BUDI DAYA BENGKUANG

Obyek wisata Bogor bukan hanya Kebun Raya, dan Museum Zoologi. Talas, bengkuang, dan pisang, terutama pisang tanduk, juga melengkapi oleh-oleh wisata khas Bogor. Tiga komoditas itu, lalu dianggap sebagai komoditas pertanian khas Bogor. Talas dan pisang tanduk memang benar asli Indonesia, tetapi bengkuang adalah umbi dari kepulauan Karibia, dan Amerika Tengah. Nama Inggris bengkuang  jícama, atau Spanyol heekahmah, berasal dari bahasa Nahuatl (bahasa Aztex), xicamatl, dan hee-kah-mahtl). Sesuai asalnya, bengkuang juga disebut Mexican Potato, dan Mexican Turnip.

Bengkuang dipanen umbinya. Curah hujan di sekitar Bogor cukup tinggi, hingga umbi bengkuang di kawasan ini banyak mengandung air. Beda dengan umbi bengkuang dari Amerika Tengah, mengandung karbohidrat (pati) tinggi. Di negara-negara Amerika Tengah, bengkuang dibudidayakan untuk diambil patinya. Pati bengkuang sangat cocok untuk bubur dan kue makanan bayi, karena kelembutannya. Umbi bengkuang yang akan dipanen untuk diambil patinya, harus dipelihara paling tidak selama dua tahun. Hingga umbi itu sudah berserat, dan tidak bisa dikonsumsi segar.

Umbi yang akan dikonsumsi segar, harus dipanen pada tahun pertama, sejak penanaman. Budidaya bengkuang di sekitar Bogor dilakukan sepanjang tahun. Sebab curah hujan di kawasan ini merata sepanjang tahun. Hingga setiap saat, para wisatawan bisa menjumpai bengkuang dijajakan di kios di sepanjang jalur jalan raya ke Puncak, atau ke Sukabumi. Di kawasan yang musim hujannya terkonsentrasi selama lima, atau bahkan tiga bulan (NTT), bengkuang ditanam pada awal musim penghujan, dan dipanen pada musim kemarau ketika tanamannya sudah mati.

# # #

Bengkuang dibudidayakan dari benih biji. Petani biasanya menyisakan satu dua tanaman yang dibiarkan berbunga dan berbuah berupa polong, untuk digunakan sebagai benih pada musim tanam berikutnya. Tanaman lainnya sengaja dipangkas (dibuang) bunganya, agar tidak menghasilkan polong. Sebab bengkuang baru akan menghasilkan umbi, kalau semua bunga dibuang. Kalau bunga dibiarkan tumbuh menjadi polong, bengkuang tidak akan menghasilkan umbi. Polong bengkuang mirip dengan buncis, dengan bulu halus pada kulitnya.

Panjang polong bengkuang sekitar 10 cm, dengan biji sebesar biji buncis. Polong dan biji berwarna hijau ketika muda. Setelah tua, kulit polong berwarna abu-abu kehitaman, dan biji menjadi coklat. Biji inilah yang dipanen petani untuk benih. Apabila tidak segera ditanam, polong akan dibiarkan tetap utuh, tidak dikupas, dan disimpan di tempat yang kering. Biasanya petani menyimpan polong bermacam tanaman pada para-para di atas tungku dapur. Biji yang sudah terlanjur dikeluarkan dari polong, dan tidak akan segera ditanam, harus disimpan dalam wadah kaleng atau botol beling yang tertutup rapat.

Bengkuang menghendaki lahan yang gembur, terutama tanah vulkanis dengan bahan organik yang kaya. Meskipun daya adaptasi bengkuang terhadap bermacam jenis tanaman juga cukup tinggi. Agar pertumbuhan umbi bisa optimal, bengkuang menghendaki sinar matahari penuh sepanjang hari. Tanaman ini akan tumbuh baik pada lahan dengan ketinggian antara 200 sd. 800 m. dpl. Para petani biasanya mengolah lahan untuk ditanami bengkuang, dengan cangkul, kemudian dibuat guludan. Pada guludan itu dibuat lubang tanam menggunakan tugal. Ke dalam lubang tanam itulah dimasukkan satu  biji bengkuang sebagai benih.

