BIOGAS SKALA RUMAH TANGGA

Pangalengan, Kab. Bandung, Jawa-Barat, adalah sentra peternakan sapi perah. Di sana, ada beberapa peternak yang kreatif memanfaatkan pupuk kotoran sapi, untuk biogas. Salah seorang peternak, memiliki tujuh ekor sapi dewasa. Sekitar seperempat kotoran sapi itu ditampung dalam lubang di belakang kandang yang dikerudungi plastik. Kotoran sapi yang sudah tercampur air itu menggenang dalam lubang. Tiap hari kotoran baru masuk, dan kelebihan volume akan mengalir dari lubang yang dibuat, ke penampungan lain untuk dijadikan pupuk.

Dari penampungan seperempat kotoran itu, keluarlah biogas, yang kemudian dialirkan ke “tabung raksasa” berupa kantung plastik bening berdiameter 1,5 m, dengan panjang 5 m. Dari tabung plastik ini, gas dialirkan ke kompor yang ada di dapur. Hingga keluarga peternak ini terbebas dari membeli bahan bakar minyak, kayu bakar maupun gas. Sebab untuk memasak sehari-hari, biogas dari kotoran sapi itu berlebih. Itu pun baru dimanfaatkan seperempat dari volume kotoran yang ada. Di rumah tangga peternak itu sudah ada listrik. Seandainya belum ada, maka biogas itu juga bisa dimanfaatkan untuk penerangan.

Pangalengan adalah kawasan pegunungan, dengen elevasi rata-rata di atas 1000 m. dpl. Hingga udara selalu dingin. Maka biogas itu juga dimanfaatkan untuk menghangatkan ruangan, dan memanaskan air untuk mandi. Teknologi yang digunakan oleh peternak di Pangalengan ini sangat sederhana, dan dengan biaya yang sangat murah. Dalam kondisi krisis energi dewasa ini, sudah selayaknya biogas dipopulerkan. Terutama di kalangan para peternak. Namun di Pangalengan pun, baru ada satu dua peternak yang memanfaatkan biogas. Lainnya masih mengandalkan bahan bakar minyak tanah, yang harus dibeli setiap hari.

# # #

Biogas adalah gas, yang terbentuk karena proses penguraian bahan organik secara anaerobik (tanpa oksigen), baik melalui penimbunan maupun fermentasi.     Komposisi biogas adalah gas methane (CH4) 50-75%; karbon dioksida (CO2) 25-50 %; nitrogen (N2) 0-10%; hidrogen (H2)    0-1%; hidrogen sulfat (H2S) 0-3%; oksigen (O2) 0-2%. Biogas bisa langsung dibakar seperti yang dilakukan oleh peternak di Pangalengan tadi. Bisa untuk pembangkit listrik, dengan cara memanaskan air, kemudian uap air yang terbentuk digunakan untuk menggerakkan turbin.

Bahan untuk biogas bisa berupa bahan organik apa saja. Di RRC, faces dan urina manusia, suah dimanfaatkan untuk biogas. Di satu kompleks pemukiman, septictank yang ada diberi saluran menuju ke septictank induk. Di septictank induk ini, urine dan faces terfermentasi hingga membentuk biogas. Biogas yang terbentuk, digunakan untuk memanaskan air, guna menggerakkan turbin. Hingga yang disalurkan ke rumahtangga, bukan berupa gas melainkan aliran listrik. kotoran yang gasnya telah diambil, diproses menjadi pupuk. Pupuk yang berasal dari kotoran manusia ini, digunakan untuk memupuk tanaman hias, atau ubijalar sebagai pakan babi.

Dengan proses berantai tadi, secara psikologis masyarakat tidak merasa jijik, karena menggunakan gas yang berasal dari kotoran manusia secara langsung. Sebab yang mereka konsumsi sudah berupa nergi listrik. Bukan gas, yang secara fisik memang terbetuk dari kotoran manusia. Meskipun biogas, karena lebih dari 50% terdiri dari gas methane, maka baunya juga bau gas methane. Bukan bau septicktank. Demikian pula dengan pupuknya. Meskipun sebagai pupuk tinja itu sudah terurai menjadi bahan organik, masyarakat tetap merasa tidak enak kalau harus mengkonsumsi produk pangan yang dipupuk dengan tinja.

Hingga di RRC, pupuk tinja yang berasal dari limbah biogas, hanya digunakan untuk memupuk tanaman hias, atau ubijalar. RRC adalah produsen ubijalar terbesar di dunia, yang sebagian besar digunakan sebagai pakan ternak. Secara psikologis, para penyantap daging babi atau domba di RRC, hanya tahu bahwa ternak itu diberi pakan ubi, batang dan daun ubijalar. Bukan mengkonsumsi pupuk tinja. Daurulang tinja untuk biogas di RRC, bisa sangat menghemat komponen bahan bakar. Masalah limbah dari 1,2 milyar penduduknya, telah diubah oleh pemerintah RRC menjadi potensi penghasil energi listrik dan pupuk penghasil bahan pangan.

# # #

Karena tinja pun bisa menghasilkan energi, maka limbah organik apa saja juga bisa diproses untuk menghasilkan biogas. Asalkan penguraian bahan organik itu bisa terjadi dalam keadaan anaerob. Hingga sampah kota (sampah padat), limbah organik cair, limbah pertanian, bahan organik dari hutan, semuanya bisa dijadikan biogas. Sampah kota selalu terdiri dari bermacam bahan, termasuk plastik, kayu, logam (terutama kaleng), batu, dan beling. Bahan padat ini, di negara berkembang sepert Indonesia, sudah diseleksi oleh para pemulung. Plastik yang tidak diambil pemulung adalah kantung kresek dan kantung pembungkus lainnya.

Sampah kota yang akan diproses menjadi biogas, harus dipisahkan dari bahan non organik. Pemisahan ini bisa dilakukan sejak sampah masih berada di rumahtangga. Namun kalau sampah organik dan anorganik itu sudah terlanjur tercampur, pemrosesan masih bisa dilakukan melalui pengomposan awal, dengan pemberian kapang atau bakteri. Tujuannya, agar sampah tidak menimbulkan bau. Setelah itu dilakukan pemisahan antara bahan non organik dengan organik, melalui pengayakan kasar. Bahan padatnya bisa dibakar, untuk energi, bisa pula diproses menjadi batu bata. Bahanorganiknya segera dimasukkan ke dalam tampungan, diberi air, starter bakteri, dan kemudian gasnya ditampung.

Kendala utama menjadikan sampah kota di Indonesia sebagai energi, antara lain karena kandungan airnya yang sangat tinggi. Dengan memisahkan bahan organik dengan anorganik, proses pemanfaatan energi bisa lebih mudah. Sebab bahan plastik bisa dibakar untuk langsung menghasilkan energi. Bahan organik yang banyak mengandung air, dijadikan energi justru dengan mamanfaatkan air yang terkandung dalam bahan organik tersebut, melalui proses penguraian dalam kondisi anaerob. Proses ini, juga bisa dilakukan sederhana dalam skala rumah-tangga. Energi gas yang diperoleh, paling sedikit bisa digunakan untuk memanaskan air di kamar mandi.

Sebenarnya, kompleks perumahan yang baru dibangun, bisa menjadi demplot dalam pemanfaatan energi biogas. Caranya, semua septicktank dari masing-masing rumah, diberi saluran menuju tangki induk. Di tangki induk ini, limbah dari septicktank, dicampur dengan sampah organik untuk diambil biogasnya. Energi biogas yang diperoleh, bisa dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik, yang minimal bisa memenuhi kebutuhan penerangan umum pada malam hari. Misalnya penerangan jalan dan taman. Pada siang hari, energi listrik bisa digunakan untuk menaikkan air tanah guna menyiram tanaman di jalan dan taman umum.

# # #

Biogas diperoleh melalui proses penguraian (fermentasi) bahan organik dalam keadaan anaerob. Yang paling ideal dan murah, kondisi anaerob diperoleh melalui perendaman. Bahan organik yang terendam air, kondisinya sangat anaerob. Pemberian bakteri atau kapang anaerob pada bahan organik yang terendam air, akan mengakibatkan terjadinya penguraian hingga menghasilkan biogas. Namun tidak semua bahan organik yang rendam air akan bisa terutai dan menghasilkan biogas. Kalau bahan itu bertumpukan terus di dalam air yang kondisinya sangat masam, maka tidak akan terjadi penguraian sampai ratusan bahkan ribuan tahun.

Bahan organik yang terendam di rawa-rawa Kalimantan misalnya, tidak terurai dan menghasilkan gasbio, melainkan menjadi gambut. Karena belum pernah mengalami penguraian, maka gambut masih bisa diproses lebih lanjut menjadi biogas. Hingga gambut merupakan bahan energi yang sebenarnya setara dengan batubara, minyak bumi maupuh gas alam. Sebab minyak bumi, gas alam dan batubara juga barasal dari bahan organik yang terjebak dalam cekungan kulit bumi selama jutaan tahun. Selain bisa diproses menjadi biogas, gambut juga bisa dibakar langsung, atau dibuat briket terlebih dahulu. Hingga Indonesia sebenarnya tidak perlu menderita terlalu banyak karena naiknya harga BBM.

