karper jantan atau karper triploid, dilakukan pemberian hormon Methyl Testosterone, serta perlakuan telur sebelum ditetaskan.

Benih karper, bisa dipesan di Balai Beni Ikan Air Tawar, yang ada di tingkat provinsi. Bisa pula di Balai Penelitian Ikan Air Tawar (Balitkawar) di Sukamandi, Jawa Barat. Pemesanan benih karper untuk dijadikan ikan konsumsi, sebaiknya berupa benih jantan semua. Sebab pertumbuhan ikan jantan lebih pesat, sementara volume dagingnya juga lebih banyak. Benih karper untuk menanggulangi gulma, sebaiknya berupa ikan triploid. Meskipun merupakan ikan herbifora, budidaya karper untuk tujuan konsumsi, bisa dipercepat dengan pakan buatan (pellet).

Namun, dengan adanya gangguan eceng gondok di perairan umum seperti di Indonesia, karper lebih cocok untuk dibudidayakan sebagai pemberantas gulma, sekaligus sebagai penghasil ikan konsumsi. Merebaknya gulma eceng gondok diIndonesia, terutama disebabkan oleh penggunaan urea yang berlebihan pada budidaya padi di sawah. Sisa urea yang tidak terserap tanaman, terakumulasi di waduk, danau, dan rawa. Tingginya kandungan urea, mengakibatkan pertumbuhan eceng gondok juga menjadi sangat pesat. Dengan pakan eceng gondok, maka budidaya karper menjadi tanpa perlu biaya pakan, sementara gangguan gulmanya teratasi. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s