Bengkuang merupakan tanaman memanjat, dengan cara membelit. Di habitat aslinya, bengkuang memanjat tanaman lain, untuk mengejar sinar matahari. Di areal penanaman, petani bisa memberinya ajir, sebagai tiang panjatan. Para petani di sekitar Bogor, jarang memberi ajir untuk bengkuang. Hingga tanaman menjalar memenuhi guludan, seperti halnya tanaman ubi jalar. Alasan petani tidak diberi ajir, adalah agar mudah membuang kuncup bakal bunga. Pembuangan dilakukan dengan memetik malai bunga satu per satu menggunakan tangan.

# # #

Bengkuang dipanen pada umur antara 8 sd. 10 bulan. Panen dilakukan dengan membabat seluruh tanaman. Sulur batang dan daun bengkuang, biasanya ditaruh di antara dua guludan. Pada waktu membongkar guludan untuk mengambil umbi bengkuang, sulur dan daun yang baru saja dibabat, sekalian ditimbun. Pembongkaran guludan dilakukan dengan hati-hati, agar mata cangkul tidak melukai umbi. Bengkuang  hasil panen diikat, dengan menyatukan pangkal batang yang masih melekat pada umbi, menggunakan tali bambu.

Meskipun bisa dibudidayakan sepanjang tahun, para petani di sekitar Bogor, hanya mau menanam bengkuang, agar panennya pas bertepatan dengan musim kemarau. Sebab pada musim penghujan, minat masyarakat untuk membeli bengkuang agak menurun. Selain dimakan segar, bengkuang paling disukai sebagai bahan rujak, bersama buah-buahan, dan ubi jalar merah. Dewasa ini bengkuang juga sering dijadikan bahan kosmetik, terutama untuk menghaluskan dan menyehatkan kulit wajah. Bengkuang bahan kosmetik, dipilih yang benar-benar sudah tua.

Terakhir, bengkuang juga dijadikan pengisi lumpia. Sebab produsen lumpia, sering kesulitan mendapatkan pasokan rebung segar secara kontinu. Rebung yang sudah layu berasa masam, dan beraroma pesing. Maka para pengusaha lumpia pun secara kreatif beralih ke bengkuang yang lebih mudah diperoleh. Sebenarnya, selain dipanen umbinya, bengkuang juga bisa dipanen bijinya sebagai bahan baku pestisida. Sebab dalam biji bengkuang, terkandung rotenon dalam volume yang cukup besar, sebagai bahan pestisida organik. (R) # # #

AGROINDUSTRI DARI POHON LONTAR

Lontar, atau siwalan, (Borassus flabellifer), juga disebut the asian palmyra palm, toddy palm, sugar palm, dan cambodian palm. Disebut cambodian palm, karena di Kamboja, pohon lontar bisa dijumpai di mana-mana, termasuk di sekitar Angkor Wat. Di halaman dalam Situs Warisan Dunia ini, bahkan ada pohon lontar setinggi lebih dari 30 m, dan umurnya diperkirakan di atas 100 tahun. Lontar juga disebut sugar palm, karena sama halnya dengan aren, dan kelapa, merupakan penghasil gula palma (palm sugar). Disebut the asian palmyra palm, karena habitat aslinya Asia, dan juga untuk membedakannya dengan african palmyra palm, (Borassus aethiopium), dari Afrika.

Mulai dari sekolah dasar, anak-anak Indonesia selalu diberi pelajaran, bahwa naskah-naskah kuno ditulis di atas daun lontar. Hingga lontar identik dengan naskah-naskah kuno, berhuruf Palawa, Jawa kuno, Sunda, Bali. Sebelum budaya kertas masuk kepulauan nusantara, naskah kuno memang ditulis di atas daun lontar. Caranya, daun lontar di buang lidinya, kemudian dipotong sesuai ukuran, dan direbus dalam air garam, campur kunyit. Gunanya agar cendawan, bakteri, dan ngengat tidak merusak naskah penting itu. Garam menolak cendawan, kunyit merupakan anti bakteri. Dua bahan ini secara sekaligus tidak disukai ngengat.