Biogas, yang komponen utamanya gas methane, merupakan bahan bakar yang sangat ramah lingkungan. Sebab pembakaran tiap molekul gas mathene (CH4), akan menghasilkan satu molekul karbondioksida (CO2), dan dua molekul air (H2O). Skema pembakaran biogas CH4 + 2O2  CO2 + 2H2O, akan menghasilkan CO2 lebih kecil di atmosfir, dibanding dengan pembakaran bahan bakar fosil. Sebab CO2 dalam gas methane dalam biogas, berasal dari udara yang diambil langsung selama proses fotosintesis tumbuhan. Itulah sebabnya bahan bakar gas (BBG), yang komonen utamanya gas mathene, juga lebih ramah lingkungan dibanding dengan BBM maupun batubara. (R) # # #

BUDIDAYA BANDENG DI TAMBAK TRADISIONAL

Bandeng (milkfish, Chanos chanos), adalah ikan laut penting di kawasan Asia Tenggara. Di Jawa, bandeng merupakan ikan yang dikonsumsi oleh masyarakat mulai dari kelas warteg, sampai menjadi bandeng presto sebagai oleh-oleh masyarakat papan atas. Habitat bandeng tersebar di Samudera Hindia, mulai dari Laut Merah sampai ke Afrika Selatan, dari Jepang Samudera Pasifik mulai dari California sampai ke kepulauan Galapagos, dan dari pantai timur Afrika sampai pantai Barat Amerika. Indonesia dan Filipina merupakan kepulauan yang menjadi habitat cukup baik bagi bandeng. Bandeng tidak terdapat di Samudera Atlantik.

Habitat bandeng adalah laut tropis, yang kaya plankton. Baik zooplankton maupun phytoplankton. Phytoplankton juga dikenal sebagai algae bersel satu. Zooplankton dan phytoplankton merupakan makanan utama bandeng. Bandeng adalah ikan keluarga (famili) Chanidae subfamili Chaninae yang masih eksis di alam. Tercatat pernah ada tujuh spesies dari lima genus dalam famili Chanidae, yang sekarang sudah punah. Hingga bandeng merupakan spesies dan genus tunggal dari ikan famili Chanidae.  Bandeng merupakan ikan soliter yang hidup berpasang-pasangan di sekitar terumbu karang, di perairan laut dangkal.

Ikan ini disebut milkfish, karena sisiknya yang lembut dan berwarna keperakan. Warna putih perak inilah yang mengingatkan orang akan warna putih susu. Sisik bandeng demikian lembutnya, hingga tidak perlu dibuang sebelum dimasak. Bandeng merupakan ikan berbentuk torpedo yang sangat kompak, dangan kepala dan bagian ekor meruncing. Sirip ekor bercabang dua. Di laut lepas, bandeng bisa mencapai ukuran panjang sampai 1 m. lebih. Bandeng tangkapan dari alam, umumnya berukuran kurang dari 50 cm. Sementara bandeng konsumsi hasil budidaya di tambak, umumnya hanya berukuran antara 20 sd. 30 cm.

# # #

Bandeng berpijah di laut dengan salinitas penuh, namun masih berdekatan dengan pantai berperairan payau. Setelah menetas, juvenil (nener, anak bandeng), hanya akan hidup di air asin selama 1 sd. 2 minggu, untuk kemudian pindah ke perairan payau terutama kawasan mangrove (hutan bakau, api-api dan nipah). Di sini bandeng akan tumbuh menjadi dewasa dengan mengkonsumsi Zooplankton dan phytoplankton. Setelah dewasa dan siap kawin, barulah bandeng kembali ke laut dengan salinitas normal, untuk berpijah dan seterusnya hidup di sana. Itulah siklus hidup bandeng di alam, yang sampai sekarang tetap dimanfaatkan oleh manusia.

Sebab beda dengan udang, terutama udang windu (Penaeus monodon), yang sudah bisa dibenihkan secara buatan, sampai sekarang bandeng masih belum bisa dipijahkan secara buatan. Dan pengambilan nener di perairan payau, terutama di hutan mangrove, masih tidak mengalami hambatan. Dengan catatan pembabatan hutan bakau dikendalikan, disertai penanaman dengan intensitas yang bisa mengimbangi penebangan. Sebab kendala utama penangkapan nener adalah rusaknya hutan mangrove. Nener yang ditangkap di hutan mangrove inilah yang kemudian dibudidayakan di tambak air payau. Sebenarnya bandeng juga bisa dibudidayakan di tambak air tawar. Misalnya di bagian selatan Kab. Lamongan, Jatim. Bahkan di Cangkringan, di lereng Gunung Merapi, DIY, juga bisa dibudidayakan bandeng.

Namun pertumbuhan bandeng yang dibudidayakan di tambak air tawar, tidak sepesat yang dibudidayakan di air payau. Selain itu, bandeng air tawar, hasilnya selalu berbau lumpur/tanah. Beda dengan bandeng air payau, atau bandeng tangkapan dari laut. Hingga selama ini, budidaya bandeng lebih banyak dilakukan di tambak air payau. Sifat bandeng ini merupakan kebalikan dari ikan nila (Tilapia nilotica), yang merupakan ikan air tawar, tetapi justru sangat peat pertumbuhannya, ketika dibesarkan di tambak air payau, bahkan juga di karamba air laut. Hingga sekarang banyak nila yang dipanen sebagai hasil sampingan tambak air payau udang atau bandeng.

Tambak budidaya bandeng, umumnya merupakan tambak tradisional, bukan tambak semi intensif atau tambak modern. Yang dimaksud tambak tradisional adalah, tambak yang berpematang tanah, drainase juga merupakan aliran arus air laut maupun tawar secara alami, dengan batang pohon api-api dan bakau di sana-sini. Tambak tradisional, mengandalkan pakan alami berupa zooplankton maupun phytoplankton. Meskipun hasilnyatidak setinggi tambak semi intensif dan terlebih tambak modern, namun tambak-tambak tradisioal ini lebih ramah lingkungan, serta menghasilkan bandeng yang dagingnya lebih padat, dibanding bandeng yang dibesarkan dengan pelet.

# # #

Untuk menumbuhkan phytoplankton dan kemudian zooplankton pada tambak tradisional, petani tetap harus mengeluarkan biaya. Pertama, tambak yang baru saja dipanen, harus diberi pestisida alami berupa biji teh atau tembakau krosok, diturap (lumpurnya dinaikkan ke pematang), kemudian dikeringkan sampai lumpurnya pecah-pecah dan merekah. Setelah itu ditaburkan pupuk kandang, berupa kotoran sapi, kerbau, kambing, domba, maupun kuda. Tambak tidak pernah dipupuk dengan kotoran ayam. Tiap hektar tambak memerlukan 5 ton pupuk kandang. Popuk ini harus diratakan ke seluruh permukaan tanah, lalu dibiarkan beberapa hari sebelum air dialirkan menggenangi tambak.

Pada awalnya, air payau yang menggenangi tambak itu tampak jernih. tetapi dalam waktu dua tiga hari, apabila matahari bersinar cukup terik, maka air itu akan berangsur berwarna hijau. Itulah tandanya phytoplankton telah mulai tumbuh. Pada waktu itulah urea sebanyak 3 kuintal per hektar ditebarkan. Setelah ditebari urea, air akan segera menjadi hijau pekat. Pada waktu itulah zooplankton akan mulai tumbuh. Para petani tambak, biasa menyebut zooplankton ini dengan kutu air. Setelah pertumbuhan plankton stabil, salinitas dan pH, air juga sesuai dengan atandar, maka nener bisa ditebarkan. Dengan pakan alami plankton, pertumbuhan nener menjadi bandeng sangat cepat.

Meskipun sudah diberi pestisida alami, amsih saja ada ikan hama yang akan masuk ke tambak. Misalnya ikan gabus. Kalau tambak bandeng itu kemasukan gabus, meka nener yang baru saja ditebarkan akan habis. Namun kadang-kadang tambak bandeng itu juga kemasukan udang galah (Machobracium resenbergii), dan udang putih (Penaeus merguiensis). Ketika bandeng dipanen, kadang nilai udang “ikutan” ini justru lebih tinggi dibanding dengan bandengnya. Maka petambak pun kemudian sengaja menerbarkan benur (benih urang), terutama benih udang windu. Sebab benih udang galah dan udang putih biasanya masuk dengan sendirinya, ketika saluran air dibuka untuk menggenangi tambak.

Tambak tradisional pun, sekarang juga banyak yang diberi tambahan pakan pelet. Volume pelet dikendalikan, hingga tidak mencemari tambak, namun mampu meningkatkan pertumbuhan bandeng maupun udangnya. Pemberian pelet berlebihan pada tambak tradisional, tidak dianjurkan. Sebab  sisa pelet yang tidak termakan itu akan membusuk, mengeluarkan amoniak dan meracuni bandeng serta udang. Sebab tambak tradisional tidak dilengkapi dengan pompa sirkulasi air, serta airator (kincir untuk meningkatkan kandungan oksigen dalam air). Hingga padat penebaran, dan volume pakan dalam tambak tradisional, harus disesuaikan dengan luas tambak secara keseluruhan.

# # #

Bandeng adalah ikan yang harganya jarang sekali jatuh. Meskipun ikan ini juga ada kelemahannya. Sebagaimana ikan mas, daging bandeng juga ada duri-duri halusnya. Hingga yang menghadirkan bandeng goreng, hanyalah warteg. Sementara warung/restoran yang kelasnya agak lebih tinggi, tidakpernah menyajikan menu bandeng karena faktor durinya. Namun rasa daging ikan bandeng sangat khas dan lezat, hingga tidak ada ikan laut yang bisa menjadi substitusinya. Bagi para penggemar fanatik bandeng, duri-duri halus ini tidak pernah menjadi penghalang. Mereka tetap menyantap bandeng goreng dengan nikmat.

