PELUANG BUDIDAYA GANDUM

F. Rahardi

Dalam debat calon presiden belakangan ini, terlontar pernyataan dari salah satu kandidat, bahwa gandum bisa disubsititusi (dicampur) dengan sagu dan singkong. Pada prinsipnya, gandum memang bisa dicampur dengan sumber karbohidrat lain. Baik yang berasal dari biji-bijian, umbi-umbian, batang, maupun buah.

Resikonya, pencampuran akan menurunkan kualitas tepung gandum (tepung terigu). Sebab tepung gandum mengandung gluten, yang tidak terdapat dalam sumber karbohidrat lain. Gluten inilah yang membuat adonan tepung gandum bisa ditarik secara manual hingga menjadi mi tradisional, atau dilebarkan sampai tipis hingga menjadi kulit martabak telur, lumpia, dan pangsit. Tepung dari bahan lain, tidak mungkin dijadikan sebagai bahan pencampur, terlebih sebagai pengganti.

Pencampuran tepung dari bahan lain pada tepung gandum, baru dimungkinkan pada pembuatan mi pabrik, roti, dan kue. Mi tradisional, dibuat dengan cara menarik adonan tepung gandum berulangkali, hingga terbentuk seperti pita kecil dan tipis. Di pabrik modern, adonan mi dipotong dengan mesin, hingga terbentuk seperti mi tradisional. Dengan kadar gluten rendah pun, mi pabrik tetap bisa diproduksi secara massal. Bahan mi tradisional, kulit martabak telur, lumpia, dan pangsit, tidak mungkin dicampur bahan bukan gandum.

Gandum yang paling banyak dibudidayakan saat ini adalah gandum biasa (common wheat, Triticum aestivum) yang berkromosom enam (hexaploid). Selain itu, masih ada gandum purba (eikorn, Triticum monococcum) yang berkromosom dua (diploid). Kemudian gandum emmer (Triticum dicocon), durum (Triticum durum), dan kamut atau QK-77 (Triticum polonicum) yang semuanya berkromosom 4 (tetraploid). Emer dan durum keturunan gandum liar Triticum dicoccoides, hasil persilangan alam rumput diploid Triticum urartu, dengan rumput makanan kambing Aegilops searsii.

* * *

Emer dan durum, kemudian disilangkan lagi dengan rumput diploid (Aegilops tauschii) untuk menciptakan gandum berkromosom enam. Gandum spelt (Triticum spelta) juga hexaploid, namun hanya dibudidayakan secara terbatas di Eropa untuk bahan pasta (spageti, makaroni). Selain jenis triticum (wheat), dikenal pula gandum barley (Hordeum vulgare, Hordeum distichum dan Hordeum tetrastichum),  oat (Avena sativa) dan rye (Secale cereale). Meskipun bisa ditepungkan dan dibuat roti, paling banyak tiga jenis gandum ini digunakan untuk bir, wisky dan pakan ternak.

Berbagai jenis gandum ini, semuanya berasal dari Timur Tengah dan Eropa, sebelum menyebar ke kawasan sub tropis di seluruh dunia. Di benua Amerika, sejak zaman purba masyarakat Aztek, Maya dan Inka, juga sudah mengenal roti dari tepung jagung (Zea mays). Penghasil karbohidrat Amerika lainnya  adalah kentang (Solanum tuberosum), singkong, (Manihot esculenta), garut (Marantha arundinacea), ganyong (Canna edulis), keladi (Xanthosoma sp), dan ubi jalar (Ipomoea batatas). Semua jenis tanaman ini masuk Indonesia dibawa Bangsa Portugis dan Belanda. Kecuali ubi jalar yang sudah menyebar ke Pasifik sampai Papua, Taiwan dan Jepang pada abad III dan IV.

Jenis tanaman Asia Pasific penghasil karbohidrat, antara lain padi (Oryza sativa), jali (Coix lacryma-jobi), sagu (Metroxylon sago, Metroxylon rumphii), aren (Arenga pinnata), sukun (Artocarpus communis), suweg (Amorphophallus campanulatus), iles-iles (Amorphophallus konyac), talas (Colocasia sp), dan pisang (Musa sp). Sekarang komoditas ini juga sudah menyebar ke kawasan tropis di seluruh dunia. Di benua Afrika ada sorgum (Sorghum bicolor, Andropogon sorghum, Holchus sorghum, dan Sorghum vulgare), yang sekarang juga sudah dibudidayakan di luar benua itu, termasuk di Indonesia.

* * *

Sumber karbohidrat lain adalah uwi-uwian (Dioscorea sp), yang terdapat merata di Afrika, Asia, dan Amerika Tropis. Gandum, padi, jagung, dan jali adalah sumber karbohidrat dari biji-bijian (serealia). Kentang, singkong, ubi jalar, keladi, talas, ganyong, garut, suweg, iles-iles, dan uwi-uwian, adalah sumber karbohidrat berupa umbi. Sagu, dan aren sumber karbohidrat dari batang, dan sukun berupa buah. Arus globalisasi yang terjadi sejak abad pertengahan, telah menyebarluaskan semua tanaman sumber karbohidrat ini ke semua benua, dan juga ke semua kawasan iklim.

Padi yang merupakan tumbuhan tropis, sudah sejak awal menyebar ke China utara, Korea, dan Jepang, yang beriklim sub tropis. Sebaliknya di India, gandum yang awalnya tanaman gurun dan sub tropis, mulai menyebar ke bagian selatan yang beriklim tropis, hingga tercipta varietas gandum tropis seperti Punjab-81, WL-2265, SA-75. Pola penciptaan gandum tropis di India ini, juga terjadi di Pakistan dengan varietas Pavon-76, Soghat-90, Kiran-95, WL-711, dan di RRC dengan varietas F-44,Yuan-039,Yuan-1045.
Di Meksiko, gandum yang dibawa oleh bangsa Eropa, juga berevolusi menjadi gandum tropis, dengan varietas DWR-162, DWR-195.

Semua varietas gandum tropis itu, benihnya sudah ada di Indonesia. Bahkan kita pun juga sudah mampu menciptakan varietas gandum tropis sendiri seperti  CPN-01, dan CPN-02; serta  mutan baru, M4 : CBD-16, 17, 18, 19, 20, 21, dan 23. Salah satu kawasan yang sudah secara komersial mengembangkan gandum tropis adalah Kabupaten Pasuruan di Jatim, dan Kabupaten Manggarai di NTT. Hingga selain mensubstitusi gandum dengan sumber karbohidrat lain, kita pun berpotensi membudidayakan gandum sendiri. Tujuannya jelas, yakni untuk mengurangi impor gandum yang volumenya telah mencapai lebih dari 5 juta ton, dengan nilai lebih dari tujuh trilyun rupiah per tahun. * * *

One thought on “PELUANG BUDIDAYA GANDUM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s