INDIAN DAN OTAHEITE GOOSEBARRY

Indian Goosebarry adalah buah malaka (kemloko), sedangkan Otaheita Goosebarry adalah cermai. Dua-duanya masih termasuk genus Phyllanthus, yang terdiri dari sekitar 800 spesies. Ceremai (Phyllanthus acidus), berasal dari Madagaskar, sedangkan buah malaka (Phyllanthus emblica), dari India. Meskipun berasal dari Madagaskar, selain Otaheita Goosebarry, cermai juga disebut Malay gooseberry, Tahitian gooseberry, country gooseberry, star gooseberry, West India gooseberry, bilimbi, dan simply gooseberry tree.

Sedangkan sebutan buah malaka berasal nama buah ini dalam bahasa Sansekerta, yakni amalaka. Sebutan lainnya adalah amla (Hindi), amlaki (Bengali), amala (Nepal), Bhasa, nellikka (Malayalam), usirikai (Telugu), nellikai (Kannada), dan  aonla, aola, ammalaki, amla berry, dharty, aamvala, aawallaa, emblic, emblic myrobalan, Malacca tree, nillika, nellikya (Tamil). Banyaknya variasi nama buah malaka di India, selain merujuk bahwa tanaman ini berasal dari sana, juga menunjukkan betapa pentingnya tanaman buah ini. Beda dengan di negeri kita, buah malaka sama sekali tak terperhatikan.

Di India, cermai dan malaka merupakan bahan agroindustri minuman, makanan, dan obat-obatan yang cukup penting. Buah cermai lebih banyak diolah menjadi minuman, dan makanan, terutama manisan. Masyarakat etnis China sangat menyukai manisan cermai, hingga banyak kalangan yang menduga, bahwa tanaman cermai berasal dari daratan China.  Mereka tidak tahu bahwa tanaman buah ini asli Madagaskar. Buah malaka juga sering dijadikan manisan, namun manfaat paling besar justru sebagai bahan obat tradisional, sesuai dengan ilmu pengobatan India kuno Ayurvedic.

# # #

Buah cermai berbentuk bulat, dengan permukaan menggelombang secara vertikal. Warna buah hijau kekuningan ketika muda, dan menjadi kuning cerah setelah tua. Diameter buah sekitar 2 cm. Daging buah renyah dengan banyak air, rasanya sangat masam, dengan aroma segar khas cermai. Biji yang bertempurung sangat keras berada di bagian tengah buah. Buah malaka berukuran sedikit lebih besar dari cermai, dengan permukaan kulit buah halus dan rata. Warna kulit buah kecokelatan. Daging buah malaka juga sedikit lebih keras dari cermai, dengan rasa masam dan kelat (sepet).

Di India, cermai dan buah malaka biasa dikonsumsi segar. Buah malaka biasa dimakan dengan sedikit garam, setelah itu segera minum air tawar. Air tawar itu akan terasa manis. Di Indonesia, hanya cermai yang sering dikonsumsi segar dengan dibuat rujak. Buah malaka tidak lazim dimakan, baik segar maupun olahannya. Meskipun beberapa orang suka membuat dan mengkonsumsi manisan buah malaka. Di Indonesia, cermai banyak ditanam di halaman rumah, atau sebagai peneduh jalan. Kadang-kadang tanaman cermai tumbuh dengan sendirinya di kebun.

Buah cermai tidak disukai binatang, hingga penyebaran tanaman ini melalui biji dari buah yang membusuk di bawah pohon, kemudian hanyut terbawa aliran air hujan. Tanaman buah malaka tidak lazim ditanam di halaman rumah atau kebun. Tanaman liar banyak tumbuh di tanah-tanah gersang, berbatu-batu, terutama di bukit-bukit kapur. Misalnya di pegunungan Menoreh, dan Gunung Kidul, DIY. Anak-anak penggembala ternak sering menggigit-gigit buah malaka, meskipun rasanya masam, pahit dan sepat. Menurut mereka, rasa masam, pahit dan sepat itu, bisa menghilangkan rasa haus, sekaligus menguatkan badan.

Hal ini disebabkan, vitamin C yang terdapat pada buah malaka relatif lebih mudah diserap lambung dibandingkan dengan vitamin C pada jenis buah lain. Di India, jus buah malaka segar, digunakan sebagai terapi terhadap penyembuhan gangguan lever. Surendra Rohatgi, ahli ayuverdik dari Kanpur, India, telah  mempatenkan produk olahan buah malaka sebagai obat flu, TBC, dan beberapa gangguan kekebalan tubuh. Di India, agroindustri pickle (asinan) buah malaka, telah berkembang dengan cukup baik. Kemasan pickle malaka banyak dijumpai di pasar swalayan.

# # #

Pickle adalah buah segar yang direndam dalam larutan cuka dan garam. Pickle jarang dikonsumsi langsung secara tunggal, melainkan dengan dipotong-potong, diberi tambahan gula, atau digunakan sebagai acar untuk penyegar santapan utama. Beda pickle dengan acar adalah, pickle berupa buah utuh yang langsung direndam larutan cuka dan garam. Sementara acar adalah buah yang terlebih dahulu dipotong-potong, baru dimasukkan ke dalam larutan cuka dan garam. Selain dianggap berkhasiat mengobati aneka penyakit, di India buah malaka sudah sampai ke tahap dikeramatkan.

Sampai sekarang cermai dan malaka masih menjadi buah liar yang tak pernah terperhatikan dengan baik. Cermai masih sedikit lebih beruntung, karena banyak dijumpai tumbuh di kebun dan halaman rumah. Sedangkan malaka masih tumbuh liar di kawasan yang gersang dan panas. Karena karakternya ini, malaka bisa digunakan sebagai salah satu tanaman penghijauan di lahan-lahan marjinnal. Kalau sekarang ini malaka sudah tumbuh di kawasan tersebut, itu disebabkan oleh penyebaran secara alami. Bukan merupakan hasil budidaya manusia.

