POTENSI AGROINDUSTRI BUAH KAWISTA

Bulan-bulan Juli sd. September, adalah puncak panen raya kawista di Kab. Rembang, Jawa Tengah. Sebenarnya kawista tumbuh merata di pantai Jawa, Bali dan NTB/NTT. Namun populasi kawista terbanyak, memang hanya ada di Kab. Rembang. Hingga buah kawista menjadi identik dengan kabupatan di ujung timur laut Jawa Tengah ini. Kalau kita datang ke kota Rembang pada bulan Agustus ini, di rumah makan besar di kota Rembang, akan tampak buah bulat, dengan diameter 6 sd. 8  cm. yang mereka sebut kawis. Tekstur kulit buah kasar, dengan warna kelabu-cokelat. Kulit buah ini sangat keras mirip tempurung. Tampak bekas tangkai buah yang lepas. Sebab kawista tidak bisa dipanen kecuali lepas dari tangkai dan jatuh.

Kalau tempurung buah kawista dipecah, maka di bagian dalamnya akan tampak daging buah berupa pasta campur biji dan serat serta batas segmen buah. Warna pasta daging buah ini cokelat gelap, sepintas seperti daging buah yang bsudah busuk. Aroma kawista sangat khas. Tidak ada buah dengan aroma seperti ini. Rasa kawista agak masam dengan sedikit manis. Pasta kawis ini bisa dikonsumsi segar. Caranya, daging buah dicampur gula merah atau gula pasir, langsung di dalam tempurung yang telah dipecah, kemudian diambil dengan sendok dan langsung dimakan. Bijinya bisa dibuang, bisa pula ikut dimakan, dengan cara dikunyah atau ditelan utuh. Buah kawista yang jatuh dan pecah, harus segera dikonsumsi, karena akan cepat rusah. Buah yang utuh bisa tahan sampai lebih dari 1 minggu dalam suhu kamar.

Selain dikonsumsi segar, daging buah kawis juga bisa dijadikan minuman. Caranya, daging buah itu diambil dari tempurungnya, dimasukkan ke dalam gelas dan dicampur gula pasir lalu diaduk-aduk. Sebaiknya didiamkan dulu sejenak, hingga gula diserap oleh daging buah. Setelah itu ditambahkan air dingindan es batu hingga es kawis siap dikonsumsi. Di Rembang juga sudah ada agroindustri sirup kawista, meskipun volume produksinya masih sangat terbatas. Karena terbatasnya volume produksi, sirup kawis ini tidak pernah sempat dipasarkan ke luar kota Rembang. Di India dan Srilanka, daging buah kawista diolah menjadi jam dan jely untuk berbagai keperluan. Antara lain sebagai pengoles roti tawar.

# # #

Kawista adalah tanaman buah famili Rutaceae (jeruk-jerukan), asli dari India dan Srilanka.  Disebut pula sebagai wood-apple. Nama latinnya limonia Swingle dengan sinonim Feronia lucida; Feronia elephantum Correa; Limonia acidissima L.; dan Schinus limonia L. Kawista merupakan genus Feronia dengan satu-satunya spesies, yakni limonia. Kadang-kadang kawista juga disebut elephant apple, monkey fruit, curd fruit, kath bel dan beberapa sebutan sesuai dengan dialek bahasa Urdu di India. Di Malaysia, kawista disebut gelinggai atau belinggai. Di Thailand disebut ma-khwit, di Kamboja kramsang dan di Laos dinamakan ma-fit. Orang Perancis menyebutnya pomme d’ elephant, pomme de bois, dan citron des mois.

Ada dua varietas kawista, yakni kawista manis yang ukuran buahnya besar dan rasa buahnya sebenarnya tetap masam; serta kawista batu yang buahnya kecil-kecil keras dan rasa daging buahnya sangat sepet serta masam. Kalau kawista manis dimanfaatkan buahnya, maka kawista batu banyak dimanfatkan pohonnya untuk bahan bonsai kualitas tinggi. Dua varietas kawista ini, sama-sama hidup di pantai dan dataran rendah, sampai dengan ketinggian 300 m. dpl. Kawista menghendaki tanah berpasir, dengan udara panas dan kelembapan rendah. Meskipun berasal dari India, sekarang kawista telah menyebar ke seluruh dunia, terutama ke kawasan Asia Tenggara.