Setelah direbus, daun siwalan dihaluskan (digosok) dengan batu apung, lalu dikeringkan, dan dipotong sesuai ukuran. Menulis di atas daun lontar memerlukan teknik tersendiri, sebab pensilnya berupa pisau kecil. Terlalu dangkal menorehkannya, huruf tidak terbaca, terlalu dalam daun bisa sobek. Menulis di atas daun lontar dengan pisau, juga memerlukan kecermatan tinggi, karena tidak boleh salah. Kalau salah tidak bisa ditipex. Dihapus dengan karet penghapus, apalagi didelete. Tiap lembar daun lontar, biasanya dijadikan dua halaman tulisan. Lembaran daun lontar ini, bagian pinggirnya dilubangi, untuk dirangkai (diikat) menjadi satu, dan disimpan.

# # #

Di Bali, NTB, dan NTT, daun lontar digunakan untuk berbagai keperluan. Mulai dari untuk tikar, topi, tempat air, bahkan juga peralatan musik (sasando). Namun agroindustri lontar yang terpenting adalah gula merah (palm sugar). Gula merah bisa diproduksi dari air tebu, nira kelapa, aren, dan lontar. Menurut beberapa kalangan, gula merah dari nira lontar berkualitas paling baik. Sebab selalu lontar tumbuh di kawasan dataran rendah yang kering dan gersang. Selain rendemennya lebih tinggi, aroma, dan tingkat kekerasan gula merah dari lontar juga paling baik. Kualitas ini bisa diperoleh, apabila nira diproses menjadi gula dengan cara benar.

Sama halnya dengan kelapa, penyadapan nira lontar dilakukan terhadap seluruh malai bunga yang belum mekar. Sementara nira enau, diambil dari pengirisan pelepah malai bunga. Kalau nira kelapa dan enau ditambung dalam buluh bambu, maka nira lontar biasanya ditampung dalam wadah terbuat dari daun lontar itu sendiri. Produksi nira lontar lebih besar dari nira kelapa, tetapi lebih kecil dibanding dengan enau. Ke dalam wadah penampung nira itu, harus dimasukkan laru berupa kapur sirih, serpihan kayu nangka, atau bahan-bahan lain. Manfaat laru adalah untuk mencegah agar nira tidak menjadi masam.

Nira diambil pagi dan sore. Wadah berisi nira diturunkan, ikatan malai bunga diiris tipis dengan pisau tajam, kemudian wadah baru yang sudah diberi laru dipasang.
Proses ini sama dengan pada penyadapan nira kelapa, dan lontar. Penurunan wadah berisi nira dilakukan dengan tali (dikerek). Nira disaring, ditampung dalam panci atau kuali besar, kemudian direbus. Perebusan dilakukan sampai tiga atau empat jam, tergantung dari banyaknya nira. Meskipun volumenya masih kecil, nira harus segera direbus. Pemasakan lanjutan sampai menjadi gula, bisa dilakukan sambil menunggu hasil sadapan berikutnya.

Setelah nira mengental, perajin gula merah mencetaknya dalam tempurung kelapa, atau potongan buluh bambu, hingga menjadi gula padat. Gula semut, dibuat dengan memasukkan nira panas ke dalam alat pemutar, yang diberi lubang tempat keluarnya nira panas. Begitu keluar dari alat setrifugal, nira akan mengeras dan jadilah gula semut, yakni kristal gula merah, yang bentuknya mirip dengan gula pasir. Permintaan gula semut berbahan nira palma (kelapa, enau dan lontar) untuk ekspor, selama ini sulit terpenuhi, karena  faktor pasokan. Dari tiga jenis palma penghasil nira ini, harga gula lontar paling tinggi.

# # #

Di kawasan pantai utara Jawa Timur, Bali, NTT dan NTB, lontar sudah biasa disadap niranya. Namun nira lontar ini lebih banyak difermentasi menjadi tuak (minuman beralkohol). Di NTT, tuak didestilasi (disuling), hingga menjadi moke, dan sopi, dua jenis minuman yang kadar alkoholnya lebih tinggi dari tuak. Agroindustri minuman beralkohol ini, sebenarnya juga potensial untuk dikembangkan, dengan tujuan ekspor. Yang terjadi selama ini, moke dan sopi hanya dikonsumsi oleh masyarakat setempat untuk mabuk-mabukan.

