KIAT BERAGRIBISNIS JAGUNG

Sdr. Alex dan kawan-kawannya di Jakarta, ingin beragribisnis jagung. Sebab ada permintaan jagung pipilan dalam volume sangat besar. Ia sudah mencoba bekerjasama dengan petani di kawasan Sukabumi, tetapi hasilnya mengecewakan. Bagaimanakah cara tepat beragribisnis jagung?

Perusahaan pakan ternak yang akan menampung jagung pipilan, selalu menuntut kontinuitas pasokan. Lahan di kawasan Sukabumi, itu berupa ladang yang hanya bisa ditanami jagung paling banyak dua kali dalam setahun. Kalau tanam awal pada bulan November dan panen pada bulan Februari, maka lahan tersebut masih bisa dikejar lagi untuk segera ditanami. Bulan Mei, jagung sudah kembali bisa dipanen. Setelah itu lahan sudah tidak bisa ditanami lagi karena sudah musim kemarau.

Lahan kering berupa ladang, biasanya susah diairi. Beda dengan lahan sawah di Pantura. Pada musim kemarau, lahan sawah ini juga akan menganggur, tidak ditanami padi. Ada sawah yang hanya bisa ditanami padi satu kali, ada yang dua kali. Kalau petani menanan padi pada bulan November, Bulan Maret sudah bisa panen. Sawah tadah hujan, biasanya sudah tidak mungkin ditanami padi lagi,dan dibiarkan menganggur. Ada pula sawah yang masih bisa diberi pengairan, hingga bisa ditanami padi sekali lagi.

Sawah yang ditanami padi sebanyak dua kali ini, akan panen pada bulan Juli, dan setelah itu juga akan menganggur. Sawah yang menganggur ini, bisa disewa untuk ditanami jagung, dengan modal pompa sedot. Lokasi sawah sewaan, harus berada dekat dengan sungai yang debit airnya masih besar. Sawah tadah hujan yang sudah nganggur sejak bulan April, bisa ditanami jagung selama dua musim tanam. Sawah yang baru menganggur pada bulan Juli, hanya bisa disewa untuk satu musim tanam.

Pengusaha agribisnis jagung yang sudah berpengalaman, akan menyewa lahan kering di gunung, pada musim penghujan, dengan dua kali musim tanam. Sebelum panen kedua, aktivitas dipindah ke sawah tadah hujan di dataran rendah. Di sini, dengan modal pompa air, bisa menanam jagung sampai dua kali musim tanam. Hingga dalam setahun, pengusaha tadi bisa panen jagung empat kali. Dua kali di lahan kering pada musim penghujan, dan dua kali di lahan sawah pada musim kemarau.

Salah satu syarat untuk budidaya jagung adalah, pupuk organiknya minimal lima ton per hektar per musim tanam. Kalau pH tanah di bawah 7, harus didongkrak naik dengan pemberian kapur. Usaha agribisnis jagung, mutlak memerlukan dryer (pengering). Terutama pada penanaman di ladang pada musim penghujan. Tanpa dryer, hasil panen akan membusuk atau tumbuh. Panen di lahan sawah pada musim kemarau, bisa cukup mengandalkan penjemuran.

Limbah budidaya jagung adalah daun, pucuk tebon, kelobot (kulit jagung), dan janggel (tongkol kosong). Daun dan pucuk tebon adalah pakan ternak ruminansia yang cukup baik. Hingga agribisnis jagung, bisa disertai usaha penggemukan sapi potong. Seekor sapi bobot 300 kg, sehari memerlukan 30 kg hijauan. Populasi sapi, disesuaikan dengan bobot tebon yang akan dihasilkan. Kelobot dan janggel, bisa digunakan sebagai bahan bakar dryer.

Agribisnis jagung, dalam skala besar, harus ditangani sendiri. Kalau akan bekerjasama dengan petani, tidak cukup dengan membagi-bagikan benih dan pupuk, lalu nanti hasilnya ditampung. Sebelum kerjasama, petani harus dipaksa untuk membentuk badan hukum berupa koperasi. Jadi kerjasama dengan petani, dilakukan antara badan hukum kita (PT), dengan badan hukum patani (koperasi). Membagi-bagikan benih dan pupuk ke petani, juga bukan cara yang baik.

Cara paling tepat adalah, menaruh uang tersebut di bank, paling ideal BRI, dalam bentuk deposito. Deposito ini akan menjadi jaminan bagi koperasi petani, untuk meminjam uang guna membeli benih dan pupuk. Petani harus dididik, agar mau berurusan dengan bank. Nanti kalau mereka sudah berkali-kali meminjam dan bisa kembali dengan lancar, bank akan makin percaya pada koperasi. Akhirnya petani melalui koperasi bisa menabung, hingga deposito kita tidak diperlukan lagi. # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s