ROTI PASKAH

Awalnya, Paskah (Passover, Pesach, Pesah, Pesakh) adalah hari raya Umat Yahudi. Paskah adalah hari pembebasan Bani Israel dari status mereka sebagai budak di Mesir. Dibawah pimpinan Nabi Musa, Umat Yahudi meninggalkan Mesir. Sebelumnya, Firaun selalu mengingkari janji membebaskan mereka, meski Allah telah berulangkali menunjukkan kekuasaanNya. Pada malam sebelum meninggalkan Mesir, seluruh Bani Israel harus memotong anak domba jantan, mengoleskan darahnya di pintu, dan memanggang dagingnya secara utuh. Malam itu mereka harus bergadang untuk berkemas-kemas.

Daging anak domba itu, harus disantap dengan roti tak beragi (Unleavened Bread, Flat Bread), dan sawi pahit. Menyantapnya juga harus dengan berdiri. Malam itu juga Malaikat Jibril membunuh anak laki-laki sulung semua keluarga Mesir. Ini merupakan hukuman Allah kepada Firaun yang selalu ingkar janji. Keluarga Bani Israel selamat, karena adanya tanda darah domba pada pintu rumah. Paginya, seluruh Mesir berkabung, karena semua anak laki-laki sulung meninggal. Firaun lalu membebaskan Bani Israel. Peristiwa malam itulah yang oleh Umat Yahudi diperingati sebagai Hari Raya Paskah. Roti tak beragi lalu disebut roti paskah (matza, matzah, matzo, or matzoh, matze).

Umat Nasrani (Katolik, Ortodoks, dan Kristen Protestan), mengadopsi Hari Raya Paskah, untuk memperingati sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus. Hari Raya Paskah dimulai dari Kamis sore, untuk memperingati Perjamuan Terakhir (The Last Supper). Ketika itulah Yesus bersama 12 muridnya makan malam, dengan menu roti tak beragi. Dalam peristiwa itu Yesus mencuil-cuil roti, lalu membagikannya ke para murid. Kemudian Ia juga menuang anggur merah, lalu minta para murid minum bergantian. Peristiwa inilah yang diperingati sebagai Perayaan Ekaristi (Misa), dalam tradisi Katolik.

# # #

Hari Jumatnya, disebut sebagai Jumat Agung, yakni peristiwa sengsara dan wafatnya Yesus di kayu salib. Lalu Minggunya, adalah puncak Perayaan Paskah. Dalam tradisi nasrani, tidak ada lagi ibadat makan anak kambing panggang, roti tak beragi, serta sawi pahit. Tetapi masing-masing keluarga dan komunitas, tetap masih menyantap roti paskah, dengan berbagai variasinya. Sementara dalam keluarga modern, Paskah lalu identik dengan bunga Easter Lily (Lilium longiflorum), dan telur paskah. Ini adalah telur ayam, itik, angsa atau kalkun, yang dihias warna-warni, disembunyikan, lalu anak-anak diminta untuk mencarinya.

Roti paskah sebenarnya merupakan “roti purba”. Roti ini terbuat dari tepung gandum (terigu) yang diberi air, dibuat adonan, tetapi tanpa ragi (yeast), maupun backing soda sebagai pengembang. Adonan tepung ini kemudian dipipihkan, setebal antara satu mm, seperti bungkus martabak telur, sampai satu cm, dan dibentuk membulat. Adonan dipanggang dalam kuali (gerabah), yang ditaruh di atas bara api. Karena adanya gluten dalam tepung gandum, maka roti tak beragi akan terasa alot kalau dipanggang sebentar, dan akan sangat keras apabila dipanggang sampai kering. Rasanya bisa dibuat tawar, bisa pula asin, tergantung selera.

Bentuk roti seperti ini kemudian disebut sebagai roti datar fllat bread. Di India dan sekitarnya, roti seperti ini disebut lavash atau chapati. Tetapi flat bread belum tentu tak beragi. Sebab setelah ragi diketemukan, bentuk roti flat braed ada yang beragi, ada yang tanpa ragi. Bentuk roti datar inilah yang di Eropa berkembang menjadi Pizza, dan di Indonesia menjadi Martabak, dengan berbagai variasinya. Roti beragi sendiri, sebenarnya diketemukan secara tidak sengaja. Pada jaman neolitikum (8500 – 8000 SM), di Mesopotamia (Irak), orang sudah biasa memfermentasi air buah anggur, dengan ragi (yeast), Saccharomyces cerevisiae.

Ragi inilah yang mengubah gula dalam air buah anggur menjadi alkohol, sambil menghasilkan gas CO2. Di Mesopotamia, pembuatan anggur dan roti sering dilakukan oleh budak yang sama di satu ruangan. Suatu ketika, sehabis mengaduk-aduk konsentrat buah anggur yang sudah beragi, tanpa cuci tangan, budak itu langsung membuat adonan roti. Tetapi dia kemudian mengantuk dan tertidur sejenak. Alangkah kagetnya budak ini, sebab adonan roti itu mengembang jadi berukuran duakali lipat, dan baunya menjadi sangat harum. Adonan bengkak itupun segera dipanggangnya. Ternyata roti itu empuk sekali, harum, dan sedikit manis.

# # #

Sejak itulah dikenal dua macam roti datar, yakni roti datar tak beragi yang alot dan keras, serta roti datar beragi yang empuk, agak manis, dan harum. Sejak jaman neolitikum roti purba yang tak beragi, sebenarnya sudah dianggap suci oleh masyarakat Mesopotamia. Hingga ketika Bani Israel menggunakannya sebagai simbol pembebasan dari perbudakan oleh Firaun, yang dipilih bukan roti beragi, melainkan roti tak beragi. Dalam tradisi Yahudi, menyantap matza dalam menyambut Perayaan Paskah, masih tetap dilakukan sampai sekarang. Lengkap dengan daging domba dan sawi pahit.

Dalam tradisi Katolik, roti tak beragi dibuat kecil-kecil sebesar uang, dan tipis, agar lebih praktis. Tetapi roti yang disebut Hosti ini, tidak lagi menjadi simbol paskah. Hosti dibagikan pada setiap ibadat misa. Baik misa rutin setiap minggu, misa Natal, Paskah, misa pernikahan, kematian, dan lain-lain. Dalam tradisi Kristen Protestan, simbol roti tak beragi ini tidak digunakan untuk ibadat lagi. Meskipun, beberapa bangsa, tetap menyantap Easter Bread untuk merayakan Paskah. Namun fungsinya hanya sekadar untuk jamuan keluarga, dan tidak terkait dengan upacara keagamaan.

Dunia Islam memang tidak menggunakan roti datar, terkait dengan hari raya keagamaan. Hingga roti datar di kalangan umat Muslim, hanyalah santapan sehari-hari biasa. Misalnya Aish Mehahra (Mesir), Barbari, Sangak, Taftoon (Iran), Bazlama, Pide, Yufka (Turki),  Malooga (Yaman), Laxoox (Somalia), Luchi (Bangladesh), Lavash, (seluruh Timur Tengah). Roti datar, ternyata justru paling populer di India. Misalnya Bhakri, Bhatura, Chapati, Naan, Papadum, Paratha, dan Puri.  Di negeri kita, roti datar berbahan gandum, menjadi martabak telur dan martabak manis, dengan berbagai variasinya. (R) # # #

MERANCANG BUDIDAYA KANGKUNG

Kangkung adalah sayuran yang dianggap sepele, hingga tidak pernah menarik perhatian para calon petani (investor). Padahal harga kangkung relatif stabil, dengan pasar yang cukup luas. Konsumen kangkung terdiri dari masyarakat lapis bawah, sampai ke kalangan elite. Kangkung dijual di tukang sayuran keliling, sampai ke pasar swalayan. Sayuran ini disajikan di warung tegal (warteg), sampai ke restoran berbintang. Namun kangkung tergolong jenis sayuran yang sangat terbatas variasi masakannya. Yang paling populer adalah menu cah kangkung, atau oseng-oseng kangkung.

Dengan pasar yang demikian luas dan harga relatif stabil, sayuran ini sebenarnya aman untuk dibudidayakan, karena resikonya tidak terlalu besar. Hanya saja, budidaya kangkung memerlukan pengaturan yang cermat. Terutama kangkung darat (kangkung cabut). Sebab kita tidak mungkin menanam kangkung seluas satu hektar secara bersamaan, untuk dipanen sekaligus. Kalau hal ini kita lakukan, maka pasar akan kelebihan pasokan hingga harga jatuh. Kangkung air pun, tidak pernah dipanen secara bersamaan, karena faktor daya serap pasar.

Biasanya dalam luasan tertentu, panen panen kangkung air selalu dilakukan bertahap sepetak demi sepetak, sesuai dengan kapasitas pasar. Kalau areal lahan kangkung air ini cukup luas, selalu diatur agar setelah seluruh hamparan selesai dipanen secara bertahap, petak yang dipanen pertama sudah kembali bisa dipanen lagi. Sebab prinsip budidaya kangkung adalah, pasar hanya memerlukan komoditas ini dalam volume yang terbatas dan tetap setiap hari. Kalau suplai kurang, harga akan naik. Kalau suplai lebih, harga akan turun. Kalau kelebihan suplai luarbiasa, maka harga akan jatuh.

