PROSPEK DAGING ITIK “CAIRINA”

Selama dekade 2000an, komoditas daging itik (bebek), naik daun. Dulunya orang menyembunyikan daging itik, “sebagai ayam bakar”. Bahkan sampai sekarang pun masih banyak pedagang daging itik jantan muda goreng, yang menyebut dagangan mereka sebagai “daging burung”.

Sekarang, di mana-mana bertebaran papan nama “bebek goreng” dan “nasi bebek”. Komoditas yang dulunya harus dijual dengan disamarkan identitasnya, sekarang menjadi rebutan. Permintaan daging itik terus naik, sementara kenaikan pasokan tak pernah bisa mengimbanginya. Ini merupakan peluang bisnis yang bisa ditangkap dengan cepat. Selama ini yang disebut daging itik, terdiri dari dua macam. Pertama, itik jantan yang digemukkan. Sebagian besar komoditas ini hanya dibesarkan kurang dari dua bulan, dan diserap oleh para penjual “burung goreng” di kaki lima Jabodetabek. Belakangan itik jantan juga digemukkan lebih dari dua bulan, dan diserap oleh warung “nasi bebek” yang pertumbuhannya sangat pesat.

Selain itik jantan yang digemukkan, restoran nasi bebek juga menyerap itik betina afkir yang digemukkan. Ukuran (bobot) itik betina afkir, umumnya lebih besar dibanding itik jantan yang digemukkan. Dua jenis itik “pedaging” ini sama-sama diserap oleh restoran nasi bebek. Di pasar global, daging itik diperoleh dari itik pedaging jantan maupun betina yang digemukkan secara massal. Jenis itik yang dipelihara umumnya Itik Peking. Selain menghasilkan daging, budi daya itik peking juga menghasilkan bulu untuk bahan baku bantal, kasur, dan jok kursi. Maraknya pasar daging itik, juga meningkatkan popularitas silangan itik dengan itik manila (itik serati, tiktok = itik><entok), dan juga itik manila (entok) itu sendiri.

# # #

Sebutan entok, atau itik manila, selama ini dianggap kurang prestisius, hingga telah membuat pertumbuhannya terhambat. Itulah sebabnya perlu dicari nama baru yang tidak menipu, tetapi secara ekonomis akan lebih menarik, yakni itik cairina. Sebutan ini diambil dari nama Cairina moschata dan Cairina scutulata. Ada beberapa kelebihan itik cairina, dibanding dengan itik biasa maupun itik peking. Pertama, volume daging itik cairina lebih besar dibanding itik biasa. Kedua, pemeliharaan itik cairina lebih sederhana dibanding dengan itik peking. Ketiga, para peternak bisa menjadi breeder (penangkar) sendiri, hingga tidak perlu bergantung dari penangkar benih. Dengan menjadi breeder sendiri, keuntungan peternak bisa ditingkatkan.

Itik manila adalah hasil penjinakan (domenstifikasi) dari dua spesies itik liar. Pertama itik liar species Cairina moschata, atau Muscovy Duck. Hasil domestifikasinya disebut Barbary Duck. Itik Cairina moschata berasal dari benua Amerika. Habitat aslinya tersebar mulai dari kawasan Amerika Selatan, Amerika Tengah, Kepulauan Karibia, sampai ke Amerika Serikat. Total populasinya diduga sekitar 1.000.000 ekor. Domestifikasi Cairina moschata, menghasilkan dua varian Barbary Duck. Pertama, yang secara fisik masih bercirikan spesies liarnya, dengan bulu tubuh hitam dan sayap putih. Itik jantannya berpial merah cerah. Kedua, Barbary Duck yang 100% berbulu putih. Dua varian Barbary Duck ini sama-sama bisa kita ketemukan dipelihara masyarakat Indonesia.

