MINYAK BUMI, CPO, JAGUNG DAN KARET

Ada korelasi antara kenaikan harga minyak bumi akhir-akhir ini, dengan membaiknya harga Crude Palm Oil (CPO/Minyak Sawit mentah), jagung dan karet alam. CPO, sampai dengan saat ini masih merupakan minyak nabati paling murah di dunia. Karena harga minyak bumi melambug tinggi, maka CPO mulai dijadilan alternatif untuk bahan biofuel. Di Indonesia, minyak komoditas jarak pagar memang menjadi sangat populer, karena diproyekkan oleh pemerintah. Namun kalangan bisnis, lebih tertarik ke CPO, sebab harganya paling murah, dan ketersediannya sudah sangat terjamin.

Selama ini CPO paling banyak terserap oleh agroindustri minyak goreng. Tetapi dengan adanya minat kalangan industri untuk memanfaatkan CPO menjadi biofuel, maka pelan-pelan harga CPO merayap naik. Selama ini “raja”: CPO dunia adalah Malaysia dan Indonesia, dengan hasil total sekitar 30 juta ton per tahun. Hingga praktis, dua negara inilah yang paling menikmati booming harga CPO di tingkat dunia. Brasil, dan beberapa negara tropis di Afrika, memang mulai membudidayakan sawit, namun hasilnya masih terlalu kecil dibanding dengan Indonesia dan malaysia. Bahkan Thailand pun, masih sangat sulit untuk dalam jangka waktu dekat ini menyaingi Indonesia dan Malaysia.

Kenaikan harga jagung pipilan akhir-akhir ini, juga tidak lepas dari pengaruh kenaikan harga minyak bumi. Produsen jagung terbesar di dunia adalah AS. Selama ini jagung paling banyak diserap untuk pakan ternak. Namun belakangan ini, negeri AS juga mulai tertarik untuk mengkonversi jagung menjadi ethanol (C2H6O = ethyl alcohol, grain alcohol, hydroxyethane, atau EtOH). Dengan terserapnya jagung pipilan ke agroindustri ethanol, maka harga komoditas ini pun naik cukup signifikan. Hingga budidaya sawit dan jagung, untuk jangka waktu ke depan ini relatif sangat menjanjikan. Meskupun keuntungannya tidak akan spektakuler, tetapi marginnya tetap baik.

# # #

Brasil bukan pesaing Indonesia dan Malaysia sebagai penghasil CPO utama , dan juga bukan pesaing AS sebagai penghasil jagung utama di dunia. Sebab Brasil adalah penghasil gula tebu terbesar di dunia. Hasil sampingan gula tebu adalah tetes. Tetes inilah yang oleh Brasil sudah sejak beberapa dekade diolah menjadi methanol (CH4O = hydroxymethane, methyl alcohol, wood alcohol, atau carbinol). Jauh sebelum dunia mengalami krisis BBM, Brasil sudah memanfaatkan methanol dari tetes tebu sebagai substitusi bahan bakar mereka. Pemanfaatan tetes tebu untuk methanol, termasuk paling rasional, sebab tetes hanyalah limbah dari agroindustri gula.

Di dunia ini memang terjadi hal yang terbalik-balik. Brasil adalah negeri asal-usul sawit Amerika Latin (Elaeis malanococca). Setelah disilang denganĀ  sawit Afrika Barat (Elaeis guineensis), terciptalah sawit hibrida yang menjadi andalan Indonesia dan Malaysia. Bukan andalan Brasil atau negara-negara di Afrika Tropis. Sebaliknya, tebu (Sacharum officinarum), adalah tumbuhan asli Indonesia. Diduga habitat aslinya adalah kepulauan Maluku. Pada jaman Belanda, tebu pernah menjadi produk andalan pemerintah kolonial. Sekarang yang menjadi penghasil gula tebu utama di dunia adalah Brasil.

Barangkali yang masih paralel adalah jagung. Komdoditas ini asli dari benua Amerika, tepatnya dari Meksiko. Kalau sekarang AS menjadi penghasil jagung utama di dunia, tentunya wajar. Meskipun, sekarang ini, jagung merupakan komoditas penting yang dibudidayakan di seluruh dunia. Terutama untuk bahan makanan manusia (jagung putih) dan pakan ternak (jagung kuning). Namun produksi jagung AS, saat ini sangat sulit untuk disaingi oleh negeri mana pun di dunia. Hingga pemanfaatan jagung untuk biofuel berupa methanol, akan langsung mendongkrak harga komoditas ini di pasar dunia. Indonesia termasuk yang terkena dampak kenaikan harga jagung ini.

# # #

Apakah kenaikan harga karet alam juga ada kaitannya dengan melambungnya harga minyak bumi? Benar. Sebab minyak bumi termasuk gas alam, juga merupakan bahan pembuat pupuk kimia, deterjen, plastik dan karet sintetis. Membubungnya harga gas alam, tentu akan angat berpengaruh terhadap bahan baku karet sintetis. Para produsen peralatan dari karet, kembali berpaling ke karet alam. Kalau semula karet alam hanyalah substitusi dari karet sintetis dengan bahan baku gas alam, maka sekarang terbalik. Karet alam menjadi alternatif bahan utama, sementara substitusinya karet sintetis. Inilah yang telah mengakibatkan harga karet alam kembali membaik.

Karet (Hevea brasiliensis), sesuai dengan namanya, jelas asli dari Brasil, Amerika Latin. Namun penghasil karet alam utama di dunia, sama halnya dengan sawit, adalah Malaysia dan Indonesia. Di dua negara ini areal karet banyak yang belakangan dikonversi mejadi sawit. Sebab harga produk karet memang kalah dibanding dengan CPO. Tetapi sekarang ini produk karet bisa sejajar dengan CPO. Ini sebenernya merupakan berkah bagi Indonesia yang sedang dilanda krisis ekonomi. Sebab karet dan CPO adalah hasil utama negeri kita. Dua komoditas ini juga dihasilkan oleh kebun rakyat. Bukan hanya oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dan Swasta Besar.

Indonesia juga merupakan penghasil jagung, meskipun rankingnya masih berada di bawah. Tetapi dengan hasil sekitar 9 sd. 10 juta ton jagung pipilan, dengan tingkat konsumsi yang kurang lebih setara, kita masih bisa menggenjot peningkatan produksi. Kebun karet dan sawit, secara rutin pasti akan diremajakan dan ditanami ulang (replanting). Sebelum kembali ditanami sawit atau karet, lebih ideal kalau selama sekitar tiga bulan lahan itu dimanfaatkan untuk jagung. Hingga berkah dari membaiknya harga CPO, karet dan jagung, bisa benar-benar dinikmati oleh masyarakat kita. Kenaikan harga minyak bumi, ternyata bukan hanya malapetaka. Kalau kita bisa memetik manfaatnya, kenaikan itu justru bisa berubah menjadi berkah. (R) # # #

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s