Cermai dan malaka tidak mungkin dibudidayakan sebagai buah untuk dikonsumsi segar secara langsung. Hingga dua buah ini harus diolah terlebih dahulu, sebelum dikemas dan dipasarkan. Cermai paling  berpotensi diolah menjadi manisan. RRC, dengan populasi 1,3 milyar jiwa, merupakan potensi pasar yang sangat besar. Malaka paling berpotensi untuk diawetkan dalam bentuk pickle. India dengan populasi 1,1 milyar, adalah pasar pickle buah malaka yang sangat besar. Belum lagi, etnis China dan India yang tinggal di Singapura dan Malaysia. (R) # # #

WIJAYA KUSUMA BUNGA KEBERUNTUNGAN

Ada dua tanaman hias yang sama-sama menyandang nama wijaya kusuma. Pertama Pisonia grandis var. sylvestris. Sosok tanaman hias ini mirip dengan kol banda (Lettuce tree, Cabbage tree, Pisonia alba). Bedanya, pucuk wijaya kusuma berdaun hijau, pucuk kol banda berdaun putih kekuningan. Daun wijaya kusuma lebih sempit, tebal, dan tidak menggelombang. Daun kol banda lebih lebar, tipis, dan menggelombang. Habitat asli wijaya kusuma tersebar mulai dari India sampai Pasifik. Kol banda asli kepulauan Andaman, Samudera Hindia.

Wijaya kusuma kedua, juga disebut ratu malam (Queen of Night, Dutchman’s Pipe, Epiphyllum oxypetalum). Tanaman ini jenis kaktus, berasal dari Amerika Tengah. Kalau wijaya kusuma Pisonia grandis var. sylvestris berupa perdu yang bisa tumbuh sampai belasan meter, maka wijaya kusuma Epiphyllum oxypetalum hanya akan tumbuh sampai satu meter. Batang dan cabang wijaya kusuma ratu malam, tumbuh dari daun yang mengecil, dan mengeras. Wijaya kusuma Pisonia, biasa ditanam di tanah di halaman rumah. Sementara wijaya kusuma Epiphyllum lebih sering ditanam dalam pot.

Dua macam wijaya kusuma ini memang masih sama-sama ordo Caryophyllales, tetapi dari famili yang berbeda. Wijaya kusuma Pisonia dari famili Nyctaginaceae, sedangkan wijaya kusuma Epiphyllum termasuk famili Cactaceae. Meskipun berasal dari dua famili yang berlainan, dua tanaman hias ini sering dikelirukan, karena sama-sama menyandang nama wijaya kusuma. Sama halnya dengan Rafflesia arnoldii, yang sering dikelirukan dengan Amorphophallus titanum, karena sama-sama menyandang nama “bunga bangkai”, karena baunya yang busuk.

# # #

Wijaya kusuma Pisonia grandis var. sylvestris, tumbuh soliter atau mengelompok di pulau-pulau karang. Wijaya kusuma yang tumbuh di pulau karang, selalu kerdil mirip bonsai. Ketika tumbuh di lahan yang lebih subur, wijaya kusuma bisa tumbuh biasa mirip dengan tumbuhan lainnya, dan juga berukuran lebih tinggi. Sama dengan kol banda, batang wijaya kusuma berwarna putih, berkulit tebal, dan banyak mangandung air. Bunga wijaya kusuma Pisonia sangat kecil berwarna hijau keputihan, tumbuh pada malai di pucuk ranting. Sepintas, penampilan bunga wijaya kusuma Pisonia mirip dengan edelweis Anaphalis javanica.

Bunga wijaya kusuma Epiphyllum, berukuran panjang dan besar, tidak sebanding dengan ukuran tanamannya. Warna bunga putih bersih, dengan kelopak dan tangkai bunga cokelat kemerahan. Uniknya, bunga wijaya kusuma Epiphyllum, mekar hanya sebentar, di sekitar tengah malam. Para pecinta tanaman hias, sering bergadang, menunggu saat-saat mekarnya wijaya kusuma Epiphyllum. Menjelang tengah malam, bunga yang sudah tumbuh optimal, akan mekar pelan-pelan. Setelah mekar penuh, bunga ini akan segera menguncup kembali.

Dua bunga wijaya kusuma ini sama-sama membawa mitos. Dalam dunia pewayangan, bunga wijaya kusuma adalah pusaka Kresna, Raja Dwarawati. Kesaktian bunga ini, adalah bisa menghidupkan orang mati. Di kalangan kerajaan Mataram Islam di Jawa, wijaya kusuma Pisonia, adalah bunga keramat, yang harus ada pada acara peringatan hari penobatan raja. Bunga wijaya kusuma Pisonia, sebagai perangkat upacara, harus diambil dari Karang Bandung, sebuah pulau karang kecil, di ujung timur pulau Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Kerajaan Mataram Islam kemudian pecah menjadi empat : Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarata, Keraton Mangkunegaran, dan Keraton Pakualaman. Tradisi pengambilan bunga wijaya kusuma Pisonia, ini hanya dilanjutkan oleh Kasunanan Surakarta. Kalangan masyarakat Jawa, termasuk yang tinggal di Jakarta, sampai sekarang masih yakin bahwa wijaya kusuma Pisonia, mampu mendatangkan keberuntungan. Tiap ada pameran tanaman hias, selalu saja ada nursery yang menawarkan wijaya kusuma Pisonia, sebagai “tanaman langka”.

# # #

Wijaya kusuma Epiphyllum, juga menyandang mitos yang tak kalah menarik. Tanaman ini dianggap mampu mendatangkan keberuntungan, apabila berbunga dalam jumlah banyak. Si pemilik tanaman, baru akan bisa meraih keberuntungan itu, apabila mau bergadang melihat bunga itu bermekaran, menjelang tengah malam. Karena wijaya kusuma Epiphyllum, tumbuh dalam pot di halaman atau teras rumah, maka mekarnya bunga bisa diamati dengan mudah. Beda dengan proses pengambilan wijaya kusuma Pisonia, yang harus menyeberang laut, dan naik ke bukit karang terjal.