Bagi masyarakat yang sedikit lebih elite, menyentap bandeng dengan duri-duri halus ini merupakan sesuatu yang mengganggu. Maka selain menjual produk mereka berupa bandeng segar, petani tambak juga mengolahnya menjadi “pindang bandeng”. Pindang adalah ikan bandeng yang dibuang insang dan jeroannya, kemudian direbus dengan diberi bumbu bawang putih, kunyit dan garam. Perebusan pindang bandeng sampai durinya lunak, dilakukan sampai sehari atau semalam penuh, tidak seperti pembuatan pindang cuik. Biasanya bandeng direbus selama enam jam, kemudian didinginkan, dan direbus kembali selama dua jam.

Dengan adanya teknologi presto (perebusan dengan ketel bertekanan), maka pembuatan bandeng duri lunak lebih dipercepat waktunya, menjadi hanya 1,5 sampai 2 jam saja. Selain bandeng duri lunak, yang nilainya lebih tinggi lagi adalah bandeng asap. Ada dua macam bandeng asap. Pertama bandeng yang memang diawetkan secara langsung dengan pengasapan. Biasanya bandeng yang diasap, yang berukuran di atas 30 cm, dan telah dibersihkan insang serta isi perutnya. Ada pula bandeng pindang asap. Bandeng ini pertama-tama dipindang seperti membuat bandeng duri lunak biasa, namun kemudian dilanjutkan dengan proses pengasapan. (R) # # #

KEMBALI KE MINYAK KELAPA

Sebelum tanaman sawit hibrida (Elaeis guineensis dari Afrika >< Elaeis malanococca dari Amerika Latin), dikembangkan di Malaysia dan Indonesia, kelapa (Cocos nucifera) adalah komoditas utama penghasil kopra untuk diolah menjadi minyak nabati dari kawasan tropis. Setelah kebun sawit dibuka secara massal dan CPO (Crude Palm Oil) merajai pasar dunia, maka pamor kelapa langsung pudar. Agroindustri kelapa kemudian berkembang ke arah produksi santan, arang aktiv, serat sabut, gula semut, dan nata de coco. Sebenarnya, yang pamornya terkalahkan oleh sawit, bukan hanya kelapa, melainkan juga kacang tanah, dan bunga matahari, sebagai andalan minyak nabati kawasan sub tropis.

Produk minyak kelapa dihasilkan melalui beberapa cara. Produk massal, dihasilkan melalui kopra. Kopra adalah daging buah kelapa yang dikeringkan dengan penjemuran atau pengasapan. Di pabrik minyak kelapa, kopra digiling, dipres untuk diambil minyaknya. Minyak mentah ini dijernihkan dan dipanaskan sebelum dikemas untuk dipasarkan. Ampas kopra adalah bungkil kelapa sebagai pakan ternak. Masyarakat membuat minyak kelapa dengan cara memarut daging buah, memeras hingga diperoleh santan, lalu santan dipanaskan sampai menghasilkan minyak dan blondo. Bahan padat berupa protein ini diperlukan oleh restoran padang untuk bumbu rendang.

Ada pula pembuatan minyak kelapa secara tradisional dengan fermentasi parutan kelapa, penjemuran dan pengepresan sampai dihasilkan minyak. Namun semua upaya itu, tetap menghasilkan minyak yang lebih tinggi harganya dibanding minyak dari CPO. Hingga praktis, agroindustri minyak goreng dari bahan kelapa menjadi tidak feasible untuk dikerjakan oleh industri kecil. Bahkan industri besar pun, hanya memproduksi minyak kelapa dalam jumlah terbatas, sesuai permintaan pasar. Sebab meskipun pamor minyak kelapa sudah hancur, tetap ada industri yang mengharuskan penggunaan minyak kelapa, bukan minyak sawit.

# # #

Sejak harga minyak bumi makin hari semakin tinggi, ada upaya untuk memanfaatkan bahan nabati sebagai substitusi BBM. Salah satu bahan alternatif yang kondisinya paling siap untuk segera diolah menjadi BBM adalah CPO. Sebab dibanding minyak nabati lainnya, harga CPO masih tergolong paling murah. Di sini hukum penawaran dan permintaan berlaku. Karena permintaan CPO makin tinggi, sementara suplainya tetap, maka harga akan terus meninggi. Sebelum kenaikan harga BBM akhir tahun 2005, harga minyak goreng masih di bawah Rp 6.000,-  per kg. Beberapa minggu terakhir ini, harga minyak goreng sudah mencapai Rp 8.000,- per kg. di tingkat eceran, di kota-kota besar.

Selama ini pemilik pohon kelapa di sentra-sentra kelapa, lebih senang menjual produk mereka langsung di pohon. Artinya, pembeli akan memetik buah kelapa itu, lalu membayar langsung di kebun. Kisaran harga per butir berikut sabut, antara Rp 300,- sampai dengan Rp 500,- sangat tergantung dari lokasi pohon, dan kualitas serta ukuran kelapa. Harga rata-rata buah kelapa di tingkat petani, Rp 400,- per butir, di pohon. Harga kelapa butiran utuh ini, setelah dikupas, kemudian diparut di pasar tradisional di Jakarta, akan menjadi Rp 2.000,- per butir. Hingga ada kenaikan harga komoditas kelapa, sebesar 400%, untuk jarak yang tidak terlalu jauh. Misalnya dari Pandeglang ke Jakarta.

Di beberapa sentra kelapa yang berdekatan dengan kota besar di Jawa, harga satu butir kelapa bisa sekitar Rp 600,- di tingkat petani, sebelum dikupas (dibuang sabutnya). Bahkan harga kelapa mudanya, bisa mencapai Rp 1.000,- per butir, tanpa perlu dikupas. Namun di luar Jawa, misalnya di Kalimantan, Sulawesi dan di pulau-pulau kecil yang terpencil, harga kelapa bisa lebih rendah dari Rp 300,- per butir. Hingga nilai kelapa itu sebenarnya hampir nol. Karena tiap rupiah yang dibebankan terhadap kelapa, sebenarnya merupakan nilai tenaga kerja untuk memanjat, mengupas, dan mengangkut komoditas tersebut dari kebun ke lokasi angkutan.

Di lokasi-lokasi seperti ini, sebenarnya ada ketidakadilan nilai tukar komoditas. Rakyat hanya bisa menjual kelapa dengan harga kurang dari Rp 300,- per butir, tetapi harus membeli komoditas pabrikan, termasuk minyak goreng yang harganya mencapai Rp 15.000,- per kg. Tingginya harga minyak goreng di kawasan seperti ini, disebabkan oleh adanya tambahan beban ongkos angkut dan keuntungan bagi pedagang. Hingga menjadi absurd ketika pemilik kebun kelapa, menjual produknya seharga Rp 15.000,- (50 butir @ Rp 300,-), dan hasilnya untuk membeli minyak goreng 1 kg, senilai Rp 15.000,- Mengapa mereka tidak mau memproduksi minyak goreng sendiri?

# # #

Dari satu butir kelapa ukuran sedang, bisa dihasilkan 0,1 sd. 0,2 kg. minyak. Atau rata-rata, tiap 7 butir kelapa, akan dihasilkan 1 kg. minyak goreng. Kalau 1 butir kelapa bernilai Rp 300,- maka 7 butir harganya Rp 2.100,- Dengan nilai penyusutan alat, beban tenaga kerja dan keuntungan mencapai 2.900,- per kg. minyak, sebenarnya nilai minyak buatan lokal itu di tingkat produsen hanya Rp 5.000,- per kg. Dengan nilai tambah untuk tiap butir kelapa, mencapai lebih dari 100%. Kalau minyak kelapa itu dijual di pasar lokal seharga Rp 7.000,- ke konsumen, masih sangat bersaing, dibandingkan dengan harga minyak pabrikan yang mencapai Rp 15.000,- per  kg.

Dalam kondisi seperti ini, minyak goreng lokal ini bahkan bisa bersaing dengan minyak goreng pabrik, untuk dipasarkan di kota-kota besar terdekat. Kalau hal ini bisa dilakukan, maka ketimpangan nilai tukar komoditas pertanian dengan produk pabrikan, bisa sedikit diseimbangkan. Nilai tambah produk kelapa itu, bisa menjadi pendapatan bagi tenaga pengupas. Sebab pengupasan kelapa, baik pengupasan sabut maupun tempurung, selalu dilakukan secara manual, di kota besar sekali pun. Pemarutan dilakukan dengan mesin pemarut bertenaga bensin. Namun ada pula alat pemarut yang digerakkan secara manual dengan pedal.

Hingga satu alat dioperasikan dua orang. Yang satu mengayuh pedal mesin, satunya lagi memasukkan daging buah kelapa ke dalam pemarut. Selama ini, di sentra-sentra kelapa, sabut dan tempurung terbuang sia-sia. Padahal energi ini terutama sabutnya, masih bisa dibakar dalam proses pengolahan minyak. Terutama dalam pembuatan minyak dengan teknik perebusan santan. Tempurungnya masih bisa dibuat arang, dengan nilai tambah yang cukup menarik bagi petani. Namun dengan mengabaikan nilai tempurung pun, sebenarnya membuat minyak goreng di sentra-sentra kelapa yang terpencil, relatif menguntungkan sekarang ini.

