TIPUDAYA AGROINDUSTRI JARAK

Bulan Maret Silam, di rubrik ini pernah dimuat tulisan dengan judul: Hati-hati Terjun ke Agroindustri Jarak. Tetapi tulisan di sebuah bulletin seperti ini, tentu sangat kecil dampaknya ke pembaca. Sebab tulisan di harian nasional dengan oplah 500.000 eksemplar pun, masih kalah dengan berita yang terus-menerus ditulis tentang kehebatan jarak. Euforia terhadap komoditas jarak, memang telah menasional. Rakyat, pengusaha, pejabat pemerintah dan media massa, semua terjangkiti demam bertanam jarak. Sebuah majalah prestisius, malahan telah mensponsori eksperimen perjalanan jarak jauh, dengan mobil berbahan bakar minyak jarak.

Ada dua kelompok promotor jarak. Pertama, mereka yang memang berniat tulus ingin mengatasi krisis BBM dengan bahan bakar alternatif, tetapi tidak terlalu menguasai permasalahan. Kedua, mereka yang sebenarnya hanya ingin memperoleh keuntungan finansial dari proyek jarak dari APBN, yang nilainya trilyunan rupiah. Mereka ini cenderung hanya menonjolkan kehebatan jarak, tanpa sedikitpun menunjukkan titik lemahnya. Seorang warga negara Amerika Serikat, berkomentar tentang euforia komoditas jarak di Indonesia ini. “Anda merasa seakan-akan sedang menemukan Roda, pada komoditas jarak! Padahal roda sudah diketemukan beberapa abad sebelum masehi.”

Pihak yang demikian gencar mempromosikan jarak ini, sebenarnya sedang menipu pemerintah sekaligus rakyat. Jarak pagar (Jatropha curcas), sebenarnya juga pernah populer pada jaman Jepang. Tahun 1980an, pernah terjadi pula demam bertanam jarak. Tetapi ketika itu, yang diperkenalkan ke masyarakat bukan jarak pagar, melainkan jarak kepyar atau jarak kosta (Ricinus communis). Komoditas yang juga pernah dihebohkan dan kemudian terbukti menipu adalah pisang abaka, cacing, jangkrik, pace, dll. Seperti halnya jarak, pisang abaka juga pernah menjadi proyek pemerintah pada akhir tahun 1990an dan awal tahun 2000an.

# # #

Sebuah tabloid yang diterbitkan oleh partai politik pendukung pemerintah, bulan silam juga memuat tulisan tentang jarak. Pada tulisan itu disebutkan bahwa tiap hektar lahan, dalam setahun akan mampu menghasilkan 3.250 liter minyak jarak. Angka ini tentu merupakan hasil produksi skala penelitian. Sebab dalam skala komersial di tingkat dunia, hasil minyak jarak per hektar per tahun hanyalah 1.500 liter. Angka produksi 3.250 liter minyak per hektar per tahun, memang bisa benar asalkan yang dibudidayakan klon, varietas, atau hibrida jarak unggul. Namun, angka 3.250 liter per hektar per tahun itu pun, tetap kalah dibanding minyak sawit (Crude Palm Oil = CPO) yang mencapai 5.800 liter per hektar per tahun.

Seandainya benar bahwa hasil minyak jarak unggul 3.250 liter per hektar per tahun, dan seandainya minyak itu laku dijual Rp 2.000,- per liter, maka hasil kotornya hanyalah Rp 6.500.000,- Harga minyak jarak diperkirakan paling tinggi Rp 2.000,- per liter di tingkat produsen, mengingat saat ini harga solar hanya Rp 4.300,- per liter di tingkat konsumen. Biaya pengolahan menjadi biodisel, transportasi dan keuntungan pedagang, bis mencapai 100% dari harga minyak jarak di tingkat produsen. Dalam analisis usaha yang dibuat oleh para promotor jarak, disebutkan bahwa harga biji jarak (masih dengan tempurungnya) Rp 500,- per kg. Perkiraan harga jual biji jarak dari petani ke pabrik ini, masih lebih tinggi dibanding dengan harga tandan buah sawit (TBS), yang saat ini berkisar Rp 400,- per kg.

Kalau rendemen minyak jarak mencapai 70% dari bobot biji kering, maka 3.250 liter minyak jarak itu (setara dengan 3 ton), dihasilkan dari 4,3 ton biji jarak. Dengan perkiraan harga biji jarak Rp 500,- per kg. dan hasil biji jarak 4,3 ton, maka penghasilan kotor petani adalah Rp 2.150.000,- Kalau seorang petani hanya mampu menggarap maksimal 2 hektar lahan, maka pendapatan kotor mereka hanyalah Rp 4.300.000,- per tahun, atau hanya Rp 358.000,- per bulan. Pendapatan kotor ini masih berada jauh di bawah Upah Minimum Regional di kawasan yang paling miskin sekali pun, dan masih harus dipotong biaya macam-macam. Di kawasan NTT yang kering, penghasilan Rp 358.000,- per bulan atau Rp 15.000,- per hari (25 hari kerja), sangat tidak menarik.