Itik Cairina Barbary Duck, diintroduksi dari Benua Amerika oleh bangsa Portugis. Sebelum dimasukkan ke Indonesia, mereka membawanya terlebih dahulu ke Manila (Filipina). Baru kemudian Belanda mengintroduksi itik ini ke Indonesia (Hindia Belanda), dari Manila. Itulah sebabnya Barbary Duck juga populer dengan sebutan itik manila.  Sekarang Barbary Duck mudah kita jumpai di kampung-kampung, dipelihara bersamaan dengan ayam dan itik biasa (itik tegal, mojosari, magelang dan alabio), yang disebut Indian Runner Duck. Itik manila Barbary Duck, bisa mencapai bobot 4 kg (jantan) dan 3 kg (betina). Itik Cairina Barbary Duck, sudah lama populer sebagai unggas potong di Jawa dan Sumatera.

Selain Barbary Duck, dikenal pula itik cairina White-winged Wood Duck, (Cairina scutulata). Ukuran tubuh itik manila ini, lebih kecil dibanding itik manila Barbary Duck. Bobot jantannya hanya 3 kg, sementara betinanya 2 kg. Itik cairina White-winged Wood Duck, merupakan domestifikasi dari itik liar yang hidup di rawa-rawa serta sungai di India bagian Selatan, Banglades, dan Asia Tenggara, kecuali Filipina. Di Indonesia, White-winged Wood Duck liar masih bisa dijumpai di Taman Nasional Way Kambas di pulau Sumatera. Itik ini disebut White-winged Wood Duck, sebab berbulu sayap putih. Ketika melihat itik liar ini di habitat asli para ahli unggas Eropa menganggapnya sama dengan itik Wood Duck (Aix sponsa). Wood Duck adalah itik liar dari Amerika, yang masih satu genus dengan itik mandarin (Mandarin duck, Aix galericulata).

# # #

Domestifikasi White-winged Wood Duck, sebagai itik cairina, sebenarnya baru terjadi pada zaman Hindia Belanda. Sebab pada jaman kerajaan Hindu, dan Budha, yang dikembangkan sebagai itik penghasil telur adalah Indian Runers, yang masuk genus Anas. Genus Anas sendiri terdiri dari atas 40 sd. 50 spesies. Sekarang, itik manila White-winged Wood Duck, bisa dijumpai dipelihara di masyarakat, dengan ciri bulu leher dan kepalanya kombinasi hitam dan putih, bulu sayap putih, dan bulu lainnya hitam. Karena White-winged Wood Duck kadang-kadang dipelihara bersama Barbary Duck, sering terjadi kawin campur. Itik cairina yang banyak dipelihara di Jawa dan Sumatera, banyak yang merupakan persilangan antara Barbary Duck dengan White-winged Wood Duck.

Belakangan ini, di masyarakat juga beredar informasi tentang itik serati (tik-tok), yang dipromosikan lebih unggul dibanding itik biasa, maupun itik cairina. Tiktok adalah silangan antara itik cairina dengan itik biasa, dan hasilnya selalu mandul (infertil). Kalau peternak bisa menghasilkan tik-tok sendiri, keuntungannya memang akan meningkat. Namun tik-tok yang dipromosikan, akan membuat peternak juga tergantung pada breeder. Sama halnya dengan itik peking maupun itik biasa, yang membuat para peternak, baik petelur maupun pedaging, akan selalu bergantung pada breeder. Peternak itik cairina tidak perlu bergantung pada breeder, sebab menetaskan dan membesarkan anak itik cairina relatif sederhana.

Selain beberapa kelebihan ekonomis tadi, itik manila juga terkenal bandel terhadap penyakit. Kalau itik biasa sudah dikenal bandel terhadap penyakit unggas, maka itik manila jauh lebih bandel lagi. Pola peternakan itik manila sebagai penghasil daging, merupakan sesuatu yang alami. Pakan itik manila juga hanya biji-bijian, dan umbi-umbian, dengan sesekali diseling serangga, dan limbah ikan. Masyarakat pedesaan hanya memelihara unggas ini dengan pakan dedak, nasi sisa dan selanjutnya diliarkan untuk merumput, mencari serangga dan cacing. Pola peternakan yang alami ini merupakan salah satu jawaban untuk menciptakan kemandirian peternak, dari produsen benih maupun pakan. # # #

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s