PELUANG BUDI DAYA ENTOG

Liburan Juni/Juli 2009 ini, saya sempat pulang kampung ke Jawa Tengah.  Saya lihat banyak tetangga memelihara entog. Kata mereka, harga entog sekarang sedang bagus. Benarkah demikian? (Lucia, Jakarta).  

Sdri. Lucia, sejak empat tahun yang lalu, entog memang naik daun. Sebelumnya, entog hanya dikonsumsi oleh rumah tangga, sebagai unggas pedaging, untuk hajatan, atau pada hari raya Idul Fitri. Belakangan restoran mulai mau menyerap entok, terutama jantan umur di bawah enam bulan. Restoran tidak akan menawarkan daging unggas ini sebagai entog goreng, melainkan “bebek goreng”. Entog memang naik daun bersamaan dengan maraknya restoran dan warung bebek di Jabodetabek.

Yang disebut entok, itik manila, atau itik serati, sebenarnya domestifikasi dari dua spesies itik liar, yakni Cairina moschata (Muscovy Duck), dan Cairina scutulata (White-winged Wood Duck). Itik jinak Muscovy Duck yang sudah dipelihara, disebut Barbary Duck. Spesies ini berasal dari seluruh benua Amerika termasuk Kepulauan Karibia. Populasinya di alam liar diduga sekitar 1.000.000 ekor. Domestifikasi Muscovy Duck, menghasilkan dua varian Barbary Duck. Pertama, yang masih mengikuti ciri-ciri fisik spesies liarnya, dengan bulu hitam dan sayap putih. Itik jantannya berpial merah cerah. Kedua, yang 100% berbulu putih.

Barbary Duck dibawa Portugis ke Manila, Filipina, baru kemudian Belanda mengintroduksi itik ini ke Indonesia (Hindia Belada), dari Manila. Itulah sebabnya Barbary Duck populer dengan sebutan itik manila.  Sekarang Barbary Duck mudah kita jumpai di kampung-kampung, dipelihara bersamaan dengan ayam dan itik biasa (itik tegal, mojosari, magelang dan alabio), yang lazim disebut Indian Runner Duck. Itik manila Barbary Duck, bisa mencapai bobot 4 kg (jantan) dan 3 kg (betina), hingga populer sebagai unggas potong.

Itik manila White-winged Wood Duck, berukuran lebih kecil dibanding Barbary Duck. Bobot jantannya hanya 3 kg, sementara betinanya 2 kg. Entog White-winged Wood Duck, domestifikasi dari itik liar di rawa dan  sungai di India Selatan, Banglades, dan Asia Tenggara, kecuali Filipina. Di Indonesia, White-winged Wood Duck liar bisa dijumpai di Taman Nasional Way Kambas, Sumatera. Disebut White-winged Wood Duck, sebab itik ini berbulu sayap putih, dan ketika bangsa Eropa menjumpainya, dianggap mirip dengan itik liar dari Amerika, Wood Duck (Aix sponsa). yang masih satu genus dengan itik mandarin (Mandarin duck, Aix galericulata).

Domestifikasi White-winged Wood Duck, sebagai entog, sebenarnya baru terjadi pada jaman kolonial. Sebab pada jaman kerajaan Hindu, dan Budha, yang dikembangkan sebagai itik penghasil telur adalah Indian Runers, yang masuk genus Anas. Genus Anas sendiri terdiri dari atas 40 sd. 50 spesies. Sekarang, itik manila White-winged Wood Duck, bisa dijumpai dipelihara masyarakat, dengan ciri bulu leher dan kepalanya kombinasi hitam dan putih, bulu sayap putih, dan bulu lainnya hitam. Karena White-winged Wood Duck kadang-kadang dipelihara bersama Barbary Duck, sering terjadi kawin campur.

Ada beberapa fungsi ekonomis entog, yakni sebagai unggas pedaging, penetas itik petelur, dan diambil bulunya untuk shuttle-cock. Di Jawa, memotong entog pada hari raya atau hajatan, dianggap lebih prestisius dibanding dengan memotong ayam. Sebab harga itik manila jantan, jauh lebih tinggi dibanding harga ayam jago. Itik manila jantan bobot 1 kg. yang bulunya belum tumbuh sempurna, sering dipotong dan dimasak opor. Meskipun di sekitar hari raya Idul Fitri harga entog melambung tinggi, tetap saja konsumennya hanya sebatas rumah tangga.

Setelah dagingnya bisa diserap restoran, permintaan entog jantan umur dibawah enam bulan meningkat pesat. Karena permintaan lebih tinggi dari pasokan, maka harga entog pun naik tajam. Unggas ini jadi naik daun, dan masyarakat pun memeliharanya dengan serius, termasuk memberinya pakan tambahan berupa sayur-mayur, yang selama ini hanya dikonsumsi manusia. Misalnya caisim, barkcoy, dan selada. Menu tambahan ini masih layak diberikan ke entog, sebab nilai entog itu sendiri masih bisa menutup harga sayuran.

Sekitar dua dekade belakangan ini, entog juga disilangkan dengan itik indian runner hingga menghasilkan “tik-tok”, kependekan dari itik-entok. Tik-tok jantan maupun betina hasil silangan antar spesies ini, selalu mandul. Hingga fungsinya hanya untuk digemukkan sebagai itik pedaging. Entog juga terkenal bandel terhadap penyakit. Kalau itik biasa sudah dikenal bandel terhadap penyakit unggas, maka entog jauh lebih bendel lagi. Pola peternakan entog sebagai penghasil daging, bahan shuttle-cock dan penetas telur itik, merupakan peluang bisnis yang menarik. * * *

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s