KELANGKAAN BAWANG MERAH

Harga bawang merah eceran di tingkat konsumen, melonjak naik dari Rp 12.000,- per kg. pada akhir November, menjadi              Rp 16.000,- per kg. pada awal Desember ini. Kenaikan yang mencapai 33,3% memang masih kecil untuk harga bawang merah. Sebab fluktuasi harga komoditas ini memang sangat tinggi. Kalau pasokan sedang banyak, harga bawang merah di tingkat konsumen, bisa hanya Rp 6.000,- sd. Rp 8.000,- per kg. Besarnya volume pasokan ini, terutama disebabkan oleh membanjirnya bawang merah impor.

Pada awal November, harga bawang merah masih Rp 9.000,- sampai Rp 10.000,- per kg. Itu pun sudah termasuk tinggi, sebab pada menjelang dan setelah lebaran pun, harga komoditas ini masih Rp 7.500,- per kg. Tahun lalu, harga bawang merah di tingkat petani malah sempat jatuh hingga tinggal Rp 1.500,- per kg. Ketika itu harga di tingkat konsumen hanya Rp 4.000,- sampai dengan Rp 5.000,- per kg. Kenaikan harga bawang merah belakangan ini, terutama disebabkan oleh hujan yang berkepanjangan, hingga panen bawang terhambat.

Bawang yang baru saja dipanen, harus langsung dijemur agar tidak membusuk. Petani lebih memilih menunda panen, daripada harus menanggung resiko hasil panen mereka rusak. Transportasi dari sentra bawang merah utama, yakni Nganjuk (Jatim), Bantul (Yogya), dan Brebes (Jateng), juga terhambat karena datangnya hujan. Hal ini juga mengakibatkan pasokan di kota-kota besar berkurang volumenya. Pada kondisi seperti ini, bawang merah impor justru tidak muncul. Membanjirnya bawang merah impor, dengan dalih impor benih, selalu bertepatan dengan panen raya pada musim kemarau.

# # #

Kenaikan harga bawang merah sekarang ini pun, sebenarnya juga tidak serta merta bisa dinikmati oleh petani. Sebab tengkulak tetap akan membeli dari petani, berdasarkan harga sebelumnya. Bahkan bisa mereka membeli bawang merah segar dari petani, justru dengan harga lebih rendah. Alasan tengkulak, karena kadar air bawang merah yang belum terjemur ini masih sangat tinggi. Hal seperti ini akan berulang terus setiap tahunnya. Pada musim kemarau, petani juga tidak bisa menikmati harga tinggi karena masuknya bawang merah impor. Pada musim penghujan petani tetap menerima harga rendah karena faktor kualitas.

Apabila kenaikan harga ini berlangsung beberapa bulan, petani memang akan mampu menikmati harga tinggi. Akan tetapi, pada musim penghujan jumlah petani yang menanam bawang merah sangat kecil. Hingga seandainya ada kenaikan harga, maka hanya sedikit petani yang bisa menikmatinya. Petani baru akan bisa menikmati hasil panen dengan cukup baik, apabila pada musim kemarau, bawang merah impor, untuk benih sekalipun, dilarang masuk. Kalau hal ini terjadi, petani bawang merah memang bisa sangat makmur. Ketika itulah KUA (Kantor Urusan Agama) akan penuh petani bawang, karena banyak di antara mereka yang menikah, terutama untuk yang kesekian kalinya.

Desa-desa penghasil bawang merah di Kabupaten Brebes, memang sangat unik. Ketika harga bawang merah membaik, jalan-jalan desa itu akan penuh dengan sepeda motor bahkan mobil. Kemudian ketika harga bawang merah jatuh, sepeda motor dan mobil itu akan menghilang. Ada yang dikembalikan ke dealer, dijual lagi, atau digadaikan. Petani bawang merah jelas sangat dirugikan, karena ketika membeli sepeda motor dan mobil mereka harus membayar dengan harga tinggi, tetapi ketika menjual kembali dalam kondisi terdesak, harganya akan jatuh. Hal seperti ini akan selalu rutin terjadi, karena petani tidak terorganisir secara rapi dalam sebuah kelembagaan yang kuat.

Bawang merah impor yang rutin membanjiri pasar nasional, berasal dari Thailand dan Vietnam. Di dua negeri ini, petani bawang merah terorganisir dalam wadah kelompok tani dan koperasi. Koperasi inilah yang akan membeli bawang merah petani yang menjadi anggota, maupun yang bukan anggota. Meskipun harga bawang merah ketika itu jatuh, koperasi tetap akan membeli dengan harga standar, hingga petani tidak rugi. Minimal, pemerintah akan memberi subsidi, hingga harga yang diterima petani masih sedikit lebih tinggi dari harga pokok produksi (HPP). Koperasi di dua negara ini, juga punya barak penyimpanan bawang merah.

# # #

Barak penyimpanan bawang merah ini sangat sederhana. Lantainya lantai tanah, kerangka bangunan bambu, dan atapnya seng, tanpa dinding sama sekali. Barak ini penuh dengan palang-palang bambu, untuk menaruh ikatan bawang merah yang baru saja dipanen. Agar bawang segar ini tidak terancam membusuk, petani membakar kayu di lantai barak. Pembakaran kayu ini bukan untuk memanaskan bawang, melainkan hanya untuk menghasilkan asap. Dengan cara ini, meskipun panen terjadi pada musim penghujan, bawang merah tidak akan membusuk. Kalau cuaca cerah, petani terlebih dahulu menjemur bawang segar mereka, sebelum disetor ke koperasi untuk disimpan dalam barak.

Thailand dan Vietnam, terletak antara 10° sd. 20° lintang utara, hingga tingkat kelembapannya tidak setinggi Kabupaten Brebes yang terletak pada 7° lintang selatan. Kalau di kawasan yang tidak terlalu lembap pun, petaninya melakukan threatment agar bawang merah tidak membusuk, seharusnya hal tersebut lebih mendesak lagi untuk dikerjakan oleh petani kita. Selain bisa terhindar dari kerusakan, perlakuan ini juga bisa mencegah fluktuasi harga yang berlebihan. Sebab ketika harga jatuh, petani tetap menerima harga di atas HPP, sementara kalau harga di tingkat konsumen melambung, pasokan bisa ditambah dengan mengeluarkan stok.

Threatment seperti ini baru bisa dilakukan, apabila kelembagaan petani sudah ada dan cukup kuat. Dari lembaga ini, produksi nasional bisa terdeteksi melalui database bawang merah. Hingga volume dan frekuensi panen bisa dikendalikan. Namun yang lebih penting lagi, selain adanya kelembagaan, database dan threatment, pemerintah Thailan dan Vietnam juga mengalokasikan modal untuk agribisnis bawang merah, melalui kelompok dan koperasi. Modal ini cukup besar, sebab bukan hanya berupa modal investasi serta modal kerja, melainkan juga modal untuk menampung bawang merah hasil panen petani. (R) # # #

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s