Baik wijaya kusuma Pisonia, maupun Epiphyllum, sama-sama bisa dibudidayakan dengan mudah. Dua tanaman ini sama-sama tahan panas, tahan kekeringan, dan mampu tumbuh pada kondisi sangat ekstrim. Kelemahan dua tanaman ini justru kalau kebanyakan air, dan juga kekurangan sinar matahari. Baik wijaya kusuma Pisonia, maupun Epiphyllum, dikembangbiakkan dengan setek. Wijaya kusuma Pisonia, dengan stek cabang/ranting, dan wijaya kusuma Epiphyllum dengan setek daun. Wijaya kusuma Pisonia, menghendaki tanah berpasir, dengan pH, netral sampai basa. Wijaya kusuma Epiphyllum, perlu media tanam bahan organik.

Wijaya kusuma Epiphyllum, sebenarnya terdiri beberapa spesies, bahkan sudah banyak hibridanya. Tujuan utama para pemulia tanaman adalah, mendapatkan hibrida Epiphyllum, yang bisa mekar lebih lama pada siang hari. Tujuan ini bisa dicapai, namun dengan mengorbankan ukuran bunga. Epiphyllum yang mampu mekar pada siang hari, dalam jangka waktu lama, tanaman dan juga bunganya cenderung mengecil. Dua tanaman hias, yang sama-sama menyandang nama wijaya kusuma ini, mudah diperoleh dengan harga relatif murah. Satu pot tanaman hanya berkisar pada harga puluhan ribu rupiah. (R) # # #

POTENSI BISNIS SASHIMI

Maraknya restoran jepang di kota-kota besar di Indonesia, berpeluang memperluas potensi bisnis ikan sebagai bahan sashimi. Inovasi menu sashimi akan menciptakan tren baru, seperti pada restoran ayam goreng cepat saji, yang kemudian juga menyajikan nasi pada gerai mereka di Asia.

Masyarakat Indonesia, masih sering kebingungan membedakan sashimi dengan sushi. Hingga di restoran jepang, mereka menolak makan sushi, karena dianggap sebagai sashimi, yang identik dengan ikan mentah. Padahal sushi dan sashimi adalah dua jenis menu khas Jepang, yang berbeda. Sushi adalah nasi yang digulung, dengan berbagai “lauk”. Lauk sushi, ada yang ditaruh di dalamnya, ada pula yang di atasnya (topping). Sushi sebagai nasi gulung, bisa diibaratkan dengan lemper di negeri kita. Saat ini di kota-kota besar di Indonesia, sushi bukan hanya disajikan oleh restoran jepang, melainkan juga “warung kakilima”.

Sementara sashimi adalah irisan daging ikan laut dan seafood, yang awalnya memang dikonsumsi segar. Meskipun dikonsumsi segar (mentah), sashimi tetap higienis, sebab proses penangkapan, pembersihan, sampai ke pemotongan (pengirisan) daging hingga siap santap, dikerjakan sesuai dengan standar kesehatan dan keamanan konsumen Jepang. Sashimi yang paling mahal berbahan baku ikan dan seafood yang benar-benar segar, dalam arti baru saja dipotong atau diangkat dari laut. Bahan sashimi yang umum disajikan di restoran jepang umumnya merupakan daging ikan dan seafood, yang sudah dimasak (direbus, steam), dan didinginkan dalam freezer.

# # #

Bahan utama sashimi yang paling populer adalah Salmon (Sake); Squid (Sotong, Ika), Shrimp (Udang, Ebi), Tuna (Maguro), Mackerel (Saba), Horse Makerel (Aji), Octopus (Gurita, Tako), Fatty Tuna (Toro), Yelowtail (Ekor kuning, Hamachi), Takifugu (Ikan Khas Jepang), Scallop (Kerang, Hotate-gai). Selain ikan dan seafood, yang juga populer sebagai bahan sashimi di Jepang adalah daging kuda (Basashi). Daging kuda memang sangat populer sebagai menu tradisional di kawasan Kumamoto, Matsumoto, dan Tohoku. Sebagai Sashimi Basashi, daging kuda bisa dijumpai di beberapa restoran di Osaka, Tokyo dan kota-kota besar lainnya di Jepang.

Bahan Sashami Basashi, bukan berasal dari kuda beban, atau kuda balap, tetapi kuda potong yang khusus diternak untuk diambil dagingnya. Selain disebut Basashi, daging kuda sashimi juga disebut sakura dan sakuraniku. Disebut demikian, karena warna daging kuda yang pink mirip dengan ikan salmon, mengingatkan masyarakat jepang pada bunga sakura. Selain untuk sashimi, daging kuda juga digunakan dalam masakan Yakiniku Barbeque. Sama dengan daging ikan dan seafood lainnya, daging kuda dalam Sashimi Basashi, juga dikonsumsi dalam bentuk irisan tipis dan dikonsumsi mentah.

Sashimi sebenarnya bukan sekadar daging ikan, seafood, dan daging kuda mentah. Irisan daging ikan dan seafood ini, sebelum dimasukkan ke dalam mulut, harus terlebih dahulu dicelupkan ke dalam kecap jepang, yang dicampur dengan Wasabi. Yang disebut wasabi adalah pasta terbuat dari batang Wasabia japonica, tanaman air keluarga kubis-kubisan, yang hanya tumbuh di Jepang. Fungsi wasabi dalam sashimi, sama dengan fungsi Mustard Sauce, cabai, dan lada, yang bertujuan untuk memberikan efek pedas. Bedanya, pedasnya wasabi, juba mustard, akan terasa pada rongga hidung. Sementara pedasnya cabai dan lada, terasa pada lidah.

