BUDIDAYA BANDENG DI TAMBAK TRADISIONAL

Bandeng (milkfish, Chanos chanos), adalah ikan laut penting di kawasan Asia Tenggara. Di Jawa, bandeng merupakan ikan yang dikonsumsi oleh masyarakat mulai dari kelas warteg, sampai menjadi bandeng presto sebagai oleh-oleh masyarakat papan atas. Habitat bandeng tersebar di Samudera Hindia, mulai dari Laut Merah sampai ke Afrika Selatan, dari Jepang Samudera Pasifik mulai dari California sampai ke kepulauan Galapagos, dan dari pantai timur Afrika sampai pantai Barat Amerika. Indonesia dan Filipina merupakan kepulauan yang menjadi habitat cukup baik bagi bandeng. Bandeng tidak terdapat di Samudera Atlantik.

Habitat bandeng adalah laut tropis, yang kaya plankton. Baik zooplankton maupun phytoplankton. Phytoplankton juga dikenal sebagai algae bersel satu. Zooplankton dan phytoplankton merupakan makanan utama bandeng. Bandeng adalah ikan keluarga (famili) Chanidae subfamili Chaninae yang masih eksis di alam. Tercatat pernah ada tujuh spesies dari lima genus dalam famili Chanidae, yang sekarang sudah punah. Hingga bandeng merupakan spesies dan genus tunggal dari ikan famili Chanidae.  Bandeng merupakan ikan soliter yang hidup berpasang-pasangan di sekitar terumbu karang, di perairan laut dangkal.

Ikan ini disebut milkfish, karena sisiknya yang lembut dan berwarna keperakan. Warna putih perak inilah yang mengingatkan orang akan warna putih susu. Sisik bandeng demikian lembutnya, hingga tidak perlu dibuang sebelum dimasak. Bandeng merupakan ikan berbentuk torpedo yang sangat kompak, dangan kepala dan bagian ekor meruncing. Sirip ekor bercabang dua. Di laut lepas, bandeng bisa mencapai ukuran panjang sampai 1 m. lebih. Bandeng tangkapan dari alam, umumnya berukuran kurang dari 50 cm. Sementara bandeng konsumsi hasil budidaya di tambak, umumnya hanya berukuran antara 20 sd. 30 cm.

# # #

Bandeng berpijah di laut dengan salinitas penuh, namun masih berdekatan dengan pantai berperairan payau. Setelah menetas, juvenil (nener, anak bandeng), hanya akan hidup di air asin selama 1 sd. 2 minggu, untuk kemudian pindah ke perairan payau terutama kawasan mangrove (hutan bakau, api-api dan nipah). Di sini bandeng akan tumbuh menjadi dewasa dengan mengkonsumsi Zooplankton dan phytoplankton. Setelah dewasa dan siap kawin, barulah bandeng kembali ke laut dengan salinitas normal, untuk berpijah dan seterusnya hidup di sana. Itulah siklus hidup bandeng di alam, yang sampai sekarang tetap dimanfaatkan oleh manusia.

Sebab beda dengan udang, terutama udang windu (Penaeus monodon), yang sudah bisa dibenihkan secara buatan, sampai sekarang bandeng masih belum bisa dipijahkan secara buatan. Dan pengambilan nener di perairan payau, terutama di hutan mangrove, masih tidak mengalami hambatan. Dengan catatan pembabatan hutan bakau dikendalikan, disertai penanaman dengan intensitas yang bisa mengimbangi penebangan. Sebab kendala utama penangkapan nener adalah rusaknya hutan mangrove. Nener yang ditangkap di hutan mangrove inilah yang kemudian dibudidayakan di tambak air payau. Sebenarnya bandeng juga bisa dibudidayakan di tambak air tawar. Misalnya di bagian selatan Kab. Lamongan, Jatim. Bahkan di Cangkringan, di lereng Gunung Merapi, DIY, juga bisa dibudidayakan bandeng.

Namun pertumbuhan bandeng yang dibudidayakan di tambak air tawar, tidak sepesat yang dibudidayakan di air payau. Selain itu, bandeng air tawar, hasilnya selalu berbau lumpur/tanah. Beda dengan bandeng air payau, atau bandeng tangkapan dari laut. Hingga selama ini, budidaya bandeng lebih banyak dilakukan di tambak air payau. Sifat bandeng ini merupakan kebalikan dari ikan nila (Tilapia nilotica), yang merupakan ikan air tawar, tetapi justru sangat peat pertumbuhannya, ketika dibesarkan di tambak air payau, bahkan juga di karamba air laut. Hingga sekarang banyak nila yang dipanen sebagai hasil sampingan tambak air payau udang atau bandeng.

Tambak budidaya bandeng, umumnya merupakan tambak tradisional, bukan tambak semi intensif atau tambak modern. Yang dimaksud tambak tradisional adalah, tambak yang berpematang tanah, drainase juga merupakan aliran arus air laut maupun tawar secara alami, dengan batang pohon api-api dan bakau di sana-sini. Tambak tradisional, mengandalkan pakan alami berupa zooplankton maupun phytoplankton. Meskipun hasilnyatidak setinggi tambak semi intensif dan terlebih tambak modern, namun tambak-tambak tradisioal ini lebih ramah lingkungan, serta menghasilkan bandeng yang dagingnya lebih padat, dibanding bandeng yang dibesarkan dengan pelet.