Selama ini, agroindustri minyak goreng skala rumah tangga, paling banyak dilakukan dengan teknik perebusan santan. Berarti, ada biaya untuk proses menjadikan parutan kelapa menjadi santan, melalui penambahan air. Kemudian air ini diuapkan dengan pemasakan. Hingga ada dua pekerjaan yang sia-sia. Air ditambahkan dalam proses penyantanan, namun tidak lama kemudian diuapkan dalam proses mengubah santan menjadi minyak. Proses ini bisa dipotong dengan  agroindustri minyak menggunakan ragi yuyu (ketam/kepiting sawah = Paratelphusa). Fungsi ketam sawah sebenarnya hanyalah untuk starter awal. Untuk proses selanjutnya, cukup menggunakan bahan yang telah terfermentasi.

# # #

Dalam teknik fermentasi ini, hasil parutan tidak dijadikan santan, melainkan diberi ragi (starter) yuyu. Dua atau tiga ekor yuyu ukuran sedang dihancurkan dengan cara ditumbuk, diuleg atau diblender, lalu diperas airnya. Ampasnya dibuang. Air perasan yuyu inilah yang dicampurkan ke dalam parutan dua atau tiga butir kelapa. Setelah air perasan yuyu tercampur sempurna, parutan kelapa ditaruh dalam panci atau wadah lain, ditutup dengan kain lalu dibiarkan selama 24 jam (sehari semalam). Hasilnya, parutan kelapa itu akan berubah menjadi pasta. Pasta dari dua atau tiga butir kelapa ini bisa untuk ragi fermentasi bagi 20 sd. 30 butir kelapa (10% ragi).

Hasil fermntasi kembali diambil 10% untuk digunakan sebagai ragi dalam proses berikutnya. Demikian seterusnya, hingga yuyu diperlukan hanya pada proses awal. Pasta bahan minyak, dijemur dengan alas plastik, sampai airnya hilang. Penjemuran di bawah terik matahari penuh, akan makan waktu dua sampai tiga hari. Tanda adonan sudah tidak mengandung air adalah, seluruh bagian pasta berubah dari warna putih menjadi kecokelatan.    Pasta yang sudah tidak mengandung air, dipres dengan alat pres kayu yang ditekan dengan pasak, atau alat pres besi yang ditekan dengan uliran (baut beroda yang diputar). Hasilnya berupa ampas dan minyak kelapa yang jernih (putih).

Minyak ini masih harus dipanaskan untuk menghilangkan aflatoksin dan sisa air yang masih tersisa. Selain rendemennya lebih tinggi, pembuatan minyak kelapa dengan ragi yuyu ini juga hemat energi. Sebab prosesnya tidak menggunakan air (untuk penyantanan) dan tidak melalui pemasakan dalam jangka waktu lama. Minyak kelentik memerlukan pemasakan santan dan gumpalan minyak + blendo dalam jangka waktu lama (1 sd. 2 jam). Dalam proses ini, penghilangan air dilakukan melalui penjemuran. Pemanasan minyak dalam tahap akhir, hanyalah dilakukan sekitar 5 sd. 10 menit untuk menuakan minyak hasil fermentasi. Hasil akhir bisa dipasarkan berupa minyak goreng kemasan maupun curah. (R) # # #

POTENSI KELINCI SEBAGAI SUBSTITUSI AYAM

Merebaknya flu burung belakangan ini, telah mengakibatkan konsumen daging ayam was-was. Peternak ayam broiler banyak yang kolaps. Alternatif pengganti ayam broiler paling dekat adalah ayam kampung. Selain rasa dagingnya lebih lezat, ayam kampung juga diisukan tahan terhadap flu burung. Ternyata secara teknis ayam kampung, tidak mungkin dimasalkan. Sebab dengan dimasalkan, biaya pakan dan perawatan, tidak sebanding dengan pertumbuhan dagingnya. Dengan dimasalkan, ayam kampung juga menjadi rentan penyakit unggas, termasuk flu burung.

Alternatif unggas pengganti ayam broiler memang masih banyak, antara lain itik pedaging, itik manila, kalkun, angsa, merpati potong, dan puyuh. Namun semua itu masih jenis unggas, yang juga potensial terserang flu burung. Meskipun itik, entok dan angsa yang diliarkan relatif tahan terhadap pengakit unggas, namun mereka tetap bisa menjadi fektor (pembawa/penular) tanpa menjadi sakit. Ini justru lebih berahaya dibanding dengan unggas yang terserang flu burung dan langsung mati. Hingga pada prinsipnya, semua unggas, baik yang petelur, pedaging maupun pets (hewan piaraan), potensial tertular flu burung.

Mamalia yang dagingnya mendekati daging ayam, dan secara teknis bisa diternakkan secara massal adalah kelinci. Meskipun di beberapa negara, misalnya di Australia, kelinci telah menjadi hama yang sangat merugikan peternakan maupun pertanian. Jauh sebelum merebaknya flu burung, sejak sekitar satu dekade terakhir, peternakan kelinci di Bogor dan Bandung, Jawa Barat, telah berkembang cukup pesat. Sebab konsumen daging kelinci, terutama untuk keperluan diet dan dan penyembuhan penyakit, telah tumbuh dengan cukup baik. Selain berupa karkas, daging kelinci di Bogor dan Bandung sudah diolah menjadi nugets dan sosis rendah kolesterol.

# # #

Kelinci adalah hewan keluarga Leporidae, ordo Lagomorpha, kelas Mamalia. Dalam keluarga Leporidae, dibedakan rabbit (delapan genera) dan hare (genus Lepus, 33 genera). Di Indonesia, rabbit dan hare sama-sama disebut kelinci. Delapan genera rabbit adalah Genus Pentalagus (Amami Rabbit, Ryūkyū Rabbit, Pentalagus furnessi); Genus Bunolagus (Bushman Rabbit, Bunolagus monticularis); Genus Nesolagus (Sumatra Short-Eared Rabbit, Nesolagus netscheri; Annamite Rabbit, Nesolagus timminsi); Genus Romerolagus (Volcano Rabbit, Romerolagus diazi); Brachylagus (Pygmy Rabbit, Brachylagus idahoensis); Genus Oryctolagus (European Rabbit, Oryctolagus cuniculus); Genus Poelagus (Central African Rabbit, Poelagus marjorita).

Genus rabbit yang paling banyak anggotanya adalah Sylvilagus, yang terdiri dari 13 spesies: 1. Forest Rabbit, (Sylvilagus brasiliensis); 2. Dice’s Cottontail, (Sylvilagus dicei); 3. Brush Rabbit, (Sylvilagus bachmani), 4. San Jose Brush Rabbit, (Sylvilagus mansuetus); 5. Swamp Rabbit, (Sylvilagus aquaticus); 6. Marsh Rabbit, (Sylvilagus palustris); 7. Eastern Cottontail, (Sylvilagus floridanus); 8. New England Cottontail, (Sylvilagus transitionalis); 9. Mountain Cottontail, (Sylvilagus nuttallii); 10. Desert Cottontail, (Sylvilagus audubonii);  11. Omilteme Cottontail, (Sylvilagus insonus); 12. Mexican Cottontail, (Sylvilagus cunicularis); 13. Tres Marias Rabbit, (Sylvilagus graysoni).

Hare yang juga sering disebut jackrabbits, hanya terdiri dari 1 genus Lepus, dengan 10 sub genus dan 32 spesies. 1. Subgenus Macrotolagus (Antelope Jackrabbit Lepus alleni); 2. Subgenus Poecilolagus (Snowshoe Hare Lepus americanus); 3. Subgenus Lepus (Arctic Hare Lepus arcticus); Alaskan Hare Lepus othus, Mountain Hare Lepus timidus); 4. Subgenus Proeulagus (Black-tailed Jackrabbit Lepus californicus, White-sided Jackrabbit Lepus callotis, Cape Hare Lepus capensis, Tehuantepec Jackrabbit Lepus flavigularis, Black Jackrabbit Lepus insularis, Scrub Hare Lepus saxatilis, Desert Hare Lepus tibetanus, Tolai Hare Lepus tolai).

5. Subgenus Eulagos (Broom Hare, Lepus castroviejoi, Yunnan Hare, Lepus comus, Korean Hare Lepus coreanus, Corsican Hare Lepus corsicanus, European Hare Lepus europaeus, Granada Hare Lepus granatensis, Manchurian Hare Lepus mandschuricus, Woolly Hare Lepus oiostolus, Ethiopian Highland Hare Lepus starcki, White-tailed Jackrabbit Lepus townsendii); 6. Subgenus Sabanalagus  (Ethiopian Hare Lepus fagani, African Savanna Hare Lepus microtis); 7. Subgenus Indolagus (Hainan Hare Lepus hainanus, Indian Hare Lepus nigricollis, Burmese Hare Lepus peguensis);  8. Subgenus Sinolagus (Chinese Hare Lepus sinensis); 9. Subgenus Tarimolagus (Yarkand Hare, Lepus yarkandensis); 10. Subgenus incertae sedis (Japanese Hare, Lepus brachyurus, Abyssinian Hare, Lepus habessinicus).

