ANTHURIUM DAUN YANG SEJENAK “NAIK DAUN”

Meskipun belum seheboh aglaonema, belakangan anthurium daun mulai ikut “naik daun”. Harga satu pot tanaman hias ini bisa menembus angka seratus juta rupiah. Anthurium daun yang sedang naik daun, bukan yang berdaun mirip keladi (anthurium kuping gajah, Anthurium  crystallinum). Umumnya hobiis tanaman hias akan memburu anthurium yang berpenampilan seperti pakis sarang burung (kadaka Asplenium nidus).  Selain birdnest anthurium, para hobiis juga tertarik dengan jenis yang bersosok  aneh, hingga sepintas tidak mirip dengan anthurium. Semakin aneh dan langka penampilan anthurium tersebut, akan semakin diburu kolektor. Faktor inilah antara lain yang mengakibatkan anthurium, beberapa bulan terakhir ini menjadi trendy.

Tanaman hias akan menjadi trendy dan bernilai tinggi kerena beberapa sebab. Pertama, secara visual tanaman itu memang lebih menarik dibanding tanaman lain. Kedua, ada sekelompok masyarakat elite yang menyukainya. Ketiga, permintan dan penawaran masih lebih banyak permintaan. Anthurium daun, menarik karena fungsinya sebagai indoorplant (tanaman hias ruangan), sama dengan aglaonema dan sansevieria (lidah mertua). Beda dengan adenium (kamboja jepang), dan euphorbia yang merupakan outdoorplant (tanaman hias luar ruangan). Anthuriun daun yang sekarang trendy, menarik bukan karena warna daunnya yang hijau beludru dengan tulang daun perak, seperti halnya anthurium kuping gajah. Jenis anthurium yang sekarang ini trendy, disebabkan oleh sosoknya yang gagah dalam pot besar, atau keunikan bentuk tanaman serta daunnya.

Karena karekternya ini, anthurium menarik minat individu maupun lembaga yang mengelola bangunan besar, seperti kantor dan hotel. Faktor demikian, telah menyebabkan anthurium memperoleh dukungan dari sekelompok masyarakat elite di negeri ini. Pola seperti ini, sebenarnya pernah terjadi pada anthurium kuping gajah. Pada akhir abad 19, yang bisa memajang anthurium kuping gajah hanyalah pemilik bangunan besar. Baik warga masyarakat Eropa, Cina, Arab maupun bangsawan pribumi. Posisi anthurium sarang burung sekarang ini, persis sama dengan anthurium kuping gajah  pada akhir abad 19. Ketika itu, anthurium kuping gajah baru diintroduksi dari Amerika Latin, dan langsung menjadi simbol status bagi kelompok masyarakat papan atas Hindia Belanda.

# # #

Sebagai tanaman yang trendy, ketika itu anthurium kuping gajah mampu bertahan selama hampir satu abad. Tetapi pelan-pelan tanaman ini bisa diperbanyak dengan pemisahan anakan, stek batang dan juga biji. Perbanyakan dengan anakan dan stek batang, tidak pernah bisa menghasilkan individu tanaman baru secara massal. Beda dengan perbanyakan tanaman dengan biji. Selain akan menghasilkan benih secara massal, perbanyakan generativ dengan biji juga mampu menciptakan silangan-silangan baru yang eksklusif. Pada awal abad 20, anthurium kuping gajah sudah memasyarakat, meskipun masih belum sampai ke masyarakat lapis bawah. Baru pada akhir abad 20 tanaman hias ini benar-benar ada di mana-mana dan nilainya juga menjadi sangat rendah.

Genus anthurium yang masuk ke Indonesia (Hindia Belanda) pada abad 19, sebenarnya justru bukan anthurium kuping gajah (Anthurium crystallinum forma peltifolium). Pada waktu itu yang didatangkan baru  anthurium bunga, atau  Flamingo Lily (bunga flamingo, A. scherzerianum, dan Anthurium digitatum); serta birdnest anthurium (Anthurium hookeri dan Anthurium huegelii). Sebab Anthurium crystallinum baru diketemukan tahun 1873. Hampir bersamaan dengan diketemukannya anthurium bunga (Anthurium andreanum) pada tahun 1877. Anthurium sarang burung (Anthurium hookeri dan A. huegelii) yang sekarang banyak sekali hibridanya, justru sudah masuk ke Indonesia lebih awal. Sebab anthurium ini sudah diketemukan pada tahun 1841 dan 1855.

Anthurium bunga dan anthurium sarang burung yang pada pertengahan abad 19 didatangkan Belanda, banyak berkembang di dataran tinggi. Baik sebagai penghasil bunga potong maupun untuk outdoorplant. Di rumah-rumah dinas, kantor perkebunan swasta serta pemerintah Hindia Belanda, banyak dijumpai Flamingo Lily dan birdnest anthurium dalam pot besar, atau mengisi celah di beranda serta teras bangunan. Sosok Flamingo Lily dan birdnest anthurium berukuran raksasa ini, sampai sekarang masih bisa kita jumpai di kawasan perkebunan peninggalan Belanda. Baik di pegunungan maupun di dataran memengah. Baru kemudian pada akhir abad 19, didatangkanlah Anthurium crystallinum, bersamaan dengan Anthurium andreanum, dan Anthurium veitchii.