# # #

Sebenarnya hukum pasar ini, berlaku untuk semua komoditas. Hanya, pada komoditas yang dipasarkan segar, kelebihan dan kekurangan suplai akan langsung berdampak ke kenaikan atau penurunan harga secara signifikan, yang mengakibatkan keuntungan atau kerugian pedagang pengecer. Sebab patani, biasanya akan menerima pembayaran cash dari pedagang pengumpul. Pedagang pengecer, akan langsung menderita kerugian, kalau dia juga membayar cash atau kredit ke pedagang pengumpul. Kalau dia membayar dengan sistem konsinyasi, maka kerugian akan ditanggung oleh pemasok.

Kangkung, disebut sebagai water spinach, swamp cabbage, water convolvulus, water morning-glory (Ipomoea aquatica). Meskipun habitat aslinya tidak diketahui, diperkirakan kangkung merupakan tanaman asli Asia Tenggara. Ada dua varietas kangkung. Pertama varietas kangkung darat, yang berbatang dan bertangkai daun hijau, serta berbunga putih. Varietas kangkung ini biasa dibudidayakan di lahan kering. Karenanya, kangkung putih ini juga sering disebut sebagai kangkung darat. Memanen kangkung darat, selalu dengan cara dicabut. Karenanya, kangkung jenis ini juga disebut sebagai kangkung cabut.

Budidaya kangkung darat, mirip dengan budidaya bayam cabut, yakni dengan menebar benih berupa biji, dan memanennya sekaligus. Setelah itu harus kembali menebar benih lagi. Kangkung darat tidak bisa dipanen dengan memotong pucuknya, sebab tunas berikunya akan mengecil dan alot. Varietas kedua adalah kangkung berbatang dan bertangkai daun ungu kehijauan. Kangkung varietas ini berbunga ungu dan lazim dibudidayakan di air, tanah berlumpur dan sawah. Karena budidayanya di lahan berair, kangkung jenis ini disebut sebagai kangkung air.

Kangkung ungu ini juga bisa menghasilkan biji, namun budidayanya cukup dengan setek batang. Kangkung ungu dipanen dengan cara dipotong pucuknya, hingga kadangkala kangkung jenis ini juga disebut sebagai kangkung potong. Sebutan ini digunakan untuk membedakannya dengan kangkung cabut/kangkung darat. Kalau kangkung darat harus selalu ditanam ulang setelah dipanen, maka kangkung air cukup ditanam sekali dan bisa dipanen seterusnya. Karena cara budidayanya berbeda, maka harga kangkung darat dan kangkung air juga berlainan.

# # #

Budidaya kangkung darat memerlukan biaya lebih tinggi, karena dari satu kali penanaman, hanya akan dihasilkan panen satu kali pula. Jangka waktu panen kangkung darat juga lebih panjang 2 minggu dibanding kangkung air.  Kalau kangkung air bisa dipanen 1 bulan setalah tanam, maka kakung darat baru 1,5 bulan setelah tanam. Hingga harga kangkung darat juga selalu lebih tinggi dibanding kangkung air. Setelah dipanen dengan cara dicabut, lahan untuk kangkung darat harus kembali diolah dan dipupuk, agar bisa ditanami kembali.

Pada budidaya kangkung air, panen dilakukan dengan pemotongan pucuk, yang dilakukan dengan sabit atau pisau yang tajam. Setelah petak kangkung dipanen, lahan segera dipupuk, sambil disiangi. Beberapa hari  kemudian tanaman akan kembali bertunas, hingga bisa dipanen setelah selang seminggu sampai 10 hari kemudian. Di pasaran, kangkung darat dan kangkung air, bisa mudah sekali dibedakan. Perbedaan paling mencolok adalah, ikatan kangkung darat selalu masih ada akarnya. Sementara kangkung air, hanya ada bekas potongan.

Batang dan tangkai daun kangkung darat berwarna hijau muda cerah, sedangkan batang, dan tangkai kangkung air berwarna cokelat keunguan. Tahun 1980an, kangkung darat hanya biasa dipasarkan di pasar swalayan. Ketika itu populer pula kangkung hidroponik, yang harganya sepuluh kali lipat kangkung air. Sekarang kangkung sudah biasa dipasarkan di tukang sayur keliling untuk konsumsi rumahtangga. Konsumen kangkung air, saat ini justru terbatas hanya restoran, asrama dan lain-lain yang memerlukan produk massal dengan harga murah.

Sebanarnya, kangkung putih juga bisa dibudidayakan di air (sebagai kangkung air) dengan benih stek. Bukan biji. Sebaliknya kangkung ungu juga bisa dibudidayakan di darat sebagai kangkung darat, dengan benih biji. Di Thailand, kangkung darat sudah biasa dibudidayakan di air, dan dipanen dengan cara memotong pucuknya. Karena dibudidayakan di air dengan perawatan dan pemupukan intensif, maka kangkung putih ini tumbuh dengan batang yang gemuk, renyah dan tidak menumbuhkan daun. Hingga praktis yang dikonsumsi hanya batang kangkung yang gemuk dan renyah itu.

# # #

Di Thailand, kangkung putih ini juga dibudidayakan di darat seperti halnya di Indonesia, namun yang lebih populer justru kangkung putih yang dibudidayakan di air. Calon petani yang belum berpengalaman, biasanya membudidayakan kangkung, terutama kangkung darat, sekaligus dalam hamparan luas. Panennya, juga akan terjadi sekaligus, hingga sulit memasarkannya. Sebab kangkung hanya diperlukan dalam kondisi segar, dengan volume yang terbatas. Hingga budidayanya pun juga harus disesuaikan dengan volume yang bisa diserap pasar, seperti halnya sayuran jenis lain.

Misalnya, kalau daya serap pasar hanya 1 kuintal kangkung segar per hari, maka harus diupayakan penanaman dengan hasil panen satu kuintal per hari. Kalau tiap hektar lahan bisa menghasilkan panen 20 ton per 1,5 bulan, maka untuk memenuhi kebutuhan pasar satu kuintal per hari, cukup diperlukan lahan 0,5 hektar, yang dipetak-petak menjadi 50 petak @ 100 m2 dengan ukuran 10 X 10 m, 20 X 5 m, atau 25 X 4 m. Dengan petakan lahan ini, penanaman (penebaran benih) dilakukan tiap hari, selang dua hari atau tiga hari sekali.

Penebaran tiga hari sekali, masih memungkinkan panen tiap hari, dengan panjang batang kangkung hasil panen pertama, tidak terlalu berbeda dengan panen kedua dan ketiga. Tetapi, dengan peebaran benih seminggu sekali, perbedaan antara hasil panen hari pertama dengan hari ke tujuh dari petak yang sama, akan tampak sangat mencolok. Bisa pula, panen hari ke tujuh akan menghasilkan kangkung dengan batang yang alot. Penanaman kangkung darat secara terus-menerus pada petak lahan yang sama, akan mengakibatkan degradasi lahan.

Untuk mengatasi degradasi lahan, petani selalu menggilir beberapa komoditas pada petakan yang sama. Misalnya, sehabis kangkung ditanami jagung, atau kacang-kacangan. Pupuk organik diperlukan dalam volume cukup besar, untuk membuat tekstur batang kangkung menjadi renyah. Meskipun pupuk sudah diberikan, urea juga tetap diperlukan dalam dosis tinggi, sebab kalau hanya mengandalkan pupuk organik, volume panen akan rendah. Selain itu, kangkung darat  juga tetap memerlukan air dalam jumlah cukup. Kalau air kurang, pertumbuhan tanaman akan terhambat, dan tingkat kerenyahan batang juga berkurang. (R) # # #

MEXICAN CORIANDER UNTUK PENINGKAT GAIRAH SEKS

Ada empat tumbuhan yang berbeda jenis, namun sama-sama menyandang nama Coriander. Pertama adalah ketumbar, yang juga lazim disebut Cilantro (Coriandrum sativum). Ketumbar biasa disebut sebagai Coriander, tanpa embel-embel lainnya. Kedua Mexican coriander yang juga disebut Bhandhanya, Chandon benit, Culantro, Fitweed, Long coriander, Wild coriander, Recao, Spiritweed, Ngo gai, Sawtooth, dan Saw-leaf herb (Eryngium foetidum). Di Indonesia, Mexican coriander disebut sebagai ketumbar belanda (tumbar londo). Sementara masyarakat Belanda justru menyebutnya sebagai Javan Coriander. Yang ketiga adalah Vietnamese coriander (Persicaria odorata, sinonim Polygonum odoratum). Dan terakhir Bolivian Coriander (Porophyllum ruderale), yang juga disebut quillquiña, quirquiña atau killi.

