PADI PASANG SURUT UNTUK KAWASAN RAWAN BANJIR

Bulan lalu, banjir melanda berbagai kawasan di Indonesia. Yang paling parah, karena disertai dengan tanah longsor, adalah Sulawesi selatan.  Tahun lalu, untuk jangka waktu beberapa lama, banjir juga menggenangi kawasan Kalimantan Tengah, kemudian Kalimantan Timur. Di Pulau Jawa pun, banjir juga sering menggenangi pemukiman. Areal pertanian, termasuk pertanian tanaman padi, ikut tergenangi banjir. Kalau genangan ini berlangsung beberapa hari, tanaman padi akan terancam mati. Budidaya padi sawah memang memerlukan banyak air. Tetapi terlalu banyak air hingga tanaman terendam, akan mengakibatkan kegagalan panen.

Indonesia, sebenarnya punya beberapa tipe padi, sesuai dengan sifat lahan tempat budidayanya. Selain dikenal padi sawah, kita juga mengenal padi ladang (padi gogo). Padi ladang bisa ditanam di lahan kering, tanpa pengairan sama sekali. Kemudian ada padi gogo rancah. Padi gogo rancah adalah varietas padi, yang ditanam secara ditugal seperti halnya padi ladang, tetapi pada umur sekitar 1 bulan, pematang dibuat dan lahan diberi pengairan. Padi ladang ini kemudian diperlakukan seperti halnya padi sawah. Padi gogo rancah banyak dibudidayakan di kawasan kering. Misalnya di NTB dan NTT. Selain itu, kita juga punya padi khusus, untuk dibudidayakan di lahan pasang surut.

Yang dimaksud sebagai lahan pasang surut, adalah lahan pertanian, yang sangat dipengaruhi oleh pasang surutnya sungai dan rawa-rawa di sekitar lahan tersebut. Ciri khas lahan pasang surut adalah, tanahnya berupa tanah gambut, dengan tingkat kemasaman yang sangat tinggi (pH hanya 4,5). Tidak banyak jenis tanaman yang bisa tahan hidup di kawasan pasang surut. Tetapi dengan teknik tertentu, para petani di Riau, Sumatera, dan Kalimantan Tengah, mampu membudidayakan padi di lahan seperti ini. Panen padi di lahan pasang surut biasa mereka lakukan dengan perahu. Sebab kadang-kadang lahan seperti ini, akan terus-menerus terendam air sepanjang tahun.

# # #

Balai Penelitian Tanaman Padi (Balitpa), di Sukamandi, Jawa Barat, telah berhasil menyeleksi varietas-varietas padi yang selama ini dibudidayakan masyarakat di lahan pasang surut. Varietas-varietas ini kemudian dimuliakan. Caranya antara lain dangan disilangkan. Hasilnya kemudian diseleksi lagi, untuk mendapatkan varietas dengan sifat-sifat baik yang lebih dominan. Padi pasang surut memiliki ciri, batangnya yang sangat panjang. Tinggi batang bisa mencapai 2,5 m. Ciri lainnya adalah tahan genangan sampai beberapa hari. Ciri varietas padi seperti ini, sangat cocok untuk dibudidayakan di lahan-lahan yang rawan genangan banjir. Kelemahan padi pasang surut adalah, umur panennya mencapai 7 bulan sejak tebar benih. Varietas padi pasang surut yang sudah diseleksi oleh Balitpa antara lain: Banyuasin; Batanghari; Dendang; Inderagiri; Punggur; Martapura; Margasari; Siak Raya; Tenggulang; Lambur; Mendawa.

Budidaya padi di lahan pasang surut memang sangat khas. Selain harus mampu mengatasi genangan, pertanian di lahan ini juga harus bisa menanggulangi kemasaman air dan tanah. Pada awalnya, para petani akan bergotong-royong membangun tanggul penahan air, di sekeliling lahan pertanian mereka. Tanggul ini harus cukup tinggi, sebab genangan air bisa mencapai ketinggian 2 m. Tanggul juga perlu dilengkapi pintu air di bagian hulu maupun hilir. Setelah tanggul terbangun, petani mulai melakukan pencucian lahan, untuk menurunkan tingkat kemasaman air. Caranya, pada saat air pasang, pintu air di bagian hulu dibuka, dan di bagian hilir ditutup. Pada saat air surut, pintu di bagian hulu ditutup, dan di bagian hilir dibuka.

