HARGA KOPI TERDONGKRAK NAIK

Bulan Mei adalah awal panen kopi, terutama kopi robusta. Sejak sepuluh tahun terakhir, baru kali ini harga kopi (gelondong) tembus ke angka di atas Rp 10.000,- per kg. di tingkat petani. Sebelumnya, harga kopi beras (biji kopi tersosoh), selalu di bawah Rp 10.000,- bahkan seringkali di bawah Rp 5.000,- per kg. di tingkat petani. Ini merupakan indikator bahwa Brasil sebagai penghasil kopi terbesar dan Vietnam (nomor dua), mengalami penurunan produksi, hingga pasokan ke pasar dunia turun. Jatuhnya harga kopi di pasar dunia, terutama disebabkan oleh tampilnya Vietnam sebagai pendatang baru penghasil kopi, yang langsung menyodok ke peringkat kedua, menggeser Indonesia dan Kolombia.

Sebelumnya, Indonesia dan Kolombia, selalu rutin bergantian menduduki ranking kedua dan ketiga. Dengan tampilnya Vietnam, maka Indonesia dan Kolombia berebut ranking ketiga, dan yang kalah akan mengisi ranking ke empat. Tampaknya, pembatasan produksi dan pasokan ke pasar dunia, telah berhasil memperbaiki harga. Dampaknya, petani kopi rakyat ikut menikmati hasilnya. Kopi yang dihasilkan rakyat, hampir seluruhnya varietas robusta (Coffea canephora), yang produktivitasnya tinggi, dan tahan terhadap serangan karat daun. Hingga yang harganya jatuh adalah kopi robusta. sementara kopi arabika (Coffea arabica), harganya tetap stabil tinggi. Kopi arabika memang dibudidayakan dalam areal yang terbatas.

Masuknya Vietnam sebagai penghasil kopi utama di dunia, sulit untuk dikendalikan, karena ketika itu ia belum masuk menjadi anggota Association of Coffee Producing Countries (ACPC) dan International Coffee Organisation (ICO). Hingga negeri ini bisa bebas melempar produknya ke pasar dunia, tanpa bisa dikenai sanksi. baru setelah stok hasil panen terjual habis, Vietnam mendaftar masuk  ACPC dan ICO. Namun harga kopi dunia sudah terlanjur rusak. Memerlukan waktu hampir 10 tahun untuk memperbaiki jatuhnya harga kopi di pasar dunia. Sekarang, harga kopi sudah cenderung membaik, namun masih tetap ada rasa was-was di kalangan petani. Jangan-jangan pada puncak panen raya bulan Juni-Juli nanti, harga kopi kembali ambruk.

# # #

Rakyat memanen kopi mereka serentak, baik yang hijau, merah maupun kuning, kemudian menjemurnya sampai kering. Kualitas kopi seperti ini sangat rendah, hingga harganya potensial jatuh. Panen kopi sebaiknya dilakukan bertahap, dan hanya dipetik buah yang sudah merah. Buah yang sudah dipanen, harus langsung digiling untuk membedah dan memisahkan kulit buahnya (pulping). Proses ini disebut pulping. Hasil pulping difermentasi, baik fermentasi basah (direndam air mengalir), atau fermentasi kering (dionggokkan di lantai) selama sekitar 24 jam. Biji kopi yang sudah terfermentasi, kemudian dijemur sampai kering, dioven hingga kadar airnya tinggal 11%, dan kemudian  disosoh hingga menjadi beras kopi.

Dengan panen diseleksi hanya yang merah, kemudian biji segar di pulping, difermentasi, dijemur dan dioven dengan dryer, baru kemudian disosoh dan disortir, maka akan dihasilkan biji kopi dengan harga duakali lipat dibanding harga kopi yang diproses dengan cara tradisional. Pola baku pasca panen kopi yang sudah lazim diterapkan di PTPN dan perkebunan swasta ini, sayangnya tidak pernah diajarkan ke petani kopi. Hingga para petani tradisional, tetap memanen kopi secara rampasan (hijau, kuning, merah), menjadi satu keranjang kemudian langsung dijemur sampai kering. setelah itu, baru biji kopi kering ini digiling hingga menjadi beras kopi. Aroma kopi rakyat tanpa fermentasi ini, tidak sebaik aroma kopi  perkebunan besar yang mengalami fermentasi.

