AGROINDUSTRI FROGLEG UNTUK EKSPOR

Frogleg adalah nama dagang paha kaki belakang kodok konsumsi. Sebenarnya yang dimaksud dengan istilah paha adalah paha berikut betis, yang kulitnya sudah dihilangkan, dengan sedikit tulang belakang disisakan dan dipotong rapi. Frogleg biasanya dikemas rapi dalam wadah dengan satuan berat tertentu, dan kemudian dibekukan. Selain frogleg, komoditas kodok juga diminta oleh pembeli di luar negeri dalam keadaan hidup. Harga satuan kodok hidup. lebih tinggi dibanding dengan kpmoditas pahanya. sampai sekarang, permintaan padha kodok pasar ekspor maupun dalam negeri, masih lebih tinggi dari pasokan. Hingga agroindustri komoditas kodok, masih sangat besar peluangnya.

Kodok (jenis Rana) adalah jenis katak konsumsi. Sementara katak adalah jenis kodok yang tidak dikonsumsi. Baik katak pohon (jenis Rhacophorus), maupun katak darat (jenis Bufo). Kodok hijau, kodok gembong (Rana macrodon) dan kodok batu (Rana musholini), merupakan jenis katak konsumsi terbesar. Selain itu masih ada kodok sawah, (Rana cancrifora) kodok rawa (Rana limnocaris) dan kodok cokelat (Rana temporaria). Itu semua kodok asli Asia Tenggara. Upaya domestifikasi kodok-kodok itu tidak pernah berhasil. Hingga budidaya kodok asli kita, selalu gagal. Penyebabnya faktor pakan. Kodok-kodok lokal kita, hanya mau makan serangga hidup. Bukan pakan buatan berupa pelet.

Agroindustri kodok, baru berkembang tahun 1980an, setelah kita mengintroduksi kodok banteng (bullfrog, Rana catesbeiana) Habitat asli bullfrog Amerika Serikat dan Kanada. Amfibi ini disebut kodok banteng, karena ukurannya yang cukup besar, seperti halnya Rana macrodon kita. Bedanya, bullfrog sudah mengalami domestifikasi, hingga mau menyantap pakan alami. Kelemahan bullfrog adalah, habitat aslinya kawasan sub tropis. Ketika bullfrog dikembangkan di Jepang dan Taiwan, hasilnya cukup baik. Tetapi di Indonesia, beberapa kali mengalami kegagalan. Usaha agroindustri kodok yang gagal, semuanya merupakan perusahaan besar, yang lokasinya di dataran rendah. Usaha rakyat dalam skala kecil yang dilakukan di Yogyakarta dan Bali, meski di dataran rendah, justru bisa bertahan hidup.

# # #

Tampaknya, agroindustri bull frog mirip dengan budidaya ayam kampung. Pemeliharaan dalam skala kecil dengan populasi terbatas relatif akan lebih berhasil, dibanding dengan pemeliharaan skala besar dengan teknologi modern. Di AS, Kanaca, Jepang dan Taiwan, budidaya bullfrog skala besardengan teknologi modern bisa berhasil, karena ditunjang oleh alam beriklim empat musim yang merupakan habitat asli bullfrog. Indonesia adalah negara tropis, hingga budidaya bullfrog secara massal dengan teknologi modern, segera akan mengundang penyakit, terutama yang disebabkan oleh bakteri dan cendawan. Sebenarnya ayam pedaging (broiller) yang kita pelihara itu pun, merupakan satwa dari negeri beriklim sub tropis. Hingga lokasi budidaya broiller, kebanyakan berada di dataran tinggi, minimal dataran menengah. Bukan di dataran rendah.

Domestifikasi kodok lokal sudah beberapa kali dilakukan, terutama oleh Balai Penelitian Perikanan. Hasilnya tidak pernah memuaskan, sampai ada introduksi bullfrog dari AS. Tahun 1980an, bullfrog juga sering disebut sebagai kodok jepang atau kodok taiwan. Sebab kita mengintroduksi bullfrog dari Jepang dan Taiwan, yang sudah lama membudidayakannya. Beda dengan kodok lokal kita yang hanya mau menyantap pakan hidup berupa serangga, maka bullfrog mau makan apa saja, termasuk pakan yang diam. Hingga bullfrog mau diberi pellet atau bentuk pakan lainnya. Para peternak skala kecil, biasanya memanfaatkan daging bekicot dan keong sawah sebagai pakan bullfrog.