Selain kecap jepang dan wasabi, sashimi juga harus dikonsumsi bersama dengan irisan jahe muda. Di Jepang, rimpang jahe adalah komoditas penting untuk menyantap seafood, termasuk sashimi. Yang disebut jahe muda adalah rimpang jahe gajah umur di bawah enam bulan. Rasa pedasnya belum terlalu tinggi, aroma jahenya kuat, dan seratnya hampir tidak ada. Rimpang jahe muda ini juga diiris tipis-tipis. Irisan jahe itu biasanya ditumpuk jadi satu dengan irisan daging ikan atau seafood, dicelupkan dalam kecap jepang yang sudah dicampur wasabi, lalu dimasukkan ke dalam mulut. Rasa jahe dan wasabi ini akan menetralkan aroma seafood.

# # #

Indonesia adalah negara kepulauan, yang cadangan pangannya lebih banyak berada di laut daripada di daratan. Cadangan pangan itu berupa rumput laut (seaweed), ikan, kerang, sotong, dan satwa laut lainnya. Cadangan pangan itu belum kita eksplorasi dengan baik. Yang paling banyak memanfaatkan laut kita sebagai cadangan pangan justru nelayan asing, baik yang menangkap ikan secara legal, maupun yang illegal. Cara kita mengonsumsi ikan juga masih sangat terbatas, dibanding dengan Jepang. Kita masih menganggap ikan, dan seafood lainnya sekadar sebagai lauk. Sementara Jepang telah memposisikan ikan sebagai menu utama.

Sashimi bagi masyarakat Jepang memang bisa sekadar menjadi makanan pembuka, sekadar sebagai makanan ringan di saat santai, tetapi juga bisa menjadi menu utama. Menyantap sashimi memang tidak mengenyangkan, tetapi gizi yang diperoleh dari sana sudah lebih dari cukup. Selain gizinya cukup, sashimi juga sehat karena dikonsumsi dalam keadaan segar, bahkan mentah. Ikan laut juga lebih sehat, karena hidup secara alami, dan menyantap makanan alami. Dibandingkan dengan ikan peliharaan manusia, ikan laut memiliki beberapa keunggulan, di antaranya karena kualitas dagingnya yang lebih baik.

Selain karena berasal dari alam, daging ikan dan seafood lainnya juga lebih sehat karena rendah lemak. Meskipun punya banyak keunggulan, popularitas sashimi di Indonesia, kalah dibanding dengan sushi. Kalau sushi sudah mulai memasyarakat hingga disajikan di restoran kecil, maka sashimi masih sebatas hanya bisa dijumpai di restoran besar, dan hotel bintang. Di Indonesia, sashimi juga masih dianggap sebagai menu eksklusif, yang disantap sebagai apetizer, atau makanan ringan di saat santai. Bangsa kita, masih agak sulit untuk menerima sashimi sebagai menu utama. Sebab bagi kita, menu utama adalah karbohidrat. Nasi, mi, atau roti, bukan ikan. (R) # # #

BUDI DAYA BENGKUANG

Obyek wisata Bogor bukan hanya Kebun Raya, dan Museum Zoologi. Talas, bengkuang, dan pisang, terutama pisang tanduk, juga melengkapi oleh-oleh wisata khas Bogor. Tiga komoditas itu, lalu dianggap sebagai komoditas pertanian khas Bogor. Talas dan pisang tanduk memang benar asli Indonesia, tetapi bengkuang adalah umbi dari kepulauan Karibia, dan Amerika Tengah. Nama Inggris bengkuang  jícama, atau Spanyol heekahmah, berasal dari bahasa Nahuatl (bahasa Aztex), xicamatl, dan hee-kah-mahtl). Sesuai asalnya, bengkuang juga disebut Mexican Potato, dan Mexican Turnip.

Bengkuang dipanen umbinya. Curah hujan di sekitar Bogor cukup tinggi, hingga umbi bengkuang di kawasan ini banyak mengandung air. Beda dengan umbi bengkuang dari Amerika Tengah, mengandung karbohidrat (pati) tinggi. Di negara-negara Amerika Tengah, bengkuang dibudidayakan untuk diambil patinya. Pati bengkuang sangat cocok untuk bubur dan kue makanan bayi, karena kelembutannya. Umbi bengkuang yang akan dipanen untuk diambil patinya, harus dipelihara paling tidak selama dua tahun. Hingga umbi itu sudah berserat, dan tidak bisa dikonsumsi segar.

Umbi yang akan dikonsumsi segar, harus dipanen pada tahun pertama, sejak penanaman. Budidaya bengkuang di sekitar Bogor dilakukan sepanjang tahun. Sebab curah hujan di kawasan ini merata sepanjang tahun. Hingga setiap saat, para wisatawan bisa menjumpai bengkuang dijajakan di kios di sepanjang jalur jalan raya ke Puncak, atau ke Sukabumi. Di kawasan yang musim hujannya terkonsentrasi selama lima, atau bahkan tiga bulan (NTT), bengkuang ditanam pada awal musim penghujan, dan dipanen pada musim kemarau ketika tanamannya sudah mati.

# # #

Bengkuang dibudidayakan dari benih biji. Petani biasanya menyisakan satu dua tanaman yang dibiarkan berbunga dan berbuah berupa polong, untuk digunakan sebagai benih pada musim tanam berikutnya. Tanaman lainnya sengaja dipangkas (dibuang) bunganya, agar tidak menghasilkan polong. Sebab bengkuang baru akan menghasilkan umbi, kalau semua bunga dibuang. Kalau bunga dibiarkan tumbuh menjadi polong, bengkuang tidak akan menghasilkan umbi. Polong bengkuang mirip dengan buncis, dengan bulu halus pada kulitnya.

Panjang polong bengkuang sekitar 10 cm, dengan biji sebesar biji buncis. Polong dan biji berwarna hijau ketika muda. Setelah tua, kulit polong berwarna abu-abu kehitaman, dan biji menjadi coklat. Biji inilah yang dipanen petani untuk benih. Apabila tidak segera ditanam, polong akan dibiarkan tetap utuh, tidak dikupas, dan disimpan di tempat yang kering. Biasanya petani menyimpan polong bermacam tanaman pada para-para di atas tungku dapur. Biji yang sudah terlanjur dikeluarkan dari polong, dan tidak akan segera ditanam, harus disimpan dalam wadah kaleng atau botol beling yang tertutup rapat.