Dengan cara seperti ini, secara perlahan-lahan, tanah gambut akan tercuci, hingga tingkat kemasamannya juga akan turun. Sawah di lahan gambut seperti ini tidak pernah diolah. Pada awalnya, para petani hanya menebang batang-batang perdu atau pohon yang ada di lahan tersebut. Setelah itu lahan secara rutin ditanami, tanpa perlu pengolahan dan penyiangan. Jadi, sawah di lahan pasang surut, setelah selesai panen, cukup diistirahatkan sejenak, dan kemudian kembali ditanami padi. Sisa jerami dari penanaman musim sebelumnya, cukup diinjak-injak dan dibenamkan ke dalam lumpur. Pada saat penanaman, biasanya lahan tetap tergenangi air, namun ketinggiannya hanya sekitar 50 cm. Hingga benih yang ditanam, dituntut sudah berketinggian di atas 50 cm.

Karena memerlukan benih dengan ketinggian cukup, maka penyemaian benih padi pasang surut dilakukan sebanyak dua kali. Pertama, benih disemai seperti biasa di lahan biasa, bukan lahan pasang surut. Setelah itu benih dicabut dan ditanam seperti halnya menanam padi biasa, juga di lahan bukan pasang surut. Kemudian, ketika mencapai ketinggian 0,75 cm. padi kembali dicabut, untuk ditanam di lahan pasang surut. Lahan gambut di kawasan pasang-surut memang harus selalu basah. Sebab sekali saja gambut itu mengering, akan sulit sekali untuk membasahinya. Gambut kering yang digenangi air, justru akan mengapung dan hanyut. Gambut kering juga rawan kebakaran. Kebakaran di lahan gambut akan berlangsaung sampai bertahun-tahun dan sulit sekali dipadamkan.

# # #

Setelah padi tertanam, lahan akan terus tergenangi air. Kadang-kadang tanaman padi itu seluruhnya akan tenggelam. Tetapi ketika air surut, tanaman akan kembali kelihatan. Umumnya, lahan sawah di kawasan pasang surut, hanya akan tergenangi air secara rutin dengan ketinggian antara 0,5 sd. 1,5 m. Meskipun kadang-kadang genangan akan mencapai ketinggian 2,5 m. Dalam kondisi normal, genangan di lahan sawah pasang surut tetap bisa dikendalikan secara sederhana oleh petani. Caranya, ketika air pasang, maka saluran pemasukan di bagian hulu dan saluran pembuangan di hilir ditutup. Namun penutupan saluran pembuangan dan pemasukan yang dilakukan secara manual, kadang-kadang masih kurang rapat hingga air tetap bisa menerobos masuk.
Betapa pun sederhananya pola penanganan lahan pasang surut oleh patani, sistem ini tetap lebih baik jika dibanding dengan penanganan lahan gambut sejuta hektar yang dilakukan secara modern. Pada penanganan lahan gambut sejuta hektar, dibangun saluran drainase utama. Saluran ini telah mengakibatkan lahan yang dibelahnya berubah dari kawasan rawa-rawa menjadi lahan kering. Gambut yang sudah terlanjut mengering ini akan sulit untuk dibasahi hingga menjadi lahan pertanian. Seharusnya penanganan lahan gambut, dilakukan dengan tetap membiarkannya sebagai lahan basah. Kalau akan dijadikan lahan kering, maka gambut itu harus diambil terlebih dahulu, kemudian diolah hingga menjadi media tanam yang sehat dan bisa menyerap air secara normal.

