PRODUKSI ARANG KAYU

Minyak tanah atau gas, sebenarnya tetap akan makin tinggi harganya, karena cadangannya semakin menipis. Rumahtangga semakin kerepotan mencari alternatif bahan bakar. Tetapi bagi kalangan pengusaha, peluang bisnis justru akan terbuka. Di luar gas dan minyak bumi, alternatif bahan bakar untuk rumahtangga antara lain arang kayu. Sekarang ini, bahan bakar arang termasuk yang paling mahal. Bagi pengusaha tingginya  harga arang kayu justru cukup menarik untuk ditangani. Selain untuk bahan bakar, arang juga diserap oleh industri untuk karbon aktif, dan sektor pertanian untuk media tanam anggrek. Hingga sebenarnya peluang agroindustri arang punya prospek cukup baik, justru ketika harga BBM dan gas melambung seperti sekarang ini.

Arang yang layak untuk bahan bakar rumahtangga, industri karbon aktif maupun media tanam anggrek, haruslah arang dari kayu keras. Kayu keras yang populasinya cukup banyak, antara lain rambutan (Nephelium lappaceum), lengkeng (Euphoria longan), bakau (Rhizophora apiculata, Rhizophora  mucronata, Rhizophora  Conjugata), api-api (Avicennia officinalis, Avicennia  alba, Avicennia marina), sawo manila (Achras zapota), sonokeling (Dalbergia latifolia), kosambi, (Schleichera oleosa), angsana (Pterocarpus indicus), lamtoro (Leucaena leucocephala), kaliandra, (Calliandra calothyrsus), kamboja (Plumeria acuminata), gamal (Gliricidia maculata), akasia (Acacia mangium), dan akasia gunung (Acacia catechu).

Sebenarnya masih banyak kayu keras lainnya, tetapi populasinya sudah sangat terbatas. Lamtoro atau kaliandra yang baik untuk arang, haruslah yang sudah tua. Pertumbuhan tanaman ini cukup pesat, hingga umur lima tahun sudah bisa dipanen untuk bahan baku arang. Sebagai patokan, diameter batang lamtoro atau kaliandra yang akan dibuat arang, paling sedikit harus sudah mencapai 20 cm. Semakin tua umur tanaman, semakin baik kualitas arang yang dihasilkan.  Cabang yang baik dibuat arang, paling kecil berdiameter 5 cm. Lebih kecil dari itu, kualitas arangnya tidak terlalu baik, karena akan mudah patah dan hancur. Sebaliknya, batang yang diameternya sudah di atas 30 cm, juga kurang baik untuk dibuat arang, karena kemungkinan mentah cukup besar.

# # #

Proses pembuatan arang, paling baik justru dilakukan pada musim penghujan. Sebab kemungkinan untuk hangus jadi abu, relatif kecil. Pada musim kemarau, tanah terlalu porous, bahkan sebagian hancur menjadi debu, serpih, pecahan, atau bongkahan yang lebih besar. Tanah dengan karakter seperti ini, akan mudah sekali dilewati udara (oksigen), dan asap. Hingga pembakaran arang menjadi lebih intensif. Akibatnya, kayu bukan menjadi arang, melainkan abu. Pada musim penghujan, tanah akan lebih masif, hingga oksigen susah sekali melewatinya. Kemungkinan arang terbakar habis menjadi abu menjadi lebih kecil.

Sisi negatifnya, tanah yang masif dan mengakibatkan oksigen susah masuk, juga bisa berakibat proses pembakaran tidak sempurna. Akibatnya arang bisa masih mentah. Dua kemungkinan ini harus diatasi, agar proses pengarangan berjalan baik, dan arang yang dihasilkan benar-benar sempurna. Agar arang tidak mentah, diatasi dengan menyiapkan serasah serta kayu kering sesuai kebutuhan minimal. Agar arang tidak terbakar habis, diatasi dengan memilih lokasi pengarangan yang tanahnya masih basah. Misalnya di dekat sumber air. Tanah di lokasi tersebut juga harus yang tidak berbatu-batu, agar udara tidak bocor ke dalam, dan arang terbakar habis menjadi abu.