Di Jakarta, buah siwalan muda, sering tampak dijajakan. Tempat pedagang menjajakan siwalan antara lain di kawasan Jatinegara, Pasar Baru, Ancol, dan kota, yang banyak dihuni oleh masyarakat etnis China. Sama halnya dengan kelapa, semua bagian tanaman lontar bisa dimanfaatkan oleh manusia. Mulai dari batangnya, daunnya, buahnya, sampai ke air niranya, semua bisa bermanfaat. Di Hawaii, masyarakat memanfaatkan pohon kelapa sebagai obyek wisata. Para wisatawan diajak ke bawah tegakan tanaman kelapa, diberi minum air kelapa muda, dan diberi cerita yang menarik tentang pohon kelapa.

Tanaman lontar bisa menghasilkan cerita yang lebih menarik dibanding dengan kelapa. Dimulai dari masa kerajaan-kerajaan hindu, wisatawan bisa diberi tahu, bahwa daun lontar adalah kertas tempat menulis karya sastra. Atraksi mengolah nira lontar menjadi gula merah, juga tidak kalah menarik dibanding dengan cerita tentang “kertas lontar”. Belum lagi manfaat lain daun lontar untuk bahan anyaman, sasando, dan lain-lain. Selain bisa minum nira lontar, wisatawan juga bisa disuguhi buah lontar yang masih muda. (R) # # #

MASALAH KEDELAI SEBAGAI BAHAN PANGAN

Kebutuhan kedelai nasional kita sekitar 2,2 juta ton per tahun, sementara  produksi dalam negeri hanya 850.000 ton per tahun. Hingga kita selalu defisit sekitar 1,350 juta ton per tahun. Defisit ini dipenuhi dengan mengimpor kedelai dari AS dan Brasil. Benarkah Indonesia tidak bisa swasembada kedelai?

Kedelai (soybean, soya bean, Glycine max), adalah bahan pangan yang cukup penting bagi Indonesia. Dari komoditas ini, diproduksi tahu, tempe, dan kecap, tiga produk vital bagi rakyat Indonesia. Dari kedelai juga diproduksi susu, dan tepung kedelai. Selain itu, agroindustri peternakan kita, terutama peternakan unggas petelur dan pedaging, juga menyerap kedelai dalam bentuk bungkil. Bungkil adalah ampas kedelai, yang sudah diambil minyaknya. Di negara maju seperti AS, kedelai lebih banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak, bukan makanan manusia. Meskipun merupakan komoditas pangan yang cukup penting, sampai saat ini Indonesia masih tergantung pada impor kedelai.

Dalam perkembangan lebih lanjut kedelai impor, dan kedelai lokal masing-masing diserap oleh industri yang berbeda, karena spesifikasinya. Hingga kedelai impor tidak bisa tergantikan oleh kedelai lokal, atau sebaliknya. Kedelai impor dengan harga Rp7.800 per kg, diserap oleh agroindustri tempe. Sementara kedelai lokal yang berharga Rp8.600 per kg, diperlukan oleh agroindustri tahu. Harga kedelai impor memang murah, meskipun butirannya berukuran besar, sebab rendemennya (kandungan proteinnya sebagai bahan tahu), lebih rendah dibanding kedelai lokal. Tetapi untuk bahan tempe, kedelai impor lebih cocok, sebab volume hasilnya lebih besar dibanding kedelai lokal.

# # #

Butiran kedelai impor dari AS dan Brasil, bisa berukuran sangat besar, karena beberapa faktor. Pertama, kedelai yang berasal dari Asia Timur (China, Korea, dan Jepang), memerlukan sinar matahari (panjang hari), sampai 17 jam. Ini bisa terjadi karena pada musim panas, panjang hari di negara beriklim sub tropis, bisa mencapai 17 jam sehari. Di negeri tropis seperti Indonesia, paling lama panjang harinya hanya 12 jam. Itulah sebabnya kedelai dan juga kacang tanah dari RRC, dan AS, bisa berukuran sangat besar, dengan tingkat produktivitas rata-rata mencapai empat ton per hektar per musim tanam. Di negeri kita, rata-rata produktivitas kedelai hanya 1,5 ton per hektar per musim tanam.

