PRODUKSI KAYU ALBISIA

Albisia dikenal oleh masyarakat Jawa Tengah dengan sebutan sengon laut, kayu sengon, kayu laut, sengon landi, sengon sabrang, kalbi. Di Jawa Barat albisia disebut jeungjing, jengjing atau jeungjing laut. Di Maluku sebutannya seja  (Ambon), sikat (Banda), tawa (ternate),dan gosui (Todore). Variasi nama albisia yang juga cukup banyak di Maluku, bisa dimengerti, sebab tanaman penghasil kayu ini memang berasal dari sini. Sejak jaman pemerintah kolonial Hindia Belanda, albisia sudah menyebar dari habitat aslinya ke seluruh Asia Tenggara. Bahkan kemudian juga menyebar ke seluruh kawasan tropis di dunia, terutama ke Afrika dan Amerika Latin. Albisia disukai sebagai tanaman penghasil kayu, karena pertumbuhannya yang sangat cepat dan kualitas kayunya yang cukup baik.

Dulu albisia dikenal dengan nama ilmiah Albizia falcata atau Albizia falcataria. Namun sekarang nama albisia dibakukan menjadi Albizia moluccana dengan sinonim Falcataria moluccana. Nama dagangnya Moluccan albizia. Nama Moluccana dan Moluccan, berasal dari kata Molucca (Maluku), tempat asal-usul tanaman ini. Pola serupa juga digunakan pada Albizia burmanica (Burma/Myanmar), Albizia cambodiana (Kamboja), Albizia chinensis (Cina), Albizia coreana (Korea), Albizia minahassae (Minahasa), Albizia mossambicensis (Mosambik), Albizia papuana (Papua), Albizia philippinensis (Filipina), Albizia salomonensis (Solomon), Albizia suluensis (Sulu), Albizia sumatrana (Sumatera), Albizia tomentella var. sumbawaensis (Sumbawa), Albizia yunnanensis (Yunan).

Albisia sendiri merupakan genus, yang terdiri dari sekitar 150 spesies. Spesies albisia biasanya berupa pohon atau semak. Hampir semua pohon dari spesies albisia, merupakan penghasil kayu dengan tingkat pertumbuhan yang sangat cepat. Sebaran habitat albizia mulai dari Asia, Afrika, termasuk Madagaskar, Australia dan seluruh benua Amerika. Dari 150 spesies albisia ini, Albizia moluccana merupakan yang cukup penting sebagai penghasil kayu. Hingga sebutan albisia, kemudian selalu dimaksudkan sebagai Albizia moluccana. Selain pertumbuhannya cepat, batang sengon jeungjing ini lurus, bentuknya bulat sempurna, permukaan batang halus dan kayunya tidak berbanir. Sifat batang ini, telah membuat kayu sengon jeungjing menjadi komoditas perdagangan yang cukup penting.

 

# # #

 

Pada jaman Belanda, albisia dimanfaatkan sebagai tanaman peneduh, di perkebunan teh dan kopi. Selain Albizia moluccana, perkebunan teh dan kopi juga banyak mengguakan peneduh Albizia sumatrana. Sekarang perkebunan kopi banyak menggunakan peneduh lamtoro hibrida  (Leucaena hibrida). Sebab albisia banyak diganggu oleh hama. Mulai dari lutung (kera hitam) yang memakan pucuknya, rusa yang merusak kulit di pangkal batangnya dan larva penggerek batang yang merusak empelurnya. hama penggerek batang ini, telah menyerang albisia yang digunakan oleh PT Jasa Marga untuk menghijaukan jalan tol Jagorawi, Jakarta – Merak dan Padalarang – Cileunyi. Anehnya, tanaman albisia di kebun rakyat, jarang yang terserang hama penggerak batang ini.