Sejak itu, birdnest anthurium, terlebih Flamingo Lily, segera kalah pamor dibanding dengan Anthurium crystallinum, yang sampai sekarang pun keindahan daunnya masih tetap dikagumi oleh para pecinta tanaman hias. Sampai dengan pertengahan abad 20, Anthurium crystallinum, tetap menjadi salah satu indoorplant pilihan, yang harganya juga cukup tinggi. Setelah berdatangan tanaman hias baru, dengan variasi jauh lebih banyak, pamor Anthurium crystallinum pun pelan-pelan menyurut. Beda dengan Anthurium crystallinum yang pernah trendy, sejak awal posisi birdnest anthurium tidak pernah menjadi sangat populer. Namun sejak didatangkan pada pertengahan awal abad 19, birdnest anthurium tetap punya banyak penggemar. Sampai dengan akhir abad 20an, penggemar birdnest anthurium tetap masih stabil. Meskipun tidak pernah sebanyak Anthurium crystallinum.

# # #

Harga birdnest anthurium sebagai indoorplant, sangat ditentukan oleh spesies atau hibridanya, ukuran tanaman dan penampilannya. Semakin unik dan langka silangan birdnest anthurium, semakin tinggi harganya. Demikian pula dengan ukuran dan penampilannya. Semakin besar dan menarik harganya akan semakin terkatrol naik. Silangan-silangan baru dengan daun unik, meskipun berukuran kecil, juga tetap bernilai tinggi. Hibrida dari Anthurium jenmanii yang diketemukan pertamakali tahun 1905, tampak mendominasi nursery di kawasan Jabotabek. Disusul oleh Anthurium hookeri yang jauh lebih tua, karena sudah dikenal sejak tahun 1841. Kemudian Anthurium scherzerianum yang pertama kali diketahui tahun 1857. Meskipun sudah sangat banyak silangan dan hibrida baru, yang lebih unggul sebagai indoorplant, tetap Anthurium spesies yang berukuran raksasa, dan tumbuh subur dalam pot yang juga raksasa.

Diantara spesies anthurium yang unik itu, tercatat antara lain Anthurium veitchii (1876), Anthurium coriaceum (1839), Anthurium podophyllum (?), dan Anthurium reflexinervium yang baru diketemukan tahun 1991. Keistimewaan Anthurium reflexinervium adalah, sosoknya yang persis kadaka, namun dengan daun yang mengkerut (keriput) secara horisontal terhadap tulang daun utamanya. Anthurium veitchii menarik karena helai daunnya yang mirip dengan Anthurium reflexinervium, bedanya ia bertangkai seperti halnya Anthurium crystallinum. Sementara daya tarik Anthurium coriaceum, terletak pada daunnya yang tebal, kaku dan halus persis daun kadaka. Keunikan Anthurium podophyllum, karena tangkainya sangat panjang dan daunnya terbelah kecil-kecil, hingga penampilannya justru mirip palem.

Kebanyakan para pedagang anthurium memberi nama dagangan mereka dengan sebutan yang aneh-aneh. Misalnya Anthurium bintang kejora, karena bentuk daunnya mirip bintang. Anthurium pepaya karena bentuk daunnya mirip daun pepaya. Anthurium hookerii golden, karena daunnya variegata kuning. Anthurium dengan sebutan aneh-aneh ini, kebanyakan sama sekali tidak disertai dengan nama spesies induknya. Hingga sulit bagi para konsumen awam untuk mengetahui asal-usul induk anthurium tersebut. Padahal, beberapa spesies anthurium merupakan tanaman langka yang masuk apendix 1 dalam CITES (Commitee on International Trade of Endangered Species).  Misalnya Anthurium parambe dan Anthurium orientale, yang sudah tidak mungkin ditemukan lagi di habitat aslinya, sementara specimen yang dikoleksi para hobiis juga sangat terbatas.

Dibanding dengan Anthurium crystallinum yang pernah trendy selama hampir satu abad, maka popularitas birdnest anthurium hanya akan berlangsung singkat. Ketika tulisan ini disusun pun, sebenarnya popularitas birdnest anthurium sudah mulai redup. Beda dengan aglaonema. Sejak Red of Sumatera tahun 2002 disusul dengan Pride of Sumatera beberapa waktu kemudian, sampai sekarang sudah hampir lima tahun aglaonema bertengger di puncak popularitas. Bahkan sebenarnya Greg Hambali, sudah mulai menyilangkan Aglaonema commutatum yang hujau dengan Aglaonema rotundum yang bertulang daun merah sejak tahun 1985. Kelebihan silangan aglaonema generasi mutakhir adalah, warna merah serta pinknya bisa dominan. Sebab dalam daun aglaonema ada unsur warna hijau, putih, kuning dan merah sekaligus. Sementara anthurium hanya mengandalkan bentuk daun. Sebab warnanya akan selalu hijau. Paling banter variegata kuning. (R) # # #

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s