Pohon yang akan dibuat arang bisa ditebang langsung di bagian pangkalnya. Bisa pula hanya diambil cabang-cabangnya, terutama yang diameternya sudah di atas 5 cm. Batang pohon yang diameternya masih di bawah 30 cm, juga cabang yang di atas 5 cm,  kemudian dipotong-potong sepanjang 1 m. Cabang yang bengkok, bercabang, atau bentuknya tidak beraturan, harus dipotong, hingga bentuknya menjadi memungkinkan untuk ditumpuk rapi dengan potongan batang dan cabang lainnya. Cabang dengan diameter di bawah 30 cm, ranting, dan daun-daunnya, dikumpulkan dan dipisahkan dari cabang dan batang yang diameternya di atas 5 cm.

Untuk mengarangkan 1 m3 kayu, diperlukan 1/3 kayu dan serasah kering untuk starter. Caranya, pertama-tama serasah kering ditaruh di tanah, selebar sekitar 1 m2, lebih sedikit. Di atas serasah itu ditaruh kayu kering, kemudian dibakar. Pelan-pelan, kayu yang akan dibuat arang (kayu basah), ditata di atasnya. Satu sap kayu basah, dilapisi dengan serasah berikut ranting-rantingnya. Kemudian ditaruh lagi kayu basah, hingga membentuk gundukan. Gundukan kayu itu, kemudian ditutup dengan serasah basah agak tebal. Pembakaran kayu kering, bisa dilakukan sebelum penataan kayu basah, bisa pula setelah kayu basah selesai ditata.

# # #

Setelah yakin bahwa api tidak akan mati, maka serasah di atas gundukan itu ditimbun dengan tanah. Penataan serasah kering, kayu kering, kayu basah dan serasah basah, harus tepat, hingga pembakaran bisa berlangsung seperlahan mungkin. Caranya, pada bagian tengah kayu kering itu, ditaruh kayu kering dengan ukuran cukup besar, yang diameternya antara 20 sd. 30 cm. Pembakaran akan berlangsung lambat, tetapi api tidak mati apabila asap yang keluar cukup tebal, dan warnanya putih. Kalau asap cukup tebal tetapi warnanya kehitaman atau abu-abu, berarti api menyala terlalu kuat, karena udara masuk terlalu banyak.

Asap diusahakan keluar hanya dari bagian atas gundukan arang. Agar hal ini terjadi, penutupan dengan tanah dipertebal pada bagian bawah, sementara bagian atasnya, agak dipertipis. Tukang arang, biasanya membuat sekaligus tiga sampai dengan empat gundukan dalam sehari. Hingga selama proses pengarangan, mereka bisa mengawasi sekaligus tiga sampai empat gundukan. Bahkan ada yang sekaligus membuat lebih dari lima tumpukan dalam sehari, dan besuknya membuat sampai lebih dari lima tumpukan lagi. Jadi selama tinggal antara tiga sampai dengan empat hari di ladang atau hutan, tukang arang akan bisa mengawasi sekaligus banyak gundukan.

Kunci sukses dari proses pembuatan arang secara tradisional, terletak pada keseimbangan antara kayu kering yang terbakar pelan-pelan, dan memanaskan kayu basah hingga sebatas menjadi arang. Untuk itu, penutupan dengan serasah, dan penimbunan dengan tanah, harus tepat, hingga udara tetap bisa masuk, tetapi tidak cukup membuat arang menyala (membara), hingga arang menjadi abu. Ketika seluruh kayu telah menjadi arang dan rapuh, maka timbunan tanah di atas, akan menekan ke bawah. Gundukan kayu itu akan runtuh (mampat), hingga oksigen sama sekali tidak bisa masuk, dan api akan mati. Setelah dingin, gundukan arang bisa dibongkar. (R) # # #

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s