AGROINDUSTRI KODOK BULLFROG

F. Rahardi

Di Indonesia, agroindustri kodok, mulai berkembang tahun 1980an, setelah diintroduksi kodok banteng (bullfrog, Rana catesbeiana), dari Taiwan. Bullfrog sendiri berasal dari Amerika Serikat dan Kanada. Bullfrog disebut kodok banteng, karena berukuran cukup besar, seperti halnya Rana macrodon (kodok hijau) kita. Bedanya, bullfrog didomestifikasi, hingga bisa diberi pakan alami. Kelemahannya, habitat asli bullfrog kawasan beriklim dingin.

Ketika dikembangkan di Jepang dan Taiwan, bullfrog masih bisa hidup normal. Pengembangan bullfrog di Indonesia, beberapa kali gagal, karena lokasinya di dataran rendah. Farm bullfrog skala besar di dataran rendah, potensial diserang bakteri dan virus.  Usaha pengembangan bullfrog di dataran rendah yang relatif berhasil, biasanya berskala kecil, seperti yang dilakukan oleh para petani di Yogyakarta. Dalam skala kecil, bakteri dan virus agak terhambat pertumbuhannya.

Untuk konsumsi dalam negeri, bullfrog dipasarkan dalam keadaan hidup, ke restoran chinese food. Selama ini pasokan kodok alam sudah tidak mungkin memenuhi besarnya permintaan. Belum lagi permintaan kodok hidup dari Singapura, dan Hongkong, yang selama ini juga belum terpenuhi pasokannya. Usaha bollfrog dalam farm besar di Taiwan dan Jepang, selama ini langsung diproses menjadi frogleg, paha kaki belakang kodok konsumsi.

Sebenarnya paha kodok itu masih berikut betis, yang kulitnya sudah dihilangkan, dengan sedikit tulang belakang disisakan dan dipotong rapi. Frogleg biasanya dikemas dalam wadah dengan satuan berat tertentu, dan kemudian dibekukan. Selain diserap oleh restoran chinese food dan hotel bintang, frogleg juga masuk pasar swalayan besar, untuk konsumsi rumah tangga. Penyerap utama frogleg adalah etnis China, Jepang, dan Vietnam, terutama yang tinggal di Uni Eropa, dan AS.

Katak konsumsi disebut kodok (jenis Rana). Sementara sebutan katak diperuntukkan bagi jenis kodok yang tidak dikonsumsi. Baik katak pohon (jenis Rhacophorus), maupun katak darat (jenis Bufo). Kodok hijau, kodok gembong (Rana macrodon) dan kodok batu (Rana musholini), merupakan jenis katak konsumsi terbesar. Selain itu masih ada kodok sawah, (Rana cancrifora) kodok rawa (Rana limnocaris) dan kodok cokelat (Rana temporaria), yang semuanya kodok asli Asia Tenggara.

Selama ini, upaya domestifikasi kodok-kodok lokal tersebut tidak pernah berhasil. Hingga budi daya kodok asli kita, selalu gagal. Penyebabnya faktor pakan. Kodok-kodok lokal kita, hanya mau makan pakan hidup, terutama serangga, bukan pakan buatan berupa pelet. Agroindustri bullfrog dalam skala kecil dengan populasi terbatas lebih berhasil, dibanding pemeliharaan skala besar dengan teknologi modern. Di AS, Kanada, Jepang dan Taiwan, budi daya bullfrog skala besar bisa berhasil, karena beriklim empat musim yang merupakan habitat asli bullfrog.

Indonesia adalah negara tropis, hingga budi daya bullfrog secara massal dengan teknologi modern, segera akan mengundang penyakit, yang disebabkan bakteri dan virus. Domestifikasi kodok lokal sudah beberapa kali dilakukan, baik oleh Badan Litbang Departemen, maupun perguruan tinggi. Hasilnya tidak pernah memuaskan, sampai ada introduksi bullfrog dari AS. Tahun 1980an, bullfrog juga sering disebut sebagai kodok jepang atau kodok taiwan, sebab kita mengintroduksinya dari dua negara itu.

Beda dengan kodok lokal kita yang hanya mau menyantap pakan hidup berupa serangga, maka bullfrog mau makan apa saja, termasuk pakan yang diam. Hingga bullfrog mau diberi pellet atau bentuk pakan lainnya. Para peternak skala kecil, biasanya memanfaatkan daging bekicot dan keong sawah sebagai pakan. Syarat utama memelihara bullfrog adalah adanya air tawar. Air sumur  atau PAM, bisa digunakan, asal didiamkan beberapa hari, dan diberi pompa sirkulasi air serta filter.

Kolam dan sarana-prasarana lainnya sangat fleksibel. Kolam tanah dengan pagar bambu pun, sudah cukup untuk memulai kegiatan ini. Lokasi usaha, sebaiknya berada di dataran menengah atau tinggi (500 sd. 1.200 m. dpl). Tetapi untuk skala kecil, kegiatan ini bisa dilakukan di dataran rendah. Usaha yang dilakukan di Bali dan Yogya, semuanya berlokasi di dataran rendah (100 – 200 m. dpl). Induk bullfrog dengan bobot 0,5 kg, harganya Rp 500.000,- per pasang.

Dari sepasang induk itu, akan dihasilkan ribuan berudu (kecebong). Induk betina 350 gram, bisa bertelur sampai 5.000 butir, dengan daya tetas 80%. Usaha agroindustri bullfrog, juga bisa dimulai dengan berudu seharga Rp 300,- per ekor seukuran biji kedelai. Pembesaran berudu sampai menjadi anak kodok memakan waktu 3 bulan. Pola pemeliharaan berudu sama seperti burayak (anak ikan). Sementara pembesaran sampai menjadi kodok konsumsi (ukuran 200 gram) memakan waktu 6 bulan.

Apabila saat ini kita membeli induk kodok 10 pasang, maka sekitar 10 bulan mendatang, sudah bisa panen kodok konsumsi. Pasar  ekspor biasanya minta kodok hidup bobot 0,25 kg per ekor dengan harga Rp 30.000,-. prangko Jakarta. Pasar lokal menghendaki 0,125 kg per ekor, dengan harga yang bervariasi di bawah harga untuk pasar ekspor. Agroindustri bullfrog, akan sangat menguntungkan apabila disertai pencarian pakan alternatif, sebab komponen biaya terbesar adalah pakan.

Harga pellet khusus kodok Rp 7.500,- per kg. Padahal pakan unggas maupun ayam masih berkisar antara Rp. 3.000,- sampai Rp 4.000,- Karenanya banyak peternak kodok yang kreatif, meramu pakan sendiri. Bahannya dedak halus, ampas tahu, tepung ikan atau daging ayam mati dengan tepung tapioka dan vitamin. Ramuan ini dibentuk seperti lontong lalu dikukus. Setelah dingin baru diberikan kepada kodok. Dengan meramu pakan sendiri, maka margin yang diperoleh akan lebih tinggi. # # #

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s