HARGA AYAM KAMPUNG MELAMBUNG

Hukum pasar menyebutkan bahwa kalau pasokan tetap sementara permintaan meninggi, maka harga akan naik. Kalau pasokan tetap atau malahan turun sementara permintaan naik tajam, maka harga akan melambung makin tinggi. Itulah yang terjadi pada ayam kampung menjelang lebaran. Dalam keadaan normal, harga ayam kampung (jantan, ukuran sedang), paling tinggi Rp 40.000,- per ekor. Harga inipun sudah termasuk sangat tinggi kalau dibandingkan dengan harga ayam potong (broiller) yang paling tinggi Rp 15.000,- per ekor. Menjelang lebaran, harga ayam kampung naik menjadi Rp 60.000,- per ekor, dan ayam broiler Rp 20.000,- per ekor.

Satu minggu menjelang lebaran, harga ayam jago ukuran besar di kawasan Menteng, Jakarta Pusat bahkan mencapai Rp 150.000,- per ekor. Sementara ayam jago berukuran lebih kecil, serta ayam betina, Rp 125.000,- per ekor. Ayam kampung memang menjadi favorit kalangan menengah ke atas di DKI Jakarta, karena adanya isu daging ayam broiller yang diberi formalin, dicampur ayam mati, dan disuntik air.
Beberapa tahun belakangan ini, para ibu rumahtangga kelas menengah ke atas juga lebih memilih ayam kampung, karena adanya kasus flu burung. Mereka percaya, bahwa daging ayam kampung lebih aman dibanding ayam broiller.

Selain itu, ibu-ibu rumah tangga kalangan menengah ke atas, juga sudah terbiasa mengkonsumsi ayam kampung pada hari-hari biasa. Kalangan etnis China, selama ini bahkan selalu mengkonsumsi ayam kampung. Itulah sebabnya pasar ayam kampung di DKI Jakarta, justru berada di sentra pemukiman etnis China. Misalnya di Kota, Senen, dan Mester (Jatinegara). Selain di kawasan elite lama di DKI Jakarta, seperti Menteng, dan Kebayoran Baru. Secara tradisional, suplai ayam kampung untuk DKI Jakarta berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur dan Lampung, yang tetap dikoleksi satu per satu dari masyarakat pedesaan.

# # #

Kualitas rasa daging ayam kampung, memang jauh lebih tinggi dibanding daging ayam broiller. Sebab ayam kampung dipelihara secara alamiah, dengan diliarkan. Pakan ayam kampung juga sangat bervariasi. Mereka juga mengkonsumsi serangga, dan aneka hijauan, terutama rumput. Karena hidup bebas, serat daging ayam kampung lebih kering dan gurih karena tak berlemak. Pakan alami ayam kampung, juga menjadikan dagingnya lebih sehat dibanding daging ayam broiller, yang pakannya banyak mengandung zat aditif, yang bisa merugikan kesehatan konsumennya. Pertumbuhan ayam kampung yang sangat lamban, juga ikut berpengaruh terhadap tingginya kualitas daging.

Produk unggas dengan kualitas daging tinggi ini, tentu saja sangat ideal kalau bisa dimassalkan. Upaya ini sudah lama diidamkan oleh para peternak di Indonesia. Caranya dengan menerapkan pola pemeliharaan ayam broiller pada ayam kampung. Pertama-tama induk ayam dipacu untuk bertelur sebanyak mungkin, dengan pemberian pakan layer, dan egg stimulant. Cara ini memang terbukti mampu meningkatkan jumlah telur. Tetapi di lain pihak, kualitas telurnya merosot tajam. Ketika ditetaskan, daya tetasnya rendah, anak ayam yang menetas kakinya banyak yang pengkor. Hingga pemberian pakan layer dan egg stimulant tidak dianjurkan dalam pemeliharaan ayam kampung.

Upaya berikutnya adalah menetaskan telur ayam kampung dengan mesin tetas, lalu memelihara DOCnya, dalam ruang pemanas seperti halnya pemeliharaan DOC broiller. Cara ini memang bisa memacu induk ayam untuk segera bertelur lagi, karena tidak perlu mengerami telur (21 hari), dan mengasuh anak (sekitar 3 bulan). Anak ayam kampung hasil mesin tetas dan ruang pemanas, memang tetap berkualitas sama dengan anak ayam kampung yang ditetaskan dan diasuh induknya. Tetapi induk yang dipacu secara terus-menerus untuk bertelur, akan menjadi “gila”. Hingga paling banyak setelah tiga kali periode bertelur, induk ayam kampung harus dibiarkan mengeram dan mengasuh anaknya.

# # #

Setelah lepas dari ruang pemanas (induk buatan), anak ayam kampung harus setengah diliarkan. Caranya dengan memeliharanya dalam kandang ren, dengan halaman terbuka yang ditumbuhi rumput dan pohon-pohonan. Anak ayam kampung ini tidak bisa diberi pakan broiller 100%, karena kualitas dagingnya akan menjadi mirip dengan ayam broiller. Selain itu, biaya pakan juga akan terlalu tinggi, karena pertumbuhannya tetap tidak bisa dipercepat sebagaimana ayam broiller. Pakan anak ayam kampung sebagian besar harus berupa pakan alami, misalnya gabah, jagung, atau dedak dan ampas tahu. Protein hewaninya bisa diberi tepung ikan, atau lebih ideal kalau diberi siput, bekicot, dan pakan alami lainnya.

Dengan diberi pakan gabah, jagung, atau dedak yang dikombinasi dengan protein hewani dan hijauan, maka pertumbuhan ayam kampung akan lebih pesat dibanding dengan cara pemeliharaan tradisional. Dengan hanya memegang tubuhnya, pedagang ayam mampu membedakan mana ayam kampung yang diberi pakan alami, dan mana yang diberi pakan broiller. Setelah dipotong, akan kelihatan lagi beda ayam kampung asli dan ayam kampung semi broiller. Hati dan ampela ayam kampung yang diberi pakan broiller berukuran sangat kecil, beda dengan ayam kampung asli yang hati serta ampelanya berukuran besar.

Sampai sekarang belum ada peternak ayam kampung yang secara serius mengembangkan pola peternakan alami semi intensif. Di AS dan Jepang, ayam kampung dipelihara dengan cara diliarkan di kebun-kebun, yang diberi pembatas pagar. Di Indonesia, pola demikian bisa diberlakukan di perkebunan kopi, karet, kakao, sawit, teh dan lain-lain. Selama ini permintaan ayam kampung hidup dari kota-kota besar di Indonesia, tidak pernah bisa dipenuhi. Apalagi permintaan dari Singapura, Hongkong, bahkan Jepang. Ini sebuah tantangan tersendiri bagi para peternak Indonesia, hingga harga ayam kampung menjelang lebaran tidak perlu sampai tembus ke angka Rp 150.000,- per ekor. (R) # # #

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s