BENIH HIBRIDA VERSUS TRANSGENIK

Beberapa waktu yang lalu, produk tepung maizena yang dujual di pasar swalayan dipermasalahkan, karena diduga berasal dari bahan jagung transgenik. Di Eropa dan Jepang, produk pangan dan pakan ternak transgenik, sudah sejak lama ditolak. Terutama produk jagung dan kedelai dari Amerika Serikat (AS), yang dicurigai sebagai produk transgenik dilarang masuk ke negara-negara MEE dan Jepang. Mengapa produk-produk transgenik ditolak? Padahal dampak negatif dari produk transgenik selama ini belum terbukti kebenarannya. Penolakan produk jagung dan kedelai AS di Eropa, sebenarnya lebih disebabkan oleh faktor persaingan dagang biasa.

Selain jagung, yang juga pernah dipermasalahkan di Indonesia adalah kapas transgenik, yang ketrika itu akan dikembangkan secara besar-besaran di Sulawesi Selatan dan Tenggara. Penolakan terhadap produk jagung dan kapas transgenik di Indonesia, sebenarnya agak aneh. Sebab kedelai yang kita impor dari AS, hampir bisa dipastikan semuanya produk transgenik. Padahal, kita impor kedelai tidak hanya berupa bungkil untuk pakan ternak, melainkan juga untuk bahan baku tahu dan tempe yang dikonsumsi manusia. Impor kedelai dari AS ini juga sudah berlangsung sejak tahun 1970an. Mungkin kedelai transgenik ini tidak terlalu diributkan, karena masyarakat tidak tahu.

Kekhawatiran yang yang paling sering dikemukakan oleh masyarakat adalah, produk transgenik ini potensial menimbulkan kanker serta gangguan penyakit lainnya. Banyak pula yang menolak produk transgenik, dengan alasan selera. Rasa kedelai transgenik misalnya, tidak segurih kedelai biasa. Meskipun ukuran biji kedelai transgenik bisa tiga kali lipat kedelai biasa. Di Indonesia, para perajin tahu lebih memilih kedelai lokal dibanding yang impor, dengan pertimbangan selera serta ekonomis. Kualitas dan rendemen kedelai impor sebagai bahan tahu, kalah dibanding kedelai lokal. Tetapi untuk bahan baku tempe, kualitas dan rendemen kedelai impor lebih tinggi.

# # #

Produk biji-bijian (padi, jagung, gandum) dan kacang-kacangan (kedelai, kacang tanah, bunga matahari), ada yang merupakan spesies asli. Produktivitas spesies asli ini sangat rendah, selain umur panennya juga lebih panjang. Padi yang kita budidayakan sekarang ini, juga merupakan hasil persilangan antara Oryza sativa dari Asia dengan Oriza glaberrima dari Afrika. Juga antar varietas Oriza Sativa sendiri, yang terdiri dari Indica, Japonica dan Javanica. Hasil persilangan ini ada yang menjadi varietas baru, ada pula yang bersifat hibrida. Padi varietas baru memiliki sifat-sifat unggul yang menetap. Sifat-sifat tanaman hibrida, tidak dapat diturunkan ke generasi berikutnya.

Gandum biasa (Common Wheat – Triticum aestivum), yang paling banyak dibudidayakan manusia sekarang ini, juga merupakan hasil silangan dari spesies gandum liar (emmer, Triticum dicoccoides) yang berkromosom 4 atau tetraploid, dengan Aegilops tauschii, genus rumput liar di luar gandum yang berkromosom 2 atau diploid. Hingga tercipta spesies gandum baru yang berkromosom 6 atau hexaploid. Gandum yang dibudidayakan manusia, sekarang ini tercatat lebih dari 20 spesies, dengan ratusan varietas serta hibrida. Jagung yang dibudidayakan untuk berbagai keperluan, juga merupakan hasil pemuliaan berupa varietas, open polyneted maupun hibrida. Namun semuanya masih spesies Zea mays.