Butiran kedelai impor juga bisa berukuran sangat besar, karena faktor pemuliaan hingga tercipta benih unggul. Selain itu, AS juga menerapkan teknologi transgenik untuk pengembangan benih unggul. Dalam teknologi transgenik, ke dalam gen kedelai diselipkan gen bakteri yang tidak berbahaya bagi manusia. Faktor pertahanan diri pada gen tanaman kedelai itu, memerintahkan gen pertumbuhan, untuk menciptakan batang, akar, ranting, daun, polong dan butiran biji hingga berukuran sangat besar. Produk pertanian transgenik, terutama gandum, jagung, dan kedelai, telah mengundang kontroversi internasional. Uni Eropa dan Jepang, secara tegas menolak produk pertanian dengan benih transgenik.

Selama ini, konsumen kedelai Indonesia, terutama tempe, tidak pernah mendapatkan penjelasan dari pemerintah melalui Badan POM, apakah kedelai yang kita impor merupakan kedelai biasa hasil pemuliaan melalui teknologi penyilangan, atau hasil rekayasa genetika. Para ahli kesehatan di dunia, sampai sekarang masih belum bisa merekomendasi, bahwa produk pangan dengan benih transgenik, aman untuk dikonsumsi. Sebab efek bakteri dalam rekayasa genetika itu, belum pernah ketahuan dampaknya pada kesehatan manusia yang mengonsumsinya. Dengan fakta seperti ini, sebenarnya kedelai lokal kita yang berbutiran kecil-kecil, lebih aman dikonsumsi, dibanding dengan kedelai impor.

# # #

Diluar permasalahan tersebut, secara ekonomis budi daya kedelai berpotensi bisnis cukup baik. Impor kedelai kita selama ini sekitar 1,350 juta ton per tahun. Dengan harga kedelai impor Rp7.800 di tingkat konsumen, ada uang senilai Rp10.530.000.000.000 (sepuluh trilyun, limaratus tigapuluh milyar rupiah), yang bisa kita kelola sendiri. Dari kebutuhan 1,350 juta ton kedelai itu, dengan tingkat produktivitas petani kita hanya 1,5 ton per hektar per musim tanam, maka diperlukan lahan seluas 900.000 hektar lahan untuk ditanami kedelai. Di Jawa, lahan tersebut tersedia, berupa sawah yang pada musim kemarau selalu terbengkalai. Dengan catatan lahan sawah tersebut memerlukan pengairan berupa sumur pantek, atau pompa sedot dari sungai.

Sebenarnya pemerintah, dalam hal ini Departemen Pertanian, dan juga Departemen Perdagangan, bisa dengan mudah menghentikan impor kedelai, dan segera memacu produksi dalam negeri. Yang jadi masalah, importir kedelai tidak mau kehilangan nafkah. Mereka akan melobi para pejabat di dua departemen itu, agar jangan melakukan regulasi impor kedelai, berupa bea masuk, atau persyaratan kualitas. Selama pemerintah belum mengeluarkan kebijakan regulasi, maka impor kedelai kita akan terus berlanjut. Kedelai barangkali masih agak lumayan, sebab meskipun hanya 850.000 ton, kita sudah mampu memperkecil volume impor. Pada komoditas gandum, yang impornya mencapai 7 juta ton per tahun, kita sama sekali tidak bisa mensubstitusi barang sedikit pun. (R) # # #

SELADA AIR UNTUK KESEHATAN

Selada air (Watercresses, Nasturtium microphyllum), atau sering pula disebut jembak, dan kenci, adalah sayuran dataran tinggi. Ia hanya bisa hidup di lahan berair seperti halnya padi, kangkung air, dan genjer. Kalau kangkung air dan genjer merupakan sayuran air dataran rendah sampai menengah, maka selada air justru hanya bisa hidup di dataran menengah sampai dataran tinggi. Disebut selada air, karena tumbuhan ini memang masih satu famili, yakni famili Brassicaceae, dengan selada, sawi dan kol. Tumbuhan ini berasal dari Eropa dan Asia Tengah, tetapi sekarang sudah tersebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Yang cukup menarik, selada air telah diisukan berkhasiat memperkuat daya tahan tubuh, terhadap serangan kanker paru-paru. Kandungan selada air antara lain zat besi, kalsium, asam folic, vitamin A, dan C. Selain untuk kanker, selada air juga berkhasiat melancarkan air seni (diuretik), mengeluarkan dahak (ekspektoran), menurunkan tekanan darah, dan anti oksidan. Sosok selada air sangat khas, batang dan daunnya, sangat lunak. Rasa serta aromanya juga khas. Di pasar swalayan besar, selalu ada selada air, bersama dengan sayuran lain, terutama pucuk labu siam. Harga selada air juga relatif murah, jika dibandingkan dengan sayuran lainnya.

