BUDI DAYA SAYURAN DALAM POT

Selama ini Indonesia, yang paling banyak dibudidayakan dalam pot hanyalah tanaman hias. Sementara di kota-kota besar di negara-negara maju, budidaya sayuran dalam pot sudah sangat lazim dilakukan. Masyarakat metropolis dan urban di negara-negara maju, bahkan sampai membentuk klub, untuk menyalurkan hobi mereka bertanam sayuran dalam pot, mengadakan lomba, pameran dan lain-lain.

Di New York, Paris, London, dan Tokyo, ada kelompok masyarakat yang punya hobi bertanam sayuran di kebun-kebun mini, atau dalam pot. Mereka menyebut klub mereka ini sebagai Gardening Club. Awalnya, aktivitas seperti ini hanya bersifat hobi. Namun lama kelamaan sayuran yang mereka hasilkan sedemikian banyaknya, hingga mereka mencoba memasarkannya. Awal tahun 2000 ini, di tengah krisis finansial dunia, Gardening Club lebih mengarah ke sisi ekonomis, dan bukan hanya sekadar hobi. Produk sayuran yang mereka hasilkan ternyata bisa membantu meringankan anggaran belanja rutin, bahkan sisanya bisa mereka pasarkan ke luar komunitas.

Sayuran yang dibudidayakan oleh para anggota Gerdening Club, bukan sayuran bernilai ekonomis tinggi, melainkan sayuran biasa. Misalnya kol, caisim, bayam, wortel, kentang, timun, cabai, dan tomat. Para anggota Gardening Club juga menggunakan teknologi biasa untuk bercocoktanam dalam pot. Pot yang mereka gunakan juga berupa barang-barang bekas. Meskipun ada pula anggota club, yang sudah menggunakan teknik bercocoktanam hidroponik, vertikultur, organic gardening, bahkan ada yang sampai menggunakan lampu khusus untuk tanaman. Trend untuk mengonsumsi makanan sehat, telah ikut mendorong pertumbuhan Organic Gardening Club.

* * *

Di kota-kota besar di Indonesia, budi daya sayuran dalam pot juga sudah mulai dilakukan oleh sebagian kecil masyarakat. Beberapa di antara mereka juga sudah membentuk kelompok kecil. Namun pertumbuhan komunitas seperti ini, di kota-kota besar di negeri kita, termasuk di Jakarta, tergolong sangat lamban. Padahal budi daya sayuran dalam pot sangat mudah dilakukan, biayanya murah, dan hasilnya ada beberapa macam. Pertama, kita bisa ikut menghijaukan lingkungan sekitar, dalam rangka mengurangi emisi karbon di udara. Kedua, tanaman sayuran tetap bisa berfungsi sebagai hiasan halaman, teras, dan balkon. Ketiga, hasil sayurannya bisa dikonsumsi, hingga bermanfaat meringankan perekonomian rumah tangga.

Kota-kota besar di Indonesia, umumnya berada di dataran rendah. Hingga sayuran yang bisa dibudidayakan dalam pot, juga jenis sayuran dataran rendah. Bahkan kota Bandung yang terletak pada ketinggian rata-rata 700 m. dpl pun, sekarang sudah menjadi sangat panas, karena udara dari AC rumah/mobil, knalpot kendaraan bermotor, serta cerobong asap pabrik. Maka yang bisa dibudidayakan di Bandung, juga jenis sayuran dataran rendah. Kecuali, kota Batu, Wonosobo, dan Lembang, yang masih berudara dingin, hingga bisa membudidayakan sayuran dataran tinggi, seperti kol, kentang, wortel, paprika, tomat, seledri, buncis, kapri, labu siam, selada air, dan bawang daun. Jenis sayuran tersebut, kecuali tomat, seledri dan bawang daun, hampir tidak mungkin dibudidayakan di dataran rendah.

