MEMPERTAHANKAN HARGA JERUK SIAM

Awal bulan September ini, diberitakan bahwa harga jeruk medan jatuh ketingkat di bawah Rp 1.000,- per kg. di tingkat petani. Yang dimaksud sebagai jeruk medan, sebenarnya adalah jeruk siam (Citrus suhuinensis), bukan jeruk keprok (Citrus reticulata/nobilis). Hingga sebenarnya, jeruk medan sama varietasnya dengan jeruk pontianak (jeruk tebas). Sebab keduanya merupakan jeruk varietas siam. Sentra jeruk siam, adalah Tanah Karo (Sumut), Tebas (Kalbar), Baritokuala (Kalsel), dan Jember (Jatim). Tetapi sentra terbesarnya masih kecamatan Tebas, Kab. Sambas, Kalimantan Barat. Kawasan ini pernah berjaya sebagai penghasil jeruk siam pada tahun 1980an. Kemudian pada tahun 1990an ada tataniaga jeruk yang sangat merugikan petani.

Petani lalu malas untuk merawat tanaman mereka. Tanaman itu pun merana dan mati. Hingga jeruk pontianak segera menghilang dari pasar. Awal tahun 2000an, pasar jeruk siam di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, didominasi oleh jeruk Karo dan Jember.  Ciri khas siam karo dan jember adalah bentuknya yang lebih pipih (gepeng), warna kulitnya kuning cerah mengarah ke oranye, kulitnya tebal dan mudah dikupas, segmen buahnya juga mudah dipisah-pisahkan. Beda dengan jeruk pontianak 1980an yang bentuknya bulat, kulitnya tipis dan berwarna hijau semburat kuning. Tahun 2003 misalnya, panen jeruk siam melimpah. Tetapi harga tidak sempat jatuh. Demikian juga tahun 2004 dan 2005.

Tetapi tahun 2006 ini, harga jeruk siam di tingkat petani jatuh. Meskipun harga di tingkat konsumen tetap biasa-biasa saja. Di kakilima, terminal dan pasar, harga jeruk siam bervariasi dari Rp 4.000,- sd. Rp 8.000,- per kg. Harga ini memang menurun dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya yang harga terendahnya Rp 5.000,- sementara harga tertingginya bisa mencapai Rp 10.000,- per kg. Ini merupakan indikator bahwa pasokan memang lebih besar dari permintaan. Bisa pula, hal ini disebabkan oleh faktor daya beli masyarakat yang memang sangat menurun, setelah kenaikan harga BBM bulan November tahun 2005. Inikator lain dari rusaknya harga jeruk adalah, banyaknya jeruk rusak yang terbuang dari pasar induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Tiap harinya, bisa mencapai puluhan peti jeruk siam yang dibuang, karena tidak terpasarkan.

# # #

Sebenarnya, petani bisa menyiasati, agar harga jeruk tidak sampai jatuh. Caranya dengan mempercepat atau sebaliknya memperlambat saat panen. Ini bisa dilakukan dengan kombinasi pola pengairan dan pemupukan. Hingga saat panen, akan lebih maju atau lebih ke belakang, ketika pasokan di pasar sudah mulai menurun. Cara kedua adalah dengan melakukan penjarangan buah. Buah yang tetap dipelihara di pohon, hanyalah yang berukuran besar dengan bentuk yang sempurna. Biasanya satu tangkai jeruk siam, akan berisi enam sampai 10 butir buah. Hasilnya, 10 buah itu akan berukuran kecil-kecil. Kalau sejak buah masih muda dilakukan penjarangan dari 10 butir tinggal menjadi 4 butir, maka ukuran buah jeruk itu akan meningkat 2 sampai 3 kali lipat dari ukuran apabila tidak dilakukan penjarangan.