Selada air biasa dimakan mentah sebagai lalap (salad). Di warung dan restoran ayam atau ikan goreng, sering disajikan lalap selada air, selain lalap lain seperti kemangi, poh-pohan, dan timun. Rasa selada air mentah getir dan pahit, mirip dengan rasa caisim (sawi bakso). Sebab mereka masih satu famili. Namun rasa getir dan pahit ini akan hilang apabila selada air direbus. Cara merebus selada air juga beda dengan merebus daun pepaya atau daun singkong. Pertama air dididihkan. Setelah air mendidih, selada air dimasukkan, dan seketika itu juga api dimatikan, atau dikecilkan. Kalau api tetap besar, selada air akan menjadi sangat lunak, dan citarasanya akan hilang.

# # #

Di Indonesia, selada air tumbuh di kawasan pegunungan, yang berhawa sejuk, terutama di kawasan penghasil sayuran. Di kawasan pegunungan seperti ini, selalu tersedia air jernih melimpah. Di tempat seperti inilah selada air bisa tumbuh dengan baik. Kalau selada air bisa tumbuh baik, berarti lokasi tersebut berketinggian paling sedikit 800 m. dpl. Selain dengan alti meter, ketinggian tempat juga bisa ditandai dengan ada atau tidaknya tanaman padi sawah, serta pohon kelapa. Kalau di kawasan tersebut masih ada sawah dengan tanaman padi, lalu masih ada pohon kelapa yang tumbuh dan berbuah baik, maka ketinggian tempat masih sekitar 700 m. dpl.

Kalau air melimpah, tetapi padi sudah tidak bisa tumbuh, maka lahan yang bisa diairi sepanjang tahun, bisa dimanfaatkan untuk budidaya selada air. Petakan lahan dibuat berterasering, seperti membuat petakan sawah, lengkap dengan pematangnya. Petakan lahan lalu dijadikan lumpur, persis untuk lahan tanaman padi. Gulma yang batangnya terendam air dalam tanah, harus dibuang, sebab dikhawatirkan akan tumbuh dan mengganggu. Agar lahan lebih subur, diberi pupuk kandang yang sudah matang. Paling baik adalah pupuk kandang dari kambing, domba, atau kelinci. Setelah ditaburi pupuk kandang, petakan lahan dibiarkan tergenangi air paling sedikit satu minggu.

Selama itu, petakan lahan harus tetap dialiri air. Setelah satu minggu, lahan bisa ditanami. Benih selada air adalah tanamannya itu sendiri. Hingga selada air yang dibeli di pasar, bisa dijadikan benih. Caranya, selada air itu dipotong-potong sepanjang 5 cm. Potongan itu kemudian ditaburkan merata di petakan “sawah” yang sudah disiapkan. Semua potongan selada air akan menumbuhkan akar, dan tunas baru, lalu menjadi induk (rumpun), dalam petakan selada air itu. Setelah seluruh petakan ditumbuhi anakan tanaman selada air, lahan itu disiangi dari gulma. Penyiangan dilakukan sama dengan penyiangan pada tanaman padi atau kangkung sawah.

Setelah selesai penyiangan, petakan dikurangi airnya (macak-macak), dan kembali dipupuk dengan pupuk kandang yang sudah matang, serta urea. Dalam waktu sekitar 40 hari setelah tanam, petakan selada air itu sudah bisa dipanen. Cara memanen selada air, sama dengan memanen kangkung air. Pertama-tama, gulma yang tumbuh di sela-sela selada air diambil dan dibuang, kemudian selada air itu dipotong dengan menggunakan sabit yang tajam. Tinggi tanaman yang layak dipotong sekitar 20 cm. Sambil memanen selada air, kembali lahan disiangi, dikurangi airnya, dan dipupuk dengan pupuk kandang dan urea.