# # #

Perbedaan utama antara rabbit dan hare adalah, rabbit beranak dalam lubang. Ketika beranak, induk rabbit merontokkan bulunya, untuk alas bagi anak-anaknya yang baru lahir. Anak rabbit lahir tanpa bulu, dengan mata masih tertutup, seperti halnya anak tikus. Sedangkan hare tidak membuat lubang, melainkan hanya bersarang di semak belukar. Meskipun untuk melindungi diri dari binatang buas dan terutama dari cuaca, hare juga berlindung pada lubang-lubang dangkal. Anak hare lahir sudah lengkap dengan bulu dan mata terbuka, serta langsung bisa berlari-lari, seperti halnya anak marmut. Hare jarang dibudidayakan. Kelinci budidaya yang kita kenal sekarang, selalu berasal dari genus rabbit, bukan genus hare.

Kelinci asli Indonesia adalah Genus Nesolagus, yang disebut Sumatran Striped Rabbit, atau Sumatra Short-Eared Rabbit (Nesolagus netscheri). Kondisi kelinci  asli  kita  ini  sangat  mengkhawatirkan, yakni  dalam status  Critically  endangered menurut The World Conservation Union atau International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN). Jenis kelinci ini endemik di hutan-hutan di sepanjang Bukit Barisan, di pulau Sumatera. Genus Nesolagus, terdiri dari hanya dua spesies. Selain kelinci Sumatera, baru-baru ini juga diketemukan kelinci Annamite Striped Rabbit (Nesolagus timminsi) di pegunungan Annamite di perbatasan Laos dengan Vietnam. Dua spesies kelinci dari genus Nesolagus ini sama-sama terancam kepunahan.

Kelinci yang banyak dibudidayakan di Indonesia, adalah keturunan kelinci budidaya dari Eropa. Terutama spesies European Rabbit dan  Netherland dwarf rabbit serta hibridanya. Di pedesaan di Jawa, keljnci dipelihara di sekitar dapur dan kandang sapi, kambing serta domba. Kalau beranak, kelinci betina akan membuat lubang di lantai tanah, kemudian anak dan induknya baru akan keluar kalau bulu sudah tumbuh dan mata sudah terbuka. Makanan kelinci sama dengan sapi, kambing dan domba, yakni rumput dan daun-daunan, terutama limbah pertanian. Sekali beranak kelinci melahirkan antara 4 sampai dengan 8 ekor anak.

Pada peternakan yang lebih modern, kelinci diberi kandang berlantai bilah bambu atau kawat kasa. Untuk tempat beranak, dibuatkan kotak sarang dengan lubang yang pas dengan badan induk betina. Kelinci yang diternak secara intensif ini, umumnya diberi pakan limbah pertanian, khususnya sayuran. Kelinci tidak boleh diberi pelet pkan unggas atau hewan ruminansia. Sebab kelinci sangat peka dengan tepung ikan dan bungkil yang terkandung dalam pakan tersebut. Bahkan kelinci juga tidak bisa diberi pakan kacang-kacangan, karena akan mengakibatkan kesehatannya terganggu. Hingga pakan kelinci hanyalah daun-daunan, rumput dan biji-bijian dari serealia (gabah, jagung, jelai, sorgum dll.)

# # #

Peternakan kelinci telah berkembang dengan berbagai tujuan. Selain untuk dimanfaatkan dagingnya, kelinci juga merupakan penghasil kulit dan bulu, terutama jenis kelinci berbulu panjang. Kelinci juga banyak dibudidayakan di kebun jeruk, karena kotoran kelinci merupakan pupuk kandang paling baik untuk komoditas jeruk. Namun kelinci juga berkembang menjadi hewan piaraan (pets). Fungsi kelinci yang terakhir inilah yang mengakibatkan upaya pengembangan sebagai penghasil daging mengalami hambatan. Wajah kelinci yang lucu dan imut itu, mengakibatkan konsumen sulit untuk menerimanya sebagai hewan yang harus dipotong untuk dikonsumsi dagingnya.

Meskipun di beberapa kawasan, pemeliharaan dan konsumsi sate kelinci sudah berkembang cukup lama. Misalnya di Bandungan (Semarang), Kaliurang (Yogyakarta) dan Tawangmangu (Surakarta). Di Lembang, Bandung, yang merupakan sentra peternakan kelinci paling maju, pertumbuhan warung sate kelinci justru tidak sepesat di Bandungan dan Tawangmangu. Meskipun di Bandung, justru sudah dirintis pengembangan nugets dan sosis daging kelinci. Bagi mereka yang ingin diet kolesterol, daging kelinci bisa menjadi salah satu alternatif, sebagai pengganti daging ayam. Lemak yang terkandung dalam daging kelinci, bahkan lebih rendah dibanding dengan lemak dalam daging ayam broiler.

Kelinci juga memiliki kelebihan dibanding dengan unggas. Sebab hewan ini cukup diberi pakan rumput, daun-daunan dan hijauan limbah pertanian. Misalnya tebon jagung, batang ubi jalar, kacang tanah, daun singkong, dan lain-lain. Kulit singkong, kulit jagung dan kulit pisang, juga sangat disukai kelinci. Di sentra penghasil sayuran, daun kol yang tua dan berwarna hijau, baik kol bunga maupun kol biasa, sangat disukai oleh kelinci. Di kota-kota besar seperti Jakarta, pakan kelinci bisa diperoleh dari limbah pasar berupa sisa-sisa kulit jagung, daun caisim tua, daun kol bunga dll. Selain itu, dari pedagang pisang goreng pun, kita juga bisa memanfaatkan kulit pisangnya sebagai bahan pakan yang disenangi kelinci. (R) # # #

PROSPEK AGROINDUSTRI KERIPIK PISANG

Keripik pisang adalah makanan ringan yang paling banyak diproduksi dan diperdagangkan di Indonesia. Hal ini bisa dimaklumi, karena pisang juga merupakan buah yang paling banyak dibudidayakan dan dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Selain itu, pisang juga merupakan buah tanpa musim. Hingga agroindustri keripik pisang bisa berlangsung sepanjang tahun tanpa berhenti. Meskipun pada musim kemarau, produksi pisang tidak sebanyak pada musim penghujan, hingga para perajin keripik sering kesulitan bahan baku.

Bahan keripik adalah pisang ambon dan kepok kuning. Sebab dua jenis pisang ini paling mudah dijumpai di pasaran. Dan dua jenis pisang ini, juga akan menghasilkan keripik dengan kualitas terbaik. Ambon kuning, selama ini merupakan pisang favorit sebagai buah meja. Sementara kepok kuning paling banyak diminati sebagai pisang goreng. Hingga agroindustri keripik pisang, harus berebut bahan baku ambon kuning dengan pasar buah segar, serta kepok kuning dengan pedagang pisang goreng.

Pisang tanduk, sebenarnya juga bisa menjadi bahan keripik dengan kualitas cukup baik. Namun ukurannya terlalu besar, dan nilai pisang segarnya juga cukup tinggi, hingga harga keripiknya akan menjadi terlalu mahal. Pisang raja sereh dan raja bulu, sebenarnya juga akan menghasilkan keripik dengan kualitas cukup baik. Namun ketersediaan dua pisang ini sangat terbatas. Untuk pasar segar pun masih kurang, apalagi untuk keripik. Pisang kepok putih, sebenarnya tersedia dalam volume melimpah, namun kualitas keripiknya kurang bagus.

# # #

Yang juga tersedia melimpah adalah pisang cavendish. Sebab baru pisang jenis inilah yang sudah dikebunkan secara massal. Ketika suplai ambon dan kepok kuning kurang, maka perajin keripik banyak yang lari ke cavendish. Sebab tidak ada alternatif lain. Kelemahan cavendish adalah, rasanya sedikit masam, dan kadar patinya tidak sebaik ambon maupun kepok kuning. Hingga ketika digoreng susutnya terlalu banyak. Karena rasanya sedikit masam, maka hasil keripiknya pun juga agak masam.

Para perajin menyiasati masamnya keripik cavendish, dengan memberi gula serta tambahan rasa lainnya. Namun ketika bahan baku ambon dan kepok kuning tersedia, maka perajin akan menolak pisang cavendish. Kepok kuning, akan menghasilkan keripik ukuran kecil, sementara ambon kuning menjadi keripik standar. Ketersediaan kepok kuning, sebenarnya juga lebih kecil dibanding ambon kuning. Hingga keripik pisang yang beredar di pasar, kebanyakan berbahan baku ambon kuning.

Pisang untuk bahan baku keripik, harus memenuhi syarat ketuaan. Pisang yang masih agak muda, memang tetap bisa diperam hingga masak dan laku dijual sebagai buah segar. Tetapi pisang muda tidak mungkin untuk dijadikan keripik. Selain susutnya akan terlalu banyak, rasa keripik juga sedikit sepet (kelat). Hingga bahan baku keripik haruslah pisang yang benar-benar tua, dengan tingkat kemasakan 80%. Karenanya, harga pisang sebagai bahan baku keripik, sering lebih tinggi dibanding pisang untuk buah meja.

Karena menuntut spesifikasi khusus, maka pemasok pisang untuk agroindustri keripik, beda dengan pedagang pisang segar untuk pasar induk, atau industri pemeraman di Ciawi dan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Para pedagang pisang segar di Lampung, selama ini mengumpulkan dan mengirim pisang “rames” ke Jakarta. Yang disebut pisang rames adalah aneka macam varietas pisang, dengan aneka macam grade. Sementara pemasok agroindustri keripik, dituntut untuk mengumpulkan dan mengirim pisang yang homogen.

