AGROINDUSTRI BENIH PADI

Agroindustri benih padi, sampai ke pendistribusiannya ke petani, diatur dalam Undang-undang (UU) Nomor 12 Tahun 1992, yang dilengkapi dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 44 Tahun 1995. UU dan PP hanyalah perangkat hukum. Masih diperlukan kontrol, pemberian saksi, dan contoh dari para pemimpin.

Kasus padi “Super Toy” sebenarnya tidak akan terjadi, apabila aparat Departemen Pertanian (Deptan), dan juga Menteri Pertanian (Mentan), cukup tegas. Dalam UU Nomor 12 Tahun 1992, pasal 12 telah disebutkan bahwa: (1) Varietas hasil pemuliaan atau introduksi dari luar negeri sebelum diedarkan terlebih dahulu dilepas oleh Pemerintah. (2) Varietas hasil pemuliaan atau introduksi yang belum dilepas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dilarang diedarkan. (3) Ketentuan mengenai syarat-syarat dan tata cara pelepasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Keberhasilan budi daya komoditas apa pun, sangat ditentukan oleh faktor benih. Sebab dengan benih yang jelek, seberapa banyak pupuk diberikan, hasilnya tidak akan optimal. Selama ini, ada tiga macam benih yang digunakan petani Indonesia dalam budi daya padi.  Pertama benih padi tradisional (varietas lokal), misalnya pandan wangi, rojolele dll. Kedua varietas unggul, yang paling terkenal dan sekaligus paling banyak dibudidayakan petani adalah IR 64. Ketiga benih padi hibrida, yang belum banyak beredar di kalangan petani. Dari tiga jenis benih ini, yang bisa dibenihkan kembali oleh petani, hanyalah padi tradisional.

Benih padi varietas unggul, memang masih bisa dibenihkan oleh petani, tetapi hasilnya akan terus menurun. Hingga idealnya, petani cukup sebanyak tiga kali mengguknakan benih hasil perbanyakan sendiri, selanjutnya membeli benih baru yang berlabel. Padi hibrida, malahan sama sekali tidak bisa ditanam kembali. Hasil panen padi hibrida, apabila ditanam akan kembali berubah menjadi dua, tiga, atau empat induk tetuanya. Hingga petani yang menanam padi hibrida, mutlak harus selalu membeli benih dari perusahaan yang ditunjuk oleh pemerintah. Misalnya Perum Sang Hyang Seri, yang berlokasi di Sukamandi, Jawa barat.

# # #

Dalam pertanian tradisional dengan benih varietas lokal, petani tetap memperlakukan benih dengan istimewa.  Dalam pertanian padi sawah, maupun padi ladang, pasti ada bagian tertentu dari petakan tersebut yang sangat subur. Tanaman yang tumbuh di sana, tampak lebih tinggi, hijau, dan sehat. Tanaman inilah yang dijaga dengan baik oleh petani, sebagai penghasil benih. Pada waktu panen,  biasnya petani akan memetik bulir-bulir terbaik, sejumah keperluan benih untuk musim tanam yang akan datang. Umur padi tradisional antara lima sampai enam bulan, hingga dalam setahun hanya akan panen satu kali di ladang, dan sawah tadah hujan, serta dua kali di sawah berpengairan teknis.

Pada budidaya padi di sawah berpengairan teknis, benih yang dipanen sekarang ini, sudah akan ditanam paling lama dua bulan yang akan datang. Pada budidaya di sawah tanah hujan dan ladang, benih yang dipanen pada bulan April atau Mei, baru akan ditanam pada bulan November atau Desember. Hingga benih tersebut harus masih baik daya kecambahnya, meskipun sudah disimpan selama enam bulan. Dalam praktek, para petani tradisional selalu menyimpan benih sebanyak dua atau tiga kali kebutuhan, untuk jaga-jaga apabila semaian rusak, atau gagal panen. Hingga meskipun tahun ini gagal panen, pada musim tanam tahun depan mereka masih punya stok benih.

Maka kualitas benih dalam budidaya padi memang harus benar-benar prima, hingga bisa disimpan selama lebih dari satu tahun. Di Balai Penelitian Padi (Balitpa), yang lokasinya bersebelahan dengan Perum Sang Hyang Seri, ratusan varietas padi ditanam dalam pot, secara terus menerus. Selain itu, benih-benih padi lokal sebagai plasma nutfah, juga disimpan dalam tabung khusus, dalam kondisi beku. Hingga sebenarnya ada dua stok plasma nutfah padi. Pertama yang dibudidayakan oleh petani, kedua yang ditanam dalam pot secara terus menerus di Balitpa, dan yang ketiga yang berupa gabah dan disimpan dalam tabung dan dibekukan.

# # #

Benih padi modern verietas unggul, yang diproduksi di perusahaan pembenihan, berasal dari hasil pemuliaan melalui penyilangan, radiasi sinar gamma, seleksi, atau dari cara-cara lain. Secara genetik, sifat-sifat varietas unggul, akan menetap, asal budidayanya dilakukan dengan benar, untuk tujuan pembenihan. Dalam budidaya padi untuk tujuan konsumsi, bisa saja terjadi persilangan antara varietas yang ditanam dengan varietas padi lain yang ditanam sesama petani di areal tersebut. Hingga kemungkinan penurunan kualitas akan mudah sekali terjadi. Karenanya, petani disarankan untuk selalu membeli benih dari kios atau toko yang terpercaya.

Pada benih padi hibrida, penanaman kembali dengan benih dari hasil panen sebelumnya sama sekali tidak dianjurkan. Padi hibrida merupakan hasil silangan dari dua atau lebih padi induk, yang diseleksi dari beberapa galur murni. Di dunia ini dikenal beberapa spesies padi: Oryza barthii; Oryza glaberrima; Oryza latifolia; Oryza longistaminata; Oryza punctata; Oryza rufipogon; dan Oryza sativa. Padi yang kita budidayakan adalah Oryza sativa. Ada tiga varietas asli Oryza sativa, yakni Oryza sativa Var. indica, Oryza sativa Var. Japonica, dan Oryza sativa Var. Javanica. Dari tiga varietas asli, dan enam spesies Oryza lain, sekarang telah berhasil diciptakan ratusan verietas baru.

Selain harus jeli memilih jenis padi yang akan dibudidayakan, petani juga dituntut untuk waspada terhadap benih palsu. Yang disebut benih padi palsu adalah gabah biasa, yang dikemas dengan kemasan benih, kemudian diberi label yang juga palsu. Benih palsu tidak akan menghasilkan gabah sesuai dengan standar yang selama ini bisa dicapai petani. Hingga hanya ada dua alternatif bididaya padi. Pertama, petani menanam padi secara tradisional dengan benih varietas lokal produksi sendiri. Kedua, menanam padi secara modern, dengan benih berlabel dari toko pertanian yang menjadi agen resmi distributor benih. Kalau tidak, petani akan menjadi korban penipuan, seperti yang baru-baru ini terjadi dengan padi “Super Toy”. (R) # # #

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s