Sebab kalau angka Rp 15.000,- per hari itu dibagi antara pemilik modal dan lahan dengan buruh 50% : 50%, maka upah buruhnya hanya Rp 7.500,- per hari. Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal NTT yang bekerja di perkebunan di Sabah dan Serawak, Malaysia, biasa menerima upah 75 ringgit per hari, masih ditambah dengan prosentase hasil panen karet, kakao, kopi dan sawit. Dengan kurs Rp 300,- per ringgit, maka upah harian TKI di Malaysia mencapai Rp 22.500,- per hari. Ditambah dengan persentase hasil panen, maka pendapatan TKI asal NTT di Malaysia paling sedikit mencapai Rp 50.000,- per hari. Hingga upah buruh di kebun jarak yang hanya Rp 7.500,- per hari, tentu sangat tidak menarik. Seandainya petani mampu mengolah biji jarak menjadi minyak, nilai tambah yang akan diperoleh petani hanyalah Rp 6.500.000,- – Rp 2.150.000,- = Rp 4.350.000,-

# # #

Hasil riil minyak jarak per hektar per tahun di tingkat dunia, sebenarnya hanya sekitar 1.500 liter. Hasil ini masih lebih baik dibanding minyak kacang tanah, bunga matahari, dan kedelai, yang justru lebih rendah dari 1.500 liter per hektar per tahun. Namun minyak kacang tanah, bunga matahari dan kedelai, adalah hasil sampingan. Hasil utamanya adalah bungkil, yang merupakan sumber protein nabati untuk pakan ternak. Hingga agroindustri kacang tanah, bunga matahari dan kedelai di Amerika Serikat misalnya, bukan untuk menghasilkan minyak, melainkan bungkil. Bungkil jarak, tidak mungkin untuk pakan ternak, karena kandungan minyak jarak yang masih tersisa, potensial untuk mendatangkan diare bagi hewan.

Hingga agroindustri jarak, memang hanya bisa mengandalkan hasil minyaknya. Dengan hasil rata-rata 1.500 liter per hektar per tahun, dengan harga jual minyak jarak Rp 2.000,- per liter, maka hasil kotor agroindustri jarak, sebenarnya hanyalah Rp 3.000.000,- per hektar per tahun. Lahan yang paling kritis dan kering sekali pun, sebenarnya masih lebih menguntungkan ditanami komoditas lain. Bisa jambu mete, asam jawa, kemiri atau tanaman kayu seperti jati, sono keling, gaharu dan cendana. Di kawasan yang ekstrim kering seperti NTT, menanam jati, jambu mete dan cendana, jauh lebih menguntungkan dibanding menanam jarak. Sebab sebagai produk konsumsi, harga komoditas mete, masih lebih baik dari jarak.
Hasil mete per hektar lahan per tahun, masih lebih tinggi dibanding jarak. Dengan hasil minyak 1.500 liter dan rendemen 70%, maka tiap hektar lahan hanya akan menghasilkan biji jarak sekitar 1,2 ton. Sementara dari tiap hektar kebun mete, bisa dihasilkan lebih dari 3 ton mete gelondongan.  Harga biji jarak kering, diperkirakan hanya Rp 500,- per kg. Hingga dari tiap hektar lahan hanya akan dihasilkan Rp 600.000,- Harga biji mete gelondongan mencapai Rp 3.000,- atau 10 kali lipat harga biji jarak, hingga hasil mete per hektar per tahun akan mencapai Rp 9.000.000,- Bahkan, budidaya singkong yang harga umbinya Rp 300,- per kg, masih lebih menguntungkan dibanding jarak. Sebab produktivitas singkong paling sedikit 10 ton per hektar per tahun.

Populasi tanaman jarak per hektar, bisa mencapai 3.000 pohon (jarak tanam 1 X 3 m). Kalau klaim hasil 3.250 liter minyak jarak per hektar per tahun kita ikuti, atau setara dengan 4,3 ton biji jarak, dengan harga Rp 500,- per kg, maka hasil kebun itu hanya  Rp 2.150.000,- Land clearing sudah mendekati angka Rp 1.000.000,- per hektar. Hingga harga 3.000 benih jarak itu, paling tinggi hanyalah Rp 500.000,- atau Rp 167,- per benih. Kalau angka land clearing diturunkan menjadi Rp 500.000,- per hektar lalu harga benihnya dinaikkan duakali lipat, maka nilainya hanyalah Rp 332,- per tanaman, masih jauh di bawah Rp 500,- Namun di pasaran saat ini, harga benih jarak sudah di atas Rp 1.000,- per tanaman.

