PELUANG INDUSTRI BAHAN ANYAMAN

Tikar, tas, dan kursi plastik, telah menggantikan produk anyaman dari mendong, pandan, rotan, dan bambu. Kursi rotan dan bambu memang masih bisa kita jumpai di toko meubel tertentu, tetapi posisinya sudah kalah dibanding dengan kursi plastik. Demikian pula dengan tikar dan tas. Tikar plastik sekarang telah secara telak  menggusur mendong dan pandan. Selain harganya lebih murah, anyaman plastik bisa diproduksi massal dengan menggunakan mesin. Baik memroduksi bahan anyamannya, maupun proses menganyamnya, semuanya dikerjkan oleh mesin. Hingga tikar plastik menjadi sangat murah jika dibanding dengan tikar mendong atau pandan.

Trend di Eropa, AS, dan terutama Jepang; justru sebaliknya. Masyarakat di negara maju itu lebih menggemari anyaman yang dikerjakan dengan tangan, dan berasal dari bahan tumbuh-tumbuhan. Hingga kursi dari anyaman rotan, menjadi dihargai sangat tinggi dibanding dengan sofa empuk yang berasal dari bahan sintetis. Trend ini sebenarnya juga telah menjalar ke kalangan terdidik, yang berkemampuan ekonomi cukup di Indonesia. Ada banyak pengusaha yang melihat peluang ini, dan memanfaatkannya dengan baik. Hingga ekspor produk anyaman dari berbagai bahan telah menjadi bisnis yang cukup menarik. Sebab pendapatan mereka dalam bentuk dolar AS.

Namun secara nasional, peluang bisnis ini belum pernah dimanfaatkan secara optimal. Kendala utamanya adalah, kegiatan bisnis ini tidak terorganisir dalam satu kelembagan yang kuat. Hingga yang masuk ke bisnis ini, kebanyakan modal warga negara asing. Kab. Tasikmalaya adalah sentra produk anyaman terbesar di negeri ini, selain di Bali. Pemilik modal di kawasan ini, seperti halnya di sentra ukir Jepara dan sentra kerajinan di Bali, hampir seluruhnya terdiri dari warga negara asing. Meskipun hal ini masih lebih positif dibanding tidak ada yang mengucurkan modal sama sekali. Salah satu kekuatan pemilik modal asing itu adalah, mereka menguasai pasar di negeri mereka.

# # #

Bahan anyaman utama di Indonesia adalah bambu, (Bambusa Sp; Gigantochloa Sp; Dendrocalamus Sp; Dinochoa Sp; Schizostachym Sp; dan Nastus Sp); serta rotan (Calamus manan, Calamus javensis, Calamus trachycoleus, Daemonorops draco, dan Daemonorops melanochaeta). Selain itu masih ada mendong (Fimbristylis gloulosa), pandan duri, (pandan laut, Pandanus odoratissimus), lontar (siwalan, Borassus flabelifer), eceng gondok, (Eichornia crassipes),  dan batang pisang (Musa paradisiaca). Pemanfaatan pelepah eceng gondok dan batang pisang sebagai bahan anyaman, baru terjadi beberapa waktu belakangan ini.

Produk anyaman, sebenarnya sangat lekat dengan masyarakat di kepulauan Nusantara. Istana raja-raja Jawa, memang dikelilingi oleh tembok batu-bata, serta kanal di bagian luarnya. Tetapi bangunan istana itu sendiri berkerangka kayu, beratapkan rumbia (daun nipah), alang-alang, atau ijuk, dengan dinding anyaman bambu. Dinding istana kerajaan, serta rumah bangsawan dan keluarga kaya, terdiri dari dua lapis anyaman bambu. Bagian luar adalah anyaman bambu dengan bilah-bilah besar, dengan menyertakan kulit luar batang bambu. Anyaman ini sangat kuat, hingga mampu menahan serudukan kerbau dan bahkan gajah. Bagian dalam dinding istana adalah anyaman bambu yang sangat halus.

Secara alamiah, bangunan seperti ini sejuk pada siang hari, karena masih ada ventilasi di sela-sela anyaman itu. Pada malam hari, bangunan ini juga hangat sebab alang-alang, rumbia, ijuk dan anyaman bambu, mampu menahan kehangatan dari dalam tidak terhambur keluar. Alas duduk dan alas tidur berupa tikar. Baik tikar mendong, tumbuhan air yang sengaja dibudidayakan, maupun tikar pandan duri yang kebanyakan diambil dari tumbuhan liar. Topi (caping) para petani adalah anyaman bambu halus di luar, dan anyaman kasar di bagian dalam. Topi ini kedap air, namun tetap sejuk dikenakan untuk menahan panas matahari.

Semua perkakas rumah tangga sampai dengan tahun 1960an, semuanya terbuat dari anyaman bambu. Mulai dari keranjang untuk mengambil rumput dan mengangkut hasil panen dari ladang, tumbu besar sebagai lumbung padi, tenggok untuk menggendong hasil bumi ke pasar, tampah dan tampir untuk menampi beras dan tepung, kukusan untuk menanak nasi, besek untuk tempat kue, kalo untuk menyaring santan, irig untuk menangkap ikan di sungai, kepang untuk menjemur gabah, widig untuk menjemur ikan atau tembakau, sampai ke bakul sebagai tempat nasi, semuanya terbuat dari anyaman bambu. Hingga agroindustri produk rumah tangga benar-benar dinikmati oleh rakyat.