Kawista adalah tanaman pohon berkayu keras dan liat. Pertumbuhannya sangat lamban. Umur  5 tahun, tinggi tanaman baru sekitar 2 meter. Umur 15 tahun baru mulai berbuah. Tinggi tanaman bisa mencapai belasan meter, dengan diameter batang optimal sekitar 40 cm. Pohon kawista bisa mencapai umur ratusan tahun, seperti halnya pohon asam. Tajuknya rindang, dengan dahan dan ranting menjuntai, berduri lurus dan tajam, panjangnya sampai 4 cm. Kawista berdaun majemuk, berukuran panjang sampai 12 cm, bersirip ganjil dengan dengan anak daun berhadapan, 2-3 pasang. Daun berbentuk bundar telur sungsang, panjangnya sampai 4 cm, memiliki kelenjar minyak, dengan aroma lemah apabila diremas.

Kandungan Daging buah kawista sekitar sepertiga dari volume buah. Kandungan pektin buah segarnya adalah 3-5%. Setiap 100 gram daging buah mengandung: 74 gram air, 8 gram protein, 1,5 gram lemak, 7,5 gram karbohidrat, dan 5 gram abu. Dalam 100 gram bagian biji terkandung: 4 gram air, 26 gram protein, 27 gram lemak, 35 gram karbohidrat, dan 5 gram abu. Daging buah yang kering mengandung 15% asam sitrat, asam kalium, kalsium, dan fe. Kayu kawista berwarna putih kekuningan, keras, agak berat, dan berserat kasar. Urat kayu kawista rapat, dan setelah diolah akan membentuk pola yang cukup artistik. Meskipun kualitas kayunya cukup baik, tetapi kawista jarang dimanfaatkan kayunya, mengingat pertumbuhannya yang sangat lamban.

# # #

Penyebaran kawista ke seluruh kawasan Asia Tenggara, sudah terjadi sejak permulaan millenium I, bersamaan dengan penyebaran jati (Tectona grandis). Ketika itu kapal dagang India sudah datang ke Jawa untuk mencari rempah-rempah dan gula. Kadang-kadang tiang layar mereka rusak. Di Jawa tidak ada kayu, yang kualitasnya sama dengan kayu bahan tiang layar kapal mereka. Maka para pelaut India itu pun membawa benih kayu, untuk tiang layar itu, guna dibudidayakan di Jawa. Mereka juga membawa buah kawista sebagai bekal untuk minuman atau untuk dikonsumsi selama perjalanan. Para pelaut India itu mendarat pertamakali, di sekitar kota Rembang.

Itulah sebabnya, sampai sekarang, kawasan Mantingan di Kab. Rembang dikenal sebagai penghasil jati terbaik di dunia. Dan tanaman buah kawis juga hanya dijumpai dalam populasi banyak di kab. ini. Di kota “Kartini” ini, kawista banyak tumbuh liar di kebun-kebun penduduk, di halaman rumah atau di pinggir jalan desa. Hampir tidak pernah ada orang yang sengaja membudidayakan buah ini. Upaya untuk menyemai biji kawista juga lebih banyak gagalnya. Namun apabila biji itu dibuang di tanam kebun yang berpasir, tingkat pertumbuhannya akan tinggi. Kenggenan masyarakat untuk membudidayakan kawista, terutama disebabkan oleh lamanya umur berbuah, dan nilai ekonomisnya yang masih rendah.

Kawista, masih satu famili dengan buah maja (Aegle marmelos (L.). Yang disebut buah maja, bukan buah yang besar-besar, berkulit licin dan berwarna hijau. Yang selama ini disebut maja olah masyarakat, sebenarnya adalah berenuk (Crescentia cujete), yang juga disebut calabash tree, gourd tree, atau hue tree. Berenuk juga sering disebut sebagai “Majapahit”, dan dianggap sebagai buah legendaris yang dimakan oleh para prajurit dan pengikut Raden Wijaya ketika membangun Tanah Tarik menjadi kerajaan Majapahit. Padahal berenuk merupakan tumbuhan asli Amerika Tropis, yang baru masih ke pulau Jawa ketika dibawa oleh bangsa Portugis dan Belanda. Buah “maja asli” adalah  kerabat kawista yang daging buahnya juga enak dimakan.