Empat tanaman ini sama-sama disebut Coriander, karena memiliki aroma yang mirip satu sama lain, yakni aroma daun ketumbar. Persisnya aroma daun ketumbar sangat mirip dengan aroma walang sangit, yakni belalang kecil-kecil yang menjadi hama padi pada fase masak susu. Aroma tajam daun ketumbar itu juga mirip dengan aroma mustard sauce, yang bisa sampai menyergap rongga hidung. Mereka yang belum terbiasa dengan aroma ini, akan bereaksi keras menolaknya. Empat daun coriander ini bermanfaat luas sebagai bahan obat (Herbal), bumbu (Spice), dan minyak asiri. Penggunaan coriander sebagai obat herbal, bisa dilakukan dengan menyeduhnya seperti teh, namun bisa pula memanfaatkannya sebagai bumbu masakan.

Di Indonesia, biji ketumbar lebih populer sebagai bumbu dibanding dengan daunnya. tetapi di Thailand, Vietnam, India, China, kepulauan Karibia, Meksiko, Timur Tengah dan Eropa, daun ketumbaranya lebih populer sebagai bumbu. Nama ketumbar sudah disebut-sebut dalam Kitab Suci Perjanjian Lama (Taurat). Di Mesir Kuno, Babilonia dan Yunani, daun ketumbar Coriandrum sativum digunakan untuk menghilangkan rasa gelisah dan susah tidur. Minyak ketumbar juga sering digunakan sebagai penghambat pertumbuhan bakteri E. Coli. Daun dan akar Mexican Coriander, dikeringkan untuk diseduh seperti teh,  untuk meningkatkan nafsu makan, memperbaiki pencernaan, mengatasi mulas-mulas, membantu mengeluarkan gas, bahkan juga untuk meningkatkan gairah seksual (aphrodisiac).

# # #

Beda dengan Mexican Coreander yang berfungsi aphrodisiac, maka Vietnamese Coriander, justru berfungsi untuk mengurangi fertilitas. Penelitian dari University of Natural Sciences di Hanoi, menunjukkan bahwa Vietnamese Coriander mampu menekan produksi sperma pada mencit. Masyarakat Vietnam percaya bahwa Vietnamese Coriander, memang mampu menekan gairah seksual. Itulah sebabnya para rahib Budha, selalu memanam Vietnamese6 Coriander di kebun mereka, agar setiap saat bisa mengkonsumsinya. Selain bermanfaat untuk menekan gairah seksual, Vietnamese Coriander juga berkhasiat untuk menetralkan racun dalam makanan, terutama dalam seafood. Termasuk racun yang telah masuk ke dalam tubuh manusia.

Daun Mexican Coriander, juga sering didestilasi untuk diambil minyak asirinya. Kandungan minyak asiri Mexican Coriander adalah aldehydes berupa decanal (28%), dodecanal (44%), alkohol decanol (11%), Sesquierpenes berupa α-humulene dan β-caryophyllene 15%. Sementara kandungan tiap 100 gram daun Coriander segar adalah: energi 20 kalori (100 kJ), karbohidrat    4 gram, serat  3 gram, lemak 0.5 gram, protein 2 gram, Vitamin A  337 μg, Vitamin C  27 miligram. Meskipun merupakan bahan herbal dan spice yang penting, namun para petani Indonesia masih belum membudidayakan Mexican Coriander. Coriander sudah dibudidayakan, namun lebih banyak dipanen bijinya sebagai “ketumbar”.

Di pasar swalayan di kota-kota besar di Indonesia, termasuk di Jakarta, sangat sulit untuk memperoleh daun ketumbar “Coriander”. Hanya pasar swalayan tertentu yang menjual ikatan-ikatan daun ketumbar, yang sepintas mirip dengan daun adas (fenel), hanya helaian daunnya agak lebih besar. Terlebih daun Mexcican Coriander, tidak mungkin dijumpai di pasar. Beda dengan di Bangkok. Di kota ini Mexican Coriander sudah dibudidayakan secara luas dan dijual bukan hanya di pasar swalayan, melainkan juga di pasar-pasar tradisional. Salah satu menu khas Thailand yang menggunakan daun ketumbar “Coriander” maupun Mexican Coriander adalah Tomyam Kung, yakni sup seafood.

Tomyam Kung ada dua macam. Pertama seafood lengkap, dengan bahan udang kupas, potongan kepiting, irisan cumi atau sotong, potongan file ikan kakap, dan kerang hijau utuh. Bumbunya bawang merah, bawang putih, cabai merah besar, cabai hijau besar, tomat, daun bawang, sereh, daun jeruk purut, dan daun ketumbar “Coriander”. Kaldunya adalah kepala dan kulit udang yang digoreng, diberi air dan kemudian disaring. Kedua, tomyam Kung yang hanya berupa satu ikan utuh. Baik ikan laut, biasanya kakap, bisa pula ikan air tawar. Ikan ini setelah dibersihkan digoreng utuh, kemudian dimasukkan ke dalam kuah Tomyam Kung. Bedanya, digunakan potongan cabai rawit hijau dan Mexican Coriander.

# # #

Dari empat macam Coriander tersebut, yang ada di Indonesia hanyalah Coriander ketumbar dan Mexican Coriander, yang juga lazim disebut ketumbar londo. Vietnamese Coriander dan Bolivian Coriander, belum dikenal oleh masyarakat. Tanaman ketumbar sendiri juga kurang akrab di kalangan ibu rumah tangga di Indonesia. Meskipun biji ketumbarnya sangat mereka kenal. Ketumbar merupakan tanaman dari Asia barat Daya, Timur Tengah, Afrika Utara dan Barat. Di sini ketumbar sudah dibudidayakan sejak sekitar 5.000 tahun SM.  Tahun 1670, untuk pertamakalinya ketumbar dibawa oleh para emigran Inggris ke benua Amerika. Ketumbar masuk ke Indonesia sudah lebih awal, sebab dibawa oleh pedagang India dan Arab.

Ketumbar merupakan tanaman semusim yang dikembangbiakkan dengan biji. Bentuk tanaman mirip dengan wortel, seledri atau adas. Biasanya ketumbar dibudidayakan di dataran tinggi, dengan elevasi di atas 700 m. dpl. Jadi sama dengan adas, seledri, wortel dll. Di Indonesia, ketumbar dibudidayakan untuk diambil bijinya. Meskipun sekarang sudah mulai trend memanfaatkan daun ketumbar sebagai herbal dan spice, namun volumenya masih sangat terbatas. Bahkan budidaya ketumbar sendiri, sebenarnya akhir-akhir ini juga mulai berkurang intensitasnya. Biji ketumbar yang ada di pasaran, umumnya merupakan komoditas impor, terutama dari India. Sebab harga ketumbar impor, justru jauh lebih murah dibanding dengan ketumbar lokal.

Mexican Coriander atau ketumbar londo, sepintas mirip dengan tumbuhan tapak liman (Elephantopus scaber), yang tumbuh menempel di tanah. Bedanya daun ketumbar londo lebih chrispy. Bentuk daun memanjang dengan ujung tumpul dan tepian daunnya juga bergerigi. Panjang daun 15 cm, dengan lebar 3 cm. Warna daun hijau terang, tidakseperti daun tapak liman yang hijau gelap. Permukaan daun licin dan mengkilap, sementara permukaan daun tapak liman kasar dan berbulu halus. Bunga ketumbar londo juga mirip dengan bunga tapak liman. Kalau malai bunga tapak liman sama sekali tidak berduri, maka malai bunga ketumbar londo berduri tajam. Duri ini merupakan ujung dari seludang bunga yang sangat runcing. Aroma ketumbar londo juga sangat tajam. Jauh lebih tajam dibanding dengan aroma daun ketumbar biasa.

Ketumbar belanda berasal dari Meksiko. Itulah sebabnya ia disebut sebagai Mexican Coriander. Tanaman ini menyebar ke seluruh dunia setelah kedatangan bangsa kulit putih ke benua Amerika. Masuk ke Indonesia karena dibawa oleh bangsa Belanda. sekarang, Mexican Coriander tumbuh liar di seluruh Indonesia, terutama di tanah lempung di kawasan dengan ketinggian di atas 500 m. dpl. Tanaman ini tumbuh liar bersama dengan gulma dan rumput pakan ternak. Ternak ruminansia juga menyenangi daun tumbuhan ini. Di Jawa Tengah dan Jawa Barat,  masyarakat sering mencabut tanaman ketumbar belanda, untuk dikeringkan dan dijual ke pedagang pengumpul simplisia. Ada juga yang hanya mengambil akarnya (umbinya) untuk dijual segar ke pedagang pengumpul bahan obat tradisional.