# # #

Di Indonesia, selada air, sama halnya dengan pucuk labu siam, masih dianggap sebagai sayuran udik.  Padahal inilah sayuran yang cukup prestisius di Inggris dan Amerika Serikat. Kota Huntsville, di negara bagian Alabama sekarang dikenal sebagai  “Rocket City”, setelah disana dikembangkan industri peluru kendali missile industry it called itself the “Watercress Capital of the World”, karena merupakan sentra selada air. Sama halnya dengan labu siam, selada air juga kita anggap sebagai sayuran kampung dari pegunungan yang udik. Kita tidak pernah sadar bahwa labu siam berasal dari Amerika Latin, dan selada air dari Eropa Selatan serta Asia Tengah.

Selada air yang ada di negeri kita, sebenarnya ada dua spesies. Yang berdaun lebar-lebar adalah Nasturtium microphyllum. Selain itu, ada pula selada air dengan ukuran daun lebih kecil, yakni Nasturtium officinale. Selain dua spesies tadi, masih ada Nasturtium africanum; Nasturtium floridanum; dan Nasturtium gambellii. Di Indonesia, selada air jarang sekali berbunga dan berbuah, hingga perkembangbiakan secara generatif jarang terjadi. Sebenarnya, selada air kalau dibiarkan tidak dipangkas, akan tumbuh memanjang sampai 1 m. Ketika itulah tanaman akan berbunga, dan menghasilkan biji. Bunga selada air putih, dan terdapat dalam malai pada ujung tanaman.

Ketika selada air dipanen menjelang atau setelah berbunga, rasanya akan lebih pahit dibanding tanaman mudanya. Selada air rentan terhadap kekeringan dan udara panas. Namun setelah dipanen pun, sayuran ini hanya bisa bertahan dalam kemasan berpendingin, paling lama dua hari. Hingga apabila membeli selada air, pilihlah yang masih sangat segar, dan sesampai di rumah langsung dimasak. Selain untuk salad, selada air bisa dikonsumsi sebagai pecel, atau urap. Sayuran ini tidak lazim dimasak sebagai sup, sayur bening, atau menu berkuah lainnya. Paling sehat, selada air memang dikonsumsi setengah matang sebagai salad. (R) # # #

AGROINDUSTRI JAGUNG PAKAN TERNAK

Sejak melambungnya harga BBM, harga jagung kuning pipilan, ikut pula terdongkrak naik. Penyebabnya, di AS jagung yang sebelumnya untuk pakan manusia dan ternak, terserap pula untuk bahan baku grain ethanol. Hingga komoditas ini diperebutkan sebagai bahan pangan manusia, ternak, dan sebagai bahan bakar. Naiknya harga jagung di AS, telah ikut pula menaikkan harga jagung di pasar dunia, termasuk di Indonesia. Sejak itulah para investor mulai berminat untuk menanam jagung, meskipun tanpa disertai pengetahuan teknis sedikitpun.

Jagung memang bisa tumbuh baik mulai dari ketinggian 0 m. dpl, sampai dengan 2.000 m. dpl. Yang bisa tumbuh baik dan berproduksi pada ketinggian di atas 1.000 m. dpl, hanyalah jagung putih (jagung tepung), bukan jagung kuning untuk pakan ternak. Ketika jagung kuning pakan ternak ditanam pada ketinggian di atas 1.000 m. dpl, maka umurnya akan tambah panjang, tongkolnya besar, tetapi tidak ada bijinya (hampa). Hingga agroindustri jagung kuning pakan ternak, hanya dimungkinkan pada lahan dengan ketinggian 0 sd. 800 m. dpl.

Lahan pertanian dataran rendah berketinggian 0 sd. 500 m. dpl, umumnya berupa sawah, yang relatif datar. Baik sawah tadah hujan, maupun yang beririgasi teknis. Sementara lahan pertanian berketinggian di atas 500 m. dpl, berupa ladang (lahan kering), berterasering di pegunungan. Lahan sawah di dataran rendah, merupakan milik petani. Sementara lahan di pegunungan, selain milik petani, juga berupa perkebunan milik PT. Perkebunan Nusantara (PTPN), dan lahan hutan milik Perum Perhutani. Lahan PTPN dan Perhutani bekas tebangan, selalu digarap petani.