# # #

Bandar pisang dari Lampung, umumnya mengirim pisang rames ke Jakarta. Sementara pedagang dari Bengkulu, seringkali mendapatkan pisang yang homogen. Biasanya kepok kuning. Sesampai di bandar pisang di Lampung, pisang dari Bengkulu yang sudah homogen itu akan kembali dicampur dengan aneka pisang lain, hingga menjadi pisang rames. Sebab pedagang pasar induk Cibitung, tidak mau menerima pisang yang homogen. Atau membayarnya dengan harga lebih rendah dari pisang rames.

Dengan kondisi pasar bahan baku seperti ini, para perajin keripik terpaksa harus mencari bahan baku sendiri, atau menjalin hubungan baik dengan para pemasok khusus. Para perajin dan pemasok khusus ini, akan mencari bahan baku langsung di petani, atau menyeleksi pisang rames yang sudah berada di tangan bandar. Pola kerja seperti ini, juga ikut berpengaruh terhadap tingginya harga bahan baku keripik, dibanding dengan pisang segar yang akan diperam sampai masak menjadi buah meja.

Sesampai di tangan perajin, pisang bahan baku keripik ini dionggokkan di ruang terbuka, berupa tandanan. Setiap hari pasti ada pisang yang masuk ke perajin keripik. Pisang-pisang ini diseleksi, untuk memperoleh pisang dengan tingkat kemasakan yang tepat, yakni “setengah masak”. Ciri pisang setengah masak adalah, kulit sudah agak empuk, tetapi daging buahnya masih keras, dan rasanya belum manis. Pisang setengah masak seperti mudah dikupas dengan tangan tanpa bantuan pisau dan alat lainnya.

Karena pisang yang sampai ke tangan perajin berasal dari berbagai petani, maka ukuran tandan, sisir, buah, dan juga tingkat ketuaannya tidak seragam. Karyawan perajin keripik akan meng “grade” pisang-pisang yang masuk, sesuai dengan tingkat ketuaan dan kemasakannya. Ada yang bisa langsung diproses hari itu juga. Ada yang perlu waktu satu dua hari, ada yang  sampai beberapa hari untuk menunggu menjadi setengah masak. Hingga pisang yang datang, tidak semuanya bisa diolah hari itu juga.

# # #

Proses pembuatan keripik pisang terdiri dari tahap pengupasan, pengirisan dan penggorengan. Tiga tahap ini harus dilakukan secara simultan dan dalam waktu pendek. Kalau antara tahap pegupasan, pengirisan dan penggorengan, jarak waktunya terlalu lama, maka ada kemungkinan irisan pisang yang belum tergoreng, akan mengalami oksidasi hingga menjadi cokelat. Terlebih, kalau pisang itu masih mentah, maka begitu dikupas, akan langsung teroksidasi. Pisang yang sudah setengah masak, tidak teroksidasi dengan mudah.

Hingga para perajang harus mengupas satu-per satu pisang setengah masak yang ada di samping mereka, dan begitu terkupas, langsung dirajang menggunakan alat perajang manual. Irisan pisang yang jatuh ke dalam wadah, langsung dimasukkan ke dalam wajan untuk digoreng sampai kering. Pengirisan pisang ini memerlukan keterampilan tersendiri. Baik keterampilan memilih pisang dengan tingkat kemasakan yang tepat, maupun keterampilan mengoperasikan alat perajang.

Kadang dalam satu sisir pisang, masih ada yang terlalu keras dan susah dikupas. Pisang demikian akan dilewatkan, untuk diiris setelah benar-benar mencapai tingkatan setengah masak. Kedua, para perajang pisang harus terampil menggerakkan pisang yang sudah dikupas di atas serutan, hingga secara kuantitas menghasilkan irisan cukup banyak, tetapi secara kualitas irisan tersebut juga cukup rapi. Hanya dengan berlatih beberapa hari, para perajang sudah cukup terampil mengiris pisang.

Alat perajang dalam industri keripik adalah serutan berupa papan kayu yang ditaruh terlentang, dan pisang digerakkan membujur berulangkali di atas pisau yang terpasang pada papan tersebut. Pisang akan teriris dengan tingkat ketipisan sama. Perajang pisang dalam agroindustri keripik, umumnya perempuan, dan selalu mengenakan sarung tangan. Guna sarung tangan untuk menghindari luka terkena pisau, menjaga agar hasil irisan higienis, juga guna melindungi tangan dari getah pisang.

# # #

Ada tiga metode pengeringan buah, hingga menjadi keripik. Pertama dengan menggoreng biasa menggunakan minyak panas. Kedua dengan menggoreng, sekaligus menyedot uap air yang keluar dari minyak (hot vacum). Ketiga, dengan mendinginkan sampai mendekati 0o C, dan menyedot uap air yang keluar dari buah (cold vacum). Alat untuk proses cold vacum harganya paling tinggi. Hingga di Indonesia masih jarang kita jumpai agroindustri keripik buah dengan peralatan cold vacum.

Agroindustri keripik pisang di Indonesia, umumnya masih menggunakan proses penggorengan biasa, dengan kompor minyak maupun briket batubara. Ada juga yang masih memanfaatkan tungku berbahan bakar kayu dan sekam. Proses penggorengan dilakukan dengan sangat cepat untuk menghindari hangus. Keripik yang telah kering, ditiriskan, untuk dikemas, atau diproses lebih lanjut dengan pemberian cokelat, keju, atau gula. Baru kemudian keripik dikemas dalam kaleng atau plastik.

Sentra terbesar agroindustri keripik pisang, berada di Lampung. Namun agroindustri ini sudah merata di mana-mana. Ada beberapa kategori rasa keripik pisang, yakni tawar, asin, manis, cokelat, dan keju. Komoditas pisang, memang berpotensi menjadi bahan baku aneka makanan. Mulai dari keripik, sale basah (asap), sale kering (goreng), sampai ke ledre. Ledre adalah pisang raja masak yang dihancurkan dan dioleskan tipis-tipis ke pemanggang panas lalu digulung. Hasilnya adalah crackers yang disebut ledre. (R) # # #

MEMBANGUN AGROINDUSTRI JAMUR MERANG

Kalau kita menyebut agroindustri jamur merang, maka asosiasi masyarakat awam adalah, kegiatan produksi jamur dengan bahan baku jerami padi. Soal pemasaran menjadi nomor dua. Padahal, agroindustri jamur merang, sebenarnya tidak sekadar memproduksi jerami menjadi jamur. Agroindustri, merupakan satu rangkaian kegiatan mulai dari survei pasar, perencanaan, pencarian modal, produksi, pasca panen, pengemasan, distribusi, dan kegiatan administrasi. Seluruh rangkaian kegiatan inilah yang disebut sebagai agroindustri jamur merang. Kalau seseorang hanya berproduksi, sementara yang menampung dan menjual orang lain, maka kegiatan itu barulah kegiatan produksi.

Yang disebut survei pasar, adalah kegiatan untuk mendeteksi pasar secara acak tetapi detil. Apakah peluang untuk menjual masih terbuka, atau sudah tertutup? Kalau masih terbuka, apakah pasar itu merupakan pasar lama yang kekurangan pasokan, harus membuka pasar yang 100% baru, atau kombinasi antara keduanya? Untuk agroindustri skala menengah dan besar, membuka pasar baru mutlak diperlukan. Sebab pasar yang sudah ada, meskipun tampaknya masih ada peluang, sebenarnya angka riilnya terlalu kecil. Yang disebut pasar adalah, warung kakilima, pedagang sayuran keliling, pasar tradisional, pasar swalayan, pedagang mie bakso keliling, restoran, asrama, rumahsakit, perusahaan catering, dan industri makanan kemasan. Mereka semua bisa dikelompokkan menjadi pasar terbuka, pasar tertutup dan kombinasi keduanya.

Meskipun bahan bakunya berasal dari jerami, hasil produksinya disebut jamur merang. Mengapa bukan jamur jerami? Sebab dulunya, jerami padi lokal tidak pernah diambil (dibabat) ketika memanen padi. Padi lokal dipanen dengan ani-ani (ketam padi), dan yang dituai hanya tangkai dan malai padinya, sementara jeraminya ditinggal di sawah. Setelah gabahnya dirontokkan, maka tinggalah tangkai padi dan malai kosong yang disebut merang. Bahan inilah yang pada awalnya digunakan sebagai bahan untuk memproduksi jamur, hingga hasilnya disebut jamur merang. Sekarang, memanen padi selalu dilakukan dengan cara dibabat batang (jeraminya). Jarami inilah yang kemudian digunakan untuk media tanam jamur merang. Meskipun bahan bakunya sudah bukan merang lagi, nama jamur merang tetap melekat pada jenis jamur ini.

# # #

 Yang disebut jamur merang adalah spesis Volvariella volvacea dengan nama sinonim Volvaria volvacea, Agaricus volvaceus, Amanita virgata, dan Vaginata virgata. Spesies lainnya adalah Volvariella gloiocephala; Volvariella hypopithys; dan  Volvariella speciosa. Tiga spesies genus Volvariella ini banyak dijumpai tumbuh liar di ladang-ladang pada awal musim penghujan. Masyarakat sering menyebutnya sebagai jamur barat atau jamur payung. Disebut jamur barat karena tumbuh pada saat angin musim barat, dan dinamakan jamur payung karena bentuk tudungnya mirip dengan payung yang sedang terbuka. Masyarakat biasa mengambil jamur barat ini untuk dimasak sup atau dipepes. Di jalan raya Sumedang – Jatinangor, Jawa Barat, antara bulan Desember sd. Maret biasa dijumpai penduduk yang berdiri di pinggir jalan sambil menawarkan jamur ini. Demikian pula halnya dengan di beberapa lokasi di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Di antara empat spesies Volvariella, yang dibudidayakan secara luas di seluruh kawasan tropis di dunia barulah jamur merang. Produksi jamur merang, sama pentingnya dengan produksi jamur kancing, button mushroom, table mushroom, white mushroom, common mushroom, cultivated mushroom, atau  champignon (Agaricus bisporus). Jamur shitake, chinese black mashroom, (Lentinus edodes), meski juga populer, namun produksinya tidak sebanyak jamur merang maupun jamur kancing. Kalau jamur kancing dan shitake diproduksi terutama di kawasan sub tropis, maka jamur merang adalah produk kawasan tropis. Meskipun dengan teknologi seeperti sekarang ini, memproduksi jamur merang di negara beriklim dingin, atau sebaliknya budidaya shitake dan champignon di negeri tropis sangat dimungkinkan.