Gambut adalah material organik, berupa rumput, paku-pakuan (sphagnum moss), atau material hutan rawa, dan mangrove. Bahan selulosa ini, dalam keadaan normal akan mengalami pelapukan atau dimakan rayap, hingga kembali menjadi zat organik yang siap untuk menghasilkan nutrisi bagi tumbuhan berikutnya. Namun di rawa-rawa, pengomposan ini tidak bisa berlangsung. Material organik ini memang akan hancur, namun serat selulosanya masih tetap utuh. Gambut sebenarnya merupakan bahan bakar (dibakar langsung), bahan tekstil, biogas, kompos dll. Untuk dijadukan kompos hingga bisa menjadi media tanam, gambut harus terlebih dahulu dilapukkan dengan bantuan kapang atau bakteri.

Lahan gambut yang akan dijadikan areal pertanian, terlebih pertanian padi, harus diberi perlakuan khusus. Selain meterial gambutnya harus terlebih dahulu dikomposkan, pH tanah juga harus dinormalkan. Caranya dengan pemberian kapur pertanian. Namun upaya ini memerlukan biaya yang sangat besar. Sebab pada tahun pertama, untuk menaikkan pH dari 4,5 menjadi normal, diperlukan 20 ton kapur pertanian per hektar lahan. Masyarakat tradisional yang membakar lahan gambut, sebelum dijadikan areal pertanian, secara ekologis tidak dibenarkan. Namun secara logis memang sangat tepat. sebab dengan membakar lahan tersebut, abu dan arang yang dihasilkan oleh pembakaran akan menaikkan pH tanah.

# # #

Salah satu kelemahan padi lahan pasang surut adalah, umur panennya sekitar 7 bulan semenjak tanam. Padahal, sejak tahun 1960an, telah diketemukan padi baru yang umurnya hanya 3 bulan, yakni IR 5 dan IR 8. Di Indonesia, dua jenis padi ini dikenal dengan nama PB 5 dan PB 8. IR 8 merupakan hasil silangan antara padi india (Oryza sativa Var. indica) dengan padi jepang (Oryza sativa Var. japonica). Padi india, dikenal berbatang pendek, genjeh (waktu panennya cepat) tidak berbulu dan nasinya pera. Sementara padi jepang berbatang tinggi, umur panen lebih panjang, berbulu dan nasinya pulen. Hingga nasi dari padi jepang bisa diambil dengan sumpit, karena pulennya.

Masih ada satu varietas padi lagi, yakni Oryza sativa Var. javanica. Karakter padi varietas ini, terletak di antara padi india dan padi jepang. Varietas padi india menyebar mulai dari India sendiri Srilanka sampai ke Asia Tenggara. Sebaran varietas japonica mulai dari Jepang, Korea, RRC, Taiwan, dan Asia Tenggara. Varietas javanica hanya terdapat di Jawa. Selain Oriza sativa dikenal pula spesies padi Oriza glaberrima. Oriza sativa sendiri, diduga oleh para ahli merupakan domestifikasi padi (rumput) liar yang berasal dari kaki pegunungan Himalaya, India. Sementara Oriza glaberrima berasal dari Nigeria, Afrika Barat. Padi pasang surut (padi rawa) merupakan varietas yang hanya diketemukan di Kalimantan, meskipun para ahli masih belum memberinya nama khusus.

Padi pasang surut yang sangat tahan terhadap genangan ini, potensial untuk dikembangkan di kawasan yang rawan genangan. Bisa pula dikembangkan di rawa-rawa, yang lahannya sepanjang tahun akan selalu tergenang. Kawasan rawa-rawa di Papua, sangat potensial untuk dijadikan areal pengembangan padi pasang surut. Tampaknya Indonesia dalam jangka waktu dekat ini masih belum bisa terbebas dari ancaman bahaya banjir. Hingga kawasan yang menjadi langganan banjir, akan lebih diuntungkan apabila mengembangkan jenis padi pasang surut ini. Meskipun umur panennya mencapai 7 bulan, masih lebih baik daripada tidak panen sama sekali akibat genangan banjir. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s