Bengkuang menghendaki lahan yang gembur, terutama tanah vulkanis dengan bahan organik yang kaya. Meskipun daya adaptasi bengkuang terhadap bermacam jenis tanaman juga cukup tinggi. Agar pertumbuhan umbi bisa optimal, bengkuang menghendaki sinar matahari penuh sepanjang hari. Tanaman ini akan tumbuh baik pada lahan dengan ketinggian antara 200 sd. 800 m. dpl. Para petani biasanya mengolah lahan untuk ditanami bengkuang, dengan cangkul, kemudian dibuat guludan. Pada guludan itu dibuat lubang tanam menggunakan tugal. Ke dalam lubang tanam itulah dimasukkan satu  biji bengkuang sebagai benih.

Bengkuang merupakan tanaman memanjat, dengan cara membelit. Di habitat aslinya, bengkuang memanjat tanaman lain, untuk mengejar sinar matahari. Di areal penanaman, petani bisa memberinya ajir, sebagai tiang panjatan. Para petani di sekitar Bogor, jarang memberi ajir untuk bengkuang. Hingga tanaman menjalar memenuhi guludan, seperti halnya tanaman ubi jalar. Alasan petani tidak diberi ajir, adalah agar mudah membuang kuncup bakal bunga. Pembuangan dilakukan dengan memetik malai bunga satu per satu menggunakan tangan.

# # #

Bengkuang dipanen pada umur antara 8 sd. 10 bulan. Panen dilakukan dengan membabat seluruh tanaman. Sulur batang dan daun bengkuang, biasanya ditaruh di antara dua guludan. Pada waktu membongkar guludan untuk mengambil umbi bengkuang, sulur dan daun yang baru saja dibabat, sekalian ditimbun. Pembongkaran guludan dilakukan dengan hati-hati, agar mata cangkul tidak melukai umbi. Bengkuang  hasil panen diikat, dengan menyatukan pangkal batang yang masih melekat pada umbi, menggunakan tali bambu.

Meskipun bisa dibudidayakan sepanjang tahun, para petani di sekitar Bogor, hanya mau menanam bengkuang, agar panennya pas bertepatan dengan musim kemarau. Sebab pada musim penghujan, minat masyarakat untuk membeli bengkuang agak menurun. Selain dimakan segar, bengkuang paling disukai sebagai bahan rujak, bersama buah-buahan, dan ubi jalar merah. Dewasa ini bengkuang juga sering dijadikan bahan kosmetik, terutama untuk menghaluskan dan menyehatkan kulit wajah. Bengkuang bahan kosmetik, dipilih yang benar-benar sudah tua.

Terakhir, bengkuang juga dijadikan pengisi lumpia. Sebab produsen lumpia, sering kesulitan mendapatkan pasokan rebung segar secara kontinu. Rebung yang sudah layu berasa masam, dan beraroma pesing. Maka para pengusaha lumpia pun secara kreatif beralih ke bengkuang yang lebih mudah diperoleh. Sebenarnya, selain dipanen umbinya, bengkuang juga bisa dipanen bijinya sebagai bahan baku pestisida. Sebab dalam biji bengkuang, terkandung rotenon dalam volume yang cukup besar, sebagai bahan pestisida organik. (R) # # #

AGROINDUSTRI DARI POHON LONTAR

Lontar, atau siwalan, (Borassus flabellifer), juga disebut the asian palmyra palm, toddy palm, sugar palm, dan cambodian palm. Disebut cambodian palm, karena di Kamboja, pohon lontar bisa dijumpai di mana-mana, termasuk di sekitar Angkor Wat. Di halaman dalam Situs Warisan Dunia ini, bahkan ada pohon lontar setinggi lebih dari 30 m, dan umurnya diperkirakan di atas 100 tahun. Lontar juga disebut sugar palm, karena sama halnya dengan aren, dan kelapa, merupakan penghasil gula palma (palm sugar). Disebut the asian palmyra palm, karena habitat aslinya Asia, dan juga untuk membedakannya dengan african palmyra palm, (Borassus aethiopium), dari Afrika.

Mulai dari sekolah dasar, anak-anak Indonesia selalu diberi pelajaran, bahwa naskah-naskah kuno ditulis di atas daun lontar. Hingga lontar identik dengan naskah-naskah kuno, berhuruf Palawa, Jawa kuno, Sunda, Bali. Sebelum budaya kertas masuk kepulauan nusantara, naskah kuno memang ditulis di atas daun lontar. Caranya, daun lontar di buang lidinya, kemudian dipotong sesuai ukuran, dan direbus dalam air garam, campur kunyit. Gunanya agar cendawan, bakteri, dan ngengat tidak merusak naskah penting itu. Garam menolak cendawan, kunyit merupakan anti bakteri. Dua bahan ini secara sekaligus tidak disukai ngengat.

Setelah direbus, daun siwalan dihaluskan (digosok) dengan batu apung, lalu dikeringkan, dan dipotong sesuai ukuran. Menulis di atas daun lontar memerlukan teknik tersendiri, sebab pensilnya berupa pisau kecil. Terlalu dangkal menorehkannya, huruf tidak terbaca, terlalu dalam daun bisa sobek. Menulis di atas daun lontar dengan pisau, juga memerlukan kecermatan tinggi, karena tidak boleh salah. Kalau salah tidak bisa ditipex. Dihapus dengan karet penghapus, apalagi didelete. Tiap lembar daun lontar, biasanya dijadikan dua halaman tulisan. Lembaran daun lontar ini, bagian pinggirnya dilubangi, untuk dirangkai (diikat) menjadi satu, dan disimpan.

# # #

Di Bali, NTB, dan NTT, daun lontar digunakan untuk berbagai keperluan. Mulai dari untuk tikar, topi, tempat air, bahkan juga peralatan musik (sasando). Namun agroindustri lontar yang terpenting adalah gula merah (palm sugar). Gula merah bisa diproduksi dari air tebu, nira kelapa, aren, dan lontar. Menurut beberapa kalangan, gula merah dari nira lontar berkualitas paling baik. Sebab selalu lontar tumbuh di kawasan dataran rendah yang kering dan gersang. Selain rendemennya lebih tinggi, aroma, dan tingkat kekerasan gula merah dari lontar juga paling baik. Kualitas ini bisa diperoleh, apabila nira diproses menjadi gula dengan cara benar.

