PENYULINGAN MINYAK ASIRI

Sejak tahun 2008 silam, harga beberapa komoditas minyak asiri mengalami kenaikan. Minyak nilam misalnya, naik dari rata-rata Rp 300.000 menjadi Rp 600.000 per kg. Akibatnya, banyak investor tertarik menjadi  penyuling minyak asiri. Padahal sejak tahun 1980an, banyak ketel destilasi menganggur, karena tidak tersedia  cukup bahan baku.

Keuntungan menyuling minyak asiri, misalnya dari daun cengkeh kering, memang cukup menarik. Investasi ketel kapasitas 1,5 ton, Rp 750.000.000. (penyusutan per hari selama 5 tahun, Rp 45.000). Biaya penyulingan Rp 150.000,- per hari. Bahan baku 1,5 ton Rp 787.500,- Hingga total modal penyulingan 1,5 ton daun cengkeh adalah Rp 787.500 + Rp 150.000 + 45.000 = Rp 982.500. Dengan rendemen 1,5% hasilnya 22.5 kg minyak daun cengkeh. Harga minyak Rp 60.000,- per kg,  hingga pendapatan kotor Rp 1.350.000. Pendapatan bersih per hari Rp 367.500, atau  selama 20 hari kerja Rp 7.350.000. Paling sedikit, pemilik ketel bisa memperoleh pendapatan bersih Rp 3.500.000,- sebulan setelahdikurangi biaya lain-lain.

Selain daun cengkeh kering, bahan baku yang bisa disuling menjadi minyak asiri, adalah sereh wangi, sereh dapur, akar wangi, jahe emprit, daun kayu putih, daun nilam, bunga kenanga, bunga ylang-ylang, pala muda, lada hitam, kemukus, kayu sintok, , cendana, gaharu, gondorukem (resin pinus), kulit kayu manis, jeringau, lempuyang, daun jeruk purut dan beberapa material lainnya. Selain dengan penyulingan, minyak asiri juga bisa diperoleh dari proses ekstraksi, dan pengepresan (pengempaan). Minyak asiri hasil ekstraksi antara lain jasmin absolute (melati), rose (mawar), dan vanili. Minyak asiri hasil pengempaan diperoleh dari biji alpukad.

# # #

Harga material bahan minyak asiri bervariasi, mengikuti turun-naiknya, harga minyak asiri di pasar dunia. Kisaran harga minyak asiri di tingkat produsen, antara Rp 50.000 (sereh wangi), sampai dengan Rp 20 juta per kg (minyak melati, jasmine absolute). Minyak asiri adalah bahan baku esense (zat aroma makanan, minuman, rokok, kertas tisu, cat, pembersih lantai, pewangi ruangan, dll), kosmetik (sabun mandi, pasta gigi, shampo, body lotions), industri farmasi (obat-obatan), parfum, dan perangkat ritual keagamaan (dupa, hio). Minyak asiri dengan harga tinggi, misalnya jasmine absolute dan gaharu, dijual dengan satuan cc, atau gram (bukan liter atau kg).

Tahap pengolahan material minyak asiri, terdiri dari pelayuan (pengeringan), penghancuran, penyulingan, dan penyaringan. Bahan baku bunga kenanga, atau ylang-ylang, cukup dilayukan, tanpa pengeringan. Bahan baku daun nilam, dijemur sampai tahap setengah kering (magel), baru dihancurkan, dan disuling. Pala muda, dan lada hitam, dikeringkan, diserbukkan, baru disuling. Rimpang jahe emprit, lempuyang, dan lengkuas, harus dicuci bersih, dibuat chips, dijemur, dihancurkan, baru disuling. Cendana, gaharu, dan gondorukem, dikeringkan, dibuat serbuk, baru disuling. Parfum bunga melati diikat dalam pelarut, baru didestilasi dengan suhu sangat rendah.

Prinsip destilasi adalah perebusan, atau pengukusan material minyak asiri, dalam ketel. Ketel penyulingan harus berupa bahan stainless steel (baja tahan karat). Ketel dari bahan besi biasa, atau tembaga, akan menghasilkan minyak asiri berwarna cokelat gelap, dan kehijauan, dengan kualitas rendah. Uap dari ketel selanjutnya disalurkan melalui pipa pendingin (dilewatkan aliran air) sampai mengembun, dan embun itu diteteskan dalam wadah penampung. Cairan yang menetes di wadah penampung, terdiri dari air dan minyak asiri. Air akan berada di bagian bawah wadah, dan tidak berwarna (jernih), sementara minyak asiri berada di atas dan berwarna cokelat kekuningan.

Bahan bakar pemanas ketel, bisa berupa minyak bakar (minyak tanah, solar), kayu bakar, atau limbah penyulingan. Penyulingan daun cengkeh, akar wangi, sereh wangi, dan kayu sintok, akan menghasilkan material limbah dalam volume sangat besar. Limbah ini setelah dikeringkan, bisa dijadikan bahan bakar, hingga biaya penyulingan bisa ditekan serendah mungkin. Biaya yang dikeluarkan hanyalah untuk tenaga kerja penunggu tungku. Cara pembakaran bahan bakar minyak, bisa dengan tekanan (blower, dipompa), namun yang paling baik dengan tenaga grafitasi, sebab akan menghasilkan panas yang stabil.

# # #

Para calon investor penyulingan minyak asiri, umumnya hanya melihat tingginya keuntungan yang akan diraih, tanpa memikirkan dari mana bahan baku akan diperoleh. Hingga di sentra kebun cengkeh misalnya, ada beberapa ketel penyulingan daun, dan sebagaian besar menganggur. Demikian pula di sentra penghasil nilam. Unit utama agroindusrtri minyak asiri, memang bukan ketel penyulingan, melainkan kebun sebagai penghasil bahan baku. Mengharapkan masyarakat menanam bahan baku minyak asiri, lalu pengusaha tinggal menampung, akan beresiko tidak mendapat bahan baku.

Sebab semua investor akan berpikiran sama. Investasi ketel mereka anggap hampir tanpa resiko, jika dibandingkan dengan investasi kebun. Inilah kesalahan utama para investor ketel minyak asiri. Dengan hanya mengandalkan satu dua komoditas pun, resiko ketel akan menganggur sangat tinggi. Misalnya hanya mengandalkan material daun cengkeh, yang hanya ada pada musim kemarau. Atau mengandalkan nilam, yang hanya berproduksi pada musim penghujan. Idealnya, satu ketel penyulingan kapasitas 1 ton misalnya, harus didukung minimal oleh 5 hektar kebun, dengan minimal 5 jenis komoditas.

Kombinasi yang ideal antara lain: nilam, sereh wangi, akar wangi, jahe emprit, lempuyang, jeringau, dan ylang-ylang atau kenanga. Lokasi kebun pada ketinggian di atas 600 m. dpl. Sebab komoditas-komoditas tadi, hanya cocok dibudidayakan pada lahan dataran tinggi, dengan ketinggian di atas 600 m. dpl. Nilam, sereh wangi, akar wangi, jahe emprit, lempuyang, keringau, adalah tanaman semusim. Sementara kenanga dan ylang-ylang merupakan tanaman tahunan, yang cocok dibudidayakan sebagai pembatas dan peneduh lahan. Dengan mengandalkan minimal 5 komoditas bahan minyak asiri, maka dijamin ketel akan bisa beroperasi penuh 365 hari dalam setahun. (R) # # #

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s