Fermentasi basah, memang memerlukan teknologi dan sarana/prasarana yang sulit dipenuhi oleh petani kecil. Namun petani sebenarnya bisa melakukan fermentasi kering yang lebih sederhana. Biji kopi merah yang sudah dipulping dengan  gilingan biasa, langsung ditimbun di lantai dekat lokasi pulping. Tumpukan buah kopi hasil pulping ini selanjutnya didiamkan agar terjadi fermentasi, dan juga oksidasi. Kulit buah kopi kemudian akan berubah menjadi cokelat. Kalau tangan dimasukkan ke dalam tumpukan pulping kopi yang sedang terfermentasi kering, akan terasa panas. Itulah tandanya terjadi fermentasi kering. Fermentasi kering juga harus dilakukan paling cepat 24 jam.

Fermentasi, sebenarnya hanya merupakan imitasi dari proses serupa yang terjadi pada perut musang . Buah kopi merah yang dimakan musang, akan dikeluarkan berupa biji kopi utuh, bersama dengan kotoran. Kalau musang (luak) hanya menyantap buah kopi saja, maka kotoran itu juga hanya akan berupa biji yang sudah bersih dari kulit buahnya. Karena di dalam perut musang, biji kopi mengalami fermentasi yang sempurna. Proses inilah yang kemudian diadopsi untuk memfermentasi biji kopi setelah tahap pulping. Bakteri untuk proses fermentasi, sebenarnya sudah ada dalam kulit buah kopi sendiri. Itulah sebabnya hasil pulping yang ditumpuk semalaman, akan menghasilkan aroma yang manis beralkohol.

# # #

Ketika harga sedang membaik seperti sekarang ini, sebaiknya upaya perbaikan pasca panen diajarkan ke para petani. Sebab ketika harga sedang jatuh, petani cenderung frustrasi, bahkan banyak yang membongkar tanaman mereka untuk diganti dengan komoditas lain. Dalam kondisi psikologis seperti itu, sulit untuk memasukkan inovasi ke para petani. Dengan melakukan proses pasca panen yang benar, petani akan memperoleh nilai tambah yang lebih baik, dari harga biji kopi yang sudah  mulai membaik sekarang ini. Proses inovasi pasca panen ini bisa dilakukan dengan sederhana, tanpa biaya yang tinggi.

Sentra kopi rakyat (robusta) terbesar saat ini adalah Lampung, dan Sumatera Selatan. Para petani di sentra kopi inilah yang masih melakukan pasca panen dengan hanya menjemur buah kopi sampai kering, hingga menjadi kopi gelondongan. Sementara para petani kopi di Jawa Tengah, khususnya di perbatasan Kabupaten Semarang, Kendal, Temanggung, dan Magelang, sudah biasa melakukan pasca panen dengan fermentasi kering. Mereka memang masih memanen buah kopi secara rampasan, dengan memetik semua buah. Namun mereka sudah melakukan pulping dengan alat manual buatan sendiri, yang digerakkan dengan tangan.

Hasil pulping ditumpuk di lantai dengan diberi alas tikar, dan didiamkan semalaman. Baru esoknya tumpukan hasil pulping yang sudah mengalami tahap fermentasi kering itu dijemur. Petani di Jawa Tengah memang masih belum melakukan drying untuk menurunkan kadar air hingga ke tingkat 11%. Namun dengan kadar air sekitar 14% pun, penghasilan petani sudah meningkat cukup baik. Momen inilah yang seharusnya digunakan untuk membantu petani kopi. Namun di Indonesia, perhatian pejabat pemerintah dan LSMnya, masih sebatas ke isu-isu politik, dalam rangka menghadapi resafel kabinet. (R) # # #

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s