# # #

Anyaman mendong dan daun pandan duri, tidak hanya digunakan untuk tikar. Ada topi pandan, ada keba, yakni dompet berukuran besar dari anyaman mendong atau pandan. Agroindustri mendong dan pandan, melibatkan banyak tenaga kerja mulai dari hulu sampai ke hilir. Mendong dibudidayakan seperti halnya padi. Di Tasikmalaya, Jawa barat, masih tersisa petani yang membudidayakan mendong. Setelah dipanen, mendong dilayukan, direbus, dijemur, ditumbuk-tumbuk agar lemas, baru kemudian dianyam. Tikar yang terbuat dari anyaman mendong, ketika masih baru beraroma sangat khas. Tikar mendong sejuk ketika diduduki atau dijadikan alas tidur pada siang hari, serta hangat pada malam hari.

Proses penyiapan daun pandan sebagai bahan anyaman lebih rumit lahi. Pertama, daun pandan dipangkas dengan hati-hari karena pinggirya penuh dengan duri tajam. Setelah dipangkas, daun pandan langsung dibelah dua, serta dibuang bagian pinggirnya yang berduri. Sesampai di rumah, daun pandan dibelah-belah (diirat) sesuai dengan ukuran lebar bahan anyaman. Selesai dibelah-belah, daun pandan direbus, dijemur dan kemudian dipukul-pukul seperti halnya mendong. Baru kemudian dianyam. Proses ini juga berlaku untuk daun lontar sebagai bahan anyaman. Baik mendong, pandan maupun lontar, yang akan dijadikan bahan anyaman, harus dipilih yang tingkat ketuaannya cukup.

Untunglah sekarang agroindustri anyaman ini telah bergeser, bukan lagi memroduksi benda pakai, melainkan ke benda hias. Anyaman mendong, daun pandan, dan lontar, telah menjadi bahan tas, dompet, tempat tisu, kap lampu, serta asesoris lainnya. Produk-produk ini sangat diminati oleh konsumen di negeri maju. Produk dodol garut yang akan digunakan sebagai souvenir, juga telah menggunakan kemasan bahan anyaman. Namun keterampilan untuk mengolah dan menganyam bahan-bahan ini sekarang telah terlanjur punah. Terlebih keterampilan untuk menganyam bambu halus. Topi koboi dari anyaman bambu produk Tangerang, dulu sangat terkenal, dan sekarang sudah benar-benar punah.

Yang sampai sekarang masih tetap eksis, barangkali tinggal anyaman rotan. Sebab meubel rotan sampai kini pasarnya masih cukup baik. Bukan hanya pasar ekspor, melainkan juga lokal. Bahkan karena tingginya permintaan, maka pengusaha meubel membuat inovasi dengan memanfaatkan batang pisang dan pelepah eceng gondok. Yang disebut bayang pisang, sebenarnya adalah pelepah daun yang saling menangkup. Bilah batang pisang ini, dulunya hanya dijemur dan dimanfaatkan untuk mengemas tembakau. Sekarang bahan ini, menemani pelepah daun eceng gondog menjadi bahan anyaman yang prestisius untuk berbagai produk ekspor.

# # #

Eksplorasi kalangan bisnis untuk memanfaatkan batang pisang dan eseng gondok, sebenarnya merupakan terobosan luarbiasa.     Sebab batang pisang adalah limbah yang selama ini tak termanfaatkan, kecuali untuk mengemas tembakau, yang kebutuhannya sangat terbatas. Eceng gondok adalah gulma air yang pengatasannya sangat sulit. Meskipun di danau Kerinci, Jambi, pernah bisa diatasi dengan penebaran ikan karper. Ketika pelepah-pelepah eceng gondok ini termanfaatkan untuk bahan anyaman, maka gulma air yang bandel ini menjadi bermanfaat. Salah satu manfaatnya yang paling nyata adalah, bisa memberi pekerjaan bagi banyak penganggur.

Nilai produk kerajinan dari batang pisang dan eceng gondok, sebagian besar akan diserap untuk biaya pencarian bahan, pengeringan, pembelahan untuk batang pisang, dan penganyaman. Hasil anyaman ini kemudian difinishing dengan cara dijahit, diberi pelapis dan bahan-bahan lain. Selain dua produk ini, sebenarnya kita masih sangat kaya dengan bahan baku anyaman. Masyarakat Banten, biasa menganyam daun gebang (Corypha utan; Corypha gebanga), untuk tas cangklong untuk menaruh bekal perjalanan. Tas kampung, atau tas hutan ini, sebenarnya sangat trendy dan pasti disukai para ABG, kalau diproduksi massal dan didistribusikan dengan baik.

Belum lagi kalau kita inventarisir produk anyaman mulai dari Sumatera, Nias, Kalimantan, NTT, Toraja, Maluku sampai Papua sana; kita punya potensi luarbiasa untuk memroduksi bahan anyaman guna berbagai keperluan. Produk-produk tradisional ini bisa diangkat untuk keperluan modern. Misalnya caping petani menjadi kap lampu, keba menjadi dompet dan lain-lain. Bisa pula produk asli itu dipasarkan sebagaimana adanya. Misalnya, tas daun gebang yang ketika ditawarkan kepada para ABG ketika mereka menginap di resor Tanjung Lesung, tanggapan anak-anak kota itu sangat positif. Tas sederhana itu mereka anggap sebagai produk yang sangat eksotis. (R) # # #

About these ads

One thought on “PELUANG INDUSTRI BAHAN ANYAMAN

  1. saya paulo 0856 10 53 53 57 saya mau tanya apakah ada yg punya link untuk export tikar plastik? terima kasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s