PROSPEK AGROINDUSTRI BIOETHANOL

Setelah membaca peluang agroindustri bioethanol di majalah, Sdr. Bambang Harwanto di Cilegon, Banten, ingin mencoba mengembangkannya. Dia ingin memanfaatkan singkong yang melimpah di Lampung, untuk diolah menjadi bioethanol. Benarkah usaha ini berprospek cerah?

Sdr. Bambang Harwanto, agroindustri bioethanol memang punya prospek sangat baik. Ini disebabkan oleh harga minyak bumi, dan gas alam, yang akan terus membubung naik, karena ketersediaannya semakin terbatas. AS pun, sekarang ini sudah mulai mengembangkan bioethanol secara besar-besaran, terutama dari bahan jagung. Melambungnya harga kedelai belakangan ini, juga diakibatkan oleh alih fungsi lahan kedelai di AS, untuk budidaya jagung.

Singkong (Manihot esculenta), memang merupakan salah satu komoditas yang berprospek baik sebagai penghasil bioethanol. Hanya saja, seperti halnya jagung, Crude Palm Oil (CPO), juga ubi jalar, singkong masih lebih diutamakan sebagai bahan pangan. Brasil memang sudah sejak lama memanfaatkan tetes tebu sebagai bahan baku methanol. Tetes tebu, dan juga jarak, tidak akan bersaing dengan pemanfaatannya sebagai bahan pangan. Hingga budidaya singkong untuk bahan pangan, masih lebih menguntungkan dibanding untuk bioethanol.

Di Lampung, petani singkong sudah seperti terjerat dalam lingkaran setan, yang sulit untuk diurai. Budidaya singkong terpaksa mereka lakukan, karena modalnya cukup tenaga kerja. Benih tidak usah membeli, pupuk dan pestisida tidak ada. Yang menjadi masalah, produktivitas petani singkong di Lampung sangat rendah. Hasil per hektar per musim tanam selama sembilan bulan, hanya berkisar antara 10 sd. 20 ton singkong segar. Standar internasional agar agroindustri singkong efisien, dan petani diuntungkan adalah, hasil panen rata-rata harus 50 ton per hektar.

Panen singkong di Lampung juga terkonsentrasi antara bulan Juni, Juli, Agustus, September, dan Oktober. Karena panen menumpuk hanya pada musim kemarau, maka harga memang akan jatuh. Singkong para petani di Lampung, akan ditampung oleh pabrik tapioka. Sebagian petani mengolah singkong segar mereka menjadi gaplek. Hampir tidak ada petani yang mau mengolah singkong segar mereka menjadi tapioka, meskipun nilai tambahnya cukup besar.

Kuota ekspor tapioka (pati singkong), maupun cassava (tepung gaplek), ke Uni Eropa, terus diturunkan oleh WTO, karena kita tidak mampu memenuhinya. Sementara Thailand kuota Thailand terus bertambah, sebab produksi singkong negeri ini terus naik. Produksi singkong Indonesia sebenarnya juga terus naik. Tetapi tingkat konsumsi kita naik lebih pesat lagi. Baik konsumsi gaplek untuk pakan ternak, maupun pati untuk bahan bakso. Bakso adalah campuran pati singkong dengan daging.

Sekitar lima tahun yang lalu, seorang investor dari Hongkong, berniat membuka kebun singkong di Lampung, untuk industri minuman beralkohol. Rencana ini tidak berlanjut, karena inefisiensi yang tinggi. Baik onfarm, karena produktivitas rendah, maupun offfarm berupa perijinan, pungutan oleh aparat, serta preman di jalan. Di Thailand, biaya onfarm juga tinggi, karena upah tenaga kerja, offfarmnya tinggi berupa pajak yang akan dikembalikan ke rakyat.

Agroindustri singkong, sebenarnya masih sangat menguntungkan, tetapi cukup sampai ke produksi tapioka (pati singkong). Sarana yang diperlukan adalah sumber air bersih,  pemarut, wadah penampung, bak pengaduk, alat penyaring (alat pres), bak pengendap, rak dan wadah penjemur, dryer dan unit packing. Kalau kapasitas sarana ini 2 ton singkong segar per hari, biaya investasinya sekitar Rp 30.000.000 dengan waktu penyusutan tiga tahun. Masa produksi peralatan ini per tahun selama lima bulan @ 30 hari = 150 hari, selama tiga tahun = 450 hari.

Beban penyusutan per hari produksi = Rp 30.000.000 : 450 = Rp 200.000.  Dua ton singkong segar, akan menjadi 400 kg tepung aci (rendemen 20%). Beban biaya penyusutan untuk tiap kilo tepung Rp 200.000 : 400 = Rp 250. Kalau harga singkong segar Rp 400 per kg, (2 ton Rp 800.000) dan tepung tapioka Rp 4.000 per kg, (400 kg = Rp 1.600.000), dipotong Rp 200.000 beban penyusutan, masih ada selisih Rp 600.000. Dengan beban upah, bahan bakar dan lain-lain Rp 300.000, margin yang diperoleh masih Rp 300.000. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s