Sama halnya dengan kelapa, penyadapan nira lontar dilakukan terhadap seluruh malai bunga yang belum mekar. Sementara nira enau, diambil dari pengirisan pelepah malai bunga. Kalau nira kelapa dan enau ditambung dalam buluh bambu, maka nira lontar biasanya ditampung dalam wadah terbuat dari daun lontar itu sendiri. Produksi nira lontar lebih besar dari nira kelapa, tetapi lebih kecil dibanding dengan enau. Ke dalam wadah penampung nira itu, harus dimasukkan laru berupa kapur sirih, serpihan kayu nangka, atau bahan-bahan lain. Manfaat laru adalah untuk mencegah agar nira tidak menjadi masam.

Nira diambil pagi dan sore. Wadah berisi nira diturunkan, ikatan malai bunga diiris tipis dengan pisau tajam, kemudian wadah baru yang sudah diberi laru dipasang.
Proses ini sama dengan pada penyadapan nira kelapa, dan lontar. Penurunan wadah berisi nira dilakukan dengan tali (dikerek). Nira disaring, ditampung dalam panci atau kuali besar, kemudian direbus. Perebusan dilakukan sampai tiga atau empat jam, tergantung dari banyaknya nira. Meskipun volumenya masih kecil, nira harus segera direbus. Pemasakan lanjutan sampai menjadi gula, bisa dilakukan sambil menunggu hasil sadapan berikutnya.

Setelah nira mengental, perajin gula merah mencetaknya dalam tempurung kelapa, atau potongan buluh bambu, hingga menjadi gula padat. Gula semut, dibuat dengan memasukkan nira panas ke dalam alat pemutar, yang diberi lubang tempat keluarnya nira panas. Begitu keluar dari alat setrifugal, nira akan mengeras dan jadilah gula semut, yakni kristal gula merah, yang bentuknya mirip dengan gula pasir. Permintaan gula semut berbahan nira palma (kelapa, enau dan lontar) untuk ekspor, selama ini sulit terpenuhi, karena  faktor pasokan. Dari tiga jenis palma penghasil nira ini, harga gula lontar paling tinggi.

# # #

Di kawasan pantai utara Jawa Timur, Bali, NTT dan NTB, lontar sudah biasa disadap niranya. Namun nira lontar ini lebih banyak difermentasi menjadi tuak (minuman beralkohol). Di NTT, tuak didestilasi (disuling), hingga menjadi moke, dan sopi, dua jenis minuman yang kadar alkoholnya lebih tinggi dari tuak. Agroindustri minuman beralkohol ini, sebenarnya juga potensial untuk dikembangkan, dengan tujuan ekspor. Yang terjadi selama ini, moke dan sopi hanya dikonsumsi oleh masyarakat setempat untuk mabuk-mabukan.

Di Jakarta, buah siwalan muda, sering tampak dijajakan. Tempat pedagang menjajakan siwalan antara lain di kawasan Jatinegara, Pasar Baru, Ancol, dan kota, yang banyak dihuni oleh masyarakat etnis China. Sama halnya dengan kelapa, semua bagian tanaman lontar bisa dimanfaatkan oleh manusia. Mulai dari batangnya, daunnya, buahnya, sampai ke air niranya, semua bisa bermanfaat. Di Hawaii, masyarakat memanfaatkan pohon kelapa sebagai obyek wisata. Para wisatawan diajak ke bawah tegakan tanaman kelapa, diberi minum air kelapa muda, dan diberi cerita yang menarik tentang pohon kelapa.

Tanaman lontar bisa menghasilkan cerita yang lebih menarik dibanding dengan kelapa. Dimulai dari masa kerajaan-kerajaan hindu, wisatawan bisa diberi tahu, bahwa daun lontar adalah kertas tempat menulis karya sastra. Atraksi mengolah nira lontar menjadi gula merah, juga tidak kalah menarik dibanding dengan cerita tentang “kertas lontar”. Belum lagi manfaat lain daun lontar untuk bahan anyaman, sasando, dan lain-lain. Selain bisa minum nira lontar, wisatawan juga bisa disuguhi buah lontar yang masih muda. (R) # # #

MASALAH KEDELAI SEBAGAI BAHAN PANGAN

Kebutuhan kedelai nasional kita sekitar 2,2 juta ton per tahun, sementara  produksi dalam negeri hanya 850.000 ton per tahun. Hingga kita selalu defisit sekitar 1,350 juta ton per tahun. Defisit ini dipenuhi dengan mengimpor kedelai dari AS dan Brasil. Benarkah Indonesia tidak bisa swasembada kedelai?

Kedelai (soybean, soya bean, Glycine max), adalah bahan pangan yang cukup penting bagi Indonesia. Dari komoditas ini, diproduksi tahu, tempe, dan kecap, tiga produk vital bagi rakyat Indonesia. Dari kedelai juga diproduksi susu, dan tepung kedelai. Selain itu, agroindustri peternakan kita, terutama peternakan unggas petelur dan pedaging, juga menyerap kedelai dalam bentuk bungkil. Bungkil adalah ampas kedelai, yang sudah diambil minyaknya. Di negara maju seperti AS, kedelai lebih banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak, bukan makanan manusia. Meskipun merupakan komoditas pangan yang cukup penting, sampai saat ini Indonesia masih tergantung pada impor kedelai.