Syarat utama untuk mengembangkan agroindustri bullfrog adalah ketersediaan air tawar. Air sumur pun, bisa digunakan, asalkan disediakan pompa sirkulasi air dan filter. Air PAM harus terlebih dahulu didiamkan barang dua sampai tiga hari sebelum digunakan, karena kandungan kaporitnya yang masih tinggi. Persyaratan kolam dan sarana-prasarana lainnya sangat fleksibel. Kolam tanah dengan pagar bambu pun, sudah cukup untuk memulai kegiatan ini. Lokasi usaha, terutama kalau kita ingin mengembangkannya dalam skala besar, sebaiknya berada di dataran menengah atau tinggi (500 sd. 1.200 m. dpl). Tetapi untuk skala kecil, kegiatan ini bisa dilakukan di dataran rendah. Usaha yang dilakukan di Bali dan Yogya, semuanya berlokasi di dataran rendah (100 – 200 m. dpl).

Induk bullfrog dengan bobot 0,5 kg, harganya Rp 350.000,- per pasang. Dari sepasang induk itu, akan dihasilkan ribuan berudu (kecebong). Induk betina seberat 350 gram misalnya, rata-rata bisa bertelur sekitar 5.000 butir, dengan daya tetas 80%. Usaha agroindustri bullfrog, juga bisa dimulai dengan berudu seharga Rp 150,- per ekor seukuran biji kedelai. Pembesaran berudu sampai menjadi anak kodok memakan waktu 3 bulan. Pola pemeliharaan berudu sama seperti burayak (anak ikan). Sementara pembesaran sampai menjadi kodok konsumsi (ukuran 200 gram) memakan waktu 6 bulan. Apabila saat ini kita membeli induk kodok dengan sebanyak 10 pasang, maka sekitar 9 sampai 10 bulan mendatang, sudah bisa panen kodok konsumsi.

# # #

Saat ini, hampir tidak ada lagi agroindustri prosesing kodok hidup menjadi frogleg beku. Sebab pasokan kodok hidupnya tidak pernah bisa kontinu. Baik tangkapan dari alam, maupun kodok hidup hasil budidaya. Kodok budidaya, umumnya dipasarkan dalam bentuk hidup. Sebab permintaan pasarnya cukup besar. Pasar  ekspor biasanya minta kodok hidup bobot 0,25 kg per ekor dengan harga Rp 20.000,-. prangko Jakarta. Pasar lokal menghendaki 0,125 kg per ekor, dengan harga yang bervariasi di bawah harga untuk pasar ekspor. Tingginya harga kodok hidup ini, telah mengakibatkan hasil agroindustri bullfrog rakyat, sulit untuk memenuhi pasokan. Padahal, sampai sekarang belum ada agroindustri bullfrog skala besar yang bangkit kembali.
Agroindustri peternakan bullfrog, akan sangat menguntungkan apabila disertai pencarian pakan alternatif. Sebab komponen terbesar unit peternakan adalah pakan. Pakan berupa pellet khusus kodok, harganya sudah Rp 6.000,- per kg. Padahal pakan unggas maupun ayam masih berkisar antara Rp. 2.000,- sampai Rp 3.000,- Karenanya banyak peternak kodok yang kreatif, meramu pakan sendiri. Bahannya dedak halus, ampas tahu, tepung ikan atau daging ayam mati dengan ditambah vit C. Di peternakan ayam broiller, kita bisa membeli ayam mati dengan harga sangat murah. Daging ayam ini diblender lalu dicampurkan ke adonan pakan dan dikukus. Setelah dingin bisa langsung diberikan ke kodok. Alternatif pakan lain seperti bekicot, keong sawah dan cacing akan sangat membantu pertumbuhan kodok.