Sampai dengan tahun 1970an, albisia masih merupakan kayu dengan nilai ekonomis sangat rendah. Sebab agroindustri berbahan kayu albisia masih belum ada. Padahal, potensi albisia untuk menjadi kayu olahan sangat besar. Terutama untuk kotak-kotak kayu ringan, tangkai korek api dan pulp. Meskipun tergolong sebagai kayu tropis, albisia mampu menjadi substitusi pinus sub tropis sebagai bahan pulp. Pulp adalah bubur selulosa untuk bahan kertas. Kayu tropis, termasuk Pinus Merkusii, hanya cocok untuk bahan pulp serat pendek. Yang dimaksud sebagai pulp serat pendek adalah, bubur selulosa yang hanya cocok untuk kertas budaya. Misalnya kertas HVS, Art Paper, dll. yang berwarna putih. Kertas budaya, misalnya untuk foto coppy, umumnya berupa sheet, yakni lembaran yang sudah terpotong dengan ukuran tertentu.

Pulp dari kayu tropis, karena berserat pendek tidak mungkin dijadikan kertas roll yang akan digunakan untuk cetakan dengan sistem web. Albisia sebenarnya memililiki banyak kelebihan sebagai bahan pulp serat panjang. Sebab panjang rata-rata seratnya mencapai 1.15 mm. Panjang ini memungkinkannya untuk menjadi bahan kertas roll. Kelebihan lain dari kayu albisia sebagai bahan pulp adalah, proses pengolahannya tidak memerlukan banyak bahan kimia. Sebab warna kayu albisia sudah sangat putih. Hingga perlakuan bleaching untuk kayu albisia tidak akan sebanyak kayu pinus dan akasia, yang warnanya cenderung kecokelatan. Sayangnya, sampai sekarang Hutan Tanaman Industri (HTI) untuk produksi pulp, misalnya Kiani Kertas, Indo Rayon dll. lebih banyak menanam Pinus merkusii dan Akasia mangium.

Padahal dua tanaman ini cukup banyak kelemahannya, dan kalah unggul dibanding albisia. Baik dari percepatan tumbuhnya, kualitas serat maupun warna kayunya. Selain itu, albisia memiliki kelebihan lain yakni lebih ramah lingkungan. Pinus dan akasia, akan menghasilkan serasah yang susah hancur. Hingga serasah pinus maupun akasia tidak akan mampu menyuburkan lahan di bawah tegakannya. Pinus dan akasia juga menghasilkan zat alelopati (semacam zat racun), yang akan mengakibatkan tumbuhan lain sulit untuk hidup di bawah tegakannya. Dua tanaman HTI ini juga terkenal sangat rakus hara. Hingga hutan bekas tebangan pinus atau akasia, lahannya tidak akan sesubur bekas tebangan albisia.

 

# # #

 

Albisia sebagai tanaman asli Indonesia, justru bisa memperbaiki kondisi lingkungan. Pertama, akar tunggangnya akan mampu menembus lapisan tanah yang cukup dalam. Tajuk albisia berbentuk payung dengan kerapatan daun yang ringan. Susunan daun majemuk menyirip ganda, dengan anak daun kecil-kecil dan akan rontok secara bertahap. Tajuk yang tidak rapat ini, memungkinkan lahan di bawah tegakan albisia masih bisa dimanfaatkan untuk budidaya tanaman semusim, atau rumput pakan ternak. Daun albisia yang helaiannya berukuran kecil itu, juga mudah hancur menjadi pupuk hijau. Hingga kesuburan tanah di bawah tegakan albisia akan bisa ditingkatkan.

Satu-satunya alasan mengapa para pengusaha HTI tidak tertarik untuk mengembangkan albisia adalah, adanya bahaya serangan hama penggerek batang. Namun hama ini, umumnya baru akan menyerang tanaman albisia pada umur di atas 10 tahun. Padahal, pada umur 5 tahun, sudah akan dilakukan tebang pilih, untuk memperjarang populasi tanaman. Umur 10 tahun sudah bisa dilakukan tebang pilih tahap II atau tebang habis. Kalau umur 10 tahun masih dilakukan tebang pilih tahap II, maka tebang habis baru dilakukan pada umur 15 tahun. Umumnya tanaman albisia milik rakyat, sudah ditebang habis pada umur 10 tahun. Kecuali tanaman rakyat yang tumbuh soliter di ladang dan pekarangan, yang bisa terus dipelihara sampai umur di atas 20 tahun.

Sekarang, di Jawa albisia sudah menjadi tanaman penghijauan yang sangat penting. Berdirinya banyak industri pengolahan kayu albisia, telah mengakibatkan masyarakat antusias untuk membudidayakan jenis kayu ini. Namun industri yang bermunculan di Jawa, masih mengolah albisia untuk kebutuhan meubel, partisi bangunan, sumpit dan bahan-bahan lain. Padahal yang diperlukan adalah agroindustri albisia skala massal untuk bahan pulp dan energi. Selama ini, pulp serat panjang untuk bahan baku kertas koran, masih kita impor. Sebab pulp jenis ini hanya bisa diperoleh dari kayu pinus sub tropis. Albisia, merupakan tanaman tropis yang bisa menjadi alternatif untuk menghasilkan substitusi pulp serat panjang ini.

Selain menghasilkan kayu, albisia juga akan menghasilkan biomassa yang cukup besar. Pada umur 10 tahun, albisia mampu menghasilkan biomassa sekitar 100 metrik ton dari tiap hektar lahan. Biomassa adalah bahan organik berupa limbah mulai dari cabang, ranting dan daun yang merupakan hasil sampingan dari agroindustri albisia. Data ini diperoleh dari HTI di pulau Mindanau, Filipina, dengen elevasi antara 50 sd. 100 m. dpl. Biomassa ini bisa dijadikan bahan untuk Midle Density Fibre (MDF) atau energi alternatif. Penggunaan energi dari limbah ini bisa dengan langsung dibakar, untuk memanaskan air, dan uapnya digunakan untuk menggerakkan turbin. Bisa pula dengan mengolahnya lebih lanjut hingga menjadi briket arang dan gas methana.

 

# # #

 

Maraknya agroindustri albisia di Jawa, terutama disebabkan oleh adanya permintaan produk kayu jenis ini dari Jepang. Sebagai negara yang paling sering dilanda gempa, Jepang selalu menggunakan bahan bangunan dan meubel dari kayu yang ringan. Pilihan kayu ringan tersebut, antara lain jatuh pada albisia, Gamelina (Gmelina arborea) dan balsa (Ochroma lagopus). Namun kualitas kayu gamelina, terutama tekstur batangnya, tidak sebaik albisia. Sementara kayu balsa yang terkenal ringan dan kuat, harganya di pasar internesional sudah cukup tinggi. Harga kayu albisia, relatif masih lebih murah dibanding dengan balsa. Selain itu, kayu ini juga sudah dihasilkan secara massal oleh Filipina, Malaysia dan Indonesia.

Berat jenis kayu albisia rata-rata 0,33 dan termasuk kelas awet IV – V. Standar mutu kayu albisia, mengikuti standar kayu bundar rimba, dengan SNI 01-5007.2-2000 dan SNI 01.3-2000. Saat ini harga kayu albisia bulat, berkisar antara Rp 100.000,- sd. Rp 150.000,- per m3 di tingkat produsen. Di tingkat konsumen, harga ini bisa meningkat menjadi Rp 200.000,- sd. Rp 350.000,- per m3. Selisih harga yang mencapai duakali lipat ini, terutama disebabkan oleh biaya angkut yang relatif tinggi. Mengingat lokasi produksi kayu albisia, berada di kawasan yang sulit dijangkau oleh sarana transportasi. Hingga selisih harga itu, sebagian besar diserap oleh biaya transportasi. Selain ada pula faktor retribusi dan pungutan liar dari aparat keamanan dan preman.

Di Jawa, khususnya di Jawa tengah, daun albisia juga merupakan pakan ternak dengan kandungan protein cukup baik. Para peternak kambing dan sapi, banyak yang memanfaatkan daun dan ranting albisia sebagai substitusi rumput gajah. Selain masih bisa digunakan untuk budidaya tanaman semusin, lahan di bawah tegakan albisia juga sering dijadikan camping ground. Sebab albisia yang ramah lingkungan ini, tetap mampu menghadirkan panorama bagus di bawah tegakannya. Panorama menarik ini juga disebabkan batang albisia yang bulat dan lurus, serta kulit pohon yang berwarna abu-abu putih serta licin. Gamelina dan balsa, yang juga ramah lingkungan, tegakan di bawahnya relatif gelap. Sebab dua tanaman ini helai daunnya cukup lebar dan tajuknya rapat. Selain itu, juga ikut andil dalam menghadirkan panorama menarik di bawah tegakannya. (R) # # #

One thought on “PRODUKSI KAYU ALBISIA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s