# # #

Ketika masih mengelola kegiatan agribisnis di pegunungan Dieng, PT Manthrust (PT Dieng Jaya), pernah menanam Mexican Coriander, untuk diekspor ke Timur Tengah dan Eropa. Setelah kegiatan agribisnia ini ditutup, maka penanaman Mexican Coriander pun ikut terhenti. Padahal budidaya ketumbar londo ini sangat sederhana. Tanaman ini mampu berkembangbiak dengan biji maupun anakan yang tumbuh pada ketiak kelopak bunga/buah. Biji ketumbar belanda berbentuk bundar, keras dan sangat kecil. Biji ini tertumpuk pada buah yang berbentuk setengah kapsul. Biji ini akan runtok dari “kapsul” itu, lalu menyebar ke mana-mana terbawa aliran air. Di tempat yang cocok, biji itu akan tumbuh menjadi individu tanaman baru.

Anakan yang tumbuh di ketiak kelopak bunga, akan tumbuh menjadi individu tanaman baru, kalau malai bunga itu terinjak-injak kaki lalu menempel ke tanah. Anakan itu akan segera mengeluarkan akar dan menjadi individu tanaman baru. Budidaya Mexican Coriander relatif mudah. Di kota Jakarta yangpanas ini pun, Mexican Coriander bisa tumbuh dengan baik, asal cukup mendapatkan air dan sinar matahari. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), mengoleksi Mexican Coriander di kebun koleksi di  Sukamulya, Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat. Namun sebenarnya, tumbuhan obat dan bumbu ini mudah dijumpai tumbuh liar di mana-mana, di ketinggian di atas 500 m. dpl.

Selama ini masyarakat dihebohkan dengan obat aphrodisiac berupa Viagra dan lain-lain. Kita juga tergila-gila dengan ginseng korea (Panax ginseng), karena dimitoskan bisa meningkatkan gairah seksual. Padahal kita sendiri punya pasak bumi (Eurycomae longifoliae), dan tabat barito (Ficus delsoidea) dari Kalimantan. Kita juga punya pule pandak (Rauwolfia serpentina), kayu rapat (Parameria leavigata) yang tumbuh di mana-mana serta purwoceng (Pimpinilla pruatjan) dari Dieng. Dibanding pule pandak, kayu rapat, pasak bumi, tabat barito terlebih dengan purwoceng, Mexican Coriander punya keunggulan. Sebab tanaman ini mudah dibudidayakan dalam pot dan setiap saat bisa diambil daunnya untuk memperbaiki pencernaan dan sekaligus sebagai Aphrodisiac. Asal jangan keliru menanam Vietnamese Coriander, yang justru mematikan gairah seksual. (R) # # #

MENGEMBALIKAN PAMOR CENDANA KITA

Kepulauan Nusa Tenggara, sudah dikenal sejak jaman Romawi Kuno, karena kayu cendananya. Sama halnya dengan gaharu (Aquilaria malaccensis dan Aquilaria agallocha), cendana (Santalum album), adalah komoditas wewangian yang sangat penting dan bernilai tinggi. Dua komoditas ini sudah dikenal sejak munculnya peradaban Timur Tengah, India dan China. Lain dengan gaharu, yang baru akan keluar parfumnya apabila terinfeksi oleh kapang (jamur, fungus) Phialophora parasitica, maka aroma cendana berasal dari kayunya sendiri, asal umurnya sudah sekitar 30 tahun.

Kepulauan Nusa Tenggara, sudah dinekal sebagai penghasil cendana kualitas baik, sejak jaman Romawi. Ketika itu kontak dagang antara Bangsa Arab, dengan India dan Nusantara sudah mulai terjalin. Cendana hanyalah salah satu komoditas kepulauan Nusantara. Selain itu masih ada rempah-rempah (cengkih, pala, kayu manis), gula tebu, kemenyan dan gaharu serta cendana. Sampai dengan jaman kedatangan bangsa Portugis, populasi kayu cendana masih seimbang dengan jumlah yang ditebang. Namun setelah itu, eksplorasi kayu cendana terjadi secara besar-besaran.

Terlebih setelah Indonesia Merdeka, populasi kayu yang ditebang, tidak pernah terimbangi oleh pertumbuhan tanaman muda. Hingga sekarang sudah sangat sulit untuk menemukan kayu cendana di kawasan NTT. Ketika banyak pengusaha dan LSM ingin kembali memulihkan populasi kayu cendana di Flores, Sumba dan Timor Barat, maka untuk memperoleh benih pun sudah sangat sulit. Sebab sangat sulit untuk menemukan pohon cendana dewasa yang sudah menghasilkan buah/biji. Sebab begitu pohon itu diketemukan, maka akan segera ditebang oleh masyarakat.

Usaha pencarian pohon cendana tua di Timor Barat, tidak pernah memperoleh hasil. Upaya ini akan dilanjutkan di lokasi yang oleh masyarakat setempat dianggap sebagai tempat keramat. Di lokasi demikian, tidak akan pernah ada pihak yang berani menebang kayu cendana. Sebuah perusahaan yang bergerak dalam perdagangan minyak asiri, sekitar 10 tahun terakhir ini juga tengah berusaha untuk memulihkan populasi kayu cendana di pulau Sumba. Menurut perusahaan tersebut, cendana dari NTT tidak pernah bisa tergantikan oleh cendana dari India, China maupun Australia.

# # #

Cendana termasuk genus Santalum, yang terdiri dari sekitar 25 spesies. Genus Santalum tersebar mulai dari India, Cina, Malaysia, Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Australia, Hawaii sampai ke kepulauan Yan Fernandez di lepas pantai Amerika Selatan. Di hutan Malaysia, Sumatera dan Jawa, Cendana juga bisa tumbuh dengan baik, namun kandungan minyak asirinya sangat rendah. Cendana dari kawasan yang relatif basah seperti ini, tidak bernilai ekonomis sama sekali. Cendana baru punya nilai ekonomis apabila tumbuh di kawasan yang ekstrim kering, seperti halnya di NTT.

Dari sekitar 25 spesies Satalum itu, di antaranya adalah: Santalum acuminatum, yang bisa dijumpai di China dan Australia. Santalum album, dengan penyebaran mulai dari India, Indonesia sampai ke Australia Utara. Satlaum Album inilah yang disebut sebagai cendana, atau Sandalwood. Santalum ellipticum atau cendana pantai, Santalum freycinetianum, Santalum haleakalae, dan Santalum paniculatum; empat spesies ini terdapat di Hawaii. Santalum spicatum, Santalum lanceolatum, Santalum murrayanum, dan Santalum obtusifolium; tiga spesies ini berasal dari Australia. Santalum fernandezianum (Kepulauan Juan Fernandez); dan Santalum salicifolium atau cendana daun willow.

Selain Santalum album, spesies yang juga menghasilkan parfum adalah Santalum fernandezianum dari kepulauan Juan Fernandez. Seperti halnya Santalum album, Santalum fernandezianum juga diekplorasi secara besar-besaran, hingga populasinya menjadi sangat terancam. Di Australia, Santalum acuminatum, jutru merupakan pohon penghasil buah. Buah Santalum acuminatum berupa berry dengan warna merah cerah, untuk bahan jelly dan jem. Di Australia, Santalum acuminatum dikenal sebagai sweet guandong, atau native peach. Jenis ini tidak menghasilkan kayu yang harum.

Populasi cendana yang terancam punah, terutama juga disebabkan oleh lamanya pertumbuhan, serta sulitnya budidaya. Cendana termasuk tumbuhan semi parasit. Artinya, cendana baru dapat hidup, apabila ada tumbuhan inang yang mampu memberi suplai air serta nutrisi tertentu, yang tidak bisa diperolehnya sendiri. Tumbuhan inang ini jumlahnya antara empat sampai lima, sangat tergantung dari tingkat kekeringan serta kurangnya unsur hara di lahan tersebut. Dari ketika mulai tumbuh sampai tanaman siap ditebang pada umur lebih dari 30 tahun, cendana memerlukan beberapa tumbuhan inang, yang harus selalu berganti-ganti.

# # #

Karena memerlukan banyak tanaman inang, budidaya cendana tidak mungkin dilakukan secara monokultur. Hal ini harus sudah dilakukan sejak menyemaikan biji. Bedeng penyemaian cendana, justru harus dibiarkan penuh dengan gulma. Sekaligus kita bisa menyemai cabai, kacang tanah, lamtoro dan lain-lain yang akan menjadi inang cendana. Jenis tumbuhan inang untuk tahap penyemaian, idealnya harus merupakan gulma yang banyak tumbuh di kawasan kering di NTT. Dengan adanya banyak gulma sebagai inang, semaian cendana akan tumbuh dengan baik.

Kalau cendana ditanam secara monokultur, misalnya ditaruh dalam pot sendirian, maka pertumbuhannya akan lambat. Tanaman juga tampak menguning seakan kekurangan air atau nutrisi. Padahal kita sudah menyiram serta memupuknya dengan baik. Yang menjadi masalah bukannya media dalam pot itu kekurangan air atau unsur hara, melainkan semaian cendana itu tidak mampu menyerap air serta nutrisi tertentu. Dalam kondisi demikian, cendana memang tidakmungkin mati, namun pertumbuhannya akan terus terhambat. Semaian cendana baru akan tumbuh subur apabila diberi beberapa tumbuhan inang.

