PEMBANGKIT LISTRIK ENERGI BIOMASSA

Belakangan ini, niat pemerintah untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) muncul lagi. Tahun 1980an, pemerintah Orde Baru juga pernah berkeinginan untuk membangun PLTN di Semenanjung Muria di Jawa Tengah. Niat ini banyak ditentang oleh aktivis lingkungan, terutama oleh Wahana Lingungan Hidup Indonesia (Walhi). PLTN memang menjadi alternatif, setelah alternatif lainnya tidak ada. Padahal, Indonesia masih punya batubara, gambut, angin, air, ombak, panas bumi, panas matahari, dan biomassa.

Biomassa adalah limbah organik, terutama limbah tumbuh-tumbuhan. Salah satu contoh penggunaan biomassa sebagai pemangkit listrik adalah, pabrik pengolahan kelapa sawit menjadi Crude Palm Oil (CPO). Proses pengolahan Tandan Buah Sawit (TBS) menjadi CPO, memerlukan uap air dan juga listrik untuk menggerakkan mesin. Listrik ini diperoleh dari pembangkit listrik tenaga uap. Uap airnya diperoleh dari memanaskan air dengan tungku berbahan bakar sabut dan tempurung biji sawit.

Semua pabrik sawit menggunakan bahan bakar sabut dan tempurung, dan selalu surplus. Hanya kurang dari separo sabut dan tempurung yang terpakai. Sisanya dikembalikan ke kebun untuk pupuk. Tandan Buah Kosongnya (TBK), malahan 100% dikembalikan ke kebun. Yang juga menggunakan biomassa untuk sumber energi adalah pabrik gula tebu. Ampas tebu berupa batang yang airnya telah diambil, digunakan sebagai bahan bakar untuk merebus air gula, tetapi juga untuk pembangkit listrik guna menggiling tebu.

Indonesia sebagai negara yang terletak di kawasan tropis, benar-benar kaya akan biomassa. Pertanian padi menghasilkan jerami dan sekam, yang selama ini lebih banyak dibakar sia-sia. Peternakan sapi perah menghasilkan kotoran yang bisa dikeringkan untuk dibakar sebagai biomassa, tetapi bisa pula diperam untuk menghasilkan biogas. Bahkan sampah kota pun, yang sebagian berupa bahan organik, juga bisa digunakan mejadi bahan bakar pembangkit listrik. Tentu setelah airnya dibuang, dengan cara mengepresnya.

# # #

Gambut yang terdapat dalam volume melimpah di Sumatara, Kalimantan dan Papua, sebenarnya juga merupakan biomassa. Namun pengertian biomassa masih sangat luas. Mulai dari lumut, paku-pakuan, rumput, daun-daunan tanpa atau berikut ranting, batang, kulit dan tongkol jagung, kulit kayu, sabut kelapa, dan masih banyak lagi. Dengan kadar air di bawah 30%, bahan-bahan organik itu akan mudah terbakar, dengan catatan tungku (tanur) sudah dalam kondisi membara.

Kalau kadar air masih di atas 30%, diperlukan pengeringan. Baik dengan cara pengepresan (pengempaan) maupun dengan mengangin-anginkan atau menjemurnya. Pengepresan dilakukan bukan hanya untuk mengurangikadar air, melainkan juga untuk memperkecil volumenya. Sebab salah satu kelemahan biomassa adalah, volumenya yang sangat besar. Agar proses pengangkutannya bisa ringkas, maka biomassa itu perlu dipres. Sampah limbah rumah tangga sebanyak 1 truk misalnya, setelah dipres akan tinggal 1 m3 dan cairannya keluar.

Dari sekian banyak alternatif biomassa yang kita miliki, daun-daunan berikut ranting-rantingnya, merupakan yang paling mudah diperoleh. Bahkan, pembukaan hutan untuk Hutan Tanaman Industri (HTI) dan perkebunan, yang selama ini menghasilkan asap, sebenarnya bisa menghasilkan biomassa. Asap yang selama ini mengganggu lingkungan kota-kota basar di Sumatera dan kalimantan, bahkan sampai ke Siangapura dan Malaysia, adalah pembakaran biomassa yang mubazir. Padahal di lain pihak kita tekor listrik.

Yang diperlukan sebenarnya hanyalah mesin pengepres dan pengemas. Biomassa yang telah dipres itu diberi tali dari kawat atau plastik, agar tidak kembali cerai-berai. Biasanya, hutan calon perkebunan itu akan ditebas (dibabat), dan batang kayu serta belukar yang ada dibiarkan mengering. Setelah itu dibakar. Dengan bantual buldoser, biomassa itu dikumpulkan, dicacah (dichooper), atau tanpa dicacah, kemudian dipres dan disimpan di tempat terbuka tetapi dengan ditutup terpal agar tidak basah terguyur hujan.

# # #

Selanjutnya secara perlahan-lahan, biomassa ini bisa dibakar untuk memanaskan air. Air dalam ketel yang telah panas, akan menghasilkan uap. Uap inilah yang akan disemprotkan ke turbin untuk memutar dinamo, hingga menghasilkan listrik. Lokasi pembangkit listrik tenaga biomassa, tentu lebih tepat berada di tengah-tengah hutan. Sebab biomassa dalam volume sangat besar, pasti berada di pelosok pedalaman. Pembangunan pembangkit listrik di lokasi seperti ini, potensial untuk mengembangkan kawasan pedalaman.

Proses mengumpulkan biomassa, memadatkannya, mengangkutnya sampai ke membakarnya, memerlukan tenaga mesin dan sekaligus manusia dalam jumlah sangat banyak. Dalam kondisi menumpuknya tenaga kerja sebagai penganggur, proses pengumpulan biomassa pasti akan bisa sangat berperan dalam menyerap tenaga kerja tersebut. Beda dengan PLTN yang hampir-hampir tidak memerlukan tenaga manusia. Sebab PLTN merupakan perangkat yang berteknologi tinggi.

Dengan melihat kondisi Indonesia saat ini, pemanfaatan biomassa sebagai energi pembangkit listrik, lebih strategis dibanding dengan PLTN. Namun kalau kita melihat peluang untuk korupsi, maka PLTN jelas lebih unggul untuk memasukkan uang ke kantung para pengambil kebijakan. Sebab biaya pembangkit listrik tenaga biomassa, sebagian besar akan terserap untuk upat tenaga kerja kasar yang sulit untuk dikorup. Sementara dana PLTN paling besar untuk membeli reaktor nuklir, yang sangat mudah dimarkup. (R) # # #

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s