Dalam perkembangan lebih lanjut kedelai impor, dan kedelai lokal masing-masing diserap oleh industri yang berbeda, karena spesifikasinya. Hingga kedelai impor tidak bisa tergantikan oleh kedelai lokal, atau sebaliknya. Kedelai impor dengan harga Rp7.800 per kg, diserap oleh agroindustri tempe. Sementara kedelai lokal yang berharga Rp8.600 per kg, diperlukan oleh agroindustri tahu. Harga kedelai impor memang murah, meskipun butirannya berukuran besar, sebab rendemennya (kandungan proteinnya sebagai bahan tahu), lebih rendah dibanding kedelai lokal. Tetapi untuk bahan tempe, kedelai impor lebih cocok, sebab volume hasilnya lebih besar dibanding kedelai lokal.

# # #

Butiran kedelai impor dari AS dan Brasil, bisa berukuran sangat besar, karena beberapa faktor. Pertama, kedelai yang berasal dari Asia Timur (China, Korea, dan Jepang), memerlukan sinar matahari (panjang hari), sampai 17 jam. Ini bisa terjadi karena pada musim panas, panjang hari di negara beriklim sub tropis, bisa mencapai 17 jam sehari. Di negeri tropis seperti Indonesia, paling lama panjang harinya hanya 12 jam. Itulah sebabnya kedelai dan juga kacang tanah dari RRC, dan AS, bisa berukuran sangat besar, dengan tingkat produktivitas rata-rata mencapai empat ton per hektar per musim tanam. Di negeri kita, rata-rata produktivitas kedelai hanya 1,5 ton per hektar per musim tanam.

Butiran kedelai impor juga bisa berukuran sangat besar, karena faktor pemuliaan hingga tercipta benih unggul. Selain itu, AS juga menerapkan teknologi transgenik untuk pengembangan benih unggul. Dalam teknologi transgenik, ke dalam gen kedelai diselipkan gen bakteri yang tidak berbahaya bagi manusia. Faktor pertahanan diri pada gen tanaman kedelai itu, memerintahkan gen pertumbuhan, untuk menciptakan batang, akar, ranting, daun, polong dan butiran biji hingga berukuran sangat besar. Produk pertanian transgenik, terutama gandum, jagung, dan kedelai, telah mengundang kontroversi internasional. Uni Eropa dan Jepang, secara tegas menolak produk pertanian dengan benih transgenik.

Selama ini, konsumen kedelai Indonesia, terutama tempe, tidak pernah mendapatkan penjelasan dari pemerintah melalui Badan POM, apakah kedelai yang kita impor merupakan kedelai biasa hasil pemuliaan melalui teknologi penyilangan, atau hasil rekayasa genetika. Para ahli kesehatan di dunia, sampai sekarang masih belum bisa merekomendasi, bahwa produk pangan dengan benih transgenik, aman untuk dikonsumsi. Sebab efek bakteri dalam rekayasa genetika itu, belum pernah ketahuan dampaknya pada kesehatan manusia yang mengonsumsinya. Dengan fakta seperti ini, sebenarnya kedelai lokal kita yang berbutiran kecil-kecil, lebih aman dikonsumsi, dibanding dengan kedelai impor.

# # #

Diluar permasalahan tersebut, secara ekonomis budi daya kedelai berpotensi bisnis cukup baik. Impor kedelai kita selama ini sekitar 1,350 juta ton per tahun. Dengan harga kedelai impor Rp7.800 di tingkat konsumen, ada uang senilai Rp10.530.000.000.000 (sepuluh trilyun, limaratus tigapuluh milyar rupiah), yang bisa kita kelola sendiri. Dari kebutuhan 1,350 juta ton kedelai itu, dengan tingkat produktivitas petani kita hanya 1,5 ton per hektar per musim tanam, maka diperlukan lahan seluas 900.000 hektar lahan untuk ditanami kedelai. Di Jawa, lahan tersebut tersedia, berupa sawah yang pada musim kemarau selalu terbengkalai. Dengan catatan lahan sawah tersebut memerlukan pengairan berupa sumur pantek, atau pompa sedot dari sungai.

Sebenarnya pemerintah, dalam hal ini Departemen Pertanian, dan juga Departemen Perdagangan, bisa dengan mudah menghentikan impor kedelai, dan segera memacu produksi dalam negeri. Yang jadi masalah, importir kedelai tidak mau kehilangan nafkah. Mereka akan melobi para pejabat di dua departemen itu, agar jangan melakukan regulasi impor kedelai, berupa bea masuk, atau persyaratan kualitas. Selama pemerintah belum mengeluarkan kebijakan regulasi, maka impor kedelai kita akan terus berlanjut. Kedelai barangkali masih agak lumayan, sebab meskipun hanya 850.000 ton, kita sudah mampu memperkecil volume impor. Pada komoditas gandum, yang impornya mencapai 7 juta ton per tahun, kita sama sekali tidak bisa mensubstitusi barang sedikit pun. (R) # # #

SELADA AIR UNTUK KESEHATAN

Selada air (Watercresses, Nasturtium microphyllum), atau sering pula disebut jembak, dan kenci, adalah sayuran dataran tinggi. Ia hanya bisa hidup di lahan berair seperti halnya padi, kangkung air, dan genjer. Kalau kangkung air dan genjer merupakan sayuran air dataran rendah sampai menengah, maka selada air justru hanya bisa hidup di dataran menengah sampai dataran tinggi. Disebut selada air, karena tumbuhan ini memang masih satu famili, yakni famili Brassicaceae, dengan selada, sawi dan kol. Tumbuhan ini berasal dari Eropa dan Asia Tengah, tetapi sekarang sudah tersebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Yang cukup menarik, selada air telah diisukan berkhasiat memperkuat daya tahan tubuh, terhadap serangan kanker paru-paru. Kandungan selada air antara lain zat besi, kalsium, asam folic, vitamin A, dan C. Selain untuk kanker, selada air juga berkhasiat melancarkan air seni (diuretik), mengeluarkan dahak (ekspektoran), menurunkan tekanan darah, dan anti oksidan. Sosok selada air sangat khas, batang dan daunnya, sangat lunak. Rasa serta aromanya juga khas. Di pasar swalayan besar, selalu ada selada air, bersama dengan sayuran lain, terutama pucuk labu siam. Harga selada air juga relatif murah, jika dibandingkan dengan sayuran lainnya.