Hasil silangan antar genus, spesies, dan varietas, bisa menghasilkan spesies dan varietas baru, atau hibrida. Keunggulan spesies dan varietas baru, akan menetap. Hingga, hasil panen padi, jagung, gandum dan kedelai, bisa diseleksi untuk dijadikan benih pada musim tanam berikutnya. Pada tanaman hibrida, hasil panen tidak bisa diseleksi untuk dijadikan benih. Sebab benih dari tanaman hibrida ini, akan kembali ke dua tanaman induknya. Hingga sifat-sifat unggulnya sebagai hibrida akan hilang. Hasil panen jagung hibrida, hanya bisa dijadikan pakan ternak. Sementara benihnya harus terus dibeli dari pengusaha benih profesional, untuk tetap memperoleh hasil panen yang baik.

Proses untuk menciptakan benih hibrida cukup panjang dan biayanya tinggi. Proses ini dimulai dengan menyeleksi tanaman induk, kemudian meneliti sifat-sifat unggul serta kelemahannya. Proses ini juga dilakukan dengan penyilangan, kemudian memilih individu tanaman yang paling unggul. Individu paling unggul ini diteliti, apakah sifat-sifat unggulnya menetap, atau hanya sementara. Kemudian juga dilakukan upaya penyilanga dengan individu tanaman unggul lainnya, hingga akhirnya diperoleh hasil silangan dengan tingkat keunggulan tertinggi. Setelah rumus silangan ini diketahui, masing-masing calon induk diperbanyak dan dilakukan penyilangan secara massal. Hasil persilangan inilah yang kemudian disebut sebagai benih hibrida.

# # #

Kelemahan benih hibrida adalah, penangkar benih haryus terus memelihara semua induk (tetua) tanaman, guna memperoleh tanaman induk terakhir untuk menghasilkan benih hibrida. Selain itu, tanaman hibrida juga mengandung banyak kelemahan, terutama dalam menghadapi gangguan hama serta penyakit tanaman. Padi-padi unggul yang berumur pendek dengan hasil tinggi, ternyata rentan terhadap serangan hama wereng dan tikus. Hingga kemudian diciptakan padi varietas unggul tahan wereng (VUTW). Proses penelitian untuk menciptakan benih hibrida juga lama, namun hasil yang diperoleh tidak pernah bisa sempurna.

Kelemahan benih hibrida inilah yang kemudian mengilhami para pakar pertanian Eropa dan AS, untuk menciptakan benih transgenik. Teknologi ini memungkinkan manusia menciptakan padi, jagung, gandum, kedelai, kacangtanah dan kapas dengan produktivitas optimum, namun dengan kualitas hasil yang sempurna. Teknologi ini berawal dari diketahuinya peta genetik dari masing-masing genus, spesies dan varietas tanaman penting itu. Peta genetik inilah yang kemudian diubah-ubah di dalam lab, untuk menciptakan varietas tanaman sesuai dengan keinginan manusia. Kalau yang diotak-atik  peta genetiknya tanaman hias, dampak negatifnya tidak ditakuti oleh manusia. Beda dengan tanaman pangan yang hasilnya akan dikonsumsi.

Pertama-tama, gen tanaman ini hanya diubah-ubah jumlah dan susunan kromosomnya. Dari upaya ini pun, sudah bisa diperoleh benih dengan keunggulan yang luarbiasa. Namun sifat rakus manusia tidak bisa dihilangkan. Sapi perah di Eropa diberi tambahan gen manusia. Maksudnya, agar susu yang dihasilkan dan akan dikonsumsi bayi manusia, kualitasnya setara dengan ASI. Kedelai dan jagung yang bijinya normal itu, gennya disusupi gen bakteri, kapang dll. Untuk mempertahankan diri, gen pertumbuhan kedelai itu memerintahkan agar molukul-molekul biji menggembung, menjadi tiga sampai empat kali lipat ukuran normal. Akibatnya, ukuran biji kedelai menjadi sangat besar.

