PROSPEK BUDI DAYA LADA

Sdr. Ilham di Muntok, Bangka, sangat prihatin dengan banyaknya kolong, yakni lubang bekas tambang timah di pulau Bangka. Ia ingin mengembalikan pamor Bangka sebagai penghasil lada kualitas terbaik. Bagaimanakah prospek budidaya lada di masa mendatang ini?

Lada tetap merupakan komoditas pertanian yang bernilai ekonomis cukup baik. Meskipun harga lada jatuh sampai ke tingkat Rp 20.000,- per kg, petani masih tetap diuntungkan. Sebab suatu ketika, harga lada bisa di atas Rp 50.000,- per kg. Hingga kalau diakumulasi selama lima sampai dengan 10 tahun, margin yang diterima petani masih cukup baik. Sejak maraknya TI (Tambang Inkonvensional), atau tambang rakyat, banyak kebun lada yang diterlantarkan oleh pemiliknya.

Sejak PT. Timah berhenti menambang, dan hanya membeli dari rakyat, maka TI menjadi marak di mana-mana. Kebun lada ditinggal oleh pemiliknya. Tetapi di beberapa kawasan di Pulau Bangka, masyarakatnya kembali sadar, bahwa suatu ketika masa kejayaan timah akan berakhir. Dan mereka pun kembali menekuni profesi semula, yakni berkebun lada. Sejak dari jaman kerajaan Sriwijaya, pulau Bangka memang dikenal sebagai penghasil lada putih kualitas terbaik di dunia.

Lada putih dan lada hitam, sebenarnya dihasilkan oleh tanaman yang sama, yakni Piper nigrum. Kalau buah lada dipetik setelah masak, kemudian dimasukkan karung, direndam air sampai lapisan kulit luarnya hancur, digilas, dicuci bersih dan dijemur, maka jadilah lada putih. Lada hitam dihasilkan dari buah lada yang dipetik muda, terutama ketika daging buahnya masih cair seperti susu. Buah lada muda ini langsung dikeringkan dengan cara dijemur, hingga menjadi lada hitam.

Sebenarnya, lada hitam masih bisa diolah lebih lanjut menjadi minyak asiri dan oleoresin. Harga minyak asiri lada, dan oleoresinnya, relatif stabil dan cukup baik dibanding dengan harga lada putih. Itulah sebabnya, para petani lada juga harus jeli membaca pasar. Kalau harga lada putih cenderung turun, sebaiknya petani memroduksi lada hitam, sekaligus mengolahnya menjadi minyak asiri dan oleoresin. Sebaliknya kalau harga lada putih sedang membaik, maka buah lada dipelihara terus hingga menjadi lada putih.

Tanaman lada memang hanya bisa tumbuh optimal, di kawasan dengan curah hujan merata sepanjang tahun. Pulau Bangka, Lampung, Kalimantan Barat, dan beberapa wilayah lain di Indonesia, hujannya merata sepanjang tahun, hingga cocok untuk budidaya lada. Biaya paling besar dalam budidaya lada adalah pengadaan tiang panjatan. Dulu, petani lada banyak mengandalkan kayu ulin yang tinggal mengambil dari hutan di sekitar kebun lada.

Sekarang, kayu ulin sudah susah untuk diperoleh. Hingga petani banyak yang beralih ke tiang beton sebagai panjatan tanaman lada. Secara ekonomis, tiang beton memang lebih murah dibanding panjatan dari kayu. Namun secara praktis, tiang beton terlalu berat untuk diangkat ke kebun. Tenaga untuk mendirikannya pun juga lebih berat dibanding dengan mendirikan tiang panjatan dari kayu. Namun sekali investasi, tiang beton itu tidak mungkin rusak atau lapuk, sebagaimana halnya tiang dari kayu.

Sdr. Ilham juga bertanya, apakah mungkin memotong jalur perdagangan lada, hingga para petani lada di Bangka bisa menjualnya langsung tanpa melalui pedagang perantara di Singapura? Itu mungkin saja dilakukan, namun cukup sulit untuk direalisasikan. Sebab petani lada sendiri selama ini tidak terorganisir dalam satu lembaga yang kuat. Kalau petani lada  terwadahi dalam satu koperasi yang kuat, maka mereka bisa saja menjajaki perdagangan lada langsung ke Eropa atau AS. Tetapi kalau petani ladanya cerai berai, maka para tengkulak akan lebih senang berhubungan dengan pedagang perantara dari singapura.

Untuk membuka jalur pemasaran sendiri, sebaiknya mulai dari sekarang para petani lada membentuk kelompok dan koperasi, serta asosiasi. Kelompok akan menangani teknis budidaya dan pasca panen. Koperasi akan lebih berfokus ke pemasaran hasil. Sementara asosiasi akan membela hak-hak petani ketika berhadapan dengan pengusaha maupun pemerintah. # # #

One thought on “PROSPEK BUDI DAYA LADA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s