# # #

Saat ini, harga benih jarak di pasaran, bisa lebih dari Rp 1.000,- per polybag. Hingga dengan populasi 3000 tanaman per hektar, maka untuk keperluan benih sudah akan terserap dana Rp 3.000.000,- Dengan hasil panen yang nilainya Rp 600.000,- maka agroindustri jarak lalu menjadi seperti sebuah dagelan bagi petani. Tetapi akan lain halnya bagi pemegang proyek pengadaan benih atau pengelola demplot (kebun percontohan). Mereka bisa memperoleh keuntungan sangat besar dari memproduksi benih jarak. Dengan rencana pemerintah membuka sampai jutaan hektar kebun jarak, maka diperlukan ratusan juta benih. Untuk 1 juta hektar kebun jarak, diperlukan 3.000.000.000,- (tiga milyar) benih. Dengan harga jual Rp 1.000,- dan harga pokok hanya Rp 300,- maka keuntungan produsen benih sudah mencapai Rp 700,- X 3.000.000.000,- = Rp 2.100.000.000.000,- (dua trilyun seratus milyar rupiah).

Keuntungan ini masih ditambah dari biaya pembukaan lahan, biaya penyusunan disain proyek, training, penerbitan buku petunjuk teknis dll. Hingga nilai trilyunan rupian itu memang sesuatu yang sangat menarik. Untuk menjaga agar “rahasia tipuan” ini bocor ke pengambilkeputusan di pemerintah pusat, maka yang selalu disampaikan hanyalah disekitar potensi jarak sebagai penghasil bahan bakar alternatif. Kalau ada hitung-hitungan hasil, maka angkanya terpaksa dikatrol naik. Hingga sepintas, jarak akan merupakan komoditas hebat yang mampu mangatasi krisis energi, sekaligus bisa memakmurkan rakyat. Padahal, sekali angka hasil nomonal disebut, maka proyek jarak ini tampak menjadi sebuah dagelan.

Namun akal sehat bangsa ini memang sering macet. Menghadapi sebuah euforia di sektor agro seperti jarak sekarang ini, masyarakat seperti terbius. Sama halnya ketika awal tahun 2000an ada trend agribisnis bagi hasil (kasus PT Qurnia Subur Alam Raya/PT Qisar). Masyarakat dengan mudah menyetorkan uangnya senilai puluhan bahkan ratusan juta tanpa ragu. Dalam jangka waktu hanya empat Tahun, PT Qisar mampu mengumpulkan dana publik sampai 500 milyar rupiah. Akhirnya para pengelola PT Qisar ditangkap polisi dan diadili. Tahun-tahun itu pula masyarakat tergoda oleh euforia pisang abaka. Akhirnya nasib pisang abaka juga merana dan petaninya sengsara. Komoditas cacing, jangkrik, pace, makutodewo dll. pernah menjadi euforia massa sebelum akhirnya menyengsarakan rakyat. Jarak ini pun akan menunggu saat mengalami nasib sama. (R) # # #

4 thoughts on “TIPUDAYA AGROINDUSTRI JARAK

  1. sayya sepakat dengan tulisan ini.
    arobisnis jarak mang banyak yang membantahnya.
    termasuk satu-satunya dosen faperta unram ntb: ir. i wayan ngwit, mp. yg jg sy sangat sepakat dengn logika yang disampaikan di setiap seminar tetang jarak, bahwa termasuk jenis yang rugi untuk dibudidayakan. sebagai mahasiswa bimbingannya, jug mengecap terhadap orang2 yang menjual diri atas nama investor jarak, gar jagn membohongi diri dan masyarakat. karna sudah lelah degan omong kosongmu. termasuk gapoktan saya adalah bagian kecil dari korban mulut manis para investor jarak yang kotor n menyakitkan.

  2. info yang bagus dan sangat bermanfaat.Mohon apabila ada proyek2 tipu daya yang lain utk segera disosialisasikan terutama dr segi2 kelemahan dan kekurangan2nya.

  3. ya anda yang mengerti persoalannya hrs berani menuntut para pencetus tentang budidaya jarak tsb.termasuk pemerintah yg membodohi atau menipu rakjat.atau memang pemerintah kita yg sangat bodoh sehingga tak tahu bahwa proyek penanaman jarak tsb hanya merugikan rakjat bukannya menguntungkan rakyat.kadsihan rakjat kita yg miskin akan bertambah miskin.pendapat saya kalau proyek sdh sdh dilaksanakan oleh pemerintah seharusnya pemerintah bertanggung jawab dengan menganti kerugian dan subsidi dari minyak bumi dialokasikan kepada tanaman jarak bukankah ini berarti subsidi hanya dipindahkan dari minyak bumi ke tanaman jarak dengan begitu rakjat akan makmur dan tak dirugikan atau dibodohi.PERTANYAAN SAYA APAKAH PEMERINTAH BISA DITUNTUT DGN ALASAN MEMBODOHI/MENIPU RAKJAT DENGAN KEBIJAKSANAANNYA?

  4. saya juga sama dengan pemikiran anda semua.kita petani hanya jadi kambing hitam proyek pertanian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s