Meskipun agroindustri bullfrog dikategorikan sebagai “perikanan”, namun sifat kodok amfibi kodok, membuat lokasi budidaya menjadi sangat spesifik. Secara garis besar, kolam budidaya dibagi menjadi tiga. Pertama kolam pemijahan (perkawinan). Di sini kodok betina akan mengeluarkan telurnya, dan kemudian kodok jantan mengeluarkan sperma. Telur dan sperma akan bertemu di air kolam. Kolam pemijahan terdiri dari kolam dangkal tempat memijah, dan daratan tempat menaruh pakan. Kolam pemijahan perlu dilengkapi air yang mengucur mirip hujan. Kondisi ini akan menciptakan suasana musim hujan, saat kodok berpijah, sekaligus juga membuat suhu udara lebih sejuk.

Telur yang sudah dibuahi, segera dipindahkan ke kolam atau akuarium penetasan, yang dilengkapi heater (pemanas air) dan termostat (pemutus hubungan listrik apabila air mencapai suhu tertentu). Tetapi banyak peternak tradisional menetaskan telur kodoknya di kolam biasa, yang terkena sinar matahari penuh. Telur bullfrog akan menetas menjadi berudu atau kecebong. Berudu belum mempunyai kaki belakang dan depan, hingga hanya terdiri dari tubuh dan ekor. Berudu juga bernapas 100% dengan insang. Hingga pemeliharaan berudu, persis sama dengan pemeliharaan ikan. Kolamnya pun tidak perlu diberi daratan untuk tempat pakan.

# # #

Pelan-pelan ekor berudu akan mengecil lalu hilang sama sekali. Di lain pihak, kaki belakang dan depan akan berangsur tumbuh. Setelah itu berudu akan berubah menjadi anak kodok (percil), dan harus dipindahkan ke kolam pembesaran. Disain kolam pembesaran, sama dengan kolam pemijahan, hanya tidak perlu dibericucuran air. Seluruh kolam pemeliharaan bullfrog, harus dipagar dengan kawat ram, anyaman bambu atau yang lebih murah dengan jaring (net) nilon. Kerangka kandang bisa besi, bambu atau kayu. Selain pagar keliling, masing-masing kandang juga perlu disekat dengan pagar. Baik antar jenis kandang, maupun sesama kandang pembesaran, apabila kita punya lebih dari satu kandang.

Bullfrog bisa dipanen ketika sudah memenuhi standar bobot, sesuai dengan permintaan pasar. Packing kodok hidup, sama halnya dengan packing ikan, menggunakan drum-drom plastik yang diisi air tawar, sirkulasi air dan aerator. Packing juga bisa dilakukan dengan memasukkan kodok ke dalam kantung plastik, yang sudah diisi air dan oksigen. Kantong-kantong plastik ini kemudian dimasukkan ke dalam kotak stereofoam. Packing seperti ini cocok untuk pengiriman melalui kargo udara. Sebab daya tahan kodok dalam kantong plastik sangat terbatas. Sementara packing dengan drum yang dilengkapi pompa sirkulasi air serta aerator, cocok untuk pengiriman lewat kargo darat maupun air.

Frogleg, iproduksi dari kodok yang sudah sesuai standar. Sebelum dipotong, bullfrog dicuci bersih. Setelah dipotong, dibuang kulit, isi perut, kepala dada dan paha depan, serta cakar kaki belakangnya. Hingga yang tersisa hanya dua paha dan dua betis belakang, berikut sedikit tulang punggung. Limbah agroindustri frogleg tidak boleh dicampurkan ke ramuan pakan kodok, sebab akan mengakibatkan kanibal dan degradasi genetik. Limbah ini bisa dicampurkan ke pakan unggas, ikan karnifora dan belut. Selanjutnya, frogleg dicuci, dikemas dan dibekukan. Seluruh proses ini harus dilakukan dengan steril, agar bakteri salmonella tidak datang. Salmonella telah berkali-kali mengakibatkan frogleg serta udang beku kita ditolak oleh MEE dan AS. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s