Setelah dipindahkan ke lahan penanaman pun, cendana tetap memerlukan tumbuhan inang. Agar akar cendana bisa menempel pada akar tumbuhan inang tersebut untuk mengambil air dan nutrisi, harus dipilih tumbuhan inang yang paling cocok dengan cendana. Yakni, tumbuhan itu kapabel dengan cendana, namun tajuknya tidak sampai menaungi cendana. Hingga kemiri misalnya, tentu tidak cocok, sebab tajuknya akan melebar dan menutup areal di sekitar tumbuhnya cendana. Meskipun daun kemiri yang lebar-lebar, bisa menyuburkan lahan yang kering dan tandus.

Tumbuhan asli NTT yang cocok menjadi inang cendana, antara lain kemiri, mete, jaranan, lontar, asam jawa, malaka, lamtoro, kayu secang, dadap, jamblang, mangga, dan albisia. Selain itu, tanaman semusim seperti jagung, singkong, kacang tanah, keladi, talas dan lain-lain, juga bisa menjadi inang, ketika cendana baru dipndah dari lokasi penyemaian ke lapangan. Demikian pula dengan pisang, pepaya, dan nanas, yang bisa menjadi inang ketika cendana sudah cukup besar, namun belum tumbuh sebagai pohon. Inang tanaman keras, (tumbuhan berkayu), baru diperlukan ketika cendana sudah tumbuh dewasa, yakni di atas umur 10 tahun.

# # #

Yang paling tahu, jenis tanaman inang yang cocok dengan cendana adalah masyarakat pedesaan NTT. Merekalah yang hafal, tumbuhan apa saja yang cocok menjadi inang ketika biji cendana disemai, ketika cendana dipindah ke lapangan, dan ketika cendana tumbuh dewasa. Tumbuhan inang tersebut, juga tidak boleh sampai putus. Misalnya, ketika disemai dalam polybag, cendana memerlukan inang berupa gulma atau perdu yang masih berupa semai. Ketika dipindah ke lapangan, inang ini harus ikut pula dipindah. Namun di lahan tersebut, juga ditanam jenis perdu lain, yang akan menjadi inang ketika cendana sudah tumbuh setinggi 1 sd. 2 m.

Demikian seterusnya, hingga di “hutan cendana” harus selalu tumbuh pohon serta perdu, yang akan membuat cendana bisa tumbuh dengan subur. Namun cepatnya pertumbuhan cendana, tidak serta-merta akan menghasilkan kayu dengan kandungan minyak tinggi. Cendana yang tumbuh di hutan-hutan pulau Jawa dan Sumatera misalnya, pertumbuhannya sangat cepat. Namun cendana dari dua pulau ini tidak akan pernah menghasilkan kayu dengan kandungan minyak asiri tinggi. Di NTT, batang cendana berdiameter 30 cm. dicapai pada umur tanaman 30 tahun. Di Jawa dan Sumatera tanaman umur 10 tahun sudah bisa berdiameter 30 cm.

Namun di Jawa dan Sumetara, cendana tidak mungkin menghasilkan aroma wangi. Namun pertumbuhan cendana di Jawa yang sangat pesat ini, bisa dimanfaatkan untuk memproduksi benih. Di Jawa, pohon cendana yang mampu berbuah cukup banyak, tanpa ada kekhawatiran ditebang untuk diambil kayunya. Sebab pohon cendana di Jawa, hanya berpotensi sebagai kayu bakar. Hingga sebenarnya, ada peluang untuk mengebunkan cendana di Jawa, dengan tujuan utama memproduksi biji. Biji-biji ini kemudian dibawa ke NTT untuk disemai di sana. Penyemaian di NTT ini penting, sebab untuk menghemat biaya angkut.

Tanaman cendana di Jawa, antara lain terdapat di Gunung Kidul, Klaten dan Wonogiri. Di sini, cendana sudah mampu menghasilkan buah dan biji. Untuk memulihkan pamor cendana di NTT, sudah selayaknya para investor dan pemda NTT serta NTB, bekerjasama dengan pemerintah kabupaten di Jawa, serta Perum Perhutani. Sebab lahan hutan yang ditumbuhi cendana itu, statusnya milik Perum Perhutani. Memang menjadi pertanyaan, apakah layak investasi sekarang, dan baru bisa dipanen hasilnya paling cepat 30 tahun yang akan datang? Tetap sangat layak. Hanya yang akan memanen hasilnya, generasi 30 tahun yang akan datang. (R) # # #

KARPER SEBAGAI PENGENDALI GULMA AIR

Gulma air yang paling ganas adalah eceng (enceng) gondok (Eichornia crassipes). Tumbuhan pengganggu ini berasal dari Afrika tropis. Didatangkan oleh Bangsa Belanda ke kepulauan Nusantara sebagai tanaman hias. Bunga eceng gondok yang mengumpul di ujung tangkai, berwarna ungu dan sangat menarik. Tanaman hias eksotis ini kemudian lepas ke parairan umum. Dalam waktu relatif singkat eceng gondok telah ada di mana-mana. Penyebaran eceng gondok tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di semua negara di kawasan tropis.

Enceng gondok tumbuh mengapung di permukaan air tawar yang tenang. Misalnya waduk, rawa, danau dan setu. Perairan yang sering terganggu oleh keberadan enceng gondok antara lain Rawa Pening di Jawa Tengah dan Danau Kerinci di Jambi. Seluruh permukaan rawa dan danau, bisa tertutup rapat oleh gulma ini. Akibatnya kehidupan di bawahnya akan mati, karena tidak memperoleh sinar matahari. Sekarang, tangkai eceng gondok memang telah dimanfaatkan untuk bahan berbagai kerajinan. Mulai dari tas, keranjang. sampai meubel.

Setelah dipanen tangkainya secara rutin pun, gangguan yang ditimbulkan oleh gulma ini tetap berat. Sebab pertumbuhan eceng gondok super pesat. Dengan hanya beberapa serpih sisa tanaman, eceng gondok mampu kembali menutup permukaan air, hanya dalam beberapa bulan. Hingga pemanenan tangkai dan pengangkatan, tetap tidak mampu memecahkan permasalahan. Pertengahan tahun 1990an, Dinas Perikanan Provinsi Jambi mencoba ikan karper untuk mengatasi eceng gondok  di Danau Kerinci. Hasilnya, gulma bisa terkendalikan dan masyarakat bisa panen ikan.

Karper (Grass Carp, White Amur, Ctenopharyngodon idella), adalah ikan herbivora (pemakan tumbuhan) air tawar. Ikan ini berasal dari China Utara dan Siberia (Rusia). Nama Grass Carp diberikan, karena karper adalah pemakan rumput. Sedangkan sebutan White Amur menunjukkan bahwa ikan ini berasal dari Sungai Amur, yang merupakan batas antara RRC dengan Rusia, dan bermuara di Selat Jepang. Meskipun sebenarnya, habitat asli karper tersebar mulai dari sungai Amur, Sungari, Ussuri, Danau Khanka, dan juga sungai-sungai di RRC di provinsi Guangzhou dan Kwangtung.

# # #

Pertamakali karper diidetifikasi sebagai spesies ikan baru, oleh Valenciennes pada tahun 1844. Di China, karper sudah lama dibudidayakan sebagai ikan konumsi. Meskipun sama-sama disebut karper (carp), grass carp berbeda genus dengan karper hitam (black carp, Mylopharyngodon piceus); serta karper putih (silver carp, Hypopthalmichthys molitrix). Karper berbentuk mirip ikan mas, hanya warna sisiknya hijau gelap, cokelat kekuningan dan putih pada bagian perutnya. Tahun 1963, karper diintroduksi ke Amerika Serikat, untuk mengendalikan gulma di perairan air tawar.

Hasil percobaan karper sebagai pengendali gulma di AS ini, ternyata sangat positif. Sebab karper mampu secara efektif menahan pertumbuhan gulma yang paling pesat sekalipun, termasuk eceng gondok. Kemampuan karper dalam mengendalikan eceng gondok, bisa dimaklumi, karena pertumbuhan ikan ini juga sangat pesat. Pesatnya pertumbuhan karper, sekaligus juga menjadikannya potensial sebagai ikan hama. Di kawasan beriklim empat musim pun, pertumbuhan karper juga sangat cepat, terutama pada musim panas.

Pada musim semi, ukuran karper muda sekitar 20 cm, akan tumbuh menjadi 45 cm, pada musim gugur. Pada musim panas berikutnya, karper sudah menjadi ikan dewasa sepanjang 1,2 m. dengan bobot mencapai 18 kg. Dalam kondisi optimal, karper akan tumbuh sampai sepanjang 1,25 m. Pesatnya pertumbuhan karper, terutama juga disebabkan oleh volume gulma air yang tersedia. Semakin subur dan melimpah volume gulma, maka semakin pesat pula pertumbuhan karper. Kalau volume gulma air menyusut, maka pertumbuhan karper juga akan terhambat.