Buah jeruk siam yang dibuang-buang karena harganya jatuh, ukurannya beragam. Ada yang kecil-kecil, sedang dan basar. Namun prosentase jeruk ukuran kecil lebih banyak. Sementara yang berukuran besar (super) hanya sedikit. Padahal, di pedagang kakilima di Jakarta, harga jeruk siam super dengan bobot 2,5 ons, bisa mencapai Rp 2.500,- per butir. Berarti harga per kg. mencapai Rp 10.000,- Sementara harga satuan jeruk ukuran biasa (bobot di bawah 1,5 ons, hanya Rp 1.000,- per butir atau per kg. Rp 6.000,- per kg. Bobot di bawah 1 ons, harganya tinggal Rp 500,- per butir, atau di bawah Rp 5.000,- per kg. Di pasar kakilima Jakarta, volume jeruk dengan bobot dibawah 1 ons sangat melimpah. Area perdagangan jeruk siam kecil ini, mencapai pedagang keliling yang masuk ke gang sempit, dan juga di dalam angkutan umum.

Sebenarnya yang paling banyak diperlukan masyarakat, adalah jeruk siam dengan ukuran 1,6 sd. 2 ons. Hingga tiap 1 kg. isi 5 sd. 6 butir jeruk. Bobot ini, apabila kualitas kulitnya mulus dan kuning, bisa masuk kategori B. Kalau kulitnya kurang mulus dan kurang kuning, akan masuk kategori C. Bobot 2 ons dengan bentuk sempurna, kulit mulus dan kuning oranye, bisa masuk kategori A. Buah di atas 2 ons, dengan kulit mulus, baik kuning maupun hijau, bisa masuk kategori super. Namun konsumen jeruk super juga sangat sedikit. Hingga produksi jeruk super secara massal, juga akan sulit untuk diserap pasar. Penjarangan dengan sangat ketat, akan menghasilkan buah dengan bobot seragam antara 1,5 sd. 2,5 ons, dengan buah terbanyak berbobot 2 ons. Buah dengan standar inilah yang paling diharapkan konsumen.

Problem rasa buah pada jeruk siam, sejak tahun 1980an sudah bisa diatasi, terutama dengan menyeleksi varietas-varietas dengan genetik yang menghasilkan buah dengan rasa manis. Karenanya, faktor pemupukan, hanya akan ditujukan pada produktivitas buah. Bukan untuk mengupayakan agar rasa buah menjadi lebih manis. Varietas siam pontianak misalnya, akan tetap berbuah manis, meskipun tanpa disertai pemupukan yang memenuhi standar budidaya. Namun tanpa pemupukan yang baik, produktivitas buah akan menurun. Misalnya, seharusnya dengan pemupukan 1 tanaman akan menghasilkan 100 kg, maka tanpa pemupukan hasilnya hanya 60 kg. Selain itu, pemupukan juga akan bisa memperbaiki kualitas buah, terutama ukurannya.

# # #

Masalah yang dihadapi oleh petani jeruk Indonesia, Malaysia dan juga Thailand adalah faktor tidak mulusnya kulit buah. Kulit buah yang burik ini, tidak hanya dialami oleh jeruk siam, tetapi juga pisang, terutama pisang raja bulu dan ambon, tetapi tidak pernah terjadi pada jeruk besar (pomelo, Citrus grandis), jeruk keprok dan jeruk manis (Citrus sinensis). Ada dua penyebab hingga kulit buah jeruk siam menjadi burik. Pertama, pada waktu masih pentil, kulit buah diserang oleh hama kutu daun (Aphid), atau larva (ulat) trips. Namun bisa juga burik ini disebabkan oleh gesekan kulit buah dengan ranting atau ujung daun secara terus-menerus, terlebih kalau angin bertiup kencang. Hama penyebab burik, diatasi dengan penyemprotan larutan pstisida sistemik, atau dengan pembungkusan pentil buah.

Burik dengan penyebab gesekan karena ada angin kencang, diatasi dengan pembungkusan buah, pemangkasan ranting dan daun yang berdekatan dengan buah, serta dengan penanaman windbroken. Yang tergolong sebagai windbroken adalah lamtoro, albisia, akasia dan beberapa tanaman lain yang tajuknya rindang hingga tidak menghalangi masuknya sinar matahari ke kebun jeruk.  Penyemprotan dengan pestisida sistemik, hanya bisa dilakukan ketika buah masih sangat muda. Setelah buah agak besar, penyemprotan harus dihentikan. Paling aman adalah dengan pembungkusan. Dengan cara ini, kutu tidak menyerang, dan gesekan dengan ranting akibat angin juga bisa dihindari.
Bahan pembungkusnya berupa kertas atau plastik.

