MASALAH HARGA TOMAT

Sekarang ini, di kakilima Jakarta dengan mudah kita temui deretan penjual tomat. Buah yang berwarna merah ranum ini diobral dengan kisaran harga antara Rp 2.000,- sampai dengan Rp 4.000,- per kg. Apakah petani tidak rugi? Sebab dengan tingkat harga rata-rata Rp 3.000,- per kg. di kakilima, maka harga di tingkat petani paling tinggi hanyalah Rp 1.000,- per kg. Dengan tingkat produktivitas 2 kg. per tanaman, dengan populasi 20.000 tanaman per hektar lahan, maka hasil yang bisa diraih adalah 40 ton buah tomat per hektar per musim tanam. Kalau harga pada tingkat petani bisa mencapai Rp 1.000,- per kg, pendapatan kotor petani Rp 40.000.000,- selama satu periode tanam.

Dengan biaya produksi sekitar Rp 20.000.000,- per hektar lahan, maka petani masih bisa memperoleh keuntungan Rp 20.000.000,- atau sebesar 100% dari modal yang dikeluarkannya. Dengan masa tanam selama 5 bulan, dan persiapan 1 bulan, maka keuntungan 100% tersebut hanya diraih dalam jangka waktu 6 bulan. Yang menjadi masalah, kalau hasil di tingkat petani kurang dari 2 kg. per tanaman, dan harganya  juga kurang dari Rp 1.000,- per kg. Misalnya hasil per hektar per musim tanam hanya 1 kg, dan harga per kg Rp 800,- hingga pendapatan kotor petani hanya Rp 16.000.000,- Kalau biaya produksi sudah mencapai Rp 20.000.000,- maka petani akan merugi.

Melimpahnya hasil tomat hingga sampai ke kakilima di Jakarta, merupakan indikator bahwa hasil per tanaman rata-rata bisa mencapai 2 kg. Ini sudah merupakan prestasi cukup baik, untuk budi daya tomat di kawasan tropis. Sebab di kawasan sub tropis, hasil tomat bisa mencapai 5 kg. per tanaman. Populasi tanam di kawasan ini juga bisa mencapai 25.000 tanaman per hektar lahan. Hingga budi daya tomat di kawasan sub tropis bisa mencapai hasil sampai 125 ton per hektar, per musim tanam. Namun, panjang hari di kawasan ini, bisa mencapai 17 jam per hari. Di kawasan tropis seperti Indonesia, hal ini tidak mungkin bisa diperoleh.

# # #

Tomat yang dijajakan di kakilima di Jakarta, umumnya tomat gondol (Lycopersicum esculentum Var. validum)  dan tomat apel (Lycopersicum esculentum Var. pyriforme). Di Jawa Tengah, selain dua jenis tomat ini masih bisa dijumpai pula tomat sayur (Lycopersicum esculentum Var. commune),  yang berukuran besar dan bentuknya lebih pipih. Yang juga dibudidayakan petani dalam volume sangat terbatas adalah tomat cery, atau tomat ranti (Lycopersicum esculentum Var. pimpinellifolium), yang ukurannya sangat kecil dan berbentuk bulat. Tomat sayur, kadangkala juga akan masuk Jakarta, kalau stok tomat gondol dan tomat apel sedang kosong. Biasanya tomat sayur lebih banyak dipetik hijau sebagai sayuran.

Melimpahnya produksi tomat sampai ke kakilima, terutama disebabkan oleh pemanfaatannya yang masih terbatas pada bentuk segar. Di negara sub tropis, tomat adalah bahan baku pasta, untuk keperluan saus makan. Ikan dalam kaleng, misalnya, selalu memerlukan saus tomat. Indonesia, sampai sekarang masih mengimpor pasta tomat, untuk berbagai keperluan, termasuk untuk dikemas ulang dan dipasarkan dengan berbagai merk. Adapun saus makan yang banyak digunakan oleh pedagang mie dan bakso, kakilima, berbahan baku ubi jalar, pepaya muda, atau labu parang. Hingga di Indonesia, tomat hanya dikonsumsi segar. Mengapa agroindustri pasta tomat sulit untuk berkembang di sini?

Sebab dengan tingkat produktivitas hanya 2 kg. per tanaman, maka agroindustri pasta tomat dengan bahan baku tomat lokal menjadi tidak feasible. Selain itu, tomat yang dihasilkan di negeri tropis, daging buahnya relatif tipis, dengan rongga yang besar dan biji cukup banyak. Tomat hasil budi daya sub tropis, daging buahnya tebal, dengan rongga dan biji sedikit. Keunggulan tomat sub tropis ini, bukan hanya ditentukan oleh faktor genetik, melainkan budi daya. Meskipun yang kita tanam adalah tomat unggul dengan benih impor dari Jepang atau Taiwan, tetap saja daging buahnya akan menjadi tipis dan berbiji lebih banyak. Kendala utama budi daya tomat di sini terutama soal panjang siang hari yang maksimal hanya 12 jam.

# # #

Tomat di Indonesia, memang sulit berkembang, karena kalah bersaing dengan pasta tomat impor, dengan pepaya muda, ubi jalar dan labu parang. Tomat juga merupakan komoditas banci. Dia tergolong sebagai sayuran, namun bentuknya buah. Meskipun tergolong sebagai sayuran berbentuk buah, dalam praktek, tomat tidak pernah dijadikan bahan sayuran seperti halnya terong, pare, oyong, atau kacang panjang. Timun sebenarnya juga tergolong sebagai sayuran berbentuk buah, yang tidak lazim dijadikan bahan sayuran. Namun timun adalah bahan acar dan lalap yang sangan popoler serta komersial. Tomat tikak pernah disayur, kecuali tomat hijau, juga tidak digunakan untuk lalap.

Namun masyarakat juga tidak lazim mengkonsumsi tomat sebagai buah, meskipun rasanya asam manis sangat menyegarkan. Paling jauh, yang dilakukan masyarakat adalah mengkonsumsinya sebagai jus tomat. Dalam kondisi seperti ini, menjajakan tomat di gerai buah menjadi agak aneh. Meskipun yang selama ini paling banyak menjajakan tomat di kakilima, justru gerai kios buah. Dengan tingkat harga rata-rata Rp 3.000,- per kg, konsumen juga tidak berbondong-bondong untuk memborongnya. Padahal, harga ini masih sangat jauh dengan buah-buah lain yang juga diobral, rata-rata dengan harga di atas Rp 5.000,- per. kg. Manggis, lengkeng bangkok, kesemek, umumnya masih diobral dengan tingkat harga di atas Rp 5.000,- per kg.

Sekarang ini, pasar buah nasional sedang dibanjiri oleh jeruk siam lokal, apel dan lengkeng   impor. Mangga dari sekitar Indramayu juga sudah mulai sampai ke kios kakilima. Agustus dan September, jeruk impor juga akan masuk lebih banyak lagi, bersamaan dengan makin besarnya pasokan mangga lokal. Desakan macam-macam buah ini, akan membuat harga tomat sulit terdongkrak naik, dan malahan potensial untuk terus merosot. Dalam kondisi seperti ini, petani akan membiarkan produk mereka membusuk di kebun. Sebab upah petik dan ongkos angkut, menjadi tidak sebanding lagi dengan harga jual. Di negeri maju, kalau panen melimpah dan harga jatuh, petani akan melenyapkan sebagaian dari hasil produksi mereka. (R) # # #

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s