# # #

Umur panen jagung pakan ternak 90 hari di lahan dataran rendah, 100 hari di dataran menengah, dan bisa sampai 110 hari (4 bulan) di dataran tinggi. Lahan kering di pegunungan, hanya bisa ditanami jagung paling banyak dua musim tanam. Setelah itu akan datang musim kemarau, hingga lahan menganggur. Lahan kering di pegunungan, pada umumnya tidak mungkin ditanami pada musim kemarau, karena tidak ada air sama sekali. Bahkan ketika musim penghujan terlambat datang, jagung pada musim tanam kedua (musim gadu, marengan), akan gagal panen.

Lahan sawah di dataran rendah yang berpengairan teknis sepanjang tahun, bisa ditanami padi sampai tiga musim tanam. Umur panen padi selama empat bulan. Akan tetapi, banyak lahan di dataran rendah, yang merupakan sawah tadah hujan. Sawah demikian hanya bisa ditanami padi paling banyak selama dua kali dalam setahun. Bahkan banyak di antara sawah tadah hujan itu, yang hanya bisa ditanami padi satu kali selama setahun. Berarti selama dua kali musim tanam, atau 8 bulan pada musim kemarau, lahan sawah itu akan menganggur.

Petani sering memanfaatkan sisa hujan pada musim gadu, untuk menanam kedelai. Caranya, ketika panen padi, petani menugal di antara tonggak-tonggak jerami padi, tanpa mengolah lahan terlebih dahulu. Kemudian benih kedelai dimasukkan ke dalam lubang tugal. Karena tanah sawah masih relatif basah, maka benih kedelai akan tumbuh baik. Seandainya hujan sudah tidak turun pun, air tanah di sawah tadi akan membuat tanaman kedelai tetap hidup. Kalau air masih cukup banyak, petani akan memberanikan diri untuk menanam jagung.

Pola bertani di lahan pulau Jawa ini, bisa diterapkan dalam pengembangan agroindustri jagung. Para investor tidak perlu membeli lahan, serta membangun sarana dan prasarana. Mereka cukup menyewa lahan di pegunungan untuk dua kali musim tanam, dan menyewa sawah di dataran rendah untuk duakali musim tanam. Dua kali penanaman jagung di lahan pegunungan 100% mengandalkan air hujan, sedangkan dua kali penanaman jagung di lahan sawah dataran rendah harus mengandalkan pompa air. Kalau tidak ada sungai, biasanya petani mengandalkan sumur pantek.

# # #

Pola ini bisa membuat seorang investor mampu menanam jagung sepanjang tahun, berapa pun luasnya, tanpa perlu investasi lahan. Di lahan pegunungan, investor bekerjasama dengan PTPN, dan Perum Perhutani, di dataran rendah menyewa lahan petani. Yang  sering menjadi masalah, investor ditipu oleh petani, atau hasil panen dicuri. Di lahan pegunungan, investor bisa mengandalkan aparat PTPN dan Perhutani, untuk membantu pengawasan. Di lahan sawah dataran rendah, sebenarnya juga ada penyuluh (PPL), namun akan lebih baik kalau investor membentuk koperasi.

Pembentukan koperasi, selain bermanfaat untuk mengurangi resiko, juga untuk menjadikan petani menjadi lebih independen. Caranya, setelah lahan sawah disewa, petani pemilik lahan maupun yang akan ikut bekerja (buruh tani), diminta untuk membentuk koperasi. Setelah koperasi terbentuk, investor merekrut tenaga S1, atau tenaga setempat yang kapabel, untuk jadi manajer koperasi. Uang investor, jangan diserahkan ke koperasi, melainkan dideposito di BRI, sebagai koleteral. Dengan koleteral itu, koperasi yang tidak punya agunan, bisa meminjam modal sesuai aturan yang ada.

Pola ini, bisa meminimalkan resiko, sebab investor hanya akan berhubungan dengan koperasi, melalui pengurus dan manajer. Kalau ada masalah on farm, maupun off farm koperasilah yang akan menanggulangi. Tetap ada resiko penanaman jagung gagal panen. Hingga investor harus menyiapkan modal, minimal untuk tiga kali musim tanam. Hitung-hitungannya, selama tiga tahun (12 kali tanam), hanya akan ada kegagalan sebanyak tiga kali. Hingga panen sebanyak 9 kali, akan mampu menutup kegagalan panen sebanyak 3 kali. (R) # # #