Selain dengan cara itu, masih ada cara lain yang relatif sehat. Untuk menghindari hama, tetapi sekaligus tidak mengganggu jeruk dengan pestisida, di areal kebun ditanam tumbuhan inang. Tumbuhan ini akan menarik perhatian kutu daun atau trip, hingga mereka akan berkumpul pada tanaman inang tadi. setelah berkumpul, baru disemprot pestisida. Dengan cara ini, penyemprotan tidak dilakukan pada buah jeruk, melainkan pada tanaman inang. Selain itu bisa juga dilakukan penanaman nilam atau sereh wangi secara tumpangsari dengan jeruk siam. Aroma daun nilam dan sereh wangi ini, akan mengusir hama pengganggu tanaman jeruk. Cara ini relatif lebih murah namun efektif, dibanding dengan penyemprotan.

Pemotongan daun dan ranting yang potensial meggesek-gesek kulit buah, bisa dilakukan bersamaan dengan penjarangan buah. Hingga pekerja kebun skali jalan melakukan pemotongan daun/rantig, sekaligus membuang buah yang tidak akan tumbuh sempurna dan besar. Dalam satu dompolan buah, hanya disisakan yang bentuknya sempurna dan berukuran besar. lainnya dibuang. Hingga nantinya akan dihasilkan buah dengan ukuran standar bobot sekitar 2 ons, dengan kulit yang mulus tanpa cacat. Upaya ini akan mampu mencegah harga buah jeruk di tingkat petani jatuh. Sebab kalau bentuk dan ukuran buah seragam, dan kulit mulus, maka warna hijau pun akan tetap disukai konsumen. Sebab konsumen kita sudah tahu, bahwa meskipun berkulit hijau, siam pontianak tetap berasa manis.

# # #

Sebenarnya kulit buah yang hijau, juga bisa diatasi dengan proses degreening. Yang dimaksud dengan degreening, sebenarnya merupakan pemeraman biasa, hingga buah yang semula berkulit hijau berubah menjadi berkulit kuning. Sebab jeruk merupakan buah non klimaterik. Artinya buah yang tidak memerlukan pemeraman, untuk mengubah karbohidrat daging buah menjadi gula buah (fruktosa). Degreening pada jeruk, dilakukan dengan memasukkan kotak atau kemasan jeruk ke dalam ruangan. Kemudian dimasukkan gas etilen atau gas karbit. Dalam waktu hanya satu malam, kulit buah akan menguning seluruhnya. Namun degreening juga punyakelemahan, yakni buah akan menjadi cepat rusak.

Selama ini buah jeruk siam memang tidak pernah dipacking bagus. Pengiriman dari sentra produksi ke sentra pemasaran, hanya dilakukan dengan wadah kotak kayu, keranjang, atau malahan dengan sistem curah. Buah hanya ditaruh dalam bak pickup. Umumnya, buah yang akan dipasarkan di Pasar Induk Kramat Jati Jakarta, dikemas dalam kotak-kotak kayu. Ada yang sudah digrading, ada yang masih berupa buah campuran. Grading jeruk, bisa dilakukan dengan cara sangat sederhana. Buiah jeruk digelindingkan di satu papan kayu yang diberi pembatas dan dipasang agak miring. Papan kayu tadi diberi lubang-lubang, hingga buah dengan ukuran bobot di bawah 2 ons akan jetuh, sementara yang berukuran lebih besar akan terus menggelinding.

Perlakuan penjarangan buah, pencegahan kulit buah mejadi burik, degreening sortasi dan packing yang benar, akan mengakibatkan harga jeruk tidak jatuh. Sebab ketika ada berita harga jeruk diSumut jatuh, maka harga jeruk serupa di kakilima Jakarta juga tidak turun. Hingga selain penanganan teknis budidaya dan pasca panen, diperlukan pula penanganan manajerial petani. Petani harus mau membentuk koperasi, dan mengurusnya dengan benar.  Lembaga inilah yang akan menanganimanajeman produksi dan pemasaran, termasuk mengupayakan modal agar petani selalu bisa mengadakan inovasi, tanpa terhambat oleh faktor tidak tersediannya modal. (R) # # #

One thought on “MEMPERTAHANKAN HARGA JERUK SIAM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s