Benih unggul dengan teknologi rekayasa genetika ini, kemudian populer dengan sebutan transgenik. Dengan teknologi pembenihan ini, dunia agribisnis bisa menghasilkan tomat yang bentuk, ukuran, warna kulit buah, kandungan nutrisi dan sifat-sifat lainnya seragam, sesuai dengan keinginan konsumen. Hasil panen juga bisa ditingkatkan beberapa kali lipat dari panen produk pertanian dengan benih hibrida. Protein kedelai transgenik yang berukuran besar-besar itu, juga lebih tinggi dibanding dengan protein kedelai lokal. Produk transgenik, sudah sulit untuk dilacak genus, spesies maupun varietasnya. Hingga padi, jagung, gandum, dan kedelai transgenik, cukup diberi nomor kode. Sebab peta genetiknya sudah dirombak total, hingga tak ketahuan lagi spesies  dan varietasnnya.

# # #

Keluhan utama konsumen terhadap produk pertanian dengan benih transgenik adalah, adanya bakteri dan kapang, yang disusupkan ke dalam gen produk pertanian. Meskipun pengusaha benih mengatakan bahwa bakteri ini aman bagi kesehatan manusia, namun rasa was-was tetap ada ketika konsumen mengetahui, bahwa gandum atau jagung yang dikonsumsinya merupakan produk transgenik. Ketika gen manusia disusupkan ke dalam gen sapi perah, agar susu yang dihasilkan sama dengan ASI, maka etika menjadi alasan keberatan konsumen. Kalau memang ingin bayi kita memperoleh susu manusia, ibunyalah yang harus menyusui. Bukan menyusupkan gen manusia ke dalam gen sapi.

Kualitas fisik dan nilai gizi produk pertanian dengan benih transgenik, memang jauh lebih unggul dibanding produk biasa. Namun konsumen tetap menganggap ada sesuatu yang hilang. Di India, Pakistan dan Afganistan, masih ada sekelompok petani yang menanam gandum, menggunakan cara yang sama dengan nenekmoyang mereka lebih dari 5000 tahun silam. Demikian pula cara menggiling dan membuat roti. Kalai kita nikmati dengan benar, maka roti dari agroindustri purba ini, lebih lezat dibanding dengan roto modern dengan gandum transgenik. Padi ladang yang ditanam secara tradisional oleh masyarakat Dayak di pedalaman Kalimantan, nasinya lebih enak dibanding denga Rojolele dan Pandanwangi yang terlalu banyak diberi Urea. Meskipun dua varietas beras ini bukan transgenik.

Keju terbaik di dunia, adalah produksi Swis. Sapi perah di sini, hanya diberi pakan rumput, yang tumbuh di lereng pegunungan Alpen, tanpa tambahan bahan lain. Meskipun kedelai lokal kita harganya lebih tinggi dibanding kedelai impor, tetapi harga itu wajar. Sebab rasa kedelai lokal kita, jauh lebih lezat dibanding kedelai AS itu. Baik untuk dibuat tempa maupun tahu, kedelai lokal kita yang kecil-kecil tapi mahal itu memang lebih enak. Tahu sumedang yang sangat terkenal itu, hanya diproduksi dengan menggunakan bahan kedelai lokal. Kedelai lokal kita, sebenarnya juga sangat diminati oleh konsumen Jepang. Namun kita masih belum mampu untuk memenuhi permintaan tersebut. (R) # # #

One thought on “BENIH HIBRIDA VERSUS TRANSGENIK

  1. Lebih bijak kita kembali ke alam, untuk memacu pertanaman organik, siapa bilang tanaman organik tidak bisa dipacu produksinya, rekayasa genetika itu YAKIN TIDAK SEMPURNA lahan tempat kita menanam sudah kurang unsur haranya dengan penanaman benih apapun tidak dapat meningkatkan hasil, mari kita mulai menanam dengan mempergunakan pupuk kandang dan pupuk hijauan dengan porsi yang sempurna juga dengan olah tanah sempurna, Insya Allah umur kita panjang karena kita makan makanan yang sehat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s