Di Indonesia yang merupakan penghasil beras dari padi sawah, karper potensial menjadi ikan hama. Tanaman padi sawah akan bisa dibabat oleh ikan karper. Sama halnya ketika sekarang hkeong emas menjadi hama padi. Padahal, tahun 1980an, keong emas didatangkan ke Indonesia sebagai satwa hias. Sama dengan eceng gondok yang didatangkan Belanda sebagai tanaman hias. Kekhawatiran karper lepas di perairan umum dan menjadi hama, juga disadari oleh banyak negara termasuk Amerika Serikat. Hingga karper yang dilepas ke perairan umum, terlebih dahulu dimandulkan.

# # #

Cara memandulkan karper, adalah dengan mebuat ikan jantan maupun ikan betina menjadi triploid (berkromosom 33 = 3N). Ikan biasa adalah diploid (berkromosom 22 = 2 N). Cara membuat karper menjadi triploid adalah melalui pemberian kejutan pada telur ikan, dengan menggunakan panas atau aliran listrik. Sebelum dipasarkan, anak ikan terlebih dahulu dites, apakah sudah menjadi triploid atau masih diploid. Selain dengan menjadikannya ikan diploid, untuk mengamankan agar karper tidak menjadi hama, dilakukan dengan membuatnya menjadi ikan jantan semua.

Metoda membuat benih ikan menjadi berkelamin jantan semua, sering diterapkan oleh para peternak ikan mas dan nila, agar hasil panen lebih tinggi. Caranya, ketika burayak (anak ikan) sedang dalam tahap pertumbuhan mata, air akuarium atau bak, diberi hormon Methyl Testosterone. Bisa pula induk betina yang siap berpijah, ditarun dalam bak atau akuarium, dengan air yang sudah diberi hormon Methyl Testosterone. Akibat pengaruh hormon Methyl Testosterone, telur yang menetas akan menjadi ikan jantan semua. Karper yang dilepas ke perairan terbuka sebagai pengendali hama, akan tetap aman kalau berjenis kelamin jantan semua, atau berupa ikan jantan dan betina, namun semuanya merupakan ikan triploid.

Di alam aslinya, karper hanya mau berpijah di sungai dengan aliran air yang sangat deras. Di Sungai Amur, induk betina karper 60 – 90 cm. bobot antara 5 – 16 kg, dengan umur sekitar 7 – 15 tahun, akan menghasilkan telur antara 200 – 1.600.000 butir. Di kawasan tropis seperti Indonesia, tiap kg. bobot induk betina, akan menghasilkan telur antara 2.000 – 37.000 butir. Hingga semakin besar bobot ikan, akan semakin tinggi pula jumlah telur yang dihasilkan. Dengan diketemukannya teknologi pemijahan buatan menggunakan hormon dari kelenjar hipofisa ikan donor, serta hormon HCG (Human Chorionic Gonadotropin).

Pemijahan buatan, sudah sejak tahun 1970an digunakan dalam budidaya ikan mas (Carrassius auratus), lele (Clarias batracus) dan ikan-ikan lain termasuk karper, yang tidak merawat burayaknya di dalam mulut. Ikan mujair (Tilapia musambica) dan nila (Tilapia nilotica), tidak memerlukan pemijahan buatan, sebab mereka menetaskan telur, serta mengasuh burayak mereka sampa kuat di dalam mulut. Pemijahan buatan dilakukan dengan menyuntik induk betina dengan telur yang sudah matang, menggunakan larutan kelenjar hipofisa dan HCG, agar telur siap untuk diurut (dikeluarkan).

# # #

Hipofisa adalah kelenjar yang ada di antara dua belahan otak, ukurannya sebesar butiran beras. Untuk satu induk betina ukuran 4 kg. diperlukan ikan donor dengan bobot duakali lipatnya. Bobot minimal ikan donor @ 0,5 kg. Hingga untuk induk betina 4 kg. diperlukan 16 ikan donor @ 0,5 kg. Biasanya, sebagai donor hipofisa digunakan ikan mas. Kalau siang hari induk betina disuntik, maka sorenya telur sudah bisa diurut keluar. Kemudian telur ditaruh dalam piring, diberi sedikit aquadest dan dicampur dengan sperma induk jantan. Untuk diambil spermanya, induk jantan harus dipotong.

Pengadukan telur dengan sperma, dilakukan dengan bulu yang sudah dibersihkan. Telur yang sudah terbuahi, selanjutnya dimasukkan ke dalam akuarium yang dilengkapi dengan aerator, heater serta termostat, agar suhu air stabil. Malamnya, telur sudah akan menetas dan dilakukan penyiponan cangkang. Sejak itu burayak sudah harus diberi pakan kuning telur, artemia, baru kemudian pakan dengan butiran yang lebih besar. Setelah mencamai ukuran 0,5 cm.burayak dipindahkan ke dalam bak, atau akuarium yang lebih besar. Untuk menghasilkan karper jantan atau karper triploid, dilakukan pemberian hormon Methyl Testosterone, serta perlakuan telur sebelum ditetaskan.

Benih karper, bisa dipesan di Balai Beni Ikan Air Tawar, yang ada di tingkat provinsi. Bisa pula di Balai Penelitian Ikan Air Tawar (Balitkawar) di Sukamandi, Jawa Barat. Pemesanan benih karper untuk dijadikan ikan konsumsi, sebaiknya berupa benih jantan semua. Sebab pertumbuhan ikan jantan lebih pesat, sementara volume dagingnya juga lebih banyak. Benih karper untuk menanggulangi gulma, sebaiknya berupa ikan triploid. Meskipun merupakan ikan herbifora, budidaya karper untuk tujuan konsumsi, bisa dipercepat dengan pakan buatan (pellet).

Namun, dengan adanya gangguan eceng gondok di perairan umum seperti di Indonesia, karper lebih cocok untuk dibudidayakan sebagai pemberantas gulma, sekaligus sebagai penghasil ikan konsumsi. Merebaknya gulma eceng gondok diIndonesia, terutama disebabkan oleh penggunaan urea yang berlebihan pada budidaya padi di sawah. Sisa urea yang tidak terserap tanaman, terakumulasi di waduk, danau, dan rawa. Tingginya kandungan urea, mengakibatkan pertumbuhan eceng gondok juga menjadi sangat pesat. Dengan pakan eceng gondok, maka budidaya karper menjadi tanpa perlu biaya pakan, sementara gangguan gulmanya teratasi. (R) # # #

BUDIDAYA SEMANGKA TANPA BIJI

Semua pedagang buah, baik di kios kakilima, toko buah, pasar tradisional, pasar swalayan bahkan pasar induk, selalu mengatakan bahwa semangka yang murah meriah itu paling banyak mendatangkan keuntungan. Kelebihan semangka adalah, harganya sangat murah hingga bisa terjangkau oleh kantung masyarakat kelas bawah, yang populasinya massal. Semangka digemari karena kandungan airnya tinggi. Di kota-kota besar Indonesia yang umumnya terletak di dataran rendah berudara panas, buah dengan kandungan air tinggi akan sangat disukai masyarakat. Aroma dan rasa semangka juga netral, hingga bisa diterima oleh berbagai kalangan masyarakat. Meskipun tidak pernah ada orang yang fanatik menggemari semangga. Beda dengan durian, yang di satu pihak didukung oleh penggemar fanatik, namun di lain pihak ditolak secara fanatik oleh mereka yang tidak menyukainya.

Meski mengandung air sekitar 90%, kandungan gizi semangka masih cukup baik.  Tiap 100 gram daging buah semangka, mengandung energi30 kcal   (130 kJ), karbohidrat 7.6 gram, serat 0,4 gram, protein 0,6 gram, dan vitamin C 8 miligram (13%). Mereka yang diet kalori atau lemak, misalnya para penderita kelebihan kolesterol, asam urat dan darah tinggi, sangat dianjurkan untuk mengkonsumsi semangka. Baik dalam bentuk buah segar maupun jusnya. Bahkan untuk para penderita diabetes pun, semangka masih relatif aman, karena kandungan gula buahnya juga tidak terlalu tinggi, meskipun rasa semangka itu sangat manis. Keamanan semangka bagi pare penderita diabetes, disebabkan oleh kandungan airnya yang juga sangat tinggi. Warna daging buah semangka yang merah cerah atau kuning, juga sangat mengundang selera. Itulah faktor yang menyebabkan semangka menjadi buah yang paling digemari masyarakat.

