PERHITUNGAN VOLUME PAKAN LELE

Saya sudah memelihara lele dalam empat kolam terpal, dan pompa sedot, hasilnya cukup baik. Selama ini saya menggunakan pakan ayam broiler mati yang dibakar. Sebab di dekat rumah ada peternakan ayam. Yang saya dengar, sebenarnya kita bisa meramu bahan pakan sendiri. Bagaimanakah resepnya, dan berapa volumenya? (Arie, Klaten)

Sdri. Arie, Anda benar. Sayang sekali kalau ayam broiler mati itu hanya dibakar, kemudian dimasukkan ke dalam kolam lele. Di alam aslinya, lele memang ikan karnivora (pemakan daging). Namun lele dumbo yang sekarang menjadi ikan konsumsi, sudah berkembang menjadi ikan omnivora (pemakan segala). Hingga komposisi pelet pakan lele, terdiri dari banyak komponen. Mulai dari protein hewani, protein nabati, karbohidrat, serat, vitamin dan mineral. Pelet khusus untuk lele ini, mampu menjamin pertumbuhan sesuai dengan harapan peternak.

Rumus volume pakan lele adalah 1:1, artinya untuk menghasilkan satu kuintal ikan lele konsumsi, diperlukan satu kuintal pelet pakan lele. Satu kilogram lele konsumsi, biasanya berisi antara delapan sampai dengan 10 ekor. Lebih dari 10 terlalu kecil, kurang dari 8 terlalu besar. Harga lele konsumsi di tingkat peternak, antara Rp7.000 sampai dengan Rp10.000 per kg. Dengan kolam ukuran 2 X 3 m, pompa sedot 3/4 inchi, filter sederhana buatan sendiri (ember diisi ijuk, pasir, arang atau zeolit), kebutuhan benih 1.000 ekor. Jangka waktu pemeliharaan sangat tergantung dari kondisi air kolam, tetapi rata-rata sekitar dua bulan.

Hingga rata-rata pakan yang diberikan untuk 1.000 ekor lele tersebut adalah 100 kg : 60 hari = 1,6 kg per hari. Dalam praktek, tidak mungkin pada awal pemeliharaan lele diberi pakan 1,6 kg, (terlalu banyak), dan pada akhir pemeliharaan juga 1,6 kg (terlalu sedikit). Waktu dua bulan pemeliharaan itu, volume pakan yang diberikan sekitar 5% dari bobot ikan. Jadi, menjelang dipanen dengan hasil 1 kuintal, bobot pakannya mencapai 5 kg, sementara pada awal pemeliharaan cukup 1 sd 2 ons per hari. Pada hari-hari awal, pertumbuhan lele sangat pesat, sementara pada akhir pemeliharaan menjadi lebih lamban.
Hingga kenaikan bobot pakan pada awal pemeliharaan, bisa mencapai 100%, sementara pada akhir masa pemeliharaan, bisa hanya 10%.

Kelemahan memelihara lele dengan pakan pelet adalah, marjin yang diperoleh peternak terlalu kecil. Maka para peternak pun berusaha mencari pakan alternatif. Misalnya cacing, bekicot, siput, kepompong ulat sutera, telur yang tidak menetas, sampai ke ayam broiler mati. Beberapa peternak kemudian mencoba meramu pakan sendiri. Caranya, ayam mati tersebut dikuliti, diambil tulang dan jeroannya, kemudian daging murninya digiling bersama dedak halus (atau ampas tahu), dan karbohidrat (jagung, beras, singkong). Ke dalam adonan pakan itu ditambahkan vitamin B komplek. Kulit dan jeroan ayam dicincang dan langsung dimasukkan ke dalam kolam.

Adonan pakan dibuat menjadi seperti lontong, kemudian dikukus (atau dioven) sampai masak. Pakan ini bisa tahan antara dua sampai dengan tiga hari. Karena pakan buatan ini mengandung air sampai sekitar 40%, maka volume yang diperlukan untuk menghasilkan satu kuintal lele bukan satu kuintal seperti pada pelet, melainkan 100 : 40 X 1 kuintal =  2,5 kuintal, dengan komposisi karbohidrat 50%, protein nabati 30%, dan protein hewani 20%. Pakan sebanyak 250 kg ini, harus habis diberikan dalam jangka waktu antara dua sampai dengan tiga bulan pemeliharaan. Rumusnya juga tetap sama, yakni pada awal pemeliharaan antara dua setengah sampai dengan empat ons, sementara menjelang panen bisa mencapai 10 kg. per hari.

Para peternak lele, biasanya tidak terlalu memperhatikan rumus volume pakan ini. Mereka hanya berpatokan pada seberapa banyak lele menyerap pakan. Kalau pakan yang diberikan masih dilahap habis, berarti lele itu masih memerlukan pakan. Kalau mereka sudah ogah-ogahan makan, berarti pemberian pakan harus distop. Sisa pakan dan kotoran lele, akan disedot oleh pompa dan disaring filter, untuk disalurkan kembali ke dalam kolam. Ada pula peternak yang menambahkan bakteri anaerob, untuk mengurai sisa pakan dan kotoran yang masih tertinggal dalam kolam.

Dari uraian ini tampak jelas, bahwa pemberian ayam broiler mati untuk penggemukan lele menjadi terlalu tinggi biayanya, meskipun Anda memperoleh ayam tersebut secara gratis. Paling ideal adalah meramu pakan sendiri. Dalam budi daya ikan, komponen biaya pakan mencapai antara 60 sd. 70% dari seluruh komponen biaya. Hingga apabila Anda bisa menekan biaya pakan, maka produk yang Anda hasilkan akan bisa bersaing dengan produk serupa yang dihasilkan peternak lain. Sdr. Arie, semoga penjelasan saya ini bisa bermanfaat bagi Anda, juga bagi pembaca yang lain. * * *

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s