Seperti halnya kawista, maja juga tumbuh di kawsan kering. Habitat asli maja menyebar mulai dari India sampai Asia Tenggara, termasuk Jawa. Maja disebut sebagai Bael, Bel, Beli fruit atau Stone apple. Bentuk, ukuran dan karakter buah maja juga mirip kawista. Hanya warna kulit buahnya lebih cokelat dan lebih gelap. Pucuk daun maja biasa digunakan untuk lalap. Menurut kepercayaan Hindu, dewa Syiwa bermukim di bawah pohon maja. Baik kawista maupun maja, sama-sama berkhasiat untuk bahan obat. Di India, buah kawista biasa digunakan sebagai penguat lever, jantung, dan penurun panas. Di Indocina, duri kawista digunakan dalam ramuan tradisional untuk meredakan pendarahan berlebihan selama haid.

# # #

Sebenarnya, kawista memiliki nilai ekonomis yangbaik, apabila pemerintah daerah mempromosikannya dengan benar. Di rumah makan kecil namun cukup representatif di tengah kota Rembang, es buah kawista dihargai Rp 7.500,- per gelas. Sementara harga jus buah lainya, termasuk jus mangga, hanya berharga Rp 5.000,- dengan ukuran gelas yang sama. Harga sirup markisa, per botol (ukuran botol kecap), Rp 13.000,- Sirup ini hanya tersedia selama musim buah markisa. Pada bulan-bulan November sampai bulan Mei tahun berikutnya, sirup markisa tidak bisa diproduksi, dan stoknya juga habis. Dengan populasi pohon yang terbatas, buah dan sirup kawista bisa menjadi produk khas Rembang yang sangat eksklusif.

Sosok tanaman kawista, mulai dari bentuk batang, tajuk, tekstur dan warna kulit batang, bantuk daun, susunan ranting, semua menghadirkan keindahan yang sangat khas. Sosok tanaman kawista yang indah ini, memungkinkannya untuk dijadikan sebagai elemen taman. Meskipun, kawista tidak mungkin dijadikan sebagai tanaman penedih di pinggir jalan raya, lapangan parkir atau tempat umum lainnya. Sebab ketika musim buah, buahnya yang keras dan berjatuhan akan membahayakan mobil yang melintas atau sedang diparkir. Sebab ukuran buah yang cukup besar, dengan tempurungnya yang keras, akan potensial memecahkan kaca mobil.

Karena kawista sangat tahan kekeringan, maka tanaman ini juga potensial digunakan untuk menghijaukan lahan-lahan kritis di pantai dan dataran rendah. Pemerintah Kabupaten Rembang, sebenarnya sudah mengetahui potensi buah ini. Namun sampai sekarang belum ada upaya untuk memasalkan dan mempromosikan komoditas khas daerah mereka tersebut. Dinas pertanian setempat, juga belum tertarik untuk memproduksi benih kawista secara massal. Demikian pula dengan Dinas Pariwisatanya yang tidak terlalu antusias untuk mempromosikan buah khas daerah mereka ini dengan cara lebih profesional. Selama ini masyarakat luar kota Rembang, tahu  tentang kawista hanya dari mulut ke mulut saja. (R) # # #

5 thoughts on “POTENSI AGROINDUSTRI BUAH KAWISTA

  1. Buah kawista memang punya nilai ekonomi sangat tinggi. Di pasaran Aceh, harganya sampai 15.000 per butir ….

  2. Saya punya tanaman Kawista ini umurnya kira sudah 16 th, batangnya masih 4-5cm tingginya baru 1,7m, apakah tidak cocok tumbuh di Bandung ya ?

    • Bapak Achmad, untuk tanaman kawista memang tidak cocok untuk ditanam di Bandung karena terlalu tinggi. Tanaman kawista cocoknya ditanam di pantai yang berpasir. Contohnya di Rembang. Terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s