TREN TANAMAN HIAS

Selama bulan Agustus ini, di Jakarta ada dua event bisnis tanaman. Pertama Pameran Flora dan Fauna (Flona), di Lapangan Banteng. Kedua, pameran anggrek di Taman Anggrek Indonesia Permai (TAIP). Dari dua event ini, para pelaku bisnis berharap ada beberapa tanaman yang mencuat jadi primadona.

Para pelaku bisnis sebenarnya sudah tahu, bahwa tren tanaman hias selama Januari – Juli 2008, hampir datar. Tidak ada komoditas unggulan yang bisa diharapkan booming seperti tahun-tahun sebelumnya. Pada awal tahun 2008, para pelaku bisnis sangat menggantungkan harapan mereka pada puring (Codiaeum Sp), terutama hibrida dari Codiaeum variegatum. Beda dengan anthurium yang semuanya asli dari Amerika Tropis, puring merupakan tumbuhan asli Asia Tenggara, sampai ke kepulauan Pasifik.

Tampaknya puring masih jauh untuk bisa booming seperti anthurium atau aglaonema. Caladium dan alocasia, juga pernah diharapkan bisa meledak di pasaran, tetapi “amunisinya” kurang. Sementara adenium, yang tidak pernah meledak hebat, sampai sekarang justru tetap laris manis. Orang senang adenium karena mudah perawatannya, bunganya banyak dan indah. Meskipun sebenarnya, adenium tidak terlalu suka dengan agroklimat tropis yang lembap, seperti di sekitar Jakarta. Sebagai tanaman gurun, adenium menghendaki cuaca panas dan kering.

Euphorbia dan Sansevieria, juga pernah diharapkan bisa booming. Sebab di Thailand, euphorbia justru pernah booming luarbiasa. Yang perlu dicatat, ada perbedaan pengertian booming di Thailand dan di Indonesia. Di Thailand, istilah booming digunakan untuk mewadahi pengertian, permintaan tanaman hias itu tinggi, tanpa harus melambungkan harga. Di Indonesia, booming diartikan sebagai melambungnya harga sampai ke tingkat yang tidak rasional, tanpa ada pasar riil yang cukup jelas.

# # #

Pameran Flona di Lapangan Banteng, sudah berlangsung rutin sejak awal tahun 1990an. Hingga Flona sudah bisa menjadi barometer tren tanaman hias di Jakarta, bahkan juga nasional. Pameran anggrek di TAIP selama bulan Agustus (satu bulan penuh), baru diselenggarakan tahun ini. Hingga event ini belum bisa diharapkan bisa menjadi barometer tren anggrek Jakarta, apalagi nasional. Meskipun TAIP sendiri, dan juga Taman Anggrek Ragunan (TAR), selama ini sudah bisa menjadi barometer tren anggrek nasional.

Sampai sekarang tren anggrek nasional, masih didominasi oleh dendrobium dengan sepal dan petal lebar, bunga membulat, dengan warna dominan ungu, putih, merah, atau variasinya. Sejak beberapa tahun terakhir, pasar anggrek bulan (Phalaenopsis), juga mulai tumbuh. Pasar anggrek maupun tanaman hias non anggrek, selama ini masih didominasi oleh tanaman dalam pot (potplant). Pasar bunga potong (cut flower), justru agak surut. Padahal pada era Orde Baru, tiap Agustus, petani bunga potong selalu “panen raya”.

Dalam era Orde Baru, sudah tercipta tradisi pawai mobil hias di sepanjang Jl. Sudirman -Thamrin, untuk memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan RI, pada tiap tanggal 17 Agustus. Mobil hias ini memerlukan bunga potong dalam volume sangat besar. Meskipun yang paling banyak diserap oleh mobil hias hanyalah bunga murah meriah seperti kenikir (Tagetes, Mexican/French marigold). Tradisi pawai mobil hias di Jakarta, kemudian juga dilakukan oleh kota-kota besar, terutama di Jawa. Hingga pasar bunga potong ketika itu cukup baik.

Membaiknya pasar bunga potong pada dekade 1990an, antara lain juga karena faktor Pusat Koperasi Bunga Indonesia (Puskobindo), dan Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo). Dua lembaga ini sampai sekarang masih eksis, tetapi kondisi pasarnya yang justru sudah berubah. Bunga, dalam era krisis ekonomi seperti sekarang ini, dianggap bukan menjadi prioritas utama untuk diperhatikan. Hingga volume pasar bunga potong juga merosot drastis. Meskipun kualitasnya justru meningkat ke mawar, lily casablanka, dan angrek phalaenopsis.

# # #

Belakangan ini, pasar tanaman hias sebagai elemen taman, juga mulai membaik. Meskipun kondisinya belum pulih seperti era sebelum krisis ekonomi. Pasar tanaman hias sebagai elemen taman, selalu terkait dengan aktivitas pembangunan properti. Sebelum tahun 1998, terjadi booming properti. Secara otomatis, tanaman hias sebagai elemen taman, juga ikut mengalami booming. Setelah terjadi krisis ekonomi, dan properti surut, maka bisnis tanaman elemen taman juga jatuh. Sekarang, properti bangkit lagi, diikuti oleh tanaman elemen tamannya.

Pada era Orde Baru, komunitas yang aktiv menggeluti tanaman hias berkembang cukup baik. Misalnya Perkumpulan Pecinta Tanaman (PPT), Perhimpunan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI), Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI), bahkan ada pula komunitas yang sepsifik memperhatikan bunga sepatu (Hibiscus). Sekarang pun, komunitas tersebut tetap ada. Misalnya komunitas pemerhati Nephentes, Adenium, Hoya (wax flower), dan lain-lain. Namun kondisi perekonomian saat ini, tidak kondusif untuk bisnis tanaman hias.

Hingga para pelaku bisnis tanaman hias, sering menyebut pasar sekarang ini hanyalah berputar-putar di sekitar para kolektor dan pedagang tanaman hias, terutama tanaman dengan nilai tinggi. “Yang jual orangnya itu-itu juga, yang membeli juga hanya itu-itu saja.” Di Thailand, harga tanaman dibuat serendah mungkin, dengan perbanyakan melalui teknik kultur jaringan. Harga tanaman yang murah, dengan kualitas baik, akan sangat bersaing di pasar internasional. Bukan hanya sekadar berputar-putar di kalangan teman sendiri. (R) # # #

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s