Selada air biasa dimakan mentah sebagai lalap (salad). Di warung dan restoran ayam atau ikan goreng, sering disajikan lalap selada air, selain lalap lain seperti kemangi, poh-pohan, dan timun. Rasa selada air mentah getir dan pahit, mirip dengan rasa caisim (sawi bakso). Sebab mereka masih satu famili. Namun rasa getir dan pahit ini akan hilang apabila selada air direbus. Cara merebus selada air juga beda dengan merebus daun pepaya atau daun singkong. Pertama air dididihkan. Setelah air mendidih, selada air dimasukkan, dan seketika itu juga api dimatikan, atau dikecilkan. Kalau api tetap besar, selada air akan menjadi sangat lunak, dan citarasanya akan hilang.

# # #

Di Indonesia, selada air tumbuh di kawasan pegunungan, yang berhawa sejuk, terutama di kawasan penghasil sayuran. Di kawasan pegunungan seperti ini, selalu tersedia air jernih melimpah. Di tempat seperti inilah selada air bisa tumbuh dengan baik. Kalau selada air bisa tumbuh baik, berarti lokasi tersebut berketinggian paling sedikit 800 m. dpl. Selain dengan alti meter, ketinggian tempat juga bisa ditandai dengan ada atau tidaknya tanaman padi sawah, serta pohon kelapa. Kalau di kawasan tersebut masih ada sawah dengan tanaman padi, lalu masih ada pohon kelapa yang tumbuh dan berbuah baik, maka ketinggian tempat masih sekitar 700 m. dpl.

Kalau air melimpah, tetapi padi sudah tidak bisa tumbuh, maka lahan yang bisa diairi sepanjang tahun, bisa dimanfaatkan untuk budidaya selada air. Petakan lahan dibuat berterasering, seperti membuat petakan sawah, lengkap dengan pematangnya. Petakan lahan lalu dijadikan lumpur, persis untuk lahan tanaman padi. Gulma yang batangnya terendam air dalam tanah, harus dibuang, sebab dikhawatirkan akan tumbuh dan mengganggu. Agar lahan lebih subur, diberi pupuk kandang yang sudah matang. Paling baik adalah pupuk kandang dari kambing, domba, atau kelinci. Setelah ditaburi pupuk kandang, petakan lahan dibiarkan tergenangi air paling sedikit satu minggu.

Selama itu, petakan lahan harus tetap dialiri air. Setelah satu minggu, lahan bisa ditanami. Benih selada air adalah tanamannya itu sendiri. Hingga selada air yang dibeli di pasar, bisa dijadikan benih. Caranya, selada air itu dipotong-potong sepanjang 5 cm. Potongan itu kemudian ditaburkan merata di petakan “sawah” yang sudah disiapkan. Semua potongan selada air akan menumbuhkan akar, dan tunas baru, lalu menjadi induk (rumpun), dalam petakan selada air itu. Setelah seluruh petakan ditumbuhi anakan tanaman selada air, lahan itu disiangi dari gulma. Penyiangan dilakukan sama dengan penyiangan pada tanaman padi atau kangkung sawah.

Setelah selesai penyiangan, petakan dikurangi airnya (macak-macak), dan kembali dipupuk dengan pupuk kandang yang sudah matang, serta urea. Dalam waktu sekitar 40 hari setelah tanam, petakan selada air itu sudah bisa dipanen. Cara memanen selada air, sama dengan memanen kangkung air. Pertama-tama, gulma yang tumbuh di sela-sela selada air diambil dan dibuang, kemudian selada air itu dipotong dengan menggunakan sabit yang tajam. Tinggi tanaman yang layak dipotong sekitar 20 cm. Sambil memanen selada air, kembali lahan disiangi, dikurangi airnya, dan dipupuk dengan pupuk kandang dan urea.

# # #

Di Indonesia, selada air, sama halnya dengan pucuk labu siam, masih dianggap sebagai sayuran udik.  Padahal inilah sayuran yang cukup prestisius di Inggris dan Amerika Serikat. Kota Huntsville, di negara bagian Alabama sekarang dikenal sebagai  “Rocket City”, setelah disana dikembangkan industri peluru kendali missile industry it called itself the “Watercress Capital of the World”, karena merupakan sentra selada air. Sama halnya dengan labu siam, selada air juga kita anggap sebagai sayuran kampung dari pegunungan yang udik. Kita tidak pernah sadar bahwa labu siam berasal dari Amerika Latin, dan selada air dari Eropa Selatan serta Asia Tengah.

Selada air yang ada di negeri kita, sebenarnya ada dua spesies. Yang berdaun lebar-lebar adalah Nasturtium microphyllum. Selain itu, ada pula selada air dengan ukuran daun lebih kecil, yakni Nasturtium officinale. Selain dua spesies tadi, masih ada Nasturtium africanum; Nasturtium floridanum; dan Nasturtium gambellii. Di Indonesia, selada air jarang sekali berbunga dan berbuah, hingga perkembangbiakan secara generatif jarang terjadi. Sebenarnya, selada air kalau dibiarkan tidak dipangkas, akan tumbuh memanjang sampai 1 m. Ketika itulah tanaman akan berbunga, dan menghasilkan biji. Bunga selada air putih, dan terdapat dalam malai pada ujung tanaman.

Ketika selada air dipanen menjelang atau setelah berbunga, rasanya akan lebih pahit dibanding tanaman mudanya. Selada air rentan terhadap kekeringan dan udara panas. Namun setelah dipanen pun, sayuran ini hanya bisa bertahan dalam kemasan berpendingin, paling lama dua hari. Hingga apabila membeli selada air, pilihlah yang masih sangat segar, dan sesampai di rumah langsung dimasak. Selain untuk salad, selada air bisa dikonsumsi sebagai pecel, atau urap. Sayuran ini tidak lazim dimasak sebagai sup, sayur bening, atau menu berkuah lainnya. Paling sehat, selada air memang dikonsumsi setengah matang sebagai salad. (R) # # #