Jamur merang juga disebut straw mushroom,  paddy straw mushroom. Di Indonesia, jamur merang jauh lebih populer dan akrab di masyarakat, dibanding dengan jamur kancing atau shitake, jamur kuping   (Auricularia auriculajudae; A. delicata Hennings; A. polytricha), jamur kuping putih (Tremella fuciformis), jamur tiram (Pleurotus ostreatus), dan jamur maitake (Grifola frondosa). Bahkan jamur tiram yang berwarna putih bersih dan berpenampilan cukup menarik itu, ketika dijajakan di pasar tradisional sama sekali tidak diminati konsumen. Masyarakat bahkan takut untuk memegang sekali pun. Beda dengan jamur merang yang sejak awal memang sudah sangat memasyarakat. Meskipun budidaya jamur merang secara serius, baru dilakukan oleh masyarakat sejak tahun 1980an.

Padahal, kalau dilihat dari penampilan fisiknya, jamur tiram lebih mirip dengan jamur payung, dibanding dengan jamur merang. Sebab jamur merang selalu dipasarkan dalam keadaan masih kuncup. Namun secara psikologis, masyarakat awam memang lebih bisa menerima jamur merang dibanding dengan jamur-jamur lain, terlebih dengan jamur kuping. Meskipun dalam menu-menu di restoran dan hotel, sup jamur kuping sudah biasa disajikan, dan bisa diterima dengan baik oleh lidah konsumennya. Namun memang ada perbedaan antara hidangan yang sudah siap santap, dengan bahan mentah yang masih ada di pasar. Ketika melihat sosok jamur kuping sudah berada dalam sup di restoran atau hotel bintang, seorang ibu rumah tangga akan denganlahap menyantapnya. Beda dengan ketika menghadapi jamur kuping segar yang ada di pasar.

# # #

groindustri jamur merang harus diawali dengan survei pasar. Survei pasar ini harus menyebutkan, berapa konkritnya kebutuhan per hari, berapa harganya dan bagaimana cara membayarnya. Misalnya, pasar hanya menghendaki jamur merang segar dengan volume 50 kg per hari, pasokan tiap hari, dengan pola pembayaran pasar swalayan. Sejak penanaman, panen perdana dilakukan pada hari ke 12, selanjutnya akan dilakukan 4 X panen dengan interval 1 minggu. Persiapan membangun kumbung, mengumpulkan jerami, pengomposan, pasteurisasi dll. sekitar 15 hari. Hingga panen perdana, akan terjadi sekitar 1 bulan sejak awal persiapan. Karena umur panen per media hanya 1 bulan dengan masa panen 4 X (1 minggi 1 X), dan dengan persiapan sekitar 1 bulan, maka paling sedikit diperlukan 8 tumpukan media, dengan umur yang berbeda.

Kalau satu kumbung hanya layak berisi 4 tumpukan (rak), maka untuk 8 tumpukan media itu paling sedikit diperlukan 2 kumbung. Karena tiap 100 kg. media diharapkan akan mampu menghasilkan sekitar 40 kg jamur segar (4 X panen), maka untuk bisa memanen 50 jamur per hari secara berkelanjutan, diperlukan media sebanyak 125 kg. X 8 = 1 ton media tanam, yang ditaruh dalam 2 kumbung dengan masing-masing 4 lapis media. Agar produksi terus berkelanjutan, diperlukan Kebutuhan benih jamur untuk 1 ton adalah 60 kg. Penebaran benih, dilakukan per petakan media seberat 0,5 ton setiap hari, hingga pada hari ke 12 sudah bisa mulai dipanen sebanyak  50 kg. jamur segar. Total kebutuhan media, sebanyak 7 ton, dengan kumbung 14. Penanaman dilakukan terus sampai dengan hari ke 33 ketika petak I pada kumbung I dibongkar, untuk ditebari media baru.

Kebutuhan modal kemudian harus dihitung, sesuai dengan kebutuhan riil pada saat melakukan investasi. Karena pola pembayaran model pasar swalayan menuntut pasokan tiap hari, sementara penagihan baru bisa dilakukan setelah 7 kali memasok, proses administrasi 1 minggu, kemudian dibayar dengan giro mundur selama paling cepat 1 minggu, maka seorang pengusaha agroindustri jamur merang, harus memiliki modal paling sedikit untuk berproduksi selama 1 bulan. Kalau persiapan produksi sendiri sudah makan waktu 1 bulan, maka ia harus sudah melakukan investasi sejak dua bulan sebelum hasil panennya menjadi uang cash. Yang dimaksudkan dengan biaya bukan sekadar investasi kumbung, peralatan, benih dan media, melainkan juga tenaga kerja selama 2 bulan penuh. Perhitungan ini harus tepat, sebab kalau panen lebih banyak dari permintaan, maka hasilnya tidak akan terjual.

# # #

Dalam prektek, diperlukan kalkulasi yang lebih terinci, untuk menghitung aliran kas (cash flow), perhitungan rugi laba, serta kebutuhan riil modal. Kalau modal itu berupa pinjaman, maka diperlukan pula perhitungan suku bunga, grace period serta masa pengembalian. Untuk mempermudah, awal melangkah, lebih ideal kalau seseorang mengikuti pola tanam yang telah dilakukan oleh petani lain. Pasarnya pun mengikuti pola pemasaran yang telah dilakukan oleh petani terdahulu. Dengan cara itu seseorang tidak akan mengalami kerugian yang cukup besar. Sebab dengan mengikutipola yang sudah ada, ibaratnya seorang penerjun payung ikut terjun “tandem”. Resiko awal ini menjadi sangat kecil, karena kita digendong oleh penerjun yang sudah sangat berpengalaman.

Pola agroindustri jamur merang memang harus dirancang dengan cermat, sebab hasilnya akan dipasarkan segar. Kecuali, agroindustri ini dirancang untuk dikalengkan, atau dikeringkan. Ini pun diperlukan sebuah perencanaan yang cermat pula. Sebab kapasitas penanaman, juga tetapharus disesuaikan dengan kapasitas penanganan raw material, pengalengan dan pemasarannya. Untungnya, kalau kita akan memasarkan dalam bentuk kalengan, hasil panen itu bisa disimpan lama tanpa takut mengalami kerusakan. Kalau kita memasarkan jamur segar, maka terlambat petik atau terlalu cepat, hasilnya akan rugi. Kalau panen lebih banyak dari permintaan, hasilnya akan terbuang. Kalau hasil panen kurang dari permintaan, kita akan diomeli konsumen. (R) # # #

PARE SEBAGAI SAYURAN PENDERITA DIABET

Pare pahit, paria pahit, parai pahit, (bitter melon, bitter gourd, balsam pear, balsam apple; Momordica charantia); adalah sayuran terpahit setelah daun pepaya. Rasa pahit ini disebabkan oleh adanya kandungan zat quinine yang cukup tinggi pada pare. Itulah sebabnya di Columbia dan Panama, sayuran ini digunakan sebagai bahan obat tradisional melawan malaria. Hal yang sama juga terjadi pada daun pepaya pada masyarakat Papua. Selama ini zat quinine sebagai obat malaria, diekstrak dari kulit batang pohon kina (Cinchona ledgeriana), atau sintetis organiknya. Meskipun obat malaria sudah banyak dijual dengan harga sangat murah, namun masih ada saja masyarakat yang memanfaatkan pare sebagai obat malaria.

Namun sebenarnya khasiat pare masih cukup banyak. Di India dan Filipina, pare justru dimanfaatkan untuk obat diabetes. Hingga di India, pare juga disebut sebagai “plant-insuline”. Khasiat pare sebagai penyeimbang gula darah ini malahan juga diakui oleh dunia medis barat. Hingga para dokter menganjurkan agar para penderita diabetes, mengkonsumsi pare secara periodik dan teratur. Di RRC, pare juga digunakan untuk berbagai penyakit. Bahkan dunia farmasi modern berharap agar suatu ketika pare juga bisa berfungsi mengatasi infeksi virus HIV yang mengakibatkan penyakit AIDS. Meskipun realisasi ke arah sana masih agak jauh, namun pemanfaatan pare sebagai sayuran sehat, sudah disadari oleh masyarakat kita.

Pemanfaatan pare sebagai menus sehat ini, antara lain dilakukan dengan secara rutin meminum jusnya. Pare segar dipotong ujung dan pangkalnya, dibelah, dibuang bagian tengahnya yang berbiji, dicuci, dipotong-potong dan kemudian diblender dengan diberi sedikit air. Jus pare ini diminum secara teratur, diselang-seling dengan jus sayuran buah dan umbi lainnya. Misalnya ketimun, buncis, tomat, labu siam, wortel, dan lobak. Konsep dasar para konsumen jus sayuran, dan juga buah ini adalah, manusia purba yang sehat-sehat itu memakan mentah sayuran dan buah-buahan. Sebab dengan mamasak sayuran, maka sebagian besar vitamin yang terkandung dalam sayuran tersebut akan rusak.