Selain sayuran dataran tinggi yang toleran dibudidayakan di dataran rendah, jenis sayuran khusus dataran rendah adalah kangkung, bayam, caisim, selada, timun, pare, oyong, kacang panjang, katuk, terong, kemangi, kenikir. Jenis sayuran ini ada yang memerlukan tiang panjat (ajir), ada pula yang tidak. Kacang panjang, oyong, timun, dan pare, memerlukan ajir, atau bisa pula diramatkan di pagar rumah. Kangkung, dan bayam, harus ditanam secara kolektif dalam satu wadah, sementara tanaman lainnya harus soliter, dalam satu wadah satu tanaman. Jenis kangkung yang bisa dibudidayakan dalam pot tidak hanya sebatas kangkung darat, melainkan juga kangkung air. Sama halnya dengan genjer, budidaya kangkung air harus dalam wadah yang bagian bawahnya tidak berlubang, hingga air akan menggenangi media tanam.

Wadah untuk budi daya sayuran tidak harus pot yang bernilai tinggi. Ember plastik, kaleng bekas, polybag (kantong plastik hitam), karung bekas, bisa dijadikan wadah untuk budi daya sayuran. Ukuran media harus disesuaikan dengan ukuran tanaman. Tanaman yang berukuran cukup besar, misalnya timun, dan terong, harus menggunakan wadah yang juga besar. Misalnya polybag atau wadah lain yang berdiameter di atas 30 cm. Media tanam untuk budi daya sayuran dalam pot, jangan tanah yang akan cepat memadat, melainkan kompos, atau bahan organik lainnya yang porous. Media ini sebaiknya steril, bebas dari benih rumput, atau hama pengganggu. Cara mensterilkan media tanam yang paling murah, adalah dengan pasteurisasi, atau mengovennya.

* * *

Benih sayuran bisa dibeli di kios dan toko pertanian. Jangan membeli benih dalam kaleng, karena isinya terlalu banyak. Cukup beli benih dalam kemasan sase ukuran kecil. Biji yang akan disemai, terlebih dahulu direndam dalam air hangat, yang diberi beberapa tetes zat perangsang tumbuh (zpt), seperri Atonik. Benih yang mengapung diambil dan dibuang, karena tidak akan tumbuh. Benih yang telah direndam zpt, bisa langsung ditanam dalam pot yang sudah diisi media, bisa pula disemai terlebih dahulu. Penyemaian benih dilakukan dalam wadah kolektif yang cukup besar, dengan media kompos campur pupuk kandang. Wadah semaian ditaruh di lokasi yang terkena sinar matahari, namun ternaungi hingga tidak terguyur hujan. Pertumbuhan semai akan terganggu, apabila wadah tersebut terguyur hujan.

Idealnya, wadah sayuran dalam pot tetap ditaruh di atas rak, atau dak, dan diberi naungan plastik bening, agar tidak terkena air hujan langsung. Penyiraman dilakukan tiap hari. Penggunaan pupuk kimia, misalnya Urea dan NPK, dalam dosis terbatas masih tetap bisa dilakukan, untuk memperoleh hasil optimal. Kecuali kita akan membudidayakan sayuran organik. Penggunaan pestisida sebaiknya dihindarkan, sebab potensial akan mencemari lingkungan rumah. Hama dan penyakit tanaman yang mengganggu, cukup diatasi secara manual. Sebab populasi tanaman tidak terlalu banyak. Hama ulat, kutu daun, dan cacing, bisa dibuang secara manual. Cacing memang menyuburkan lahan di kebun, tetapi di dalam pot ia justru mengganggu tanaman.
Tanaman bayam, kangkung, dan caisim, sudah bisa dipanen pada umur sekitar 40 – 45 hari. Cabai, tomat, terong, timun, oyong, baru akan berbuah pada umur 3 bulan, dan akan terus bisa dipanen sampai umur 5 bulan. Khusus cabai rawit, bisa tetap dipanen sampai sekitar 1 tahun. Setelah sayuran dipanen, media tanam bisa digunakan kembali. Sebelum digunakan, media itu harus dibongkar, disterilkan dan dicampur dengan media tanam baru. Polybag dan karung bekas tanaman terdahulu, juga bisa digunakan kembali, asalkan masih utuh, dan kuat. Demikian pula dengan wadah dari kaleng bekas. Kalau kaleng sudah keropos karena karatan, harus dibuang. Wadah plastik pun bisa pula pecah-pacah setelah sekian lama digunakan. (R) * * *

About these ads

2 thoughts on “BUDI DAYA SAYURAN DALAM POT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s