Karena penggemarnya banyak dan harganya murah, semangka dan juga melon, menjadi pilihan utama para pengatur menu di hotel, restoran, acara rapat, pesta dan hajatan massal. Semangka paling dipilih, sebab meskipun sama-sama murah, nanas kurang disukai karena sering menimbulkan rasa gatal di rongga mulut. Pisang dan jeruk siam sebenarnya juga digemari masyarakat, namun harganya relatif lebih tinggi dibanding dengan semangka dan melon. Karena menjadi pilihan para pengatur menu massal, maka permintaan semangka tidak pernah rendah. Namun permintaan semangka yang selalu tinggi ini, tidak selalu diikuti oleh produksi yang juga tinggi serta kontinu. Sebab budidaya semangka, paling banyak tetap mengandalkan lahan sawah pada musim kemarau. Budidaya semangka dengan teknologi modern di lahan kering, belum banyak dilakukan petani kita.

# # #

Semangka acapkali dianggap masih satu genus dengan melon, hingga disebut watermelon. Padahal meskipun masih satu famili Cucurbitaceae, semangka, melon dan pare (peria) berlainan genus. Semangka (Citrullus lanatus, sinonim Citrullus vulgaris) adalah genus Citrullus, melon (Cucumis melo) genus Cucumis dan pare (Momordica charantia) masuk genus Momordica. Yang masih satu genus dengan melon, adalah mentimun (Cucumis sativus).  Semangka merupakan buah asli gurun Kalahari, Afrika Selatan. David Livingstone, seorang Missonaris Scottlandia (1873 – 1973), ketika menjelajahi benua Afrika menemukan buah semangka melimpah-ruah, karena tumbuh di mana-mana. Hingga ia yakin buah itu asli dari gurun Kalahari. Belakangan di sana memang diketemukan spesies liar semangka yang disebut Tsamma melon (Citrullus lanatus var citroides). Meskipun sampai sekarang tetap tidak diketahui, kapan budidaya semangka pertamakali dilakukan umat manusia.

Laporan tertulis yang sampai sekarang diketahui, pertamakali panen melon dilakukan di Mesir sekitar 3.000 tahun SM. Laporan ini tertulis dalam huruf hieroglyphs. Menurut laporan itu, semangka merupakan buah yang wajib disertakan dalam makam para Fira’un, sebagai bekal perjalanan sesudah kematian. Sekitar abad XI, semangka sudah dibudidayakan di daratan China. Hingga sekarang, RRC merupakan penghasil semangka terbesar di dunia.  Pada abad 13, bangsa Moor yang menyerbu Spanyol, mengintroduksi semangka ke daratan Eropa. Namun baru pada tahun 1615, semangka tercatat sebagai entri dalam kamus di Inggris. Padahal, pada tahun 1.500an, buah ini sudah masuk ke Amerika Utara. Para penjelajah pertama berkebangsaan Perancis, pada tahun 1.500an itu sudah menemukan, masyarakat Indian membudidayakan semangka di lembah sungai Mississippi.

Ada dugaan, para budak yang didatangkan dari benua Afrika, ketika itu membawa serta buah semangka, hingga secara tidak sengaja bijinya tersebar ke benua baru itu. Kemudian para tuan tanah dan pemerintah kolonial, ikut menyebarkan semangka ke berbagai kawasan di Amerika Utara. Misalnya ke Florida (1664), Colorado (1799), negara bagian di kawasan barat (1673, Connecticut (1747) dan Illiana (1622). Hingga sekarang kawasan Georgia, Florida, Texas, California dan Arizona di AS, merupakan penghasil semangka yang termasuk terbesar di dunia. Meskipun total produksi semangka AS, masih jauh di bawah RRC. Di Eropa dan AS inilah berbagai varietas semangka diciptakan. Puncaknya ketika Dr. Kihara dari Jepang menemukan teknologi membuat semangka tak berbiji. Teknologi ini mulai diperkenalkan dalam Third International Genetics Congress, di Stockholm, Swedia tahun 1948.

Tahun 1950an, Dr. Eigsti mengembangkan semangka tetraploid hibrida pertama. Teknologi ini terus dikembangkan sampai dengan meningalnya Dr. Kihara pada tahun 1986. Prinsip penciptaan semangka tak berbiji adalah, dengan meneteskan colchicine, zat alkaloid yang diekstrak dari tanaman bakung (genus Colchicum), pada tunas kecambah semangka biasa. Kecambah semangka biasa yang berkromosom 22 (semangka diploid = 2N), setelah tunas pucuknya ditetesi colchicine, akan bermutasi menjadi berkromosom 44 (semangka tetraploid = 4N). Ketika semangka tetraploid ini disilangkan dengan semangka diploid, hasilnya ada tiga jenis semangka, yakni 2N, 3N dan 4N. Semangka 3N (triploid) yang berkromosom 33, apabila ditanam akan menghasilkan semangka tanpa biji (seedless). Meskipun untuk membentuk buah, semangka 3N ini harus diserbuki oleh semangka 2N.

# # #

Sejak Dr. Eigsti, menciptakan hibrida semangka tetraploid pada  tahun 1950an, penggunaan colchicine menjadi tidak diperlukan lagi. Bahkan di Jepang juga sudah mulai dicoba pengembangan semangka 3N dengan benih vegetatif dari stek pucuk. Namun pada umumnya, produksi semangka tanpa biji dilakukan dengan menanam dalam satu petak lahan secara bersamaan, semangka 3N dan sekaligus semangka 2N sebagai polinator (penyerbuk). Hingga sebenarnya, benih semangka tanpa biji yang dijual di pasaran, terdiri dari biji semangka 3N dan sekaligus semangka 2N. Semangka 3Nnya berbunga jantan mandul, sementara semangka 2Nnya hanya akan menghasilkan bunga jantan. Hingga dalam satu areal penanaman semangka tanpa biji, hanya akan dihasilkan buah seedless.  Meskipun yang disebut sebagai semangka tanpa biji, sebenarnya tetap ada bijinya. Namun biji ini tidak pernah berkembang sempurna, hingga hanya membentuk butiran kecil-kecil berwarna putih pada daging buah.

Meskipun penghasil semangka terbesar di dunia adalah RRC, namun  tampaknya yang benar-benar tertarik untuk mengotak-atik buah ini hanya para peneliti Jepang. Pada tahun 1990an, Zentsuji, seorang petani semangka di  Negeri Matahari Terbit ini, melakukan eksperimen membuat semangka kotak. Sebab semangka bulat, akan boros tempat ketika diangkut dan disimpan dalam cold storage. Dengan bentuk kotak (kubus), buah semangka menjadi ringkas dalam bobil boks dan cold storage. Tetapi semangka kotak tidak mungkin diperoleh melalui rekayasa genetika seperti halnya menciptakan semangka tanpa biji. Maka Zentsuji pun “memasung” tiap buah semangka di ladangnya dengan kotak kaca. Sejak masih pentil. Karena terdesak kotak kaca, maka pertumbuhan tidak menjadi bulat melainkan kubus. Bahan kaca dipilih sebagai “pemasung”, untuk tetap memberikan warna alamiah kulit buah. Dengan kotak bukan kaca, kulit semangka akan menjadi putih keruh.

Di Indonesia, budidaya semangka umumnya dilakukan di lahan-lahan sawah pada musim kemarau. Pengairan berasal dari pompa pantek atau pompa sedot yang mengangkat air dari sungai. Teknik budidayanya, ada yang hanya dengan hamparan dan tanpa mulsa plastik, tanpa ajir dan tanpa membuang buah. Ada pula budidaya dengan bedeng, mulsa plastik, ajir dan hanya membiarkan satu buah pada tiap individu tanaman. Benih yang ditanam para petani, kebanyakan benih impor dari Taiwan, dan Jepang. Benih lokal juga ada, namun kurang diminati petani. Jenis semangka yang dibudidayakan mulai dari yang berbentuk bulat sampai lonjong memanjang (oblong). Kulit buah dari hijau polos kehitaman (sengkaling), sampai loreng hijau muda hijau tua. Warna daging buah merah cerah, orange dan kuning. Meski semangka seedless lebih digemari, namun semangka berbiji tetap dibudidayakan pula. Biaya produksi semangka berkisar antara Rp 20.000.000,- sd. 30.000.000,- per hektar per muim tanam. Kalau panen bagus, hasil brutonya bisa dua sampai tiga kali lipatnya. (R) # # #

POTENSI BIJI SAWI SEBAGAI MUSTARD

Selama ini kita hanya mengenal sawi sebagai sayuran. Kita menyebutnya sebagai caisim untuk mie bakso, atau sebagai cah caisim. Padahal sawi adalah penghasil biji untuk diolah menjadi mustard oil (minyak)  dan condiment (bumbu/saus). Di India, mustard oil adalah bahan minyak goreng yang cukup penting. Selain itu minyak biji sawi juga merupakan bahan industri farmasi, campuran minuman keras, terutama wine. Di Rusia, mustard oil bahkan digunakan untuk substitusi olive oil (minyakzaitun). Saat ini, India juga sedang  merancang sebuah agroindustri mustard oil untuk bahan baku biodiesel. Meskipun produktivitas sawi hanya 1.300 liter minyak per hektar per tahun.