# # #

Jenis pare ini disebut pare pahit, untuk membedakannya dengan pare welut (paria belut, Tri chosanthes anguina). Pare pahit, selain karena rasa buahnya yang pahit, ukurannya pendek dengan tekstur kulit yang bergerigi atau beralur. Sementara pare welut, diameter buahnya lebih kecil, namun ukurannya bisa beberapa kali panjang pare pahit. Warna kulit buahnya belang-belang hijau putih dengan permukaan halus tanpa alur. Rasa pare welut juga tawar dan sama sekali tidak ada pahitnya. Pare pahit sendiri dibedakan menjadi beberapa varietas. Pertama varietas pare ayam. Buah pare ayam berbentuk agak pendek dengan bagian pangkal dan ujung meruncing, ukuran kecil, warna kulit hijau tua dengan terkstur bergerigi. Varietas pare ayam paling pahit dibanding dengan varietas lainnya.

Kedua pare pahit hijau besar. Bentuk pare pahit ini agak memanjang, dengan bagian pangkal rata dan ujungnya meruncing. Ukuran sedang sampai besar, warna kulit hijau tua dengan tekstur beralur. Varietas ini tidak sepahit pare ayam. Varietas berikutnya adalah pare gajih atau pare putih. Bentuk dan alur kulit pare gajih, sama dengan pare ayam. Hanya ukurannya lebih panjang dan besar, serta warna kulitnya hijau keputihan. Rasa pahitnya juga agak kurang. Sekarang, pare ayam makin jarang dibudidayakan masyarakat, karena produktivitasnya sangat rendah, ukuran buahnya sangat kecil, daging buahnya tipis, dan sangat pahit. Namun sebagai bahan obat tradisional, pare ayam paling banyak dicari konsumen.

Pare pahit tidak diketahui asal usulnya, tetapi yang pasti tanaman ini asli kawasan tropis Asia. Di Asia Selatan, Asia Tenggara, China, pare pahit dibudidayakan secara luas sebagai sayuran maupun bahan tananam obat. Belakangan budidaya pare pahit juga berkembang di Afrika dan terutama Amerika Tengah dan negara-negara Laut Karibia. Pare pahit dibudidayakan, terutama sebagai sayuran. Baik untuk dikonsumsi segar sebagai salad, jus, pickle, atau dimasak sebagai soup. Sayuran pare pahit, biasa dimasak bersama sea food (ikan, cumi, udang dan kerang), daging sapi, atau daging babi. Di India dan RRC, pare pahit sama prestisiusnya dengan sayuran lain. Di Indonesia, pare pahit sudah biasa dikonsumsi bersama dengan udang, atau dimasak sebagai “pare cah sapi”, “pare cah tempe” dan lain-lain. Pare juga populer dimasak sebagai botok dengan bumbu teri dan kelapa muda.

Budidaya pare pahit diawali dengan penyemaian biji. Benih berupa biji, diambil dari buah pare ukuran standar yang sudah berar-benar tua. Buah pare yang telah tua, bagian tengahnya akan berubah menjadilunak dan berwarna merah darah. Biji pare berada dalam bungkus selaput yang berwarna merah tersebut. Seluruh bagian tengah daging buah yang berisi biji itu diambil, kemudian diremas-remas dan dicuci dengan air bersih. Terdapatlah biji pipih bergerigi dengan ketebalan 2 mm. lebar 6 mm. dan panjang 1 cm. Warna biji cokelat gelap dan berkulit keras. Biji yang sudah bersih ini selanjutnya dikeringkan dengan cara dihamparkan dalam suhu kamar. Benih ini bisa langsung ditanam, atau terlebih dahulu disimpan.

# # #

Penyimpanan benih kualitas baik, bisa dilakukan dengan wadah botol beling berwarna hijau atau cokelat, dengan memberi campuran abu dapur dan menutup bagian atasnya dengan kapas dan kemudian ditutup rapat. Botol ini harus disimpan di tempat yang sejuk. Penanaman pare bisa dilakukan dengan langsung menanam bijinya pada lokasi yang kita kehendaki, bisa pula dengan menyemaikannya terlebih dahulu di sauatu tempat, baru kemudian memindahkannya ke lahan yang sudah ditentukan. Cara kedua lebih baik, sebag bisa lebih menghemat waktu, dengan resiko kematian yang juga lebih kecil. Penyemaian dilakukan di polybag atau wadah lain, dengan media tanah campur pupuk organik.

Ada beberapa pola penanaman pare. Pertama seperti halnya penanaman buncis dan kacang panjang, yakni dengan menanamnya dalam bedengan dan memberinya ajir untuk panjatan. Kedua, dengan para-para sebagai tempat merambatnya, seperti halnya pola penanaman anggur dan labu siam. Ketiga, dengan membiarkannya merambat pada tumbuhan lain, misalnya lamtoro. Para petani sayuran, umumnya membudidayakan pare dengan model guludan dan ajir. Pada pola penanaman ini, biji langsung dimasukkan ke dalam lubang tanam dan ditimbun tanah. Semaian yang tumbuh akan lengsung memanjat pada ajir yang sudah disiapkan sejak awal. Pola penenaman demikian menghemat banyak waktu, melainkan boros benih.

Pada pola para-para, benih disemai terlebih dahulu, baru kemudian dipindahkan ke lokasi penanaman dan dibiarkan mengisi para-para yang sudah disediakan. Karena benih parai tidak terlalu tinggi harganya dan bisa diproduksi sendiri oleh petani, umumnya mereka lebih memilih menggunakan pola penanaman dengan guludan dan ajir. Pada umur dua bulan, tanaman pare akan mulai berbunga. Bunga jantan umumnya keluar lebih awal. Mahkota bunga jantan lebih lebar kelopaknya, dengan warna kuning tua yang sangat cerah. Bunga betina muncul lebih kemudian, dengan ditandai calon buah pare sebagai pangkal (tangkai) bunga. Penyerbukan, biasanya dilakukan oleh lebah, kumbang, atau lalat.

Agar pertumbuhan pare sempurna, para petani sering mengikatkan pemberat satu per satu pada ujung bakal buah. Buah yang diberi pemberat demikian, bentuknya memang akan lebih sempurna dibanding dengan buah yang dibiarkan tumbuh tanpa pemberat. Pare belut pun juga memerlukan pemberat di bagian ujung buahnya, supaya bisa tumbuh lurus ke bawah, dan ukannya melingkar-lingkar seperti belut atau ular. Buah pare paling rentan terhadap serangan lalat buah. Itulah sebabnya para petani juga harus telaten untuk membungkus buah satu per satu. Bungkus buah pare biasanya cukup kertas koran yang dikerudungkan ke dalam bakal buah dan direkatkan dengan stapplers.

# # #

Pembungkusan buah ini mutlak diperlukan, sebab penggunaan pestisida untuk menanggulangi serangan lalat buah sangat tidak dianjurkan. Terlebih lagi pestisida yang bersifat sistemik. Sebab residu pestisida itu akan terbawa ke dalam daging buah pare yang dikonsumsi manusia. Para petani Indonesia umumnya masih belum menyadari hal ini, hingga sebagian masih menggunakan pestisida dan tidak melakukan pembungkusan buah. Tingginya harga pestisida akhir-akhir ini, telah mngurangi penggunaan pestisida di kalangan petani sayuran. Sebenarnya, dengan penanaman di lahan terbuka, misalnya di sawah atau ladang, resiko serangan lalat buah bisa lebih dikurangi, jika dibanding dengan penanaman di kebun yang banyak pohon buahnya.

Kalau di India, RRC, Taiwan, dan Thailand, pare pahit sudah menjadi sayuran yang prestisius, maka di Indonesia pare hanyalah sayuran kelas dua. Masyarakat masih lebih menghormati kol, caisim, petsai, wortel, kentang, seledri dan daun bawang, yang merupakan sayuran bawaan penjajah Belanda. Namun belakangan, suplai pare pahit sudah mampu mengimbangi permintaan masyarakat, terutama di kota-kota besar. Sekarang, hampir tiap hari kita bisa menjumpai pare pahit di pasar swalayan maupun pasar tradisional. Meskipun sudah berhasil menembus pasar swalayan, namun masih belum tampak inovasi untuk memasarkan pere pahit dalam bentuk “baby”. Padahal kita sudah terbiasa dengan baby buncis, baby toge, baby labu siam dan lain-lain.

Namun nasib pare pahit, masih lebih baik jika dibanding dengan pare belut. Sebab sekarang, jenis sayuran ini sangat sulit dijumpai di pasaran. Seandainya ada penjualnya pun, masyarakat akan heran melihatnya. Padahal, pare belut tidak kalah nikmat untuk disayur dibanding dengan pare pahit. Bahkan bagi mereka yang tidak menyukai rasa pahit pada daging buah pare, pilihannya bisa jatuh ke pare belut. Budidaya pare belut, sama persis dengan budidaya pare pahit. Dua jenis pare ini memang masih satu kerabat dengan timun maupun melon, yakni sama-sama famili Cucurbitaceae. Namun dua jenis pare ini berlainan genus. Pare pahit genus Momordica, sementara pare belut genus Trichosanthes. (R) # # #