# # #

Untuk menumbuhkan phytoplankton dan kemudian zooplankton pada tambak tradisional, petani tetap harus mengeluarkan biaya. Pertama, tambak yang baru saja dipanen, harus diberi pestisida alami berupa biji teh atau tembakau krosok, diturap (lumpurnya dinaikkan ke pematang), kemudian dikeringkan sampai lumpurnya pecah-pecah dan merekah. Setelah itu ditaburkan pupuk kandang, berupa kotoran sapi, kerbau, kambing, domba, maupun kuda. Tambak tidak pernah dipupuk dengan kotoran ayam. Tiap hektar tambak memerlukan 5 ton pupuk kandang. Popuk ini harus diratakan ke seluruh permukaan tanah, lalu dibiarkan beberapa hari sebelum air dialirkan menggenangi tambak.

Pada awalnya, air payau yang menggenangi tambak itu tampak jernih. tetapi dalam waktu dua tiga hari, apabila matahari bersinar cukup terik, maka air itu akan berangsur berwarna hijau. Itulah tandanya phytoplankton telah mulai tumbuh. Pada waktu itulah urea sebanyak 3 kuintal per hektar ditebarkan. Setelah ditebari urea, air akan segera menjadi hijau pekat. Pada waktu itulah zooplankton akan mulai tumbuh. Para petani tambak, biasa menyebut zooplankton ini dengan kutu air. Setelah pertumbuhan plankton stabil, salinitas dan pH, air juga sesuai dengan atandar, maka nener bisa ditebarkan. Dengan pakan alami plankton, pertumbuhan nener menjadi bandeng sangat cepat.

Meskipun sudah diberi pestisida alami, amsih saja ada ikan hama yang akan masuk ke tambak. Misalnya ikan gabus. Kalau tambak bandeng itu kemasukan gabus, meka nener yang baru saja ditebarkan akan habis. Namun kadang-kadang tambak bandeng itu juga kemasukan udang galah (Machobracium resenbergii), dan udang putih (Penaeus merguiensis). Ketika bandeng dipanen, kadang nilai udang “ikutan” ini justru lebih tinggi dibanding dengan bandengnya. Maka petambak pun kemudian sengaja menerbarkan benur (benih urang), terutama benih udang windu. Sebab benih udang galah dan udang putih biasanya masuk dengan sendirinya, ketika saluran air dibuka untuk menggenangi tambak.

Tambak tradisional pun, sekarang juga banyak yang diberi tambahan pakan pelet. Volume pelet dikendalikan, hingga tidak mencemari tambak, namun mampu meningkatkan pertumbuhan bandeng maupun udangnya. Pemberian pelet berlebihan pada tambak tradisional, tidak dianjurkan. Sebab  sisa pelet yang tidak termakan itu akan membusuk, mengeluarkan amoniak dan meracuni bandeng serta udang. Sebab tambak tradisional tidak dilengkapi dengan pompa sirkulasi air, serta airator (kincir untuk meningkatkan kandungan oksigen dalam air). Hingga padat penebaran, dan volume pakan dalam tambak tradisional, harus disesuaikan dengan luas tambak secara keseluruhan.

# # #

Bandeng adalah ikan yang harganya jarang sekali jatuh. Meskipun ikan ini juga ada kelemahannya. Sebagaimana ikan mas, daging bandeng juga ada duri-duri halusnya. Hingga yang menghadirkan bandeng goreng, hanyalah warteg. Sementara warung/restoran yang kelasnya agak lebih tinggi, tidakpernah menyajikan menu bandeng karena faktor durinya. Namun rasa daging ikan bandeng sangat khas dan lezat, hingga tidak ada ikan laut yang bisa menjadi substitusinya. Bagi para penggemar fanatik bandeng, duri-duri halus ini tidak pernah menjadi penghalang. Mereka tetap menyantap bandeng goreng dengan nikmat.

Bagi masyarakat yang sedikit lebih elite, menyentap bandeng dengan duri-duri halus ini merupakan sesuatu yang mengganggu. Maka selain menjual produk mereka berupa bandeng segar, petani tambak juga mengolahnya menjadi “pindang bandeng”. Pindang adalah ikan bandeng yang dibuang insang dan jeroannya, kemudian direbus dengan diberi bumbu bawang putih, kunyit dan garam. Perebusan pindang bandeng sampai durinya lunak, dilakukan sampai sehari atau semalam penuh, tidak seperti pembuatan pindang cuik. Biasanya bandeng direbus selama enam jam, kemudian didinginkan, dan direbus kembali selama dua jam.

Dengan adanya teknologi presto (perebusan dengan ketel bertekanan), maka pembuatan bandeng duri lunak lebih dipercepat waktunya, menjadi hanya 1,5 sampai 2 jam saja. Selain bandeng duri lunak, yang nilainya lebih tinggi lagi adalah bandeng asap. Ada dua macam bandeng asap. Pertama bandeng yang memang diawetkan secara langsung dengan pengasapan. Biasanya bandeng yang diasap, yang berukuran di atas 30 cm, dan telah dibersihkan insang serta isi perutnya. Ada pula bandeng pindang asap. Bandeng ini pertama-tama dipindang seperti membuat bandeng duri lunak biasa, namun kemudian dilanjutkan dengan proses pengasapan. (R) # # #

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s