Kalau kita menyantap menu Eropa di sebuah hotel bintang, pasti akan bertemu sengan pasta atau saus berwarna kuning. Biasanya saus kuning ini digunakan untuk mengoles roti, kentang rebus, salad dan steak. Saus kuning inilah yang disebut mustard condiment, dan digunakan bersama dengan mayonis, kecap, saus tomat dan sambal (chili sauce). Rasa pedas mustard condiment atau mustard sauce sangat khas. Pedasnya benar-benar menyengat di rongga hidung dan membuat mata sangat pedas. Beda dengan pedasnya cabai, lada dan jahe. Mereka yang baru pertama kali merasakan pedasnya mustard sauce, akan kaget dan berteriak-teriak, saking pedasnya. Tetapi mereka yang sudah beberapa kali menyantapnya, segeraakan ketagihan.

Mengapa biji sawi yang diameternya hanya 1 mm itu potensial menghasilkan minyak? Sebab di kawasan sub tropis, sawi ini lebih banyak menghasilkan biji daripada daun. Sawi yang ditanam untuk memproduksi  mustard oil dan mustard condiment, hampir tidak pernah menghasilkan daun. Begitu tumbuh beberapa lembar daun, sawi ini langsung meninggi, dengan daun makin mengecil dan jarak makin jarang. Pucuk ini terus meninggi dengan sangat cepat lalu mengeluarkan bunga di antara daun-daunnya yang semakin menyempit. Produktivitas biji jenis sawi ini paling 4 ton biji kering, setara dengan 1,5 ton mustard oil per tahun. Rata-rata hasil per hektar per musim tanam hanyalah 1,5 sd. 2 ton biji kering.

# # #

Di India dan Bangladesh mustard oil merupakan produk unggulan. Di dua negeri ini, sawi yang dibudidayakan sebagai penghasil mustard oil, adalah brown mustard, yang juga dikenal sebagai indian mustard (Brassica juncea). Brown mustard juga dibudidayakan secara luas di Inggris, Kanada dan Amerika Serikat. Sementara Timur Tengah, Afrika Utara dan Eropa Selatan, banyak dibudidayakan white mustard (Brassica hirta). Sementara black mustard (Brassica nigra) berkembang di Argentina, Chilee dan juga AS. Selain tiga spesies sawi ini, dikenal pula sawi liar Wild Mustard (Brassica campestris), Brassica campestris, Brassica carinata, dan Brassica napus.  Sawi Brassica juncea disebut Indian mustard, karena berasal dari India, tepatnya dari lereng barat peguningan Himalaya.

Genus Brassica terdiri dari 38 spesies. Ada beberapa spesies yang terpecah mencadi belasan sub spesies serta varietas. Ke 38 spesies tersebut adalah: Brassica (B) assyriaca; B. aucheri; B. balearica; B. barrelieri; B. bourgeaui; B. cadmea; B. carinata; B. cretica (3 sub spesies); B. deflexa (2 sub spesies); B. deserti; B. desnottesii; B. dimorpha; B. drepanesnsis; B. elongata (5 sub spesies); B. fruticulosa (7 sub spesies); B. glabrescens; B. gravinae (3 varietas); B. hilarionis; B. incana; B. insularis; B. jorcanofii; B. juncea (12 varietas); B. macrocarpa; B. maurorum; B. montana; B. napus. (3 varietas); B. will nigra; B. oleracea (14 sub spesies); B. oxyrrhina; B. procumbens; B. rapa (9 sub spesies, 3 varietas); B. repanda (15 sub spesies); B. rupestris; B. rovo; B. souliei (2 sub spesies); B. spinescens; B. tournefortii; B. villosa.

Beberapa spesies Brassica merupakan tanaman budidaya yang cukup penting, baik sebagai sayuran maupun penghasil biji-bijian. Misalnya Brassica oleracea yang lebih kita kenal sebagai keluarga kubis (kol), Brassica rapa sebagai sawi putih (Parkchoi) dan sawi pahit, serta Brassica juncea yang dikenal sebagai sawi hijau. Namun Brassica rapa sendiri terdiri dari 9 sub spesies dan 3 varietas. Brassica juncea terdiri dari 12 varietas. Baik Brassica rapa maupun Brassica juncea juga masih terdiri dari puluhan grup serta hibridanya. Sawi putih dan sawi hijau yang sekarang ini kita kenal sebagai sayuran, merupakan hibrida dari Brassica rapa dan Brassica juncea. Demikian pula dengan varietas dan hibrida Brassica juncea, Brassica rapa  dan Brassica hirta yang khusus diciptakan sebagai penghasil mustard.

Biji sawi (mustrad seed) dipanen setelah polong dan sebagian daun mulai menguning. Panen biji sawi dilakukan dengan pemotongan (pembabatan), malai biji, seperti halnya memanen gandum dan padi. Malai dengan polong yang habis dipanen, kemudian dijemur atau dikeringkan dengan dryer. Secara tradisional, pemisahan biji dari polongnya dilakukan dengan memukul-mukul tumpukan malau menggunakan kayu, kemudian biji yang masih tercampur serpihan kulit polong ditampi dengan tampah secara manual. Pada perkebunan modern, pemisahan biji dari polong dan malai menggunakan alat penebah yang digerakkan mesin, yang sekaligus akan menampinya. Biji bersih ini masih harus dikeringkan, hingga kadar airnya kurang dari 10%. Biji yang sudah bersih dan kering, siap untuk diproses lebih lanjut menjadi minyak maupun condiment.

# # #

Biji sawi (mustard seed) sebenarnya bisa diproduksi menjadi dua macam minyak. Pertama vegetable oil (minyak nabati), dan kedua essential oil (minyak asiri). Kalau biji sawi kering itu dikempa (dipres), maka akan menghasilkan minyak nabati dan ampas (bungkil). Komposisi mustard vegetable oil adalah fatty acid, oleic acid, linoleic acid, dan erucic acid. Kandungan erucic acid dalam mustard oil, sedemikian tingginya, hingga membahayakan kalau dikonsumsi manusia secara langsung. Hingga di AS, Kanada dan MEE, penggunaan mustard oil sebagai minyak goreng dilarang. Di India, mustard vegetable oil terlebih dulu dipanaskan sampai berasap, sebelum dipasarkan sebagai minyak goreng, Ini merupakan usaha untuk menghilangkan erucic acid yang membahayakan kesehatan. Di India utara, mustard oil hanya digunakan untuk melumuri badan sebelum dipijat.

Mustard condiment, dihasilkan dari biji sawi yang digiling halus sambil dicampur air dan cuka, hingga mejadi condiment (bumbu, termasuk mustard sauce). Reaksi kimia yang ditimbulkan antara enzim myrosinase dan glucosinolate, pada biji black mustard (Brassica nigra) dan brown indian mustard (Brassica juncea), akan menghasilkan sinigrin. Melalui destilasi,  bhan ini akan menghasilkan minyak asiri dengan aroma yang sangat tajam, karena tingginya kandungan allyl isothiocyanate. Hingga minyak asiri dari mustard condiment ini sering pula disebut sebagai volatile oil of mustard, dengan kandungan allyl isothiocyanate lebih dari 92%. Biji White mustard (Brassica hirta), tidak akan menghasilkan allyl isothiocyanate tetapi isothiocyanate lain dengan kadar lebih rendah.

Sebenarnya, allyl isothiocyanate sudah bisa diproduksi sintetisnya, yang disebut mustard oil sintetis. Minyak mustard sintetis ini, bermanfaat untuk disemprotkan ke tanaman, guna menghindari serangan hama pemakan daun, seperti aphid, kepik, ulat dan  belalang. Tingginya kandungan allyl isothiocyanate pada mustard oil sintetis, mengakibatkan minyak jenis ini berbahaya bagi kesehatan, karena bisa menimbulkan iritasi pada kulit dan selaput lendir. Demikian kuatnya aroma mustard oil sintetis ini, hinga sering dimanfaatkan pula untuk mengusir binatang buas, termasuk anjing dan kucing. Dalam kadar yang sangat rendah, Mustard oil  juga sering digunakan sebagai aroma dalam industri makanan, juga untuk campuran dalam industri minuman beralkohol.

Kandungan nutrisi dalam 100 gram mustard oil dan condiment adalah, energi 70 kcal (280 kJ); karbohidrat 8 gram; gula 3 gram; serat 3 gram; lemak 3 gram; protein 4 gram; sodium  1120 mg (75%). Para petani Indonesia, selama ini hanya memanfaatkan sawi sebagai penghasil sayuran. Di kawasan penghasil sayuran beriklim basah seperti Brastagi, Bukittinggi, dan Cipanas, peluang tanaman sawi untuk menghasilkan mustard seed sangat kecil. Lain halnya di dataran tinggi Jawa Timur, Bali, NTB, dan terutama NTT yang beriklim kering. Padahal hotel dan restoran bintang di Indonesia jelas memerlukan condiment dan mustard oil, yang semuanya harus diimpor. Dengan mampu memproduksi mustard seed, sebenarnya tidak sulit bagi petani Indonesia untuk sekaligus menghasilkan condiment dan mustard oil. (R) # # #