BUDI DAYA SAYURAN GAMBAS

Gambas, blustru, oyong, (Luffa Sp), adalah tanaman sayuran yang merambat dengan akar panjatnya. Gambas dibudidayakan untuk dipanen buah mudanya sebagai sayuran. Gambas biasa disayur bening, dengan jagung muda, daun katuk, taoge kedelai, dan bumbu bawang merah serta temu kunci. Namun gambas juga bisa dioseng-oseng (tumis) atau sayur bobor, lodeh serta bumbu lainnya. Gambas dipercaya mampu menstabilkan gula darah, menurunkan kadar kolesterol serta tekanan darah. Bagi ibu-ibu yang menyusui, sayuran gambas dengan daun katuk dipercaya mampu meningkatkan air susu.

Gambas merupakan tanaman semusim. Budidaya gambas dilakukan di sawah-sawah, bersamaan dengan budidaya pare, mentimun dan sayuran lainnya. Karena merupakan tanaman memanjat, maka gambas dibudidayakan di atas bedengan, dengan ajir dan tali pengikat sebagai panjatan. Dibanding dengan mentimun, gambas relatif lebih tahan terhadap serangan cendawan fusarium maupun bakteri pseudomonas. Namun gambas, sama halnya dengan pare, sangat rentan terhadap gangguan larva kepik Lepidoptera terutama Hypercompe albicornis, yang  akan menghabiskan seluruh daun gambas, hingga tinggal batang dengan sulurnya.

Gambas merupakan tumbuhan asli Asia dan Afrika Tropis. Di RRC, gambas tidak hanya dikonsumsi buah mudanya, melainkan juga pucuk, berikut daun muda dan bakal bunga. Buah yang telah tua, akan menghasilkan spons dan biji. Spons gambas merupakan bahan pembersih badan maupun cucian di dapur, yang belakangan ini semakin populer, karena merupakan bahan organik. Di AS, gambas dibudidayakan secara besar-besaran untuk dipanen sponsnya, guna diekspor ke Jepang. Biji gambah yang volumenya cukup besar, menghasilkan lemak nabati, yang bisa dijadikan minyak goreng.

# # #

Gambas merupakan tumbuhan genus Luffa, keluarga Cucurbitaceae, hingga masih bersaudara dengan pare, melon dan timun. Genus Luffa sendiri terdiri dari beberapa spesies, di antaranya ialah Luffa acutangula (Angled luffa, Ridged Luffa); Luffa aegyptiaca (Smooth luffa, Egyptian luffa); Luffa operculata (Sponge cucumber); dan Luffa cylindrica. Luffa acutangula adalah gambas dengan permukaan kulit beralur, dan paling banyak dibudidayakan sebagai sayuran di Indonesia. Sebenarnya Luffa acutangula mampu mencapai panjang lebih dari 0,5 m. Namun di Indonesia, panjang gambas Luffa acutangula hanya sekitar 30 cm.

Gambas Luffa aegyptiaca berpermukaan kulit licin, warna kulit buah agak kekuningan. Gambas Luffa aegyptiaca hanya dibudidayakan untuk diambil sponsnya.  Meskipun buah mudanya juga enak disayur, namun masyarakat Indonesia sudah terlanjur familier dengan gambas Luffa acutangula yang permukaan kulitnya beralur. Gambas Luffa operculata berbentuk bulat, bukan memanjang seperti gambas biasanya. Selain itu permukaan kulit gambas Luffa operculata dipenuhi tonjolan mirip dengan permukaan kulit sirsak. Terakhir, gambas Luffa cylindrica yang bentuknya sama dengan gambas Luffa aegyptiaca, hanya pangkal dan ujungnya lebih meruncing, serta warna kulitnya hijau tua.

Nama latin gambas Luffa, berasal dari bahasa Arab Loofah atau Lufah (لوف), yang berarti kain atau lap untuk mencuci. Sebab di Timur Tengah, gambas tidak hanya dimanfaatkan buah mudanya sebagai sayuran, melainkan juga dipanen tua untuk diambil sponsnya. Meskipun lebih cepat rusak, spons dari gambas sekarang makin populer untuk membersihkan badan (mandi), maupun untuk mencuci piring. Sebab trend untuk kembali memanfaatkan produk organik sekarang semakin marak. Hingga budidaya gambas tidak hanya sekadar untuk menghasilkan sayuran, melainkan juga untuk memproduksi spons organik (alami). Peluang ekspor spons gambas ke Jepang, selama ini telah dimanfaatkan dengan cukup baik justru oleh petani AS.

Gambas dibudidayakan dengan benih biji. Buah gambas memproduksi benih dalam volume sangat besar. Biji gambas mirip dengan biji semangka, namun ukurannya lebih besar. Bentuk biji gambas seperti biji labu, hanya warnanya bukan putih melainkan hitam. Karena volume biji gambas dalam tiap buah relatif besar, maka para petani juga mengumpulkan biji ini untuk diolah menjadi minyak nabati. Minyak biji gambas bisa dijadikan minyak goreng biasa, tetapi bisa juga menjadi alternatif bahan bakar nabati. Ampas dari agroindustri minyak biji gambas berupa bungkil, yang merupakan bahan pakan ternak yang cukup penting. Hingga potensi ekonomis gambas, sebenarnya cukup menarik.

# # #

Biji gambas bisa tahan disimpan sampai lebih setahun, asalkan masih berada dalam buah keringnya. Buah kering itu juga harus disimpan di tempat yang kering. Masyarakat pedesaan biasa menyimpan benih labu, pare, gambas, kecipir dan lain-lain di para-para di atas tungku dapur. Biji gambas akan segera berkecambah apabila tersiram air. Namun tanaman muda sangat rentan terhadap gangguan hama, penyakit serta cuaca. Karenanya gambas memproduksi biji sebanyak mungkin, sebab secara alami, hanya akan ada satu atau dua tanaman yang bisa tumbuh dan kembali menghasilkan biji. Namun dalam budidaya, hampir semua biji gambas akan terus tumbuh menjadi individu tanaman baru.

Bunga gambas berwarna kuning cerah serta berukuran cukup besar. Garis tengah bunga gambas mencapai 5 cm. Bunga jantan terpisah dari bunga betina. Bunga jantan berjumlah lebih banyak, serta mahkotanya berukuran  lebih besar dibanding dengan bunga betinanya. Bunga betina gambas, seperti halnya tanaman Cucurbitaceae lainnya, mekar pada ujung pentil buah. Begitu bunga betina ini terserbuki, mahkotanya akan layu, tetapi pentil buah itu segera tumbuh menjadi buah. Pertumbuhan buah keluarga Cucurbitaceae sangat cepat. Dalam waktu beberapa hari, pentil buah gambas itu akan menggembung beberapa kali lipat dari ukuran sebelumnya.

Umur tanaman gambas bisa mencapai satu tahun lebih. Artinya, biji gambas yang tumbuh pada awal musim penghujan, bisa tetap hidup pada musim penghujan berikutnya. Beda dengan kacang panjang, buncis, yang umur tanamannya hanya lima bulan. Hingga dalam  budidaya keluarga Cucurbitaceae petani selalu memanfaatkan lahan-lahan yang tidak akan digunakan untuk budidaya tanaman lain. Atau mereka hanya akan memanfaatkan pinggiran petakan lahan, bantaran kolam atau saluran air. Keuntungan petani akan bertambah besar, apabila gambas tidak hanya dibudidayakan untuk sayuran, melainkan juga sebagai penghasil spons, minyak nabati serta bungkil sebagai bahan pakan ternak. (R) # # #

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s