AGROINDUSTRI SAYURAN BABY

Sejak tahun 1980an, pasar swalayan kita mulai menjajakan sayuran baby. Pada mulanya hanya dikenal baby wortel, tetapi kemudian makin banyak jenis sayuran baby yang ditawarkan. Mulai dari baby corn, baby buncis, baby kailan, baby kiuri (ketimun jepang), baby labu siam, baby kacang panjang, baby kecipir, sampai ke baby taoge. Yang disebut baby taoge adalah kecambah kacang hijau, yang masih pendek karena baru saja tumbuh ujung akarnya. Baby taoge, secara tradisional sudah dikenal masyarakat kita dalam rawon.

Ciri khas rawon, sup hitam dari Jawa Timur ini adalah, bumbu keluwak (biji kepayang, Pangium edule) dan baby taoge. Cara menyantapnya, baby taoge mentah  ini langsung dicemplungkan ke kuah, yang sudah terhidang dalam piring atau mangkuk. Beda baby taoge dengan tauge biasa adalah, waktu pengkecambahannya lebih pendek. Hingga tunas akar itu baru tampak berupa kuncup kecil. Beda dengan tauge biasa yang pangkal tanamannya sudah terbentuk dan tampak menggembung.

Aneka sayuran baby ini, dipercaya masyarakat bisa mendatangkan kesehatan, karena belum banyak tercemar pupuk kimia dan pestisida. Tetapi sayuran baby tetap dibedakan dengan sayuran organik. Sebab produksinya tetapmenggunakan sistem konvensional, yakni dengan pupuk kimia dan pestisida. Tetapi karena sudah dipanen ketika masih sangat muda, maka penggunaan pupuk kimia dan pestisidanya masih sangat rendah. Selain itu, sayuran baby juga lebih renyah dan mudah dicerna karena masih sangat lunak.

# # #

Prinsip utama agroindustri sayuran baby adalah, pemanenan dilakukan sejak dini. Buncis dan kacang panjang biasa, dipanen ketika sudah mencapai ukuran optimal, tetapi belum tua benar. Panjang polong buncis biasa, mencapai 12 cm. dan kacang panjang 50 cm. Pada baby buncis, panen dilakukan ketika panjang polong baru 6 cm. dan baby kacang panjang ketika masih 15 cm. Labu siam biasanya dipanen ketika buah sudah sangat tua dengan bobot bisa mencapai 0,5 kg. Pada baby labu siam, panen dilakukan ketika bobot buah baru  sekitar 1,5 ons, bahkan ada yang labih muda lagi.

Selain untuk pasar lokal dalam negeri, agroindustri sayuran baby juga banyak diminta oleh pasar ekspor. Namun persyaratannya jauh lebih ketat. Selain persyaratan budidaya, ukuran masing-masing jenis sayuran juga harus seragam. Hingga panen kiuri misalnya, harus dilakukan dua kali pagi dan sore. Kalau ada buah yang terlewat dipanen pagi hari, maka sorenya sudah tidak bisa dipanen lagi, sebab ukurannya sudah lebuh panjang beberapa milimeter. Pada baby buncis pun demikian, hingga para pemetik sayuran baby selalu membawa potongan kayu atau bambu sebagai alat ukur.

Selain ukuran panjang atau bobotnya yang harus tepat, bentuk sayuran baby juga harus sempurna. Tidak boleh ada yang bengkok, cacat kulitnya atau cacat fisik lainnya. Hingga pemeliharaan sayuran baby, tingkat kesulitan dan kerumitannya lebih tinggi. Meskipun jangka waktunya lebih sigkat. Pada sayuran baby yang berupa buah seperti buncis, kadang panjang dan ketimun, penentuan ukuran ini mudah dilakukan. Pada baby corn, seleksi baru dilakukan setelah dilakukan pengupasan sebagian kulit. Sebab ketika masih terbungkus kulit, kita belum bisa tahu berapa ukurannya dan bagaimana bentuknya.

Yang lebih sulit lagi adalah menentukan ukuran sayuran baby berupa umbi. Misalnya pada wortel, lobak dan bit. Hingga yang dilakukan oleh petani adalah memanennya pada umur tertentu, atau berpatokan pada ukuran tanaman. Baru setelah dipanen, dilakukan seleksi umbi sesuai dengan ukuran, bentuk dan ada atau tidaknya cacat. Hingga proses pemanenan baby corn dan sayuran umbi agak lebih rumit dibanding dengan panen baby buncis, kacang panjang, labu siam dan sayuran buah lainnya. Pada sayuran daun pun, misalnya baby selada atau caisim, panen masih bisa dilakukan dengan melihat penampakan fisiknya.

# # #

Yang agak berbeda adalah baby kubis atau keciwis. Jenis sayuran ini bukan kubis (kol)  yang dipanen muda. Sebab tanaman kol yang dipanen muda, belum membentuk krop, akan mirip dengan kailan. Bedanya, batang kailan menggembung besar, meskipun tidak sampai membulat seperti pada kohlrabi (Brassica oleracea var. gonggylodes L.). Keciwis sebenarnya merupakan imitasi dari kol brusel. Kol brusel atau brusels sprouts (Brassica olevacea var. gemmifera DC.) adalah kubis yang tidak membentuk krop di ujung tanaman, melainkan pada tunas yang bertumbuhan pada batang. Hingga krop kol brusel kecil-kecil.

Di Indonesia, kol brusel tidak lazim ditanam. Beda dengan kembang kol (Brassica olevacea var. botrytis L. sub var. cauliflora) dan kubis bunga hijau atau brokoli, sprouting broccoli (Brassica oleracea var. botrytis L. subvar. cymosa Lam), yang sudah banyak dibudidayakan. Tetapi permintaan terhadap baby kubis ternyata cukup besar. Bahkan juga permintaan dari pasar ekspor.Para petani pun kemudian mencoba memelihara pokok tanaman kubis biasa (Brassica olevacea var. capitata L. f. alba DC), yang sudah dipanen kropnya. Tunggul kubis ini kemudian dibumbun dan dipupuk, hingga dari batagnya akan keluar tunas. Inilah yang disebut baby kubis atau keciwis.

Bentuk dan sifat baby kubis tentu beda dengan kol brusel. Umumnya bentuk baby kubis lebih meruncing di bagian ujungnya. Selain itu, kropnya juga sulit untuk terbentuk sempurna seperti halnya pada kol brusel. Tetapi kelemahan keciwis ini justru disukai konsumen dalam maupun luar negeri. Selain itu, harga keciwis yang sebenarnya merupakan tanaman sisa ini, pasti lebih murah dibanding dengan harga kol brusel yang memang sengaja dibudidayakan. Terlebih lagi, keciwis biasanya dipelihara bersamaan dengan tanaman lain yang ditumpangsarikan dengan kol. Artinya, keciwis itu sengaja dipelihara sambil menunggu tanaman tumpangsarinya tumbuh.

Tanaman penghasil krop selain kubis adalah letuce dan baak choy, bok choi atau pak choi. Kalau sayuran baby lainnya sebenarnya merupakan sayuran biasa yang dipanen muda, maka letuce dan pak choi ada jenis khusus untuk menghasilkan krop kecil. Sebab tidak mungkin memanen letuce atau pak choi muda, tetapi kropnya sudah terbentuk sempurna. Hingga beda dengan baby kubis yang merupakan tunas batang, maka baby letuce dan baby pak choi adalah jenis (varietas) khusus yang akan menghasilkan krop ukuran kecil. Hingga umur panen baby letuce dan baby pak choi, sebenarnya sama dengan letuce dan pak choi biasa. Yang membedakan hanya ukuran kropnya yang lebih kecil.

# # #

Sebenarnya, pengertian sayuran baby memang tidak hanya berarti sayuran yang dipanen muda. Pada baby kiuri, labu siam atau kecipir, tidak dikenal adanya varietas yang akan menghasilkan buah dan polong ukuran mini. Hingga  buah dan polong itu memang harus dipanen muda, agar diperoleh ukuran baby. Tetapi pada baby corn, sebenarnya ada varietas jagung khusus, yang sengaja diciptakan dan dibudidayakan, untuk dipanen tongkol mudanya sebagai sayuran. Biasanya baby corn berasal dari varietas jagung manis. Namun dalam praktek, baby corn dipanen dari tongkol jagung biasa yang tidak akan tumbuh menjadi buah.

Umumnya tanaman jagung hanya menghasilkan satu tongkol per tanaman. Meskipun ada pula varietas yang mampu menghasilkan dua tongkol. Di bawah atau di atas ruas yang menghasilkan tongkol utama ini, selalu tumbuh tongkol yang tidak akan berkembang menjadi guah jagung. Tongkol gagal inilah yang kemudian dipanen muda dan disebut sebagau baby corn. Rasa baby corn aspal ini, tentu beda dengan baby corn asli. Sebab baby corn asli adalah tongkol utama yang masih muda. Setelah tongkol utama ini dipanen sebagai baby corn, tebon tanaman yang masih sangat muda juga langsung dipanen untuk pakan ternak.

Sayuran baby lainnya, seperti baby wortel, baby lobak, baby buncirdan baby kacang panjang, sebenarnya juga dihasilkan oleh varietas khusus. Artinya wortel dan lobak itu seperti halnya letuce dan pak choi, memang akan menghasilkan umbi yang relatif baby. Varietas sayuran baby ini, pada buah  ibarat mangga manalagi kecil, pepaya hawaii atau pisang mas, yang dari “sononya” memang sudah berukuran mini. Namun pada sayuran baby, ukuran mini ini pun masih ditambahi dengan persyaratan panen muda. Hingga agroindustri sayuran baby memang sangat spesifik. Harga produknya pun juga sangat spesifik, yakni